Tahun 2013 menjadi salah satu masa yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Mas Gusti. Saat itu ia sedang menganggur setelah keluar dari pekerjaan lamanya. Selama dua bulan ia mencari kerja ke sana-sini, tetapi belum juga mendapatkan panggilan. Hidup terasa menggantung, sementara kebutuhan tetap berjalan dan ia mulai merasa tidak enak terus berada di rumah tanpa penghasilan.
Suatu hari, saat berkumpul dengan teman-temannya, seorang teman bernama Jefri memberi kabar tentang lowongan kerja. Katanya, ada sebuah toko sembako besar di desa yang sedang membutuhkan karyawan tambahan. Pekerjaannya mungkin kasar, karena harus angkat barang, melayani pembeli, dan membantu stok toko. Namun bagi Mas Gusti, pekerjaan apa pun lebih baik daripada terus menganggur.
Keesokan harinya, Jefri mengantar Mas Gusti ke toko tersebut. Dari luar saja, toko itu sudah terlihat besar. Bangunannya menyatu dengan rumah pemiliknya, toko di bagian depan dan rumah keluarga di belakang. Pemilik toko itu, yang disebut Bapak Utsman, menerima Mas Gusti dengan ramah. Ia menjelaskan pekerjaan, gaji, dan aturan-aturan yang harus dipatuhi selama bekerja di sana.
Ada satu aturan yang langsung menempel di ingatan Mas Gusti. Bapak Utsman melarang siapa pun masuk ke salah satu kamar di rumah itu, bahkan istrinya sendiri pun tidak boleh. Katanya, kamar tersebut berisi barang-barang antik mahal yang dibeli dari tempat jauh. Mas Gusti tidak curiga. Ia hanya berpikir, sebagai karyawan baru, tugasnya bekerja baik dan tidak melanggar aturan majikan.
Hari-hari pertama berjalan normal. Mas Gusti belajar dari dua karyawan lama, Bang Abdul dan Bang Firman. Ia diajari cara melayani pelanggan, menata stok, mengangkat barang, dan mengurus pesanan. Toko itu memang ramai, bahkan menjadi salah satu toko sembako terbesar di wilayah tersebut. Pembelinya datang dari banyak tempat, baik untuk belanja eceran maupun grosir.
Namun setelah sekitar dua minggu bekerja, kejanggalan mulai terasa. Setiap kali Mas Gusti pergi ke kamar mandi, yang letaknya bersebelahan dengan kamar terlarang itu, ia merasa ada bayangan yang mengintai. Awalnya ia hanya menengok kanan-kiri dan tidak menemukan siapa pun. Ia memilih diam, karena takut dianggap mengada-ada.
Keesokan harinya, keanehan muncul lagi. Saat rumah sedang sepi, Mas Gusti mendengar suara ramai dari kamar terlarang itu, seperti suara orang-orang sedang berbicara di pasar. Padahal Bapak Utsman, istrinya, dan anaknya sedang tidak ada di rumah. Suara itu membuat Mas Gusti merinding, tetapi ia kembali memilih tidak bercerita.
Kejadian ketiga membuatnya tidak tahan. Ia melihat bekas cakaran besar di tembok dekat kamar mandi, seperti cakaran hewan buas. Mas Gusti langsung memanggil Bang Abdul dan Bang Firman untuk melihatnya. Anehnya, saat mereka datang, bekas cakaran itu sudah hilang. Kedua karyawan lama itu hanya memberi nasihat singkat: kalau bekerja di sana, apa pun yang dilihat dan didengar sebaiknya tidak usah dipedulikan.
Nasihat itu justru membuat Mas Gusti semakin penasaran. Di atas jendela toko, ia pernah melihat benda seperti sesajen: gabah dan lipatan kain putih. Ketika ditanyakan, Bang Firman hanya menjawab bahwa mungkin itu syarat agar toko tetap ramai. Lagi-lagi, Mas Gusti diminta fokus bekerja saja, tidak perlu banyak bertanya.
Suatu malam menjelang tutup toko, Mas Gusti kembali ke kamar mandi. Saat itu dua karyawan lain sudah pulang. Tanpa sengaja, ia melihat pintu kamar terlarang sedikit terbuka. Dari celah gelap itu, tampak benda-benda seperti sesajen: dupa, kelapa, kopi hitam, gentong, dan perlengkapan ritual lain. Mas Gusti sadar, alasan “barang antik” yang dulu disebut Bapak Utsman mungkin bukan alasan sebenarnya.
Rasa penasaran itu makin besar ketika pada malam Jumat menjelang magrib, Mas Gusti melihat bayangan Bapak Utsman sedang melakukan sesuatu di dalam kamar tersebut. Dari celah pintu, ia tidak melihat jelas, tetapi gerakannya seperti orang sedang ritual. Bau dupa juga tercium sangat kuat. Mas Gusti kembali bercerita kepada Bang Firman, tetapi jawabannya tetap sama: diam, kerja saja, jangan ikut campur.
Sekitar satu setengah bulan bekerja, Bapak Utsman memanggil Mas Gusti menjelang pulang. Awalnya Mas Gusti deg-degan, mengira ia akan ditegur karena mungkin pernah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Ternyata Bapak Utsman justru memberinya kue oleh-oleh dari Bandung. Ia memuji Mas Gusti karena rajin dan cekatan, lalu menyuruhnya membawa kue itu pulang.
Mas Gusti lupa pada peringatan Bang Firman: kalau diberi sesuatu selain gaji, jangan langsung diterima. Sesampainya di rumah, ia menawarkan kue itu kepada ibunya. Ibunya belum makan, hanya menyuruh Mas Gusti mencicipi dulu dan menyimpan sisanya di meja. Malam itu Mas Gusti makan kue tersebut tanpa prasangka apa pun.
Sekitar tengah malam, teror pertama datang. Mas Gusti mendengar suara rantai besar dari arah pintu rumah, seperti bunyi logam berat yang diseret: gombrang, gombrang, gombrang. Ia keluar melihat jendela, tetapi tidak ada siapa pun. Suara itu jelas, keras, dan membuat suasana malam menjadi sangat mencekam.
Keesokan harinya, tubuh Mas Gusti mulai demam, menggigil, pusing, dan terasa berat. Menjelang malam, sakitnya semakin parah. Sekitar jam dua belas malam, ia merasa seperti ada bayangan besar menekan tubuhnya. Tenggorokannya kering, lehernya seperti dicekik, dan tubuhnya terasa ditindih makhluk besar. Ia hanya bisa menahan sakit sambil berteriak meminta tolong.
Ibunya mencoba menenangkan dengan bacaan doa dan air minum, lalu membawa Mas Gusti ke puskesmas. Dokter hanya menyebutnya demam biasa dan memberi obat. Tetapi obat itu tidak banyak membantu. Malam berikutnya, suara rantai kembali terdengar, dan Mas Gusti mengalami tekanan yang sama. Tubuhnya seperti diikat oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Karena panik, ibunya meminta bantuan Kang Eman, seseorang yang dikenal religius dan biasa membantu gangguan gaib. Kang Eman memberi air doa, lalu keesokan harinya datang ke rumah. Ia meminta garam dapur, membacakannya doa, lalu menyuruh ibu Mas Gusti menaburkannya ke setiap sudut rumah. Setelah memeriksa Mas Gusti, Kang Eman melihat kue pemberian Bapak Utsman di meja dan meminta izin membawanya.
Setelah kue itu dibawa Kang Eman, kondisi Mas Gusti mulai membaik. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Besoknya, ibunya justru jatuh sakit dengan gejala yang sama: meriang, menggigil, leher terasa ditekan, mata seperti ditarik, dan pada tengah malam terdengar lagi suara rantai besar di depan rumah. Mas Gusti sadar, gangguan itu bukan berhenti, melainkan berpindah ke ibunya.
Kang Eman akhirnya menjelaskan bahwa sumber gangguan itu ada pada kue yang diberikan Bapak Utsman. Sosok yang menyerang disebut gulang-gulang, makhluk besar, tinggi, hitam, dan identik dengan suara rantai. Untuk memutus gangguan, Kang Eman meminta Mas Gusti mengambil air dari kamar khusus Bapak Utsman. Karena mustahil masuk ke kamar ritual itu, Mas Gusti akhirnya mencuri kesempatan mengambil air dari kamar mandi pribadi Bapak Utsman.
Air itu dibawa ke Kang Eman, dibacakan doa, lalu diminumkan kepada ibu Mas Gusti. Setelah itu, ibunya muntah dan tubuhnya lemas, seperti ada sesuatu yang keluar. Perlahan sakitnya mereda dan ia mulai pulih. Dari obrolan dengan warga sekitar, keluarga Mas Gusti kemudian mengetahui bahwa Bapak Utsman memang sudah lama diisukan memakai pesugihan dan pernah ada kabar tentang korban-korban sebelumnya.
Ibunya langsung menyuruh Mas Gusti resign demi keselamatan. Mas Gusti berpamitan baik-baik kepada Bapak Utsman dan keluar dari toko itu. Beberapa bulan kemudian, kabar mengejutkan datang: toko dan rumah Bapak Utsman digerebek warga karena isu pesugihan. Rumahnya rusak, pemiliknya pergi, dan nasibnya tak lagi jelas. Dari pengalaman itu, Mas Gusti belajar bahwa mencari kerja memang penting, tetapi kewaspadaan jauh lebih penting. Sebab ketika seseorang sudah gelap mata mengejar kekayaan, orang yang tidak tahu apa-apa pun bisa dijadikan korban.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
