Tahun 2024, Teh Sarah kembali ke Jakarta untuk mencari penghasilan setelah terbiasa menjalani kehidupan yang berkecukupan. Ia bekerja sebagai tenaga penjualan di sebuah dealer mobil sekaligus mengambil pekerjaan tambahan sebagai SPG dalam berbagai acara. Meski usianya tidak lagi semuda para SPG lain, kebutuhan ekonomi membuatnya berani mencoba setiap peluang yang tersedia.
Dalam sebuah seleksi SPG untuk acara komunitas mobil mewah, Teh Sarah tidak sengaja bertemu sahabat lamanya dari kampung. Perempuan itu disebut dengan nama samaran Mila. Pertemuan tersebut terasa mengejutkan karena mereka sudah lama tidak berkomunikasi dan sama-sama tidak menyangka akan dipertemukan kembali di Jakarta.
Setelah lolos seleksi, keduanya duduk bersama dan saling menceritakan perjalanan hidup. Teh Sarah kemudian mengetahui bahwa nasib Mila hampir serupa dengan masa lalunya. Mila pernah diselingkuhi, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tidak diberi nafkah, lalu diusir oleh mantan suaminya tanpa diperbolehkan membawa harta apa pun.
Mila harus membesarkan seorang anak seorang diri sambil menanggung luka batin yang berat. Ia pernah berada di titik putus asa karena merasa hidupnya sudah tidak memiliki arti. Beruntung, ibunya berhasil menyelamatkan Mila sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk. Sejak saat itu, Mila mencoba bangkit, meski rasa minder dan trauma masih menguasai dirinya.
Teh Sarah merasa sangat memahami penderitaan sahabatnya. Ia mengajak Mila tinggal bersamanya dan kembali bekerja sebagai SPG. Namun setiap kali melihat perempuan lain yang lebih muda dan menarik, Mila selalu merasa dirinya tidak cukup cantik. Karena kesal melihat Mila terus merendahkan diri, Teh Sarah tanpa sengaja menyarankan agar sahabatnya memasang susuk.
Ucapan yang awalnya hanya terlontar spontan ternyata ditanggapi serius oleh Mila. Teh Sarah kemudian menghubungi kenalan lama dan memperoleh informasi tentang seorang perempuan yang dipanggil Nyai di Banyuwangi. Karena merasa bertanggung jawab, Teh Sarah bersedia mengantar Mila mendatangi tempat tersebut.
Sesampainya di rumah Nyai, Mila terlebih dahulu diajak berbicara secara tertutup. Teh Sarah baru diperbolehkan masuk ketika proses pemasangan akan dilakukan. Nyai menawarkan susuk dengan beberapa pilihan media, lalu Mila memilih susuk emas yang dipasang pada lima titik tubuh dengan biaya puluhan juta rupiah.
Setelah pemasangan selesai, Mila diberi sejumlah pantangan. Ia tidak boleh mengonsumsi makanan berbahan nangka dan tidak boleh berjalan di bawah jemuran. Namun ada satu hal yang membuat Teh Sarah penasaran. Nyai meminta Mila datang kembali satu minggu kemudian saat bulan purnama dengan membawa sesuatu yang sebelumnya telah dibicarakan secara rahasia.
Sepulang ke Jakarta, perubahan Mila mulai terlihat. Ia menjadi lebih percaya diri, lebih berani menawarkan produk, dan terlihat semakin menarik di hadapan orang lain. Saat berjualan rokok di sebuah showroom mobil bekas, Mila bertemu Mas Niko, pengusaha kelapa sawit dari Kalimantan yang juga memiliki usaha kendaraan di Jakarta.
Wajah Mas Niko mengingatkan Mila kepada mantan suaminya. Meski sempat menunjukkan rasa tidak suka, Mila tetap berusaha mendekatinya karena mengetahui bahwa laki-laki tersebut sangat kaya. Mila ingin menjadikan Mas Niko sebagai jalan untuk mengubah kehidupan sekaligus membuktikan kepada mantan suaminya bahwa dirinya bisa berhasil di kota.
Hubungan Mila dan Mas Niko berkembang dengan cepat. Tanpa sepengetahuan Teh Sarah, Mila berhasil mendapatkan rambut Mas Niko sebagai salah satu media yang diminta Nyai. Teh Sarah baru mengetahui bahwa kedatangan mereka berikutnya ke Banyuwangi bukan lagi untuk mengurus susuk, melainkan menjalankan ritual pemikat yang disebut lintrik.
Dalam kesaksian Teh Sarah, ritual tersebut memakai media pribadi dari Mila dan Mas Niko yang disatukan dengan makanan. Makanan itu kemudian harus dikonsumsi oleh orang yang menjadi sasaran. Nyai juga memperingatkan bahwa ikatan tersebut harus terus diperbarui pada waktu tertentu. Jika kewajiban itu dilupakan, akibatnya dapat mengancam nyawa salah satu pihak.
Teh Sarah marah karena merasa Mila telah melangkah terlalu jauh. Ia hanya pernah menyarankan pemasangan susuk, bukan ritual pengikatan yang berbahaya. Namun Mila bersikeras bahwa dirinya tidak ingin terus hidup miskin. Ia ingin sukses, dihormati, dan tidak lagi dipandang rendah oleh orang-orang dari masa lalunya.
Setibanya di Jakarta, Mila mencampurkan media ritual itu ke dalam nasi goreng dan memberikannya kepada Mas Niko. Setelah makanan tersebut dikonsumsi, perubahan terjadi sangat cepat. Mas Niko terus mencari Mila, tidak ingin berjauhan, dan mulai mengabaikan keluarga serta pekerjaannya di Kalimantan.
Dalam waktu singkat, Mas Niko mengajak Mila menikah secara siri. Mila kemudian berhenti bekerja sebagai SPG dan tidak lagi tinggal bersama Teh Sarah. Kehidupannya berubah drastis. Ia tinggal di apartemen, memiliki mobil pribadi, memperoleh barang-barang mewah, dan bisa membeli hampir semua yang diinginkannya.
Meski melihat sahabatnya hidup dalam kemewahan, Teh Sarah tidak merasa bahagia. Perubahan Mila mengingatkannya pada pengalaman buruknya sendiri saat pernah bersentuhan dengan ritual pesugihan. Ia tahu bahwa keberhasilan yang datang secara tidak wajar biasanya hanya bertahan sementara, sedangkan harga yang harus dibayar akan muncul kemudian.
Sekitar dua tahun setelah pernikahan siri itu, Mila mendatangi Teh Sarah dalam keadaan sangat berbeda. Tubuhnya kurus, penuh luka lebam, dan wajahnya terlihat tidak sehat. Mila mengaku Mas Niko telah berubah menjadi temperamental, kasar, dan sering melakukan kekerasan ketika keinginannya tidak dipenuhi.
Keanehan semakin parah karena Mas Niko menunjukkan perilaku yang membuat Mila merasa laki-laki itu seperti dikendalikan makhluk lain. Setelah mengingat kembali pesan Nyai, Mila sadar bahwa ia telah melupakan kewajiban memperbarui ritual lintrik. Sejak kewajiban itu ditinggalkan, ikatan yang sebelumnya membuat Mas Niko tergila-gila justru berubah menjadi teror yang menyiksa tubuh Mila.
Teh Sarah segera membawa Mila kembali ke Banyuwangi. Namun ketika mereka tiba, rumah Nyai sudah kosong. Warga sekitar mengatakan Nyai telah ditemukan meninggal di belakang rumah sekitar satu minggu sebelumnya. Mereka pun kebingungan karena orang yang membuat ikatan tersebut sudah tidak ada, sementara kondisi Mila semakin lemah.
Dalam keadaan panik, Teh Sarah menghubungi pamannya di Jawa Tengah. Mereka kemudian dibawa menemui seorang Abah yang mengatakan bahwa susuk dan lintrik telah menyatu menjadi ikatan kuat. Menurut penjelasan dalam cerita, jika ikatan tersebut dibiarkan, Mila atau Mas Niko bisa kehilangan nyawa. Pembersihan akhirnya dilakukan selama tujuh hari, dimulai dengan pencabutan susuk satu per satu.
Setiap proses pencabutan membuat Mila menjerit kesakitan dan beberapa kali kehilangan kesadaran. Pada tahap terakhir, muncul perlawanan dari sosok yang dipercaya telah menguasai tubuhnya. Setelah doa dibacakan bersama-sama, Mila mengalami pendarahan hebat sebelum akhirnya dinyatakan terbebas dari susuk dan ikatan lintrik tersebut. Hari ketujuh diisi dengan puasa, doa, dan pertobatan sebagai penutup proses pembersihan.
Setelah pulih, Mila memilih kembali ke kampung dan membangun hidupnya dari awal. Mobil serta sebagian besar uangnya telah habis untuk mencari pengobatan, sedangkan hubungannya dengan Mas Niko benar-benar berakhir. Mas Niko dikabarkan sempat mengalami gangguan perilaku sebelum dijemput keluarganya dan dibawa pulang ke Kalimantan.
Kini Mila sudah menjalani kehidupan yang lebih normal dan bekerja di bidang penjualan perbankan. Teh Sarah tetap menjalin komunikasi dengannya, tetapi rasa bersalah masih tersimpan dalam hati. Ia menyesal karena ucapan spontan tentang susuk telah membuka jalan menuju ritual yang hampir merenggut nyawa sahabatnya. Dari pengalaman itu, Teh Sarah berpesan agar siapa pun tidak tergoda oleh susuk, pelet, lintrik, ataupun pesugihan, karena cinta dan kekayaan yang datang melalui jalan gelap pada akhirnya hanya menyisakan penderitaan serta penyesalan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
