Pada tahun 2005, kehidupan Mas Yani berubah setelah dirinya terkena pemutusan hubungan kerja dari sebuah pabrik. Selama kurang lebih tiga bulan, ia menganggur tanpa aktivitas dan mulai merasa tertekan karena kebutuhan istri serta kedua anaknya terus berjalan. Berbagai usaha untuk mencari pekerjaan melalui teman-temannya tidak membuahkan hasil. Dalam kondisi sulit tersebut, seorang teman bernama Aji menyarankannya untuk memperbanyak doa dan berziarah ke makam orang-orang yang dianggap saleh agar hati serta pikirannya menjadi lebih tenang.
Mas Yani kemudian rutin mendatangi sebuah tempat ziarah yang berada tidak jauh dari kampungnya. Selama enam malam berturut-turut, ia datang pada tengah malam dan baru pulang setelah pagi. Pada malam ketujuh, rasa kantuk membuatnya keluar dari masjid untuk membeli kopi di sebuah warung kecil. Di tempat itulah ia bertemu dengan seorang pria berpakaian rapi yang datang menggunakan mobil putih. Pria tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Pak Joko, seorang warga Bandung yang sedang menunggu temannya.
Percakapan mereka berlangsung cukup lama hingga Pak Joko menceritakan bahwa dirinya hendak pergi ke Cilacap, Jawa Tengah. Karena teman yang ditunggunya tidak kunjung datang, Pak Joko mengajak Mas Yani untuk menemaninya. Mas Yani tidak langsung menerima ajakan tersebut dan memilih meminta izin terlebih dahulu kepada istrinya. Setelah memperoleh izin, ia kembali menemui Pak Joko pada hari berikutnya. Sebelum berangkat, Pak Joko memberikan uang kepada Mas Yani untuk ditinggalkan kepada keluarganya selama ia berada di perjalanan.
Mereka berangkat menuju Cilacap setelah waktu Magrib. Ketika mobil memasuki jalan gelap yang dikelilingi pepohonan, Pak Joko akhirnya mengungkapkan tujuan sebenarnya. Ia tidak sekadar melakukan perjalanan biasa, melainkan ingin mencari pesugihan di kawasan Pantai Selatan. Mas Yani terkejut dan sempat meminta Pak Joko membatalkan niat tersebut. Namun, Pak Joko menolak karena telah bertekad untuk kembali menjadi kaya, apa pun risiko dan syarat yang harus dijalankan.
Pak Joko mengaku pernah menjadi kontraktor sukses dan mempunyai banyak usaha. Akan tetapi, kehidupannya berantakan setelah ia gemar bermain judi, mencari hiburan, dan berhubungan dengan banyak perempuan. Sekitar tahun 2003, seluruh kekayaannya habis. Mobil dan rumahnya terjual, bahkan tempat tinggal yang tersisa terancam disita bank. Kehilangan kekayaan serta dijauhi teman-temannya membuat Pak Joko terobsesi mengembalikan kejayaan dengan cara instan.
Perjalanan menuju Cilacap diwarnai sejumlah kejadian ganjil. Di tengah jalan yang sepi, mereka melihat seorang perempuan tua berkebaya yang kemudian diajak Pak Joko masuk ke mobil. Setelah perempuan itu duduk di belakang, kabin mobil mendadak dipenuhi aroma bunga melati dan udara terasa sangat dingin. Perempuan tersebut turun di dekat pohon beringin, lalu menurut kesaksian Mas Yani, berjalan tanpa menapak tanah sebelum menghilang sambil tertawa. Tidak lama kemudian, kendaraan mereka juga seperti menabrak sosok terbungkus kain putih, meskipun tidak ditemukan apa pun saat diperiksa.
Setelah beristirahat di sebuah penginapan, Mas Yani dan Pak Joko melanjutkan perjalanan menuju alamat seorang kuncen. Jalan yang mereka tempuh semakin rusak, berliku, dan akhirnya buntu. Mereka lalu berjalan kaki melewati jalan setapak yang gelap hingga menemukan sebuah gubuk bercahaya redup. Di sana tinggal seorang kuncen yang akan membantu Pak Joko menjalankan ritual. Kepada kuncen tersebut, Pak Joko menyampaikan secara terbuka bahwa ia ingin memperoleh kekayaan dan siap memenuhi segala persyaratan.
Sang kuncen sebenarnya sempat menyarankan agar Pak Joko mengurungkan niat dan menerima kehidupannya apa adanya. Namun, Pak Joko tetap bersikeras. Ia diminta menyiapkan berbagai perlengkapan, antara lain kepala kambing, kain putih, kembang tujuh rupa, darah, dupa, kemenyan, minyak, serta sejumlah sesajen. Karena uang yang dibawanya belum cukup, Pak Joko menyerahkan sebagian pembayaran dan kembali pada hari berikutnya untuk melunasi kekurangannya. Ritual utama kemudian dijadwalkan pada malam Jumat Kliwon.
Pada malam yang ditentukan, gubuk sang kuncen telah dipenuhi sesajen dan aroma dupa yang menyengat. Pak Joko dibawa masuk ke sebuah kamar tertutup, sedangkan Mas Yani menunggu di luar. Dari dalam kamar terdengar suara seperti orang sedang mandi. Sekitar setengah jam kemudian, Pak Joko keluar dengan penampilan yang sama sekali berbeda. Ia mengenakan pakaian bergaya kerajaan masa lampau, lengkap dengan mahkota, kalung bunga, dan wajah yang menurut Mas Yani tampak bercahaya.
Ritual awal di dalam gubuk disertai tiupan angin kencang serta suara tawa melengking yang membuat Mas Yani ketakutan. Setelah suasana kembali tenang, mereka berjalan sekitar satu kilometer menuju pantai. Di sana telah tersedia lebih banyak sesajen, minuman, kelapa, kepala kambing, darah, dupa, dan kain putih. Pak Joko diminta duduk menghadap laut, sementara Mas Yani diperintahkan berdiri agak jauh agar tidak mengganggu prosesi yang dipimpin sang kuncen.
Menurut penuturan Mas Yani, berbagai sosok kemudian muncul dari arah laut. Ia pertama kali melihat perempuan cantik berbaju putih dengan bagian tubuh bawah menyerupai ikan. Setelah sosok itu menghilang, muncul makhluk laki-laki berukuran besar, berkulit gelap, bermata merah, dan bertelinga panjang. Penampakan serupa datang beberapa kali. Puncaknya, cahaya kemerahan terlihat di tengah laut, disusul kemunculan kereta kencana yang bergerak di atas air tanpa tenggelam.
Kereta tersebut dinaiki seorang perempuan cantik berpakaian seperti putri kerajaan dan diikuti beberapa perempuan lain. Rombongan itu mendekati Pak Joko hingga berhenti tepat di hadapannya. Pak Joko kemudian berdiri dan mengikuti sang putri naik ke kereta. Sang kuncen membawa Mas Yani kembali ke gubuk dan memintanya tidak takut. Dari kejauhan, Mas Yani melihat kereta itu membawa Pak Joko menjauh ke tengah laut hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Mas Yani panik dan berteriak memanggil Pak Joko. Ketakutannya semakin besar ketika sosok menyeramkan lain muncul, hingga ia akhirnya jatuh pingsan. Menjelang pagi, sang kuncen membangunkannya dan mengatakan bahwa Pak Joko berada dalam keadaan aman. Ketika Mas Yani masuk ke dalam gubuk, Pak Joko ternyata sudah berada di sana. Tidak dijelaskan secara rinci apa yang dialaminya selama menghilang bersama kereta ghaib tersebut.
Sebelum mereka pulang, sang kuncen menyampaikan syarat utama pesugihan. Pak Joko diwajibkan menikahi dan menumbalkan satu istri setiap tahun selama lima tahun. Dengan demikian, lima perempuan harus menjadi korban dalam periode tersebut. Pak Joko menerima syarat itu tanpa menunjukkan keraguan. Setelah menyatakan kesanggupannya, ia dipersilakan mengambil dua karung dari dalam kamar sang kuncen.
Mas Yani membantu membawa salah satu karung tersebut ke mobil. Ketika dibuka di penginapan, kedua karung itu ternyata berisi uang dalam jumlah sangat besar yang diperkirakan mencapai tiga hingga empat miliar rupiah. Setelah kembali dari Cilacap, Pak Joko memberikan sejumlah uang kepada Mas Yani sebagai bentuk terima kasih karena telah menemaninya. Mas Yani sempat menolak karena takut, tetapi Pak Joko meyakinkannya bahwa uang tersebut berasal dari uang pribadinya dan bukan dari hasil ritual.
Sekitar tiga bulan kemudian, Pak Joko menghubungi Mas Yani dan menawarinya pekerjaan untuk mengawasi para karyawan. Saat datang ke Bandung, Mas Yani mendapati Pak Joko telah kembali memiliki rumah besar, beberapa mobil, perusahaan, dan banyak pekerja. Mas Yani kemudian tinggal di rumah tersebut bersama Pak Joko. Pada bulan-bulan awal tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan, tetapi setelah itu ia mulai mencium bau amis pada malam tertentu dan melihat bayangan perempuan cantik di dalam rumah.
Pak Joko lalu menikah untuk pertama kalinya sejak ritual tersebut. Tiga bulan setelah pernikahan, istrinya meninggal akibat tertabrak mobil. Anehnya, Pak Joko tidak terlihat berduka dan kekayaannya justru meningkat pesat. Ia membeli tanah, rumah, mobil, serta membuka usaha baru. Pada tahun berikutnya, ia menikah lagi dan istri keduanya juga meninggal setelah sekitar tiga bulan dengan kejadian serupa. Pola yang sama terulang pada istri ketiga, yang meninggal secara tragis setelah pernikahan mereka.
Setelah menyaksikan kematian tiga istri Pak Joko, Mas Yani memutuskan berhenti bekerja dan pulang ke kampung. Pak Joko mengizinkannya pergi serta memberikan gaji dan bonus sebagai modal usaha. Meskipun telah meninggalkan Bandung, Mas Yani masih berkomunikasi dengan Pak Joko dan Agus, satpam yang menjaga rumah tersebut. Dari Agus, ia mendapat kabar bahwa Pak Joko menikah untuk keempat kalinya. Tiga bulan kemudian, istri keempat kembali meninggal akibat kecelakaan.
Memasuki tahun kelima, Pak Joko berniat menikahi perempuan lain untuk memenuhi korban terakhir. Namun, calon istri kelima menolak meskipun orang tuanya mendukung pernikahan tersebut karena Pak Joko sangat kaya. Perempuan itu mengaku melihat sisik seperti kulit ikan pada wajah dan tangan Pak Joko serta mencium bau amis dari tubuhnya. Pernikahan pun tidak terlaksana. Tidak lama setelah kegagalan tersebut, kondisi kesehatan Pak Joko mulai menurun secara misterius.
Pada sekitar Agustus 2010, Agus mengabarkan bahwa Pak Joko meninggal dunia. Sebelum meninggal, ia disebut berteriak kepanasan, membuka bajunya, lalu menceburkan diri ke kolam renang. Ia akhirnya ditemukan meninggal dengan kondisi lidah menjulur seperti orang yang tercekik. Setelah kematiannya, kekayaan yang dikumpulkan Pak Joko diperebutkan para kerabat hingga akhirnya habis dan usaha-usahanya lenyap. Mas Yani menilai kisah tersebut sebagai pelajaran bahwa ambisi memperoleh kekayaan secara instan dapat menuntut harga yang jauh lebih besar daripada harta yang didapatkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
