Tahun 2009 menjadi masa kejayaan sekaligus awal kehancuran bagi Mas Yadi. Saat itu ia dikenal sebagai orang yang cukup paham dunia burung kicau, mulai dari kacer, murai batu, cucak hijau, sampai burung-burung mahal yang biasa dicari para penghobi. Dari bisnis itu, ia pernah merasakan omzet besar, bahkan dalam sehari bisa mendapatkan jutaan rupiah.
Awalnya Mas Yadi bukan siapa-siapa. Ia hanya pengangguran yang bertemu teman lama bernama Udin, seseorang yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia burung. Udin menitipkan seekor kacer untuk dirawat dan dijual. Tak disangka, burung itu cepat laku dan Mas Yadi mendapat keuntungan. Dari satu transaksi kecil itulah pintu usaha burung mulai terbuka.
Mas Yadi mulai sering datang ke pasar burung. Ia belajar membaca kualitas burung, membeli yang suaranya belum terlalu bagus, lalu merawatnya sampai lebih gacor dan bisa dijual lebih mahal. Lama-kelamaan modalnya berputar. Dari hanya membawa satu dua kandang, ia mulai membawa banyak burung dan memberanikan diri menyewa kios.
Usahanya semakin berkembang. Ia punya pelanggan, burung-burung mahal mulai masuk ke kiosnya, dan keuntungan yang didapat bisa besar. Murai batu, cucak hijau, kacer, dan jenis lain memenuhi tempat usahanya. Hidup Mas Yadi perlahan naik, seolah bisnis burung kicau adalah jalan rezeki yang memang ditakdirkan untuknya.
Namun kejayaan itu runtuh dalam satu pagi. Mas Yadi mendapat kabar dari orang sekitar kios bahwa tempatnya bermasalah. Saat ia datang, pintu belakang kios sudah dijebol. Burung-burung terbaiknya hilang, hanya tersisa beberapa ekor yang tidak terlalu bernilai. Kerugian ditaksir puluhan juta rupiah, dan dari situlah kebangkrutan pertama menghantamnya.
Belum sempat benar-benar pulih, Mas Yadi mencoba bangkit dengan bekerja sama bersama seorang teman bernama Mas Tomo. Mereka membuka usaha lagi di kios lain yang lebih besar. Tetapi nasib buruk kembali datang. Kios itu juga dibobol, burung-burung hilang, dan kerugian kali ini jauh lebih besar. Mas Yadi kembali hancur.
Meski sudah dua kali jatuh, ia masih mencoba berdiri. Ia meminjam uang ke bank, menggadaikan sertifikat, meminjam ke teman, bahkan sampai berurusan dengan rentenir demi membuka kios lagi. Usaha sempat berjalan, tetapi pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Dalam waktu yang tidak lama, modal kembali habis dan hutang menumpuk.
Tekanan itu membuat Mas Yadi kehilangan arah. Ia jarang pulang karena takut ditagih hutang dan malu bertemu keluarga. Saat itu ia memiliki anak dan istri, tetapi kondisi ekonomi membuatnya merasa seperti gagal menjadi kepala keluarga. Dalam keadaan hanya punya uang sedikit, ia makan di pinggir jalan sambil merenungi nasib.
Di momen itulah Mas Yadi bertemu seorang kakek tua yang kemudian ia panggil Mbah. Kakek itu seperti tahu isi hatinya, mengatakan bahwa Mas Yadi sedang banyak pikiran, banyak hutang, dan hidupnya berat. Tanpa banyak pertimbangan, Mas Yadi ikut dengan kakek tersebut ke daerah pegunungan yang jauh, melewati jalan setapak, tebing, dan kebun.
Di tempat Mbah, Mas Yadi tidak langsung diberi jalan pintas. Ia justru ikut bekerja di kebun dan sawah, membantu menanam, memanen, menjual hasil panen, dan menjalani hari-hari sederhana. Beberapa bulan ia tinggal di sana. Sesekali ia pulang diam-diam ke rumah untuk membawa beras, singkong, atau hasil kebun untuk istrinya, lalu kembali lagi sebelum ada orang yang menagih hutang.
Selama tinggal di sana, Mas Yadi mulai melihat sisi lain dari Mbah. Beberapa orang datang mencari pertolongan dengan masalah hutang dan keinginan mendapatkan uang secara gaib. Mas Yadi pernah menyaksikan ritual yang membuat daun sirih berubah menjadi uang, juga ritual lain dengan kardus besar yang disebut bisa menghasilkan uang sangat banyak. Namun setiap kemunculan uang itu selalu disertai negosiasi mengerikan dengan makhluk gaib.
Dari situlah Mas Yadi paham bahwa jalan seperti itu tidak pernah benar-benar gratis. Ada orang yang diminta menyerahkan sesuatu, bahkan ada yang hampir diminta mengorbankan anak. Melihat kejadian itu, Mas Yadi takut, tetapi pada saat yang sama ia juga mulai tergoda. Hutangnya terlalu besar, hidupnya terlalu buntu, dan ia ingin keluar dari tekanan tanpa mencelakai keluarganya.
Akhirnya Mas Yadi memberanikan diri bicara kepada Mbah. Ia mengaku ingin mencoba jalan uang balik, tetapi dengan satu syarat: tidak mau ada tumbal, baik dirinya, anaknya, maupun keluarganya. Mbah mengatakan bisa, tetapi Mas Yadi harus kuat menjalani prosesnya. Karena merasa sudah tidak punya pilihan, Mas Yadi menyanggupi.
Mbah memberikan dua lembar uang yang disebut sebagai pasangan, satu bertanda laki-laki dan satu bertanda perempuan. Uang itu bukan sekadar uang biasa, melainkan media yang harus dijaga dan diuji melalui tirakat tujuh hari tujuh malam. Mas Yadi menjalani proses itu di sebuah gubuk di kawasan sunyi, dengan tekad untuk tidak tidur dan tidak menyerah apa pun godaan yang muncul.
Malam-malam tirakat itu dipenuhi gangguan. Pada salah satu malam, muncul sosok perempuan cantik berselendang yang menawarkan pernikahan gaib, emas, uang, dan kehidupan mewah. Mas Yadi teringat pesan Mbah bahwa godaan seperti itu bisa berujung pada tumbal, sehingga ia menolak dan memilih diam.
Malam berikutnya gangguan semakin kasar. Ada gerombolan anjing yang menyerbu lalu lenyap, sosok seperti kuda berkepala manusia membawa senjata, makhluk bertaring bermata merah, hingga kepala menggelinding yang menyeringai. Mas Yadi hanya bisa bertahan, menahan takut, dan terus melanjutkan bacaan yang diberikan Mbah.
Pada malam lain, muncul sosok putih menggantung dengan mata merah seperti menangis darah, lalu tuyul-tuyul yang mengelilingi uang di depannya tetapi tidak berani mengambilnya. Godaan perempuan cantik kembali datang, menawarkan istana dan harta berlimpah. Namun Mas Yadi tetap menolak. Baginya, ia hanya ingin hutang lunas, bukan mencari kerajaan gaib.
Di malam ketujuh, ketika rasa kantuk hampir membuatnya gagal, muncul cahaya dan sosok kakek bersorban putih. Sosok itu mengambil dua lembar uang di depan Mas Yadi, meniupnya, lalu menaruhnya kembali sebelum menghilang. Saat Mas Yadi menceritakan hal itu kepada Mbah, Mbah mengatakan bahwa prosesnya berhasil. Namun ada pantangan yang harus dijaga: uang itu tidak boleh sampai terkena “sawan mayit”, terutama ketika berpapasan dengan orang meninggal atau keranda.
Mas Yadi kemudian menggunakan uang itu untuk belanja. Satu lembar dipakai, satu lembar disimpan. Anehnya, setelah beberapa langkah, uang yang dipakai kembali lagi ke dompetnya. Dalam sehari, ia bisa melakukan puluhan transaksi, tetapi Mbah mengingatkan agar tidak berlebihan. Dari uang balik itu, Mas Yadi bisa mendapatkan beberapa juta rupiah dalam sehari dan perlahan melunasi hutang-hutangnya yang mencapai puluhan sampai ratusan juta.
Setelah hutangnya lunas, Mas Yadi mulai mengurangi penggunaan uang tersebut. Ia tidak lagi menggebu-gebu seperti awal, karena beban yang menekan hidupnya sudah berkurang. Namun suatu hari, ia tanpa sengaja berpapasan dengan keranda orang meninggal di jalan. Setelah itu, uang yang biasanya kembali mendadak berhenti berfungsi. Mas Yadi menunggu berjam-jam, tetapi uang itu tidak pernah balik lagi.
Mas Yadi kembali menemui Mbah dan menceritakan semuanya. Mbah mengatakan bahwa rezekinya memang sudah sampai di situ, karena sejak awal perjanjian Mas Yadi hanya untuk melunasi hutang, bukan untuk menjadi kaya raya. Mas Yadi menerima. Ia pulang dengan hati lebih ringan, lalu memilih menjalani hidup sederhana dengan membuka warung kecil di pinggir jalan.
Kini Mas Yadi tidak lagi mengejar jalan gaib. Ia bersyukur karena tidak mengalami teror berat dan keluarganya tetap selamat, tetapi pengalaman itu cukup membuatnya kapok. Pesannya sederhana: kalau punya hutang, jangan mencari jalan ke dukun atau ritual gaib. Lebih baik bekerja apa saja, berdagang kecil-kecilan, menjadi kuli, atau melakukan usaha halal, karena rezeki yang tenang jauh lebih berharga daripada uang banyak yang datang bersama rasa takut.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
