Tahun 2012 menjadi awal pengalaman kelam yang disaksikan Mas Ian. Saat itu ia bekerja di sebuah bank swasta dan baru dimutasi dari Jakarta ke salah satu wilayah di Jawa Barat. Bersama istrinya, ia berkeliling mencari kontrakan sebelum akhirnya menghubungi teman masa kecilnya yang bekerja di sebuah toko elektronik.
Temannya, yang disebut Mas Ade, kemudian memperkenalkan Mas Ian kepada pemilik toko. Pria itu dipanggil Bos Botak karena kepalanya terlihat plontos. Bos Botak mengizinkan Mas Ian dan keluarganya tinggal di lantai atas ruko, sedangkan bagian bawah bangunan digunakan untuk berjualan barang-barang elektronik.
Sekitar dua bulan setelah tinggal di sana, Bos Botak mulai menceritakan masalah usahanya. Ia mengaku membutuhkan modal agar bisa menambah persediaan televisi, kulkas, dan barang elektronik lainnya. Karena Mas Ian bekerja di bidang perbankan, Bos Botak berharap ia bisa membantu mencarikan pinjaman resmi.
Mas Ian akhirnya membantu proses pengajuan kredit hingga dana sekitar Rp100 juta cair. Uang tersebut dipakai untuk mengisi kembali stok toko sehingga usaha sempat ramai. Namun keuntungan yang diperoleh tidak bertahan lama karena sebagian uang juga digunakan untuk membayar utang lama dan memenuhi gaya hidup keluarga Bos Botak.
Istri dan anak-anak Bos Botak disebut terbiasa membeli barang-barang baru setiap kali ada uang. Kendaraan, perhiasan, dan berbagai kebutuhan konsumtif terus menguras pemasukan toko. Bos Botak sendiri dikenal royal kepada keluarga dan karyawan, tetapi tidak mampu mengendalikan pengeluaran.
Ketika modal kembali habis, Mas Ian membantu pengajuan pinjaman kedua. Kali ini beberapa nama karyawan digunakan untuk memperoleh pembiayaan dengan surat perjanjian bahwa seluruh tanggung jawab tetap berada pada Bos Botak. Dari pengajuan tersebut, dana sekitar Rp150 juta kembali diperoleh.
Toko elektronik kembali dipenuhi barang dagangan, tetapi hanya bertahan selama beberapa bulan. Utang lama, kredit pelanggan yang macet, dan kebutuhan keluarga membuat uang terus menghilang. Meski penjualan terlihat berjalan, pemasukan tidak pernah mampu menutup seluruh pengeluaran.
Bos Botak kemudian meminta bantuan untuk ketiga kalinya. Mas Ian menolak karena semua jalur pinjaman resmi sudah digunakan. Dalam keadaan terdesak, Mas Ade menyebut memiliki kenalan yang bisa memberi jalan lebih cepat, tetapi caranya dianggap menyimpang dan berhubungan dengan pesugihan.
Mereka lalu mendatangi seorang laki-laki yang dipanggil Abah. Rumahnya sangat besar dan terdapat beberapa mobil di halaman, membuat Bos Botak semakin yakin bahwa orang tersebut memiliki kemampuan luar biasa. Kepada Abah, ia menyampaikan keinginan memperoleh modal tanpa lagi meminjam dari bank.
Abah menawarkan ritual yang diklaim dapat menambah saldo rekening. Rekening Bos Botak saat itu hanya berisi sekitar Rp75.000, tetapi ia dijanjikan memperoleh Rp75 juta. Sebagai syarat awal, ia harus menyediakan sejumlah uang logam, minyak khusus, bunga, dan mahar bernilai jutaan rupiah.
Pada malam yang ditentukan, Bos Botak menjalani proses tertutup dengan kartu ATM miliknya. Setelah ritual selesai, Abah meminta mereka memeriksa rekening pada pukul sembilan pagi. Ia juga berulang kali memperingatkan Bos Botak agar tidak serakah dan menyisihkan sebagian uang untuk orang lain.
Keesokan paginya, Mas Ian, Bos Botak, dan Mas Ade pergi ke mesin ATM. Dalam kesaksian Mas Ian, saldo yang sebelumnya hanya Rp75.000 berubah menjadi sekitar Rp75 juta. Mereka mencoba menarik sebagian uang dan mesin benar-benar mengeluarkan lembaran rupiah.
Sebagian uang digunakan untuk membeli hewan dan berbagi makanan, sebagaimana pesan Abah. Sisanya dipakai untuk melunasi tagihan serta membeli stok elektronik baru. Toko kembali ramai, sementara Bos Botak membagikan uang kepada karyawan dan memenuhi permintaan keluarganya.
Namun uang sebesar itu kembali habis dalam waktu singkat. Bos Botak mendatangi Abah sekali lagi dan meminta bantuan tambahan. Kali ini Abah memberi peringatan lebih keras bahwa sesuatu yang paling berharga dan paling disayangi Bos Botak akan hilang jika ia tetap melanjutkan.
Sebagai bagian dari ritual berikutnya, Bos Botak diminta mencari seekor kalong. Istri Mas Ian yang dianggap peka langsung menafsirkan pesan tersebut sebagai ancaman terhadap nyawa. Ketika ditanya siapa yang paling disayangi, Bos Botak mengakui bahwa ia paling dekat dengan anak perempuannya yang masih berusia sekitar lima tahun.
Mas Ian dan istrinya sudah mengingatkan Bos Botak agar membatalkan niat tersebut. Mereka menjelaskan bahwa “barang berharga” kemungkinan bukan benda, melainkan anggota keluarga. Meskipun mengetahui risikonya, Bos Botak dan istrinya tetap menyatakan siap karena tekanan utang dan keinginan memperoleh uang lebih besar.
Kalong akhirnya dibawa ke rumah Abah pada malam yang telah ditentukan. Bos Botak masuk ke ruang ritual selama hampir tiga jam. Ketika keluar, tubuhnya berkeringat, jalannya sempoyongan, wajahnya pucat, dan terdapat darah di sekitar mulutnya. Ia mengaku dipaksa memakan bagian tubuh kalong setelah hewan itu dikorbankan.
Dua hari kemudian, Bos Botak kembali ke rumah Abah dan menerima uang tunai dalam jumlah yang disebut mendekati Rp100 juta. Uang itu terdiri dari pecahan kecil yang terlihat seperti uang biasa dan bisa digunakan untuk berbelanja. Stok toko kembali bertambah, sementara istri dan anak-anak Bos Botak semakin menikmati kemewahan.
Melihat keserakahan yang tidak kunjung berhenti, Mas Ian memutuskan pindah dari ruko. Beberapa karyawan lain juga meninggalkan toko. Tidak lama kemudian, kabar buruk datang: anak perempuan Bos Botak terjatuh ketika bermain sepeda dan meninggal setelah dibawa ke rumah sakit. Orang-orang yang mengetahui peringatan Abah menduga anak itulah “barang berharga” yang dijadikan pembayaran.
Kekayaan Bos Botak hanya bertahan sekitar dua tahun. Toko elektroniknya akhirnya hancur, utang lama tetap belum lunas, anak laki-lakinya semakin sulit dikendalikan, dan Bos Botak mengalami tekanan mental. Ia disebut sering keluar rumah dalam keadaan tidak terurus, sedangkan kondisi ekonominya kembali seperti sebelum memperoleh uang.
Mas Ian menyimpan penyesalan karena pernah ikut mengantar dan menyaksikan proses tersebut. Menurutnya, kesulitan ekonomi memang bisa membuat seseorang kehilangan pertimbangan, tetapi keserakahan akan membuat setiap pertolongan terasa selalu kurang. Kisah Bos Botak menjadi pengingat bahwa kekayaan yang dikejar melalui jalan gelap tidak hanya menghancurkan usaha, tetapi juga dapat merenggut keluarga dan ketenangan hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
