Tahun 2018 menjadi awal kisah pahit yang tidak pernah bisa dilupakan Teh Yeni. Ia kembali bertemu dengan mantan kekasihnya, Mas Agus, seorang pria yang saat itu sudah berstatus duda dan memiliki usaha roti bakery. Pertemuan itu membuka lagi rasa lama yang belum benar-benar hilang, hingga akhirnya hubungan mereka berlanjut ke pernikahan resmi pada tahun 2019.
Di awal rumah tangga, Teh Yeni merasa hidupnya bahagia. Mas Agus dikenal royal, lembut, dan mampu membuat Teh Yeni merasa aman. Usaha bakery yang ia jalankan juga sudah cukup maju, memiliki outlet, pelanggan, dan penghasilan yang stabil. Namun kebahagiaan itu mulai terguncang saat pandemi datang dan membuat penjualan roti menurun drastis.
Omzet yang biasanya mencapai jutaan rupiah dalam sehari tiba-tiba merosot tajam. Dua outlet yang semula menjadi sumber penghasilan mulai sepi. Mas Agus terlihat panik, tetapi tidak banyak bicara kepada istrinya. Teh Yeni yang bukan pebisnis hanya bisa memberi dukungan, berharap suaminya tetap sabar dan tidak mengambil jalan yang salah.
Suatu hari, Mas Agus mengajak Teh Yeni pergi ke Jawa Tengah dengan alasan healing sekaligus bertemu teman lama bernama Tono untuk membahas bisnis. Teh Yeni ikut tanpa curiga. Namun sesampainya di rumah Tono, barulah ia tahu bahwa pembicaraan itu bukan sekadar tentang usaha, melainkan tentang ritual untuk menyelamatkan bisnis.
Teh Yeni sempat menolak dan mengajak suaminya pulang. Namun Mas Agus meyakinkan bahwa ritual itu tidak berbahaya, hanya semacam ikhtiar yang biasa dipakai orang bisnis. Karena Mas Agus selalu berbicara dengan tenang dan halus, Teh Yeni akhirnya luluh. Ia tidak tahu bahwa keputusan ikut ke tempat itu akan menjadi pintu awal dari kehancuran batinnya.
Keesokan harinya, mereka dibawa Tono ke sebuah desa dan masuk ke kawasan hutan. Di sana ada sebuah gua yang dijaga oleh seorang kuncen. Saat kuncen mengatakan bahwa siapa pun yang sudah masuk tidak bisa mundur lagi, hati Teh Yeni langsung tidak enak. Ia kembali meminta pulang, tetapi Mas Agus tetap maju dan masuk ke gua bersama kuncen.
Teh Yeni menunggu di luar bersama Tono. Satu hari satu malam berlalu, Mas Agus tidak kunjung keluar. Teh Yeni kemudian disuruh pulang sementara ke rumah Tono karena proses itu memakan waktu beberapa hari. Baru pada hari keempat, Mas Agus keluar dari gua dalam kondisi kotor, kurus, linglung, dan seperti kehilangan separuh dirinya.
Dari gua itu, Mas Agus membawa sebuah kendi yang dibungkus kain putih. Kuncen memberi syarat: harus disediakan satu kamar khusus untuk menyimpan kendi tersebut, ritual harus dilakukan pada malam Jumat Kliwon, dan suatu saat Mas Agus harus menikah lagi dengan perempuan lain. Teh Yeni bingung dan takut, tetapi Mas Agus belum mau menjelaskan secara jujur apa yang sebenarnya ia lakukan di dalam gua.
Sepulang dari Jawa Tengah, hidup mereka sempat terlihat normal. Namun tak lama kemudian, Mas Agus mengajak Teh Yeni mencari rumah dan ruko di Subang. Teh Yeni bingung karena kondisi usaha masih sulit, tetapi ia menurut. Setelah menemukan tempat yang cocok dan membelinya, Mas Agus tiba-tiba meminta izin untuk menikah lagi.
Teh Yeni hancur mendengarnya. Ia tidak bisa membayangkan sebagai istri harus merestui suaminya menikah dengan perempuan lain. Namun Mas Agus terus mengatakan bahwa itu hanya syarat ritual, hanya sementara, dan semuanya dilakukan demi masa depan mereka. Dengan hati remuk, Teh Yeni akhirnya mengizinkan pernikahan itu terjadi.
Pernikahan pertama dilakukan secara sederhana dan siri. Teh Yeni bahkan harus hadir sebagai syarat, tetapi ia tidak boleh mengaku sebagai istri. Ia datang bersama beberapa karyawan yang disetting seolah menjadi keluarga Mas Agus. Di depan keluarga perempuan itu, Teh Yeni menahan tangis, menahan marah, dan berusaha kuat meski hatinya seperti diremukkan.
Yang aneh, setelah prosesi berlangsung, Mas Agus justru menyusul Teh Yeni ke mobil dan mengajaknya pulang. Padahal acara belum benar-benar selesai. Saat Teh Yeni bertanya, Mas Agus hanya berkata bahwa nanti ada yang menggantikannya. Baru keesokan harinya Mas Agus mengaku bahwa yang menggantikan dirinya di sana adalah sosok genderuwo.
Pengakuan itu membuat Teh Yeni syok. Mas Agus mengatakan bahwa perjanjian di gua mengharuskannya menikahi perempuan-perempuan lain, dan perempuan-perempuan itu akan dijadikan tumbal untuk sosok pemberi kekayaan tersebut. Ia meyakinkan Teh Yeni bahwa dirinya akan selalu pulang kepada istrinya, sementara yang tinggal bersama perempuan-perempuan itu bukan dirinya yang asli.
Setelah pernikahan pertama, keanehan terjadi di kamar khusus. Kendi yang disimpan tiba-tiba hilang, dan kain putih yang membungkusnya berisi uang dalam jumlah banyak. Sejak saat itu, omzet bakery meningkat cepat. Di tengah pandemi, usaha yang semula terpuruk justru kembali ramai, uang mengalir deras, dan cabang baru mulai dibuka.
Enam bulan kemudian, Mas Agus meminta izin menikah lagi. Kali ini perempuan itu berasal dari Bandung, dan rencana pembukaan cabang baru juga diarahkan ke sana. Teh Yeni kembali hadir dalam pernikahan itu dengan hati yang sama sakitnya. Peristiwa yang sama terulang: Mas Agus menikah, lalu sorenya bisa pulang kembali bersama Teh Yeni.
Setelah pernikahan kedua, kekayaan mereka makin bertambah. Mereka bisa mengganti mobil, pindah rumah ke cluster, dan membuka peluang bisnis yang lebih besar. Namun di balik semua kemewahan itu, Teh Yeni makin tenggelam dalam rasa bersalah. Ia merasa hidup dalam rumah tangga yang aneh: suaminya terus menikah, sementara ia dipaksa menerima semuanya demi bisnis.
Lima bulan kemudian, Mas Agus kembali meminta izin menikah untuk ketiga kalinya, kali ini dengan perempuan dari Sumedang. Di titik itu, Teh Yeni sudah tidak kuat. Ia marah besar, ingin pergi, dan meminta Mas Agus berhenti dari semua perjanjian gelap itu. Dalam pertengkaran hebat itu, Mas Agus akhirnya mengaku bahwa ia melakukan semua itu karena tidak ingin Teh Yeni sendiri menjadi tumbal terakhir untuk Rojo Genderuwo.
Ketakutan itu membuat Teh Yeni kembali luluh. Ia tidak lagi hanya sakit hati, tetapi juga takut jika dirinya yang akan disentuh oleh perjanjian tersebut. Pernikahan ketiga pun terjadi, dan setelahnya harta kembali bertambah: tabungan, sawah, emas, dan aset-aset lain. Perempuan-perempuan yang dinikahi Mas Agus tetap hidup, tetapi ditinggalkan begitu saja setelah pernikahan ritual selesai.
Petaka besar mulai terasa pada pernikahan keempat di Tangerang. Kali ini, Teh Yeni pulang lebih dulu bersama sopir, sementara Mas Agus berkata akan menyusul. Namun ia baru datang menjelang subuh dengan keadaan berbeda: lelah, banyak diam, dan seperti bukan dirinya yang biasa. Sejak itu, sesuatu yang ganjil mulai tinggal di rumah mereka.
Mas Agus yang pulang dari Tangerang berubah drastis. Ia tidak mau keluar rumah saat siang, lebih sering diam di kamar, dan mulai bersikap terlalu melekat kepada Teh Yeni. Teh Yeni merasa seolah suaminya ada dua: satu di kamar, satu tiba-tiba muncul di dapur atau ruang tamu. Ketika dipanggil, sosok itu menjawab, membuat Teh Yeni mengira semua itu hanya halusinasi karena kelelahan.
Gangguan makin berat saat Teh Yeni jatuh sakit. Ia merasa tubuhnya panas, gatal, lemas, dan tidak kunjung sembuh meski sudah diperiksa ke dokter. Dokter hanya menyebut kelelahan dan HB turun, tanpa penyakit jelas. Namun Teh Yeni mulai sadar ada yang tidak normal, apalagi sosok yang ia kira suaminya terasa berbeda secara fisik, meski wajahnya terlihat sama.
Orang tua Teh Yeni akhirnya memanggil seorang kiai dari pesantren untuk mendoakan rumah. Begitu masuk, kiai itu langsung merasakan keanehan. Setelah berdiam sambil berdoa, ia mengatakan kalimat yang membuat Teh Yeni runtuh: yang ada di kamar itu bukan suaminya. Mas Agus yang asli tertahan di Tangerang, sementara yang tinggal bersama Teh Yeni selama hampir satu bulan adalah genderuwo yang menyamar.
Kiai itu kemudian melakukan pembersihan. Sosok genderuwo di kamar diikat, rumah diperciki air doa, dan Teh Yeni diminta mandi air kembang sebagai bentuk pembersihan. Perlahan tubuhnya terasa lebih ringan, panas dan gatalnya mulai mereda, tetapi luka batinnya justru semakin besar. Ia merasa hancur karena sadar selama ini hidup bersama sosok yang bukan manusia.
Setelah kejadian itu, Teh Yeni memilih menenangkan diri di pesantren dan padepokan. Di sana ia belajar menerima kenyataan, bertobat, dan mengambil keputusan besar. Meski masih mencintai Mas Agus, ia tidak sanggup lagi hidup dalam lingkaran pesugihan. Akhirnya ia meninggalkan rumah, menjual aset-aset yang terkait dengan masa kelam itu, dan memutuskan pergi dari kehidupan Mas Agus.
Sejak pembersihan dilakukan dan genderuwo itu tidak bisa kembali kepada pemiliknya, usaha bakery perlahan anjlok. Outlet mulai sepi, cabang tutup, karyawan berganti-ganti, bahkan ada karyawan yang meninggal mendadak dan salah satu outlet mengalami kebakaran. Toko itu memang masih ada sampai sekarang, tetapi menurut Teh Yeni, suasananya sudah berbeda dan kejayaannya tidak lagi seperti dulu.
Kini Teh Yeni tidak ingin lagi terlibat dengan kehidupan Mas Agus. Ia hanya berharap jika Mas Agus melihat kisah ini, ada sesuatu yang harus diselesaikan. Bagi Teh Yeni, kekayaan yang dulu terlihat seperti jawaban ternyata menjadi awal dari luka, trauma, dan kehancuran. Dari kisahnya, ia belajar bahwa kemewahan yang dibangun lewat perjanjian gelap tidak pernah membawa kebahagiaan, hanya menunda kehancuran sampai waktunya tiba.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
