Mas Akmal mengingat tahun 2017 sebagai masa paling mencekam selama ia merantau. Waktu itu ia bekerja di Batam, Kepulauan Riau, di sebuah showroom mobil yang juga menjalankan bisnis rental kelas menengah ke atas. Bosnya sebut saja Bos Jefri terlihat mapan dan punya lingkaran pergaulan orang-orang berada. Mas Akmal pun merasa pekerjaannya aman, sampai satu kejadian membuat semuanya berubah.
Masalah bermula ketika Bos Jefri mendapat kontrak rental dari seorang pengusaha tambang di Riau. Bukan sewa harian, melainkan kontrak langsung setahun untuk lima unit mobil. Beberapa bulan pertama lancar, pembayaran masuk, dan Bos Jefri makin percaya diri. Namun memasuki bulan keenam, pembayaran berhenti. Mobil pun tidak kembali, kabar hilang, dan GPS terakhir terdeteksi di perusahaan penyewa sebelum akhirnya mati seolah sengaja dilepas.
Bos Jefri terpukul. Nilai lima unit mobil itu besar ditaksir miliaran dan ia merasa dipermainkan. Mas Akmal bersama rekan kerja kepercayaan bos bernama Rois diminta mencari keberadaan mobil-mobil itu, tapi semua jalan buntu. Dari situ, Bos Jefri mulai sering berkumpul dengan temannya, mencoba mencari “cara” agar usahanya cepat pulih.
Di sebuah pertemuan santai di hotel, seorang teman Bos Jefri—Pak Niko—melontarkan kalimat yang terdengar seperti candaan: “Pesugihan instan aja, Bos.” Mas Akmal mengira itu hanya obrolan iseng. Namun Bos Jefri rupanya menangkapnya sebagai solusi sungguhan. Setelah pertemuan itu, Bos Jefri makin sering berkomunikasi dengan Niko tanpa melibatkan anak buah.
Seminggu kemudian, Bos Jefri memanggil Mas Akmal dan Rois ke rumah. Ia bertanya soal satu tempat di Jawa, tepatnya di Cilacap, dekat pantai dan gua. Mas Akmal sempat mengira bosnya mau urusan bisnis. Tapi begitu rencana perjalanan terbentuk, perasaan tidak enak mulai muncul—seolah ada niat lain yang disembunyikan.
Mereka berangkat dari Batam menuju Jakarta, lanjut perjalanan panjang ke Jawa, lalu menuju Cilacap. Dari parkiran warga, mereka harus menyeberang memakai perahu kecil untuk mencapai area gua. Di sana suasananya sepi dan terasa “tidak ramah”. Saat berjalan lebih dalam, mereka menemukan rumah kecil—tempat tinggal kuncen.
Bos Jefri bicara terus terang: ia butuh jalan cepat memulihkan usahanya. Kuncen memberi dua pilihan: penglarisan yang hasilnya bertahap, atau pesugihan yang instan namun berisiko besar. Bos Jefri memilih yang instan. Padahal kuncen sudah memperingatkan: pesugihan itu berat, konsekuensinya panjang, dan “kontraknya” tidak bisa diputus seenaknya.
Di area gua, kuncen memperlihatkan beberapa “spot”: ada yang disebut untuk tuyul, ada yang dikaitkan dengan genderuwo, ada yang “kawin jin”, dan yang paling ujung disebut jalur Nyi Roro Kidul—yang dikatakan paling cepat, tapi juga paling besar risikonya. Bos Jefri menunjuk yang paling ujung itu tanpa ragu.
Bos Jefri diminta membayar mahar awal untuk ubo rampe, lalu ritual inti ditentukan mengikuti weton: dilakukan pada Minggu Pon. Persiapan sesajen pun dijabarkan: ayam hidup (cemani), nasi dengan lauk sederhana, kembang tujuh rupa, minuman berbagai rasa, kelapa kuning, dupa, dan perlengkapan lain. Kuncen memberikan selembar kertas berisi bacaan yang wajib dihafal karena tidak ada penerangan di dalam gua.
Ritual pertama dimulai malam hari. Bos Jefri masuk sendirian ke spot paling ujung dan harus bertahan tiga hari tiga malam: puasa, tidak tidur, dan sesajen diganti setiap hari. Mas Akmal dan Rois menunggu di luar. Mereka hanya ikut menjemput dini hari ketika kuncen masuk mengambil sesajen lama untuk dilarung ke laut dan menggantinya dengan yang baru.
Pada malam kedua, ada kejadian yang membuat Mas Akmal merinding: ayam cemani yang sebelumnya hidup mendadak mati dengan kondisi tidak wajar—bukan dipotong, tapi lehernya seperti gepeng. Bos Jefri mengaku mendengar suara perempuan di dalam kegelapan berkata “persembahanmu aku terima”, lalu ayam itu menggelepar dan mati. Kuncen menyebut itu tanda “diterima”.
Malam ketiga lebih mencekam. Angin laut kencang, ombak besar, suasana di luar gua pun terasa seperti “ditarik” ke tengah lautan. Ketika dijemput pagi buta, Bos Jefri ditemukan meringkuk ketakutan, seperti orang yang baru lolos dari sesuatu. Ia mengaku semalaman diganggu suara jeritan, suara laki-laki, dan suara anak-anak yang seolah mengepung.
Kuncen berkata ritual di gua “berhasil”, tapi masih ada tahap lanjutan: pembukaan portal di pantai, tepat di area muara (pertemuan air laut dan air sungai), tetap mengikuti weton Minggu Pon. Maharnya besar—puluhan juta—ditambah dua cincin sebagai pengikat. Selain itu disiapkan ubo rampe lain, termasuk gentong yang kelak jadi pusat cerita ini.
Ketika Minggu Pon tiba, ritual pantai dilakukan malam hari. Ada altar kecil, kain mori beberapa warna, uang pecahan tertentu, cincin, dan seekor kambing yang disembelih. Darah kambing dimasukkan ke gentong, sementara bagian tubuh lainnya dilarung. Bos Jefri ditinggal menjalani proses berjam-jam, sementara yang lain menunggu di belakang.
Pagi hari saat dijemput, Bos Jefri dalam keadaan telanjang bulat, tanpa rasa malu, seolah ada perintah yang membuatnya melepaskan semua pakaian dan membuangnya ke laut. Ia bercerita: ia didatangi sosok perempuan sangat cantik, hanya berselendang, dan menyebut dirinya calon “pengantin gaib”. Sosok itu menerima cincin dan sesajen, lalu memerintahkan gentong dibawa pulang serta meminta kamar khusus yang serba hijau—ruangan yang tidak boleh dimasuki siapa pun selain Bos Jefri.
Sejak itu, Bos Jefri menyewa rumah terpisah agar keluarganya tidak tahu. Satu kamar dicat hijau total, termasuk properti dan perlengkapannya. Gentong dibawa ke sana. Ritual lanjutan dilakukan rutin tiap Minggu Pon—sebulan sekali—sebagai bagian “perjanjian pernikahan”.
Ada pola yang membuat Mas Akmal makin yakin jalur yang dipakai bosnya bukan main-main. Tiga hari sebelum ritual bulanan, Bos Jefri menyuruh menyiapkan ayam cemani, disembelih, darah dan bangkainya dimasukkan ke gentong, dibiarkan busuk. Bau busuk itu dianggap “disukai” dan menjadi semacam sinyal pemanggilan.
Pada salah satu pagi setelah ritual bulanan, Bos Jefri memanggil Mas Akmal masuk ke kamar. Mas Akmal tidak berani melangkah jauh, hanya berdiri di ambang. Namun yang ia lihat cukup membuat jantungnya runtuh: uang pecahan seratus ribuan meluber dari gentong, bercampur busuk dan belatung sisa ayam, sampai berceceran di lantai. Bos Jefri menyebut nilainya miliaran—uang nyata, bukan cerita. Dari sana, bisnisnya melejit: membeli lahan, membangun swalayan besar, memperluas showroom, dan membuat cabang di mana-mana.
Namun “perjanjian gelap” selalu meminta bayaran. Tumbal pertama yang jatuh adalah anak Bos Jefri sendiri, laki-laki usia sekitar dua puluhan. Ia mendadak drop, pembuluh darah disebut pecah, koma, lalu meninggal. Jasadnya lebam biru sekujur tubuh. Setelah itu, usaha justru makin pesat—seolah kematian itu menjadi bahan bakar.
Tumbal berikutnya lebih licik: bukan keluarga inti, melainkan orang-orang yang masuk kamar hijau itu. Modusnya kamuflase: Bos Jefri meminta “tukang renovasi” masuk kamar, mengecat ulang, mengganti gordyn, memperbaiki detail ruangan. Setelah masuk, dalam seminggu sampai dua minggu, tukang tersebut jatuh sakit, koma, lalu meninggal dengan kondisi lebam yang mirip. Korban berulang—tetangga dekat yang kebetulan tukang, pekerja renovasi, siapa pun yang “terlanjur” masuk.
Mas Akmal mengaku ia tidak pernah mau menerima uang langsung dari gentong. Ia hanya mengambil profit wajar dari penjualan mobil seperti sistem kerja biasa. Tapi rasa takutnya tetap tumbuh, karena ia dan Rois adalah saksi. Di tahun kelima, Mas Akmal mulai berpikir kemungkinan paling buruk: kalau Bos Jefri ingin menutup semua jejak, saksi bisa jadi target berikutnya.
Akhirnya Mas Akmal memilih kabur. Ia resign diam-diam, memblokir nomor, mengganti kontak, dan meminta keluarga di kampung mengatakan ia “tidak ada” jika ada orang luar pulau mencarinya. Ia pergi bukan karena tidak butuh uang—tapi karena ia ingin pulang dengan selamat, sebelum cerita itu menelan lebih banyak orang.
Mas Akmal menutup kisahnya dengan satu pesan yang terus ia ulang: pesugihan memang bisa memberi “hasil nyata” dalam waktu singkat, tapi harga yang diminta tidak pernah kecil. Bukan hanya harta yang dipertaruhkan—melainkan nyawa, keluarga, dan rasa aman yang akhirnya tidak akan pernah kembali seperti semula.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
