Teh Sasa adalah perempuan muda yang pulang dari Jakarta dengan tangan kosong namun hati penuh tekad. Setelah bekerja keras merantau di ibu kota sejak 2021, ia berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp12 juta — modal yang ia niatkan bukan untuk kembali mencari kerja, melainkan untuk membuka usaha sendiri di kampung halaman. Ia sudah lelah mengikuti aturan orang lain, lelah jauh dari keluarga, dan rindu membangun sesuatu atas namanya sendiri.
Bersama sang ibu yang dikenal pandai memasak, Teh Sasa memutuskan membuka warung sop iga. Alasannya sederhana: masakan ibunya memang luar biasa enak, dan warung makan seperti warteg sudah terlalu banyak bertebaran. Sop iga terasa berbeda, lebih punya daya tarik tersendiri. Keduanya lalu sibuk mencari lapak yang pas, berkeliling dari pagi hingga sore hari tanpa hasil, sebelum akhirnya bertemu teman lama bernama Ita yang membantu mencarikan lokasi strategis.
Lapak yang mereka temukan memang butuh perjuangan ekstra. Tempat itu berwujud gubuk tua dari kayu yang sudah lama tidak terpakai, dengan harga sewa Rp5 juta per tahun. Setelah negosiasi alot, pemilik lapak menyetujui kontrak setengah tahun dengan harga Rp3 juta. Teh Sasa langsung bergerak cepat — renovasi habis-habisan menggunakan material GRC, memasang kursi yang nyaman, bahkan menyediakan Wi-Fi gratis agar pelanggan betah berlama-lama. Total biaya renovasi mencapai Rp8 juta, nyaris menguras seluruh modalnya.
Hari pembukaan tiba setelah bertanya pada ustaz soal hari baik untuk berdagang. Warung dibuka pada hari Selasa, sesuai anjuran. Minggu pertama masih sepi, hanya satu dua pembeli dari kalangan tetangga dan orang yang kebetulan lewat. Namun memasuki bulan pertama, omset mulai tumbuh perlahan. Para sales, sopir, dan pekerja jalur Pantura mulai berdatangan. Dalam sebulan, pemasukan menyentuh angka Rp1,5 juta — angka yang cukup menggembirakan bagi seorang pedagang baru.
Namun keberhasilan itu rupanya tidak semua orang sambut dengan lapang dada. Memasuki bulan ketiga hingga keempat, pemilik warung sebelah mulai mengambil tindakan. Pelanggan mereka berkurang drastis karena beralih ke warung Teh Sasa. Dengan emosi meluap, sang pemilik warung mendatangi lapak Teh Sasa, memaki-maki di depan umum, bahkan mengklaim ia sendiri memakai pesugihan dan dukun — seolah ingin menakuti Teh Sasa agar menyerah. Pelanggan yang mendengar itu pun sempat kabur karena merasa tidak nyaman.
Meskipun sempat terguncang, Teh Sasa memilih mengikuti nasihat ibunya untuk tidak peduli dan tetap buka warung seperti biasa. Tapi itu bukan akhir cerita. Beberapa hari kemudian, bukan satu warung yang datang menyerang — melainkan sekitar lima warung sekaligus. Mereka bergerombol, maki-maki Teh Sasa, bahkan menghancurkan etalase dagangannya. Kopi-kopi tumpah, makanan berserakan, dan Teh Sasa hanya bisa diam membeku tanpa mampu melawan. Para pembeli yang sedang makan pun ikut pergi tanpa sempat membayar.
Malam itu Teh Sasa pulang dengan hati hancur. Ia menutup diri di kamar, menangis, dan memutar otak mencari jalan keluar. Di saat itulah Ita menelepon dan menanyakan kabar. Dengan suara tersedu, Teh Sasa menceritakan semuanya. Dan Ita pun mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidup Teh Sasa selamanya: “Kalau kamu dagangnya mau awet, ya kamu makai susuk.” Teh Sasa awalnya menolak mentah-mentah, tapi bayangan warungnya yang sunyi dan etalase yang hancur terus membayangi pikirannya.
Beberapa hari bergulat dengan keraguan, Teh Sasa akhirnya menelepon Ita dan menyatakan kesiapannya. Ita pun mengingatkan dengan serius bahwa ada risiko, ada syarat, dan ada pantangan yang harus ditaati dengan ketat. Malam itu, tepatnya malam Jumat Kliwon yang bertepatan dengan hari lahir Teh Sasa, keduanya berangkat menuju sebuah gubuk tua di tengah sawah dan kolam ikan, sekitar dua puluh menit dari rumah. Di sana tinggal seorang Mbah berusia sekitar enam puluhan, tubuhnya masih kuat meski wajahnya sudah keriput dimakan usia.
Ritual dimulai. Teh Sasa hanya mengenakan selembar kain jarik, duduk bersila di hadapan sesajen yang sudah disiapkan: kain kafan, tiga jarum, kembang tujuh rupa dua kantong, ayam cemani yang masih hidup, dan ayam bekakak. Teh Sasa diminta membaca bacaan tertentu sebanyak tujuh kali. Dan tak lama kemudian, sebuah sosok muncul — perempuan cantik, putih bersih, berpakaian kebaya gaun panjang yang bercahaya. Sosok itu berbalik dan masuk ke dalam tubuh Teh Sasa dari belakang, meninggalkan sensasi seperti menabrak tembok, berat, dan hampir pingsan.
Setelah sosok itu bersatu dengan tubuhnya, si Mbah menusukkan jarum ke pipi kanan, pipi kiri, jidat, dan dagu Teh Sasa — memencet tiap tusukan hingga darah keluar. Darah itu kemudian dioleskan melingkar seperti jarum jam tiga kali, dan meresap sendiri ke dalam pori-pori tanpa jejak. Setelah itu, Teh Sasa disuruh meminum segelas darah ayam cemani yang baru dipotong. Bau anyir yang luar biasa harus ditelannya bulat-bulat tanpa boleh tersisa setetes pun. Ritual ditutup dengan mandi telanjang di kolam ikan pada dini hari, menyelup tiga kali di antara taburan bunga.
Pantangan yang ditetapkan si Mbah sangat ketat: Teh Sasa tidak boleh makan jeroan — ati, ampela, usus — dan sama sekali tidak boleh berciuman bibir dengan siapa pun. Jika dilanggar, kata si Mbah, usahanya akan hancur, kecantikannya memudar, bahkan nyawanya bisa melayang. Teh Sasa mengiyakan semua syarat itu dengan penuh keyakinan. Mahar pun disepakati seharga Rp4 juta setelah Ita membantu melobi agar si Mbah tidak meminta sesuatu yang lebih berat. Teh Sasa pulang dini hari dengan perasaan campur aduk antara harap dan cemas.
Keesokan harinya, warung Teh Sasa benar-benar berubah drastis. Pelanggan berdatangan sejak pagi, hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Para tamu tak henti memuji kecantikan Teh Sasa, memberi tips tanpa diminta, bahkan ada yang rela memberikan uang hanya karena diminta membelikan skincare atau lipstik. Omset yang sebelumnya hanya Rp1,5 juta per hari melejit menjadi Rp7 hingga Rp10 juta sehari — angka yang luar biasa untuk warung sop iga di pinggir jalan. Dalam waktu singkat, Teh Sasa berhasil membeli motor NMAX secara tunai dari hasil dagangannya.
Namun kemewahan itu datang bersama ujian. Di tengah ramainya warung, hadir seorang laki-laki bernama Mas Oji, pemilik pejagalan yang selama ini mengirim daging ke warung Teh Sasa. Ia tampan, mapan, dan penuh perhatian. Ia menawarkan hubungan lebih dari sekadar relasi dagang — menjanjikan pemenuhan semua kebutuhan Teh Sasa. Teh Sasa yang saat itu belum pernah merasakan cinta tergoda, apalagi sosok susuk di dalam tubuhnya membuat tiap laki-laki yang memandangnya seperti tersihir. Mas Oji pun menghadiahi Teh Sasa satu set perhiasan emas, lalu sebuah mobil Honda Brio kuning yang dibeli secara tunai atas nama Teh Sasa.
Hubungan antara Teh Sasa dan Mas Oji berjalan hampir tiga bulan. Tapi ada satu hal yang selalu dihindari Teh Sasa dengan mati-matian: ciuman. Ia terus berkelit, menghindari kontak bibir ke bibir meski hubungan lainnya telah jauh melampaui batas. Mas Oji yang penasaran akhirnya tidak bisa menahan diri. Suatu hari, ia mencekik Teh Sasa sehingga tidak bisa menghindar, dan pantangan itu pun dilanggar. Teh Sasa menangis sepanjang perjalanan pulang, hatinya dipenuhi penyesalan dan ketakutan yang luar biasa.
Keesokan harinya, badan Teh Sasa mulai terasa tidak karuan. Nafsu makan hilang, tubuh lemas, dan warungnya seketika menjadi sunyi senyap. Pelanggan yang biasanya berjubel tidak ada satu pun yang datang. Bahkan Rp100.000 pun tidak mampu diraih dalam sehari. Kondisi Teh Sasa terus memburuk dari hari ke hari — hingga ia benar-benar tidak bisa bangkit dari tempat tidur, tidak bisa menelan makanan, tidak bisa berbicara, seperti orang yang terseret stroke. Dokter di puskesmas dan rumah sakit hanya menyebutnya demam biasa, meski kondisi Teh Sasa sama sekali tidak membaik.
Atas saran tetangga, orang tua Teh Sasa akhirnya membawanya ke sebuah pesantren untuk diterakati. Selama dua minggu penuh, Teh Sasa dirawat oleh sang kiai dan para santri yang bergantian membacakan Al-Qur’an tanpa henti, siang dan malam. Di hari ke-sepuluh, Teh Sasa mulai sadar. Dan saat itulah sang kiai memberitahu orang tuanya dengan terus terang: Teh Sasa memakai susuk, ia melanggar pantangan, dan susuk itu harus segera dicabut oleh orang yang memasangnya. Sang ibu yang mendengar pengakuan itu langsung pingsan di tempat.
Kepulangan dari pesantren membawa kewajiban berat: menemui si Mbah dan meminta susuk dicabut. Harus menunggu hingga malam Jumat Kliwon berikutnya, hampir tiga minggu lamanya. Ita ikut menjemput Teh Sasa dan meminta maaf dengan berurai air mata — ia merasa bersalah telah mengajak sahabatnya ke jalan yang salah itu. Malam Jumat Kliwon itu pun tiba, dan keduanya berangkat menuju gubuk si Mbah dengan harapan besar bahwa semua bisa berakhir malam itu.
Namun takdir berkata lain. Setibanya di sana, mereka mendapati rumah si Mbah gelap gulita dan tidak ada jawaban di balik pintu. Seorang warga yang kebetulan lewat menyampaikan kabar yang membuat Teh Sasa roboh: si Mbah telah meninggal dunia seminggu yang lalu. Teh Sasa menangis sejadi-jadinya di depan pintu yang terkunci itu. Susuk di tubuhnya tidak bisa dicabut karena yang memasang telah tiada, sementara jarum yang digunakan untuk upacara pencabutan harus jarum yang sama persis saat pemasangan pertama.
Ita berusaha menenangkan Teh Sasa dengan menjelaskan bahwa meski susuk itu tidak bisa dicabut, tanpa “pengecasan” rutin ke si Mbah, efeknya tidak akan lagi terasa — kecantikan tidak lagi terpancar, dagangan tidak lagi laris. Namun sosok-sosok yang selama ini mengikuti Teh Sasa akan tetap tinggal di rumahnya. Dan kenyataan itu terbukti. Hingga kini, berbagai penampakan terus terjadi di rumah Teh Sasa: sosok nenek-nenek, anak kecil bermata merah, bahkan wujud yang menyerupai dirinya sendiri. Suami, anak, dan orang tuanya pun sering melihat sosok-sosok itu.
Kini Teh Sasa telah menikah dan dikaruniai seorang anak. Warung sop iganya sudah lama tutup, motor hasil keringatnya terjual untuk biaya berobat dan makan sehari-hari, sementara BPKB mobil Brio pemberian Mas Oji disekolahkan demi kelangsungan hidup keluarganya. Teh Sasa masih terus mencari dukun yang mampu mencabut susuk darahnya, namun belum ada satu pun yang bisa melakukannya karena konon hanya ahli susuk darahlah yang sanggup menangani jenis susuk semacam ini. Di balik kesuksesan sesaat yang terasa seperti mimpi, Teh Sasa kini hidup dengan pelajaran pahit: jalan pintas selalu punya harga yang jauh lebih mahal dari yang kita bayangkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
