Mbak Dewi mengalami masa paling gelap dalam hidupnya di rentang 2006–2007. Saat itu ia dikenal sebagai pengusaha furnitur yang sedang Berjaya produksi kayu jati berjalan, pesanan luar kota masuk, bahkan ia sempat mencoba peruntungan ke Jepara. Dalam sebulan, omzetnya bisa tembus ratusan juta, dan di rumah produksi pun masih sanggup menggerakkan banyak karyawan.
Masalah bermula ketika suaminya bertemu teman lama dan “dibukakan” peluang bisnis baru di bidang properti. Katanya proyek pengurugan, pengaspalan, dan pekerjaan lapangan lain yang keuntungannya besar. Suami Mbak Dewi meminta modal pertama Rp300 juta. Karena percaya penuh, Mbak Dewi menyerahkan uang itu. Tidak lama kemudian, suaminya minta lagi—kali ini Rp500 juta—dan Mbak Dewi bahkan sampai berutang untuk menutupi kebutuhan modal tersebut.
Bulan-bulan pertama, Mbak Dewi masih mencoba sabar. Tapi setelah tiga bulan, tidak ada pemasukan, tidak ada kejelasan. Di saat yang sama, bisnis furnitur justru menurun. Sistem “drop dulu” membuat arus kas macet, tagihan menumpuk, biaya operasional tidak ketutup. Karyawan mulai keluar satu per satu, sementara cicilan utang terus mengejar setiap bulan.
Mbak Dewi mendesak suaminya untuk bertanggung jawab. Jawabannya selalu sama: “Sabar, dananya belum turun.” Sampai akhirnya Mbak Dewi mendengar kabar yang membuat hatinya pecah—suaminya diduga punya wanita lain. Ia sempat menanyakan langsung, suaminya menyangkal. Namun kenyataan pelan-pelan terbuka: suami jarang pulang, komunikasi sulit, dan uang yang ia perjuangkan terasa “mengalir” ke tempat lain.
Puncaknya, Mbak Dewi menelusuri proyek tersebut dan menemukan fakta yang menghancurkan: proyek itu fiktif. Ia merasa dibohongi habis-habisan. Rumahnya jadi tempat orang menagih, ia takut pulang, takut sendirian, dan hidupnya seperti dikejar dari segala arah. Di titik itu, total utangnya membengkak sampai sekitar Rp1,1 miliar.
Dalam kondisi terpuruk, Mbak Dewi bertemu teman lama, Mbak Pepi. Setelah mendengar ceritanya, Pepi bertanya satu hal yang terdengar seperti pintu darurat: “Mau nggak utangnya lunas?” Mbak Dewi menjawab mau—tanpa banyak mikir lagi. Ia diajak ke rumah seorang “Mbah” yang tinggal jauh dari pemukiman, dikelilingi bambu, dan di dalamnya penuh benda-benda kuno seperti keris serta perlengkapan yang membuat suasana terasa berbeda sejak melewati pagar.
Mbah itu bicara tegas: utang 1,1 miliar “kecil” dan bisa lunas, tapi ada ritual dan sesajen yang harus disiapkan. Mbak Dewi diberi bacaan/amalan, diberi arahan agar saat ritual tidak menyebut asma tertentu, dan diminta kembali di malam Jumat Kliwon. Mbak Dewi mengaku ia sadar ini sudah keluar jalur, tapi pikirannya hanya satu: lunas, lunas, lunas—agar hidupnya tenang dari kejaran tagih-menagih.
Ritual pertama gagal. Saat ditinggal sendirian di lokasi hutan dengan jalan setapak (jurang di satu sisi, sungai di sisi lain), Mbak Dewi panik, lupa bacaan, refleks menyebut asma yang dilarang, lalu suasana berubah jadi ganas: angin besar, bambu bergoyang, muncul sosok bertanduk bermata merah dan makhluk berbadan ular dalam keadaan marah. Mbak Dewi pingsan dan sadar-sadar sudah di rumah Mbah. Tapi ia tetap minta lanjut—karena ia merasa tidak punya pilihan lain.
Dua minggu kemudian, ritual kedua dilakukan. Kali ini Mbak Dewi dibekali uang di jaket dan diingatkan kalimat kunci: “Minta ini yang banyak,” sambil memegang uang. Di lokasi, ia mendengar suasana seperti pasar—ramai, suara gamelan, seperti ada keramaian yang tak terlihat. Lalu ia mendengar bunyi kereta kencana dan suara kuda. Sosok bertanduk dan sosok ular muncul lagi, tapi kali ini tidak menyeramkan—justru tersenyum. Sosok ular bermahkota menatapnya lama, lalu berkata berulang: “Di sini kamu nggak ada rezekinya.” Setelah itu semuanya hening dan rasa takut Mbak Dewi mendadak hilang.
Mbak Dewi mengira itu berarti gagal lagi. Namun sesampainya di rumah Mbah, ia diajak ke ruangan khusus. Mbah memperlihatkan ada enam karung “hasil ritual”, tapi Mbah hanya memberikan satu karung untuk Mbak Dewi. Saat dibuka di rumah, Mbak Dewi terkejut: isinya uang gepokan, pecahan besar, dan jumlahnya pas—tidak kurang, tidak lebih—tepat Rp1,1 miliar sesuai nominal utangnya. Mbak Dewi menegaskan uang itu tidak ia pakai sepeser pun untuk senang-senang; semuanya habis untuk membayar utang dalam waktu sekitar seminggu.
Setelah utang lunas, Mbak Dewi memutuskan pisah dari suaminya. Baginya, hubungan itu sudah terlalu melukai. Selama dua bulan ia sempat merasa “lega” karena tidak lagi dikejar-kejar. Tapi hidup tetap berjalan: ia tidak punya usaha, tidak punya modal. Dan di titik rapuh itu, ia kembali tergoda—ingin ke Mbah lagi untuk minta modal usaha.
Saat Mbak Dewi datang sendirian, rumah itu kosong. Ia mencari kabar dan mendapati kenyataan yang membuatnya gemetar: Mbah sudah meninggal, dan menurut informasi sekitar, meninggalnya terjadi setelah ritual bersama Mbak Dewi. Di kepala Mbak Dewi muncul ketakutan: “Apakah ini dampaknya ke aku?”
Ia mencari bantuan spiritual ke seseorang yang ia samarkan sebagai Mas Adi. Dari sana ia mendapat penjelasan yang menampar: Mbak Dewi “beruntung” tidak mengambil semua karung. Mas Adi menyebut Mbah serakah—karung lain “diambil” Mbah, dan keserakahan itu yang menjadi pintu musibah. Mendengar itu, Mbak Dewi hancur—menangis, merasa berdosa, merasa menyesal karena pernah masuk jalur gelap.
Tak lama setelah itu, kesehatan Mbak Dewi ambruk. Ia mendadak lumpuh seperti stroke, tubuhnya semakin kurus, dan ia menyebut dirinya seperti “mayat hidup” selama 2–3 tahun. Ia dirawat kerabat (yang ia sebut Eneng), sementara dirinya hanya bisa menahan penyesalan dan mencoba bertobat—memohon ampun, memperbaiki diri, dan bertahan hari demi hari.
Perlahan, Mbak Dewi membaik. Ia percaya kesembuhannya adalah izin Tuhan setelah ia benar-benar menyesali perbuatannya. Ia kembali menjalani hidup normal, mulai menata usaha dari nol, meski pelan. Dan satu hal yang ia pegang sampai sekarang: uang instan mungkin bisa menyelesaikan angka di kertas, tapi tagihannya bisa datang dalam bentuk lain—kesehatan, ketenangan batin, bahkan nyawa orang yang terlibat.
Mbak Dewi menutup kisahnya dengan pesan yang lugas: jangan pernah tergoda pesugihan dalam bentuk apa pun. Karena dampaknya pasti kembali—kalau bukan ke diri sendiri, bisa ke keluarga, atau ke orang-orang yang terlibat. Dan kalau memang ingin kaya, jalannya tetap satu: kerja yang nyata, pelan-pelan, tapi selamat.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
