Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Itulah yang dialami Mbak Nurul, seorang perempuan yang tumbuh di sebuah kampung sederhana bersama kedua orang tuanya. Sang ayah bekerja sebagai petani dan ibunya berjualan dari rumah. Kehidupan keluarganya jauh dari kata berkecukupan, namun mereka menjalaninya dengan penuh kesederhanaan. Di tengah kondisi itulah Nurul muda bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik.
Pada tahun 2013, Mbak Nurul berkenalan dengan seorang pria yang kemudian menjadi suaminya, yang ia sebut Mas Roni. Perkenalan mereka berlangsung singkat, dan tidak lama kemudian mereka memutuskan untuk menikah pada tahun 2014. Karena kesenjangan ekonomi antara keluarga Mbak Nurul yang sederhana dengan keluarga Mas Roni yang cukup berada membuat Mbak Nurul merasa minder, Mas Roni pun dengan lapang dada memilih untuk tinggal di rumah keluarga istrinya agar sang istri merasa lebih nyaman.
Awal pernikahan mereka berjalan bahagia. Mas Roni adalah sosok yang perhatian dan penyayang. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah Mbak Nurul melahirkan anak pertama mereka, sesuatu mulai berubah pada diri sang suami. Perlahan tapi pasti, sikap Mas Roni bergeser — dari yang semula penuh kasih sayang menjadi dingin, acuh tak acuh, bahkan enggan memberikan nafkah secara sukarela.
Perubahan suami yang drastis itu meninggalkan luka yang dalam bagi Mbak Nurul. Ia harus meminta lebih dulu setiap kali membutuhkan uang untuk kebutuhan rumah tangga dan anaknya. Perasaan tidak dihargai menggerogoti batinnya dari hari ke hari. Rumah tangga yang tadinya terasa hangat kini berubah menjadi beban yang berat untuk dipikul seorang diri, sementara ia juga harus membesarkan si kecil di tengah tekanan ekonomi yang semakin terasa.
Akhirnya Mbak Nurul memutuskan untuk pergi dari kampung halaman dan merantau ke kota, tinggal bersama adiknya yang bernama Sarniti. Di sana ia mulai mencari penghasilan sendiri dengan bekerja pada siang hari. Namun penghasilan yang didapat dari pekerjaan tersebut dirasa masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan anaknya, mengirim uang ke orang tuanya di kampung, serta biaya hidupnya sendiri sehari-hari.
Di tempat kerja itulah Mbak Nurul berkenalan dengan seorang wanita yang dipanggilnya Teh Nita. Teh Nita bekerja di sebuah warung remang-remang — tempat yang menjadi singgahan para sopir truk dan tamu-tamu berduit untuk minum dan berkaraoke. Teh Nita terlihat hidup berkecukupan, selalu bisa membeli ini dan itu, dan tampak jauh lebih sejahtera dibanding Mbak Nurul. Tanpa banyak berpikir panjang, Teh Nita kemudian mengajak Mbak Nurul untuk ikut bekerja di tempat yang sama di malam hari.
Mbak Nurul tidak langsung mengiyakan tawaran itu. Hatinya menolak, namun godaan penghasilan besar terasa begitu berat untuk diabaikan. Setelah semalaman bergulat dengan pikirannya sendiri di kontrakan adiknya, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran Teh Nita. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ini semua ia lakukan demi anak dan demi orang tuanya yang selama ini hidup susah.
Hari pertama bekerja di warung remang-remang terasa sangat tidak nyaman bagi Mbak Nurul. Ia harus mengenakan pakaian seksi dan rok mini — jauh dari kebiasaannya sehari-hari. Ia menemani tamu-tamu minum dan berkaraoke, namun karena masih malu-malu dan belum berani bersikap lebih berani, penghasilannya sangat kecil, hanya sekitar lima puluh hingga seratus ribu rupiah semalam. Sementara rekan-rekannya bisa meraup antara tiga ratus lima puluh ribu hingga satu juta rupiah dalam satu malam.
Setelah hampir seminggu bekerja dengan hasil yang jauh dari harapan, Mbak Nurul mengeluh kepada Teh Nita. Saat itulah Teh Nita menawarkan sesuatu yang berbeda — bukan sekadar tips cara merayu tamu, melainkan sebuah jalan pintas yang lebih gelap. Teh Nita mengajaknya menemui seseorang yang diyakini bisa membuat Mbak Nurul lebih “laku” dan mudah menarik perhatian laki-laki, tanpa perlu bersusah payah merayu.
Pada suatu hari Rabu yang masih diingatnya dengan jelas, Teh Nita mengajak Mbak Nurul berkendara motor melewati hutan-hutan yang sepi menjelang Maghrib. Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam, melewati jalur yang dipenuhi perkebunan kayu putih dan hanya sesekali terlihat rumah atau warung tutup di pinggir jalan. Rasa takut akan begal berkecamuk di benak Mbak Nurul, namun ia tetap mengikuti langkah Teh Nita yang tampak sudah sering melewati jalur itu.
Mereka berhenti di sebuah rumah yang agak masuk ke dalam hutan, menitipkan motor di sana, lalu berjalan kaki selama sekitar setengah jam ke dalam hutan yang sesungguhnya. Di ujung perjalanan itu, berdiri sebuah gubuk kecil dari bambu dengan sebuah bale bambu di depannya dan penerangan hanya dari lampu petromak. Di situlah tinggal seorang pria tua bertubuh sangat kecil dan pendek, mengenakan ikat kepala hitam dengan pakaian lusuh — sosok yang mereka panggil “Abah.”
Di gubuk tersebutlah Mbak Nurul menjalani proses pemasangan susuk berlian — sebuah ritual supranatural yang dipercaya bisa mendatangkan daya tarik terhadap lawan jenis. Proses itu berlangsung sepanjang malam hingga dini hari, dalam suasana yang mencekam dan penuh ketidakpastian. Selain susuk yang ditanam di tubuhnya, make up milik Teh Nita yang dibawa ke sana pun turut dijampe-jampe oleh sang Abah dengan tulisan-tulisan beraksara Jawa. Si Abah juga memberikan sejumlah pantangan yang wajib ditaati agar susuk itu bekerja dengan baik.
Ketika kembali bekerja keesokan harinya, hasilnya terasa berbeda secara drastis. Mbak Nurul hanya perlu duduk diam, menatap para tamu dengan senyum tipis, dan mereka datang sendiri menghampirinya. Para bos yang biasanya tidak meliriknya kini tertarik tanpa perlu diajak bicara. Penghasilan dari uang tips pun melonjak jauh melampaui apa yang pernah ia dapatkan sebelumnya. Susuk itu benar-benar bekerja seperti yang dijanjikan Teh Nita.
Di sinilah Mbak Nurul bertemu dengan Mas Bram, seorang pengusaha beras yang menjadi pelanggan di warung tersebut. Berbeda dari tamu-tamu lain yang kasar dan iseng, Mas Bram bersikap sopan dan menghargai Mbak Nurul sebagai seorang wanita. Kedekatan keduanya terjalin secara alami — Mas Bram rutin datang ke warung, mentransfer uang, dan memperlakukan Mbak Nurul layaknya seorang kekasih. Setelah tiga bulan, hubungan mereka semakin dalam dan intim.
Mas Bram bahkan membelikan Mbak Nurul sebuah rumah agar ia tidak perlu lagi menumpang di kontrakan adiknya. Ia juga mendapatkan kendaraan dari lelaki itu. Sementara itu, adiknya Sarniti sudah mulai mengetahui bahwa kakaknya bekerja di malam hari, namun belum berani menegur karena melihat kakaknya mampu mengirim uang ke kampung dan membiayai anaknya. Mbak Nurul sendiri merasa hidupnya akhirnya mulai berkecukupan — sesuatu yang selama ini ia impikan.
Namun kehidupan mewah yang terbangun di atas ritual gelap itu tidak bertahan tanpa konsekuensi. Lambat laun, efek buruk dari susuk mulai menampakkan dirinya secara fisik. Tubuh Mbak Nurul mengalami gangguan yang mengerikan — muncul luka-luka yang berbau dan kondisi fisik yang memburuk di bagian-bagian tertentu tubuhnya. Teror-teror gaib pun mulai berdatangan, mengganggu ketenangan hidupnya dari hari ke hari. Ia menyadari bahwa harga yang harus ia bayar jauh lebih mahal dari yang pernah ia bayangkan.
Dalam kondisi yang sudah sangat memprihatinkan itulah, Mbak Nurul akhirnya dibawa untuk diruqyah oleh seorang kyai. Proses ruqyah berjalan panjang. Kyai tersebut menjelaskan bahwa susuk yang berada di wajah bisa keluar dengan cara sederhana — cukup melanggar pantangan yang ditetapkan si Abah, yakni dengan memakan sate. Namun untuk susuk yang ditanam di bagian tubuh lainnya yang lebih dalam, prosesnya lebih sulit dan membutuhkan air zam-zam yang dibawa langsung dari Makkah untuk diusapkan ke seluruh tubuh.
Alhamdulillah, proses ruqyah itu berhasil. Susuk-susuk di dalam tubuhnya keluar satu per satu. Bau tak sedap yang selama ini menghinggapi tubuhnya berangsur hilang, luka-luka mulai mengering meski meninggalkan bekas yang masih bisa dilihat hingga kini. Teror-teror gaib yang selama ini menghantuinya pun lenyap seketika setelah susuk berhasil dicabut. Adiknya dan seluruh keluarga menghela napas lega mengetahui bahwa Mbak Nurul sudah pulih.
Setelah melewati semua itu, Mbak Nurul berubah menjadi pribadi yang jauh lebih religius. Ia meninggalkan seluruh pekerjaan malamnya dan mulai membangun kehidupan yang halal. Kini ia berjualan dari rumah, kadang-kadang turun di pasar hari Minggu, dan menjalani pekerjaan sebagai makeup artist (MUA) untuk acara pernikahan. Rumah dari Mas Bram masih ia tempati dan kendaraan pemberian lelaki itu masih ia miliki — harta yang tetap ia jaga dengan baik sebagai satu-satunya aset nyata yang ia miliki.
Mbak Nurul menutup kisahnya dengan sebuah pesan tulus kepada setiap perempuan yang mungkin sedang tergoda oleh jalan pintas. Jangan pernah mencari kemudahan dengan cara yang gelap — pakai susuk, bekerja di tempat yang tidak halal, atau menempuh jalan yang diharamkan. Efeknya nyata dan mengerikan, dan ia sendiri yang merasakannya di dalam tubuhnya sendiri. Cari rezeki dengan cara yang halal meski terasa lambat dan sulit, karena jalan yang lurus akan selalu jauh lebih selamat daripada jalan pintas yang justru membawa ke jurang kehancuran.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
