Sejak masih bayi, Teh Risa Saraswati sudah memperlihatkan gelagat yang tidak biasa. Ibunya kerap melihat si kecil menangis tanpa sebab yang jelas, seolah merespons sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Tanda-tanda itu terus berlanjut hingga usianya menginjak tiga tahun, saat ia diajak melayat seorang sahabat ibunya yang meninggal dunia. Di depan pintu rumah duka, Teh Risa kecil menjerit ketakutan dan menolak masuk, sementara ia bergumam bahwa ia melihat sang almarhum dalam kondisi yang persis seperti cara kematiannya sesuatu yang baru diketahui keluarganya beberapa hari kemudian.
Kejadian itu membuat orang tua Teh Risa mulai cemas dan berharap kemampuan itu akan pudar seiring bertambahnya usia. Namun harapan itu tidak menjadi kenyataan. Justru sebaliknya, semakin Teh Risa tumbuh besar, semakin dalam dan tajam pula kepekaan yang ia miliki. Kemampuan tersebut ternyata bukan datang dari ruang hampa, melainkan merupakan waTeh Risan dari sang kakek. Karena Teh Risa adalah cucu pertama, dialah yang paling awal merasakannya, meski kelak kemampuan serupa juga muncul pada sepupu-sepupunya, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Teh Risa kecil tidak menyadari bahwa sosok-sosok yang ia ajak bermain bukanlah manusia biasa. Ia mengenal mereka selama setahun penuh sebagai tetangga yang tidak boleh bermain sembarangan, yang bersekolah di rumah, dan dilarang bepergian oleh orang tua mereka. Lima anak itu, yang belakangan dikenal sebagai Peter, Hans, Henrik, Yansen, dan William, begitu akrab dengannya hingga ia menjaga keberadaan mereka sebagai rahasia kecilnya sendiri. Ia merasa beruntung berteman dengan mereka, bahkan bangga karena mengira mereka adalah anak-anak bule yang memilihnya sebagai teman bermain.
Kecurigaan keluarga mulai tumbuh ketika Teh Risa terdengar bernyanyi dan tertawa sendirian di kamarnya, bahkan pernah terlihat menari tanpa seorang pun di sisinya. Saat seorang anggota keluarga mendengar suara tawa banyak anak dari dalam kamar mandi, namun yang keluar hanya Teh Risa seorang, barulah semuanya mulai bertanya-tanya. Kakek dari pihak yang mewarisi kemampuan itu akhirnya turun tangan. Ia meminta Teh Risa untuk memanggil teman-temannya dengan cara menyanyikan lagu yang biasa mereka nyanyikan bersama, yaitu tembang “Abdi teh aya gaduh hiji boneka.” Ketika lagu itu dilantunkan, suara-suara itu pun terdengar, dan barulah Teh Risa membuka matanya untuk menyaksikan wujud asli mereka yang sesungguhnya.
Apa yang dilihat Teh Risa saat itu menorehkan luka yang dalam di hatinya. Sosok-sosok yang selama ini ia anggap sahabat terdekat ternyata tampak mengenaskan, ada yang terpisah kepala dari tubuhnya, ada yang penuh darah, ada yang kulitnya mengeriput dengan tulang-tulang yang tersembul keluar. Mereka memohon agar Teh Risa menutup matanya, tapi keterlanjuran sudah terjadi. Bagi Teh Risa, momen itu menjadi salah satu pengalaman paling menyedihkan dalam hidupnya, saat harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sahabat-sahabatnya bukan dari dunia yang sama dengannya.
Setelah dipisahkan dari kelima anak itu, Teh Risa tidak lantas terbebas dari dunia gaib. Justru sosok-sosok lain mulai berdatangan, mulai dari kuntilanak, sosok bernama Asih, Ivana, dan bermacam-macam makhluk lainnya. Teh Risa yang beranjak remaja itu akhirnya mencoba diam-diam menemui orang pintar untuk menghilangkan kemampuannya, tanpa sepengetahuan keluarga. Ia minum berbagai ramuan dan menjalani beragam ritual, namun semuanya sia-sia. Kemampuannya tidak hilang, bahkan semakin tajam. Ketika ia menolak kehadiran makhluk-makhluk itu, mereka memaksanya dengan cara merasuki tubuhnya, membuat Teh Risa menjadi anak yang paling sering kesurupan di sekolah, sesuatu yang ia rasa sangat memalukan.
Titik terendah dalam hidup Teh Risa justru datang dari kelima sahabatnya sendiri. Pada usia dua belas tahun, Peter—yang merupakan yang tertua di antara mereka dengan usia tiga belas tahun—mengajak Teh Risa untuk ikut bersama mereka selamanya. Mereka menggambarkan dunia orang dewasa sebagai sesuatu yang menyedihkan, penuh tangisan, penuaan, dan kematian. Mereka menawarkan keabadian bermain bersama, dan Teh Risa kecil yang polos pun mengiyakannya. Dalam tiga kali percobaan yang diarahkan oleh kelima sosok itu, Teh Risa nyaris kehilangan nyawanya sebelum akhirnya ia menyadari bahwa ada sesuatu yang melindunginya dan belum saatnya ia pergi.
Setelah berbagi cerita dengan kakeknya dan mendapat teguran keras, Teh Risa akhirnya membuka segalanya. Kakek pun mengajarinya cara menyaring, bukan mengusir—memilih mana yang perlu dilihat dan mana yang tidak. Dari situ Teh Risa belajar zikir, ibadah, dan doa-doa yang diberikan sang kakek. Perlahan, kemampuan itu mulai bisa ia kendalikan. Ia tidak lagi menjadi korban dari apa yang selama ini ia rasakan sebagai kutukan, melainkan mulai belajar hidup berdampingan dengan realitas yang berbeda dari kebanyakan orang.
Cinta Teh Risa pada musik menjadi jalan pertama untuk menyalurkan pengalaman hidupnya yang luar biasa itu. Pada tahun 2010, ia memberanikan diri membuat proyek musik solo bernama Sarasfati, nama yang ia ambil dari gabungan nama Saraswati dalam ejaan Sanskrit. Lagu pertama yang ia tulis bercerita tentang Peter, dengan lirik berbahasa Inggris yang menggambarkan sosok anak kecil yang kadang terlihat, kadang tidak, dengan warna abu-abu yang lekat. Orang-orang pun mulai bertanya-tanya tentang sosok di balik lagu tersebut, dan dari rasa penasaran itulah segalanya bermula.
Di era Twitter yang sedang berjaya, Teh Risa mulai bercerita tentang Peter dan kawan-kawannya lewat cuitan-cuitan pendek, hanya seratus empat puluh karakter per pesan. Tanpa ia duga, tulisan-tulisan itu menarik perhatian seorang penerbit. Ia diyakinkan bahwa cerita-ceritanya layak dituangkan ke dalam buku. Maka lahirlah Danur, buku pertama yang mengisahkan persahabatan Teh Risa dengan lima hantu anak-anak Belanda. Buku itu kemudian mengantarkannya ke layar televisi, ke dunia penelusuran bersama Mas Tukul Arwana, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya sebagai seseorang yang memeluk kemampuannya alih-alih lari darinya.
Pengalaman pertama penelusuran di Jambi menjadi momen yang tidak pernah terlupakan. Untuk pertama kalinya, Teh Risa menyaksikan meja dan kursi di dalam kelas berterbangan di depan matanya. Sesuatu yang dulu ia hindari, kini ia datangi dengan kesadaran penuh. Anehnya, semakin ia menjalani penelusuran demi penelusuran, semakin ia menyukai prosesnya. Ia mendapatkan wawasan baru bahwa kehadiran makhluk lain tidak hanya terbatas di rumah atau sekolahnya, melainkan ada di mana-mana, di setiap sudut yang pernah ia kunjungi.
Pada tahun 2017, Teh Risa mendirikan Jurnal Risa di YouTube dengan cara yang sangat sederhana. Ia bahkan tidak tahu cara kerja platform tersebut dan harus bertanya apakah layanan itu gratis atau tidak. Berawal dari dirinya sendiri yang bercerita dan sesekali mendatangi tempat-tempat seram, respons penonton ternyata sangat besar. Satu per satu anggota keluarganya yang awalnya hanya menonton di belakang layar mulai diajak bergabung, hingga terbentuklah tim Jurnal Risa yang kini dikenal luas.
Di tengah perjalanan Jurnal Risa, ada satu momen yang membuat Teh Risa bersumpah tidak akan mengulanginya. Saat itu ia sedang hamil empat bulan dan tetap nekat ikut syuting meski hanya bertugas membuka dan menutup acara. Di lokasi penelusuran yang sempat viral, yakni tempat seorang pengemudi online menjemput empat penumpang namun melihat lima orang, Teh Risa yang menunggu di dalam mobil tiba-tiba bertatapan dengan sosok kuntilanak di atas pohon yang menyeringai ke arahnya. Malam harinya, makhluk yang sama mendatanginya dalam kondisi tindihan, duduk di atas perutnya sambil menunjuk-nunjuk kandungan dan berkata, “Ieu keur urang,” artinya ini milikku.
Selain dengan kelima anak Belanda dan pengalaman di jalan tol, Teh Risa juga pernah berinteraksi dengan sosok penari bernama Sukma. Pertemuan itu bermula dari sesuatu yang melempar mobilnya di jalan tol saat ia pulang kerja malam dari Karawang menuju Bandung. Teh Risa yang marah turun dari mobil dan menantang siapa pun yang berani, hingga sosok perempuan tanpa busana muncul dari pohon. Sosok itu kemudian mengikutinya dan mulai hadir dalam mimpi-mimpinya, memperlihatkan dirinya sebagai penari ronggeng yang cantik, lalu menggendong bayi yang tidak bernyawa, lalu dilempar ke jurang oleh sekelompok orang.
Kisah Sukma yang akhirnya diceritakan langsung kepada Teh Risa adalah kisah seorang ibu tunggal yang perlahan terperangkap dalam jerat pesugihan. Ia mendatangi orang pintar demi mempertahankan kecantikan dan sumber nafkahnya sebagai penari. Tumbal yang awalnya hanya berupa ayam kemudian berlanjut menjadi kerbau, dan tanpa ia sadari, yang terakhir diminta adalah nyawa anaknya sendiri. Ketika semua orang mengetahui perbuatannya dan mengucilkannya hingga akhirnya ia dibuang ke jurang, kematiannya bukan menjadi pembebasan. Karena perjanjian yang pernah ia buat mengubahnya menjadi sosok yang menyerupai Wewe Gombel, bergumam tidak jelas, menggaruk-garuk badannya yang bersisik.
Teh Risa meyakini bahwa cara terbaik untuk membebaskan diri dari sosok-sosok itu bukan dengan mengusir, melainkan dengan mendengarkan dan menuliskan kisah mereka. Ketika ia menulis tentang Sukma, tubuhnya merasakan dampaknya secara fisik, mulai dari bisul yang tumbuh di berbagai bagian tubuh hingga kepala yang mengeluarkan nanah. Namun begitu kisah itu selesai dituangkan ke dalam buku, semua gangguan itu lenyap seketika. Cara yang sama ia terapkan untuk sosok-sosok lainnya, Ivana, Asih, Samanta, Sandekala, dan banyak lagi. Mendengarkan mereka, kata Teh Risa, membuat makhluk-makhluk itu merasa hidup walau sebentar.
Teh Risa juga menemui fenomena gaib di tempat-tempat yang tidak terduga, termasuk di restoran dan warung makan biasa. Sebagai seseorang yang peka, ia bisa merasakan perbedaan antara makanan yang dimasak dengan cara biasa dan yang menggunakan penglaris. Bagi orang lain, makanan di tempat itu mungkin terasa lezat dan menggugah selera, namun bagi Teh Risa lidahnya hanya merasakan hambar. Bahkan pernah suatu kali ia masuk ke toilet yang salah di sebuah restoran dan mendapati sesuatu yang berjongkok di atas bahan makanan, menyeringai begitu melihatnya. Ia memilih membatalkan makan di tempat itu dan langsung pergi.
Tempat yang juga banyak menyimpan kegelisahan bagi Teh Risa adalah pasar, khususnya pasar-pasar yang sudah tidak aktif. Ketika tim Jurnal Risa mendatangi pasar-pasar terbengkalai, mereka kerap menemukan sosok-sosok yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya, tanpa diberi sesajen, tanpa perawatan, karena sang pemilik entah sudah pindah atau telah tiada. Sosok-sosok itu menjadi meresahkan karena terabaikan, dan kehadiran tim Jurnal Risa di tempat-tempat seperti itu selalu menjadi pengalaman yang melelahkan secara energi.
Bagi mereka yang mengaku memiliki kemampuan seperti dirinya, Teh Risa menyampaikan pesan yang tegas namun penuh empati. Menurutnya, seseorang yang benar-benar mengalami kemampuan itu tidak akan pernah merasa bangga menceritakannya kepada orang lain, karena melewati semua ini sungguh tidak mudah. Saran yang paling ia tekankan adalah pentingnya mencari teman untuk berbagi, karena diam dan memendam segalanya sendiri hanya akan membuat seseorang semakin terserap ke dalam dunia lain. Teman yang nyata, yang bisa diajak bicara di dunia ini, adalah jangkar yang menjaga seseorang tetap berpijak di atas tanah.
Hari ini, Teh Risa bukan lagi gadis kecil yang menangis ketakutan di depan rumah duka, bukan pula remaja yang sembunyi-sembunyi mencari orang pintar untuk menghilangkan kemampuannya. Ia adalah seorang ibu, penulis, musisi, dan kreator yang telah belajar berdamai dengan apa yang pernah ia anggap sebagai kutukan terberat dalam hidupnya. Perjalanan panjang itu mengajarkannya bahwa tidak semua yang menakutkan perlu dilawan, dan tidak semua yang tak terlihat perlu ditakuti. Kadang, menerima adalah cara paling tenang untuk hidup berdampingan dengan hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika biasa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
