Tahun 2023 menjadi masa paling jatuh dalam hidup Mas Kibaw. Setelah usaha yang sebelumnya ia jalani bersama orang lain bangkrut, kehidupannya ikut runtuh. Ia kehilangan penghasilan, dihina orang, direndahkan teman, bahkan rumah tangganya ikut pecah hingga istrinya meninggalkan dirinya. Dalam kondisi itu, Mas Kibaw merasa seperti tidak punya pegangan sama sekali.
Saat sedang berada di titik terendah, seorang kawan lama bernama Kang Irwan menghubunginya lewat pesan. Awalnya obrolan hanya basa-basi tentang kabar dan hobi lama mereka, yaitu memelihara ayam jago. Dari situ, Kang Irwan tertarik dengan ayam milik Mas Kibaw dan meminta Mas Kibaw datang ke rumahnya di salah satu kota di Jawa Barat.
Mas Kibaw sempat ragu karena ia benar-benar tidak punya uang untuk ongkos. Namun Kang Irwan kemudian mengirim uang perjalanan. Pagi harinya, entah karena dorongan apa, Mas Kibaw akhirnya berangkat. Sesampainya di rumah Kang Irwan, ia kaget karena rumah itu ramai didatangi orang-orang dari berbagai daerah, seolah Kang Irwan bukan sekadar teman lama, melainkan seseorang yang dikenal punya kemampuan spiritual.
Setelah para tamu pulang, Kang Irwan mengajak Mas Kibaw masuk ke ruangan ritual. Di sana Mas Kibaw melihat dupa, bunga tujuh rupa, kemenyan yang dibakar, dan yang paling membuatnya terkejut: foto dirinya. Kang Irwan mengaku telah “menarik sukma” Mas Kibaw agar ia mau datang. Mas Kibaw makin sadar bahwa kedatangannya bukan hanya soal ayam jago.
Mas Kibaw lalu mencurahkan semua masalah hidupnya. Ia bercerita tentang bangkrut, tidak punya uang, dihina, dan ditinggalkan. Kang Irwan menyarankan agar ia bermalam dan melakukan tirakat selama beberapa hari untuk menenangkan diri. Mas Kibaw yang sedang putus asa akhirnya menerima, dengan harapan ada jalan keluar dari keterpurukan.
Pada malam pertama, tirakat berjalan tanpa gangguan berarti. Namun malam kedua, saat Mas Kibaw sedang wirid setelah berbuka, ia didatangi dua sosok: laki-laki tinggi besar bermata merah dan perempuan cantik seperti ratu. Sosok perempuan itu menyuruhnya ikhlas, rida, dan terus membaca. Mas Kibaw takut, tetapi ia tetap melanjutkan.
Malam ketiga, sosok perempuan itu kembali datang. Setelah itu muncul kejadian aneh seperti cahaya api kecil di dekat jendela. Mas Kibaw mengejarnya dan menemukan sebuah batu putih. Ketika batu itu ditunjukkan kepada Kang Irwan, batu tersebut kemudian diproses bersama minyak dan bunga kantil hingga menjadi benda yang disebut Biduri Sancang atau Widuri Bulan.
Kang Irwan memberikan minyak itu kepada Mas Kibaw, sekaligus berpesan agar suatu saat digunakan ketika benar-benar butuh. Ia juga memberi uang lebih dari harga ayam yang disepakati, lalu menasihati Mas Kibaw untuk tidak lupa sedekah, terutama kepada anak yatim dan orang pertama yang ditemui ketika keluar rumah. Pesan itu terdengar baik, tetapi minyak tersebut menyimpan jalan yang tidak biasa.
Sepulang dari rumah Kang Irwan, Mas Kibaw mulai mencoba bangkit dengan berdagang ayam kampung. Ia membeli beberapa ekor ayam, lalu menjualnya keliling ke perumahan dan komplek. Dari usaha kecil itulah ia bertemu Kang Deden, seorang pedagang bubur sop ayam kampung yang awalnya berjualan keliling memakai motor.
Kang Deden mulai rutin membeli ayam dari Mas Kibaw. Awalnya hanya beberapa ekor, lalu meningkat menjadi belasan hingga puluhan ekor. Namun tak lama kemudian, pesanan Kang Deden menurun. Usahanya sedang sepi, dan ia mulai mengeluh butuh partner serta modal untuk menghidupkan kembali kedai bubur sop ayam kampung miliknya.
Mas Kibaw melihat peluang. Ia berpikir, daripada hanya mendapat untung kecil dari jual ayam, mungkin lebih baik ikut masuk ke usaha makanan yang sudah punya tempat dan alat. Setelah meminta restu ibunya dan berkonsultasi dengan Kang Irwan, Mas Kibaw memutuskan bekerja sama dengan Kang Deden. Sebelum membuka kembali kedai itu, ia meminta izin untuk bermalam dan wirid di tempat usaha.
Pada malam kedua wirid di kedai, Kang Deden tiba-tiba ketakutan. Di depan pintu kedai muncul sosok pocong. Mas Kibaw pun melihatnya, dan di saat bersamaan muncul sosok ratu yang pernah ia lihat di rumah Kang Irwan. Ratu itu menunjuk ke arah pocong dan pintu kedai, lalu menghilang. Setelah keluar, Mas Kibaw baru sadar bahwa tidak jauh dari tempat usaha itu ada pemakaman tua.
Meski sempat takut, Mas Kibaw tetap melanjutkan rencana usaha. Ia menggadaikan BPKB motor untuk modal awal. Mereka membeli bahan-bahan seperti beras, kacang, rempah, dan perlengkapan lain. Kang Irwan kemudian memberi petunjuk agar minyak Widuri yang pernah diberikan itu dicampurkan ke dalam racikan rempah untuk kuah bubur sop ayam.
Usaha mereka mulai berjalan. Hari pertama laku sekitar puluhan porsi, lalu perlahan meningkat. Dalam waktu beberapa bulan, penjualan bisa mencapai ratusan porsi per hari. Omzet mereka melonjak, bahkan sampai beberapa juta rupiah sehari. Mas Kibaw juga masih ingat pesan sedekah, sehingga ia membuat program membagikan porsi gratis setiap hari Jumat untuk warga sekitar.
Ketika usaha mulai besar, Kang Deden justru mulai menunjukkan sifat serakah. Ia penasaran dengan pemberi minyak itu dan meminta Mas Kibaw mengantarnya menemui Kang Irwan. Di rumah Kang Irwan, Kang Deden mendesak agar usahanya bisa dibuat lebih ramai lagi. Ia ingin cepat punya rumah, cepat kaya, dan cepat dihargai orang.
Kang Irwan memperingatkan bahwa permintaan seperti itu memiliki risiko. Namun Kang Deden tetap mendorong, bahkan menyikut Mas Kibaw agar ikut mengiyakan. Akhirnya dilakukan ritual lanjutan. Dalam proses itu, sosok ratu muncul lagi. Ketika melihat Mas Kibaw, ratu itu tersenyum. Tetapi ketika melihat Kang Deden, tatapannya tampak sinis dan marah.
Setelah ritual, syarat baru diberikan: setiap Kliwon harus mencari kambing kendit. Kambing kendit digambarkan sebagai kambing hitam dengan bulu putih melingkar di bagian perut seperti sabuk. Hewan ini sangat sulit dicari dan harganya mahal. Namun Kang Deden yang sudah terlanjur ambisius tetap menerima syarat itu.
Setelah ritual lanjutan, usaha kembali meningkat. Mereka membuka cabang baru dan merekrut karyawan, termasuk Panji, Wulan, Neli, dan Wahyu. Namun ketika cabang bertambah, sifat asli Kang Deden makin terlihat. Ia mulai mempermasalahkan pembagian hasil, ingin mendapat bagian lebih besar, dan diam-diam sering mengontrol cabang ketiga tanpa alasan jelas.
Di cabang ketiga, keanehan mulai muncul. Ada ular-ular kecil keluar dari area usaha. Neli, salah satu karyawan, tiba-tiba sakit, mengigau seperti dikejar-kejar ular, lalu meninggal dalam kondisi yang terasa tidak wajar. Setelah Neli meninggal, ular-ular kecil makin banyak keluar, sementara seorang teman Mas Kibaw yang peka hanya berkomentar bahwa tempat itu terasa “ngeri”.
Kecurigaan Mas Kibaw makin kuat ketika Kang Deden pulang dalam keadaan mabuk dan keceplosan pernah berhubungan dengan Neli. Mas Kibaw teringat pesan Kang Irwan: minyak itu tidak boleh dipakai untuk maksiat. Jika dilanggar, risikonya harus ditanggung sendiri. Dari situ Mas Kibaw mulai merasa ada hubungan antara kematian Neli, ular-ular kecil, dan kesalahan Kang Deden.
Masalah berikutnya muncul ketika mereka tidak berhasil menemukan kambing kendit untuk syarat Kliwon. Setelah mencari ke berbagai daerah dan tetap gagal, Kang Deden mengusulkan memakai kambing biasa saja. Mas Kibaw sempat ragu, tetapi karena sudah buntu, akhirnya usul itu dijalankan. Sejak saat itu, keanehan semakin parah: omzet turun, cabang kacau, penampakan muncul, dan Kang Deden mengalami kecelakaan setelah pulang dari dunia malam.
Kang Deden jatuh sakit beberapa hari, lalu meninggal. Mas Kibaw panik dan kembali menemui Kang Irwan untuk menceritakan semuanya. Di sana, istri Kang Irwan kesurupan sosok ratu yang sangat marah. Ratu itu menuduh mereka mengingkari syarat dan memakai tempat usaha untuk maksiat. Kang Irwan kemudian meminta agar Mas Kibaw dilepaskan dari ikatan itu, karena kesalahan terbesar ada pada Kang Deden.
Kang Irwan akhirnya menarik kembali unsur gaib dari batu dan minyak tersebut. Mas Kibaw diminta berhenti memakai minyak itu dan memperbanyak sedekah kepada anak yatim selama beberapa Jumat. Dari situ Mas Kibaw sadar bahwa sejak awal ia hanya ingin cukup, sedangkan Kang Deden ingin lebih dan lebih. Perbedaan antara kebutuhan dan keserakahan itulah yang akhirnya membedakan nasib mereka.
Kini Mas Kibaw memilih hidup lebih normal. Cabang-cabang yang bermasalah ia tutup, usaha bubur sop tinggal satu untuk kebutuhan sehari-hari, dan ia kembali menekuni servis HP. Ia tidak lagi memakai minyak Widuri untuk dagangan. Baginya, keuntungan besar yang datang terlalu cepat tidak sebanding dengan rasa takut, kematian, dan teror yang ikut menyertai. Yang ia cari sekarang bukan lagi ramai tanpa batas, melainkan cukup, tenang, dan selamat.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
