Tahun 2009, Mas Jaya baru lulus SMA dan masih bujangan ikut pendakian Gunung Ciremai bareng lima teman: Benny, Eko, Bunga, Dedy, dan Dita. Awalnya cuma rencana “healing” ala anak muda: naik, bakar-bakaran, lalu turun besoknya.
Mereka berangkat subuh dari Cirebon dan masuk jalur Linggarjati, targetnya sampai pos awal sebelum sore. Di Pos 1, Mas Jaya sempat melihat sosok nenek berkebaya abu-abu, sanggul rapi, berdiri di dekat gapura dengan tangan di belakang. Jaya mengira itu warga sekitar yang jualan atau jaga jalur.
Perjalanan makin lama makin janggal. Rumput makin padat, jalur terasa muter-muter, dan mereka seperti tak pernah menemukan pos berikutnya. Saat istirahat sekitar tengah hari, gangguan pertama terjadi: Benny mendadak kesurupan ketika buang air kecil menghadap pohon, seperti marah-marah pada sesuatu yang tak terlihat, lalu tumbang seperti batang kayu roboh.
Setelah Benny sadar, mereka doa bersama dan lanjut naik. Entah bagaimana, mereka baru bertemu pendaki lain di pos yang disebut “Kuburan Kuda”, lalu lanjut lagi sampai area yang cukup lapang untuk membuka tenda. Mereka masak, isi tenaga, salat magrib, lalu memutuskan terus naik karena kabut mulai turun.
Di tanjakan Seruni, Dita mulai drop. Karena tidak kuat dan terus berhenti, rombongan akhirnya meninggalkan Dita bersama Benny di satu titik, sementara Eko turun menjemput mereka. Tengah malam, semua akhirnya berkumpul lagi, tapi kondisi Dita justru memburuk dan mulai kesurupan.
Eko mencoba membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, tapi “yang merasuki” seperti menantang dan tidak mau lepas. Dalam kondisi panik, Mas Jaya teringat ajian yang pernah diajarkan bapaknya—bacaan dari kitab berbahasa Arab campur Cirebon—dan ia mencoba membacanya. Aneh tapi nyata, Dita pelan-pelan tenang dan bisa ditidurkan.
Mas Jaya tumbang kelelahan di rumput yang dingin berembun. Namun sekitar pukul 00.30, ia terbangun dengan tubuh terasa segar seolah baru istirahat panjang. Ia wudu dari botol air, salat Isya, lalu berniat lanjut salat malam untuk memohon perlindungan agar rombongan selamat.
Di rakaat pertama, saat ia membaca Al-Fatihah, terdengar suara “amin” dari belakang. Mas Jaya masih berpikir ada pendaki lain yang ikut berjemaah. Tapi setelah salam, ia menoleh—tak ada siapa pun di belakangnya.
Ketika ia sedang beres-beres, tiba-tiba nenek yang ia lihat di gapura muncul lagi dan mendekatinya. Nenek itu menggenggam tangan Mas Jaya dan seperti mengajak ikut “ketemu seseorang”, lalu menutup mata Mas Jaya sambil memberi isyarat jangan membuka sebelum disuruh. Mas Jaya menuruti, entah karena takut, entah karena anehnya ia merasa tenang.
Ia dituntun berjalan cepat—cepat sekali—namun tanpa rasa capek. Setelah sekitar satu jam, Mas Jaya melihat bangunan besar seperti kastil berwarna hitam, sementara langit tampak temaram seperti lembayung senja: bukan malam, bukan pagi, bukan siang. Nenek itu memberi isyarat agar tidak lama-lama di tempat itu.
Mereka lanjut, dan Mas Jaya mendengar suara gamelan yang mendayu tanpa suling, semakin dekat seperti ada hajatan. Ia juga mencium bau menyan putih bercampur bau amis seperti darah, dan melihat kerumunan “orang” dengan bentuk yang aneh-aneh. Mas Jaya menahan diri untuk tidak banyak menatap, memilih fokus mengikuti nenek.
Dari rimbun pepohonan yang tampak tertata lurus, mereka keluar ke jalan kampung yang terasa sejuk namun tanpa angin. Lalu tampak gapura bambu beratap ijuk, dengan tiga sosok menunggu: satu paling depan terlihat paling berwibawa, berpakaian putih dengan serban dan tasbih, dua lainnya berdiri di belakang.
Nenek itu salim, dan Mas Jaya ikut meniru. Sosok tua berjubah putih itu menggenggam tangan Mas Jaya lama—hangat, mengayomi—lalu merangkul punggungnya, menuntun berjalan pelan. Di sepanjang jalan, Mas Jaya melihat rumah-rumah unik: bagian bawah seperti tanah liat, bagian atas bilik bambu dengan pola anyaman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Mereka tiba di musala sederhana. Tempat wudunya juga aneh: air mengalir dari bambu kuning ke wadah seperti kendi, dingin tapi jatuhnya “sejuk” di kulit. Mas Jaya sempat memperhatikan penduduk di sekitar—wajahnya mirip manusia, tapi beberapa telinganya tampak agak runcing.
Selesai tahiyatul masjid, para pria tua di dalam musala malah menatap Mas Jaya dan memintanya jadi imam salat Subuh. Mas Jaya menolak halus—merasa pakaiannya kotor dan ia masih “belajar”—tapi mereka justru mempersilakan dan mendesaknya dengan sopan. Akhirnya Mas Jaya mengalah dan berdiri di depan.
Ia takbir, dan suasana menjadi hening yang “hidmat” sekali—tanpa batuk, tanpa suara pintu, tanpa riuh seperti musala di dunia. Mas Jaya membaca pelan, bahkan memberi jeda di tiap ayat karena merasa tenang luar biasa, lalu membaca surat Al-Qalam yang panjang. Setelah salam, ia menoleh—dan kaget: barisan jemaah penuh sampai belakang, padahal tadi ia menghitung hanya sekitar delapan orang.
Mas Jaya lalu mempersilakan sosok tua yang menjemputnya untuk memimpin doa, karena ia merasa tidak pantas mendoakan orang “lebih alim.” Jawabannya membuat darah Mas Jaya dingin: sosok itu bilang, menjadi kehormatan bagi “bangsa mereka” bisa diimamkan salat oleh manusia. Di situlah Mas Jaya sadar: ia baru saja mengimamkan salat Subuh untuk bangsa gaib—jin muslim—yang hidup di alam itu.
Belum selesai rasa kagetnya, cuaca berubah ganas. Petir menggelegar, angin menderu, hujan angin datang seperti diseret dari langit, dan terdengar keributan di luar musala. Seorang perempuan berkebaya hitam—disebut bernama Linggi—menunjuk Mas Jaya dengan amarah, menuduh manusia mengotori tanah mereka dan meminta “anak manusia yang bersalah” diserahkan untuk dihukum.
Sosok tua itu menenangkan Linggi dan bernegosiasi, mengatakan Mas Jaya akan menjadi tanggung jawabnya dan akan dikembalikan ke alamnya. Tapi ketegangan keburu pecah: pasukan Linggi dan kelompok lain seperti bertarung, ada yang terbang, ada yang diikat, ada yang seolah dibakar, sementara awan hitam berputar di atas seperti pusaran dimensi. Mas Jaya hanya bisa gemetar dan minta ampun.
Setelah beberapa saat, Linggi akhirnya mundur—masih menahan emosi—dan suasana pelan-pelan mereda. Mereka membersihkan dampak hujan angin, membenahi pagar dan ranting yang jatuh. Sosok tua itu lalu mengantar Mas Jaya menuju gapura, memberi wejangan yang menancap di hati: seberat apa pun masalah manusia, hidup cuma sebentar; dan orang-orang yang menyakiti justru bisa jadi ladang pahala kalau kita sabar dan tetap berbuat baik.
Nenek yang tadi menuntun Mas Jaya kembali menggandengnya pulang dengan langkah cepat. Mas Jaya merasa seperti ada yang mengintai dari kanan-kiri sepanjang jalan, meski tak selalu terlihat jelas. Waktu terasa panjang—seperti berjam-jam—sampai mereka berhenti di dua pohon besar, lalu nenek itu berpisah dan seakan berpesan agar Mas Jaya “tetap seperti ini” (tetap ingat dan menjaga diri).
Tiba-tiba Mas Jaya mendengar suara teman-temannya memanggil dan memarahinya. Jam menunjukkan sekitar 05.30. Teman-temannya bilang mereka mencari Mas Jaya dari subuh, bahkan rombongan lain ikut membantu karena mengira ia jatuh jurang atau hilang. Mas Jaya tercengang: ia merasa sudah “setengah hari” di alam itu, tapi di dunia ternyata baru sebentar.
Pendakian mereka lanjut sampai puncak dengan ditemani rombongan lain agar aman. Namun dampak cerita itu ternyata panjang: beberapa bulan setelah kejadian, Mas Jaya mendengar Benny meninggal karena kecelakaan, sementara Dita disebut masih sering mengalami gangguan. Ketika Mas Jaya akhirnya bertanya pada pamannya yang paham pusaka dan “kitab-kitab”, ia mendapat penjelasan yang menohok: kemarahan Linggi dipicu perbuatan kotor yang dilakukan Benny dan Dita di gunung—dan Mas Jaya terseret karena ia “pintu” yang masih menjaga salat dan adab. Sejak itu, Mas Jaya memegang satu pelajaran: mendaki bukan cuma soal kuat fisik, tapi juga sopan santun—hormati tempat, jaga lisan, dan jangan melakukan hal yang merusak kesucian alam yang kita singgahi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
