Kisah Ibu Sairah bermula ketika ia mengikuti suaminya merantau ke luar kota karena urusan pekerjaan. Pada awalnya, ia hanya menghabiskan waktu di rumah dan membantu mengantar-jemput cucu. Namun, setelah beberapa bulan, rasa jenuh mulai muncul karena ia terbiasa aktif bekerja. Dengan izin suaminya, Ibu Sairah kemudian mencari pekerjaan dan akhirnya diterima sebagai tukang masak di sebuah usaha katering. Pengalaman itulah yang kelak menjadi bekal penting ketika ia memutuskan membuka usaha kuliner sendiri.
Setelah suaminya memasuki masa pensiun, keluarga itu kembali ke kampung halaman di Jawa Barat. Ibu Sairah sempat beristirahat selama satu hingga dua bulan, tetapi ia kembali merasa tidak nyaman karena tidak memiliki kegiatan. Ia lalu mencoba berjualan kecil-kecilan di rumah, mulai dari jus, es teler, bakso bakar, hingga sosis bakar. Pendapatannya memang tidak besar, tetapi cukup membuatnya percaya bahwa usaha makanan memiliki peluang. Dari situlah muncul keinginan untuk membuka warung makan yang lebih serius.
Ibu Sairah menyampaikan rencananya kepada suami dan anak-anak. Ia ingin membangun warung makan sederhana dengan harga terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Setelah mendapat dukungan keluarga, mereka mulai mencari tempat yang strategis. Seorang teman kemudian memberitahukan adanya sebuah kios yang disewakan di kawasan yang dipenuhi toko dan pekerja. Lokasinya memiliki dapur serta kamar mandi, sehingga Ibu Sairah langsung merasa tempat itu cocok untuk memulai usahanya.
Setelah mencapai kesepakatan dengan pemilik kios, Ibu Sairah membayar biaya sewa selama satu tahun. Ia segera membeli etalase, meja, bangku, serta berbagai peralatan memasak. Hanya dalam beberapa hari, warung nasi rames itu resmi dibuka. Menu awalnya cukup sederhana, seperti sayur lodeh, sayur asem, ayam goreng, dan ayam kecap. Meski demikian, masakan buatannya disukai pelanggan dan omzetnya perlahan meningkat dari sekitar tiga ratus ribu hingga lima ratus ribu rupiah per hari.
Di kawasan yang sama ternyata ada seorang kenalan Ibu Sairah yang juga berjualan makanan. Dalam cerita ini, perempuan tersebut disebut dengan nama samaran Ibu Nina. Warungnya hanya berjarak sekitar tiga kios dari tempat usaha Ibu Sairah. Sebelumnya, Ibu Sairah mengira Ibu Nina hanya berjualan secara daring dari rumah. Ketika keduanya bertemu, mereka sempat berbicara baik-baik dan sepakat bahwa rezeki setiap orang sudah memiliki jalannya masing-masing.
Seiring waktu, warung Ibu Sairah semakin ramai. Ia menambah beragam menu, termasuk pepes ayam, pepes jamur, balado, dan gorengan. Pelanggan datang silih berganti, bahkan omzet hariannya disebut dapat mencapai enam ratus ribu hingga lebih dari satu juta rupiah. Suatu hari, Ibu Nina mampir dan melihat langsung ramainya warung tersebut. Ketika seorang pelanggan memuji rasa dan porsi masakan Ibu Sairah, ia melihat perubahan ekspresi pada wajah Ibu Nina, meskipun saat itu ia belum menaruh curiga.
Setelah hampir satu tahun berjualan dan memperpanjang masa sewa kios, keanehan mulai muncul. Pada suatu malam, tubuh Ibu Sairah terasa sangat panas meskipun ia tidak sedang demam. Kipas angin besar yang dibawa anaknya tiba-tiba tidak berfungsi. Karena tidak tahan berada di kamar, ia keluar dan duduk di teras sekitar pukul dua dini hari. Di dekat gerbang, ia melihat sosok berjubah hitam yang kemudian menghilang secara tiba-tiba di sekitar kendaraan roda tiga yang terparkir tidak jauh dari rumah.
Menjelang subuh, Ibu Sairah menemukan seekor ular di tempat sosok hitam itu sebelumnya berdiri. Ular tersebut tidak agresif dan justru terlihat aneh ketika disentuh dengan sapu lidi. Setelah membaca doa yang ia hafal, ular itu bergerak pergi lalu menghilang di lokasi yang sama dengan lenyapnya sosok berjubah hitam. Keanehan berlanjut ketika ia tiba di warung dan menemukan ular lain menghadap ke arah kios. Dengan bantuan seorang tukang becak, ular itu akhirnya disingkirkan agar kegiatan memasak dapat dimulai.
Hari itu, nasi yang dimasak tidak kunjung matang meskipun telah ditanak hampir satu jam. Ibu Sairah membuangnya dan memasak nasi baru yang akhirnya dapat matang seperti biasa. Namun, ketika pelanggan mulai makan, mereka mengeluhkan nasi dan lauk yang terasa basi. Ibu Sairah terkejut karena semua masakan baru saja dibuat menggunakan bahan segar. Ada pelanggan yang menyampaikan keluhan dengan sopan, tetapi ada pula yang marah dan menuduhnya sengaja menjual makanan basi.
Ibu Sairah dan kedua karyawannya segera membuang seluruh makanan dan membersihkan semua peralatan. Mereka lalu memasak ulang menggunakan bahan yang masih baru. Anehnya, masakan kedua juga kembali dianggap basi oleh para pelanggan. Seorang pembeli bahkan melemparkan bungkusan nasi sambil memprotes kualitas makanan. Semua uang pelanggan dikembalikan, sehingga pada hari itu warung yang sebenarnya ramai tidak menghasilkan pendapatan sedikit pun.
Ketika sedang membereskan warung, salah satu karyawan menemukan sebuah bungkusan aneh di dekat etalase. Bentuknya menyerupai buntelan kecil yang diikat pada bagian tengah dan ujungnya. Karena menganggapnya sebagai mainan atau barang yang tertinggal, mereka membuang benda tersebut ke tempat sampah. Ibu Sairah pulang dengan perasaan bingung, tetapi ia masih berusaha berpikir positif. Ia menganggap hari itu mungkin memang bukan hari rezekinya dan berencana kembali berjualan keesokan paginya.
Pada hari kedua, proses memasak berlangsung normal, tetapi seluruh makanan kembali menjadi basi setelah disajikan. Ibu Sairah mengganti santan, memeriksa blender, mencuci peralatan, dan mencicipi setiap masakan bersama karyawannya. Tidak ditemukan penyebab yang masuk akal, sebab bahan-bahan yang digunakan masih baik. Saat hendak menutup warung, mereka kembali menemukan keanehan berupa seekor kodok berukuran sangat besar. Menurut kesaksian mereka, kodok itu memiliki tiga mata dan akhirnya dibuang ke sungai oleh seorang tukang becak.
Teror pada hari ketiga terasa semakin kasar. Di depan warung ditemukan kotoran yang menurut orang-orang di sekitar menyerupai kotoran manusia. Setelah tempat itu dibersihkan dan disemprot agar tidak berbau, Ibu Sairah kembali memasak menggunakan kelapa yang baru diparut. Kali ini makanan tidak basi dan nasi matang dengan sempurna. Namun, tidak seorang pun pelanggan masuk ke warung, padahal orang-orang yang biasanya makan di sana terlihat hanya melewati tempat tersebut tanpa menoleh.
Selama tiga hari berturut-turut, Ibu Sairah tidak mendapatkan uang satu rupiah pun. Saat pulang pada hari ketiga, ia mengaku melihat sosok pocong melintas dari samping rumah dan masuk ke arah kamarnya. Ia kemudian memutuskan menutup warung selama beberapa hari untuk menenangkan pikiran. Dalam masa istirahat itu, ia merenungkan kesalahan yang mungkin terjadi pada masakan maupun pelayanannya. Ia juga kembali mengingat pesan almarhum ayahnya agar selalu berdoa sebelum melangkah untuk bekerja atau mencari rezeki.
Setelah menjalankan kembali kebiasaan berdoa sebelum membuka usaha, keadaan warung mendadak membaik. Pelanggan kembali berdatangan dan menanyakan alasan warung tersebut lama tutup. Ibu Sairah memilih mengatakan bahwa ia sedang berlibur bersama keluarga agar kejadian sebenarnya tidak menjadi bahan pembicaraan. Selama sekitar enam bulan berikutnya, usaha itu kembali berkembang dan omzetnya disebut mencapai sekitar satu setengah juta rupiah. Dari hasil kerja tersebut, ia bahkan mampu membeli kendaraan untuk keluarganya.
Gangguan berikutnya muncul sekitar November 2021 dan kali ini menyerang tubuh Ibu Sairah. Pada tengah malam, jempol kakinya terasa seperti digigit sesuatu, tetapi tidak ditemukan luka maupun hewan di kamar. Keesokan paginya, kakinya membengkak dan terasa sangat berat untuk digerakkan. Ia telah beberapa kali pergi ke dokter, menjalani pemeriksaan laboratorium dan rontgen, tetapi hasilnya dinyatakan normal. Obat, vitamin, dan pijat juga tidak membawa perubahan, bahkan rasa sakitnya semakin parah hingga ia harus menyeret kaki saat berjalan.
Seorang kerabat yang biasa membeli makanan di warung kemudian menyarankan agar Ibu Sairah menemui seorang kiai di sebuah pesantren di Tasikmalaya. Ketika tiba di sana, seorang santri yang disebut memiliki kepekaan khusus tiba-tiba menarik tubuhnya di dekat gerbang. Santri itu mengaku melihat sosok tinggi berwarna hitam membawa benda seperti palu besar di belakang Ibu Sairah, sementara sosok pocong berada di sampingnya. Ibu Sairah lalu dibawa menemui sang kiai untuk menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya sejak usaha warung mulai diteror.
Setelah meminum air yang diberikan sang kiai, Ibu Sairah kehilangan kesadaran. Dalam keadaan itu, ia mengaku melihat sosok setengah manusia dan setengah ular yang mengatakan bahwa dirinya dikirim untuk menghancurkan usaha sekaligus menyakiti Ibu Sairah secara perlahan. Ia juga melihat sosok anak kecil kotor yang diduganya menyerupai tuyul. Sosok tersebut mengaku sebagai suruhan seseorang dan membawa Ibu Sairah menuju sebuah rumah. Menurut pengakuannya, perjalanan itu berhenti tepat di rumah Ibu Nina, orang yang selama ini dianggapnya seperti saudara sendiri.
Ketika sadar, Ibu Sairah mengalami mual hebat dan memuntahkan lendir hijau berbau tidak sedap. Sang kiai kemudian memberikan doa serta meminta dirinya menjalankan salat tahajud selama tujuh malam berturut-turut dan mengonsumsi air daun kelor. Selama proses itu, kakinya perlahan mengempis dan rasa sakit mulai berkurang. Pada hari terakhir, suaminya menemukan seekor ular di rumah yang sulit mati meskipun telah dipukul dan disiram air mendidih. Setelah Ibu Sairah membacakan doa serta memintanya kembali kepada orang yang mengirim, ular itu mati dan kemudian menghilang tidak lama setelah dibuang.
Beberapa waktu kemudian, Ibu Sairah bertemu Ibu Nina saat berkunjung pada hari Lebaran. Ia terkejut melihat perempuan tersebut berada di kursi roda dan tidak dapat menggerakkan kakinya. Ibu Nina tiba-tiba menangis, memeluknya, dan berulang kali meminta maaf tanpa menjelaskan secara langsung kesalahan yang telah dilakukan. Ibu Sairah memilih memaafkannya dan tidak melakukan pembalasan, meskipun pengalaman itu meninggalkan trauma mendalam hingga ia berhenti berjualan makanan. Dari kisah tersebut, ia berpesan agar persaingan usaha dilakukan secara sehat karena usaha menjatuhkan orang lain, menurut keyakinannya, pada akhirnya dapat kembali kepada pelakunya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
