Kisah ini bermula pada tahun 2013, ketika Ibu Vera kembali berkumpul dengan tiga sahabat lamanya di Yogyakarta, yaitu Harso, Ical, dan Dodi. Mereka telah berteman sejak masa sekolah hingga kuliah, tetapi kemudian menjalani kesibukan masing-masing. Harso bekerja sebagai pegawai negeri, Ical mengembangkan bisnis salak pondoh, sedangkan Dodi ikut belajar menjalankan usaha tersebut bersama Ical. Pertemanan lama itu kelak membawa Ibu Vera menjadi saksi perjalanan Dodi dalam mencari kekayaan melalui jalan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Usaha salak pondoh milik Ical berkembang pesat dan produknya mulai masuk ke berbagai supermarket. Setelah cukup lama belajar, Dodi merasa telah memiliki pengetahuan untuk mendirikan usaha sendiri. Ia meminta pendapat Ibu Vera karena ragu menyampaikan keinginannya kepada Ical. Vera menyarankan agar Dodi berbicara secara baik-baik dan bersiap menerima semua risiko dari keputusan tersebut.
Ical akhirnya mengizinkan Dodi membuka usaha sejenis. Ia bahkan memberikan akses kepada pemasok salak yang selama ini bekerja sama dengannya. Karena belum mempunyai modal besar, Dodi memulai penjualan dari lapak sederhana di depan rumahnya yang berada di pinggir jalan. Ia berharap usaha itu dapat berkembang dan menjadi jalan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri tanpa terus bergantung kepada sahabatnya.
Harapan tersebut tidak segera terwujud. Setelah sekitar enam bulan, penjualan Dodi hanya berkisar antara 50 hingga 60 kilogram salak per hari dan belum mencapai target yang diinginkannya. Pengeluaran usaha lebih besar daripada pemasukan, sementara ia tetap harus mengembalikan modal kepada pemasok. Keadaan semakin berat karena istrinya menuntut kehidupan mewah dan mertuanya kerap meremehkan usaha kecil yang sedang dirintisnya.
Dodi kemudian meminta Ibu Vera membantu memperbaiki pengelolaan usahanya. Vera mencoba membenahi administrasi dan memberikan saran pemasaran, tetapi hasil penjualan tidak banyak berubah. Melihat Dodi semakin tertekan, Vera menyarankannya melakukan tirakat, menenangkan pikiran, serta memohon pertolongan kepada Tuhan. Dodi menerima saran itu, tetapi diam-diam menafsirkan tirakat sebagai jalan menuju kekayaan instan.
Beberapa bulan kemudian, Dodi mengajak Vera mendatangi sebuah tempat yang disebutnya sebagai lokasi tirakat. Sepanjang perjalanan, Vera berkali-kali memastikan bahwa tujuan mereka bukan ritual lain. Namun, ketika bertemu seorang kuncen, Dodi justru mengatakan secara terbuka bahwa ia datang untuk melakukan pesugihan. Vera terkejut dan marah karena merasa telah dibohongi, tetapi Dodi memaksanya tetap berada di tempat tersebut sebagai satu-satunya teman yang mengetahui rencananya.
Kuncen itu menawarkan beberapa tingkatan ritual dengan mahar berbeda, mulai dari sekitar delapan juta hingga tiga puluh lima juta rupiah. Dodi langsung memilih mahar paling mahal karena percaya prosesnya akan lebih cepat dan hasilnya lebih besar. Selain mahar, ia masih harus membayar perlengkapan ritual, termasuk kepala kambing dan berbagai sesajen. Jumlah dana yang harus disiapkan mencapai kurang lebih tiga puluh delapan juta rupiah.
Untuk memperoleh uang, Dodi meminjam sertifikat rumah orang tuanya dengan alasan membutuhkan tambahan modal agar usaha dapat masuk ke supermarket. Ibunya sempat khawatir karena rumah itu merupakan satu-satunya harta keluarga, tetapi Dodi berjanji akan melunasi pinjaman dalam satu atau dua tahun. Dari pinjaman bank tersebut, ia memperoleh sekitar enam puluh juta rupiah. Sebagian uang kemudian diserahkan kepada kuncen untuk membayar mahar dan kebutuhan ritual.
Ritual dimulai menjelang malam Jumat Kliwon. Dodi terlebih dahulu dimandikan dan dibersihkan di dekat sumur, kemudian dibawa menuju sebuah gubuk di kawasan berbukit. Ia diperintahkan masuk seorang diri, menyalakan lilin, dan bertahan sampai menjelang subuh apa pun yang dilihat atau didengarnya. Ibu Vera menunggu bersama kuncen sambil mendengar angin kencang, suara binatang, serta tawa perempuan yang seolah mengarah ke tempat Dodi bersemedi.
Pada malam pertama, Dodi hanya mendengar suara perempuan yang terasa sangat dekat di telinganya. Ritual dilanjutkan pada malam kedua tanpa didampingi Vera di lokasi utama. Menurut cerita Dodi, ia didatangi pocong, kuntilanak, dan genderuwo, lalu seakan dibawa ke sebuah istana ghaib. Di tempat itulah ia berhadapan dengan sesosok kuntilanak berwarna merah yang kelak menjadi makhluk utama dalam perjanjiannya.
Pada malam ketiga, kuntilanak merah tersebut bertanya tentang keinginan Dodi. Ia menjawab bahwa dirinya ingin kaya, ingin usaha salaknya berkembang, ingin memasok ke banyak perusahaan dan supermarket, serta tidak lagi dihina oleh mertua. Menurut pengakuan Dodi kepada Vera, makhluk itu meminta korban dari kalangan pekerjanya, dengan jumlah minimal tiga orang dalam satu tahun. Dodi menerima persyaratan tersebut karena ambisinya untuk kaya telah mengalahkan rasa takut dan pertimbangannya terhadap nyawa orang lain.
Setelah ritual selesai, Dodi diwajibkan menyediakan sebuah kamar khusus di rumah. Setiap malam Jumat, kamar itu harus diisi ayam cemani, dupa, dan sesajen lainnya, lalu digunakan untuk bersemedi sampai pagi. Perubahan usaha mulai terlihat dalam waktu singkat. Sebulan kemudian, Dodi mampu membeli mobil pikap bekas untuk mendukung distribusi salak, sedangkan pesanan dari berbagai tempat terus bertambah.
Korban pertama yang diketahui Ibu Vera adalah seorang pekerja bernama Pak Safi. Saat bekerja, Pak Safi tertimpa muatan salak dan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Meskipun kecelakaannya tampak tidak terlalu parah, kondisinya justru kritis dan ia meninggal tiga hari kemudian. Tidak lama setelah kematian tersebut, Dodi membeli dua mobil sekaligus, yaitu Toyota Innova dan Daihatsu Xenia.
Kekayaan Dodi terus meningkat dengan cepat. Pinjaman yang menggunakan sertifikat rumah orang tuanya dapat dilunasi sebelum satu tahun, rumah keluarga diperbaiki, dan ia membeli tempat tinggal baru. Dodi juga memperoleh jaringan distribusi yang sebelumnya dikelola Ical sehingga salaknya dapat masuk ke lebih banyak supermarket. Jumlah karyawannya bertambah dari beberapa orang menjadi sekitar dua puluh pekerja.
Di balik perkembangan itu, kematian para pekerja terus terjadi. Menurut penuturan Vera, setiap beberapa bulan ada sopir, kernet, atau pegawai gudang yang mengalami kecelakaan dan meninggal secara mendadak. Ada yang tewas ketika mengantar barang, ada yang tertabrak di perjalanan, dan ada pula yang meninggal tanpa penyakit yang jelas. Setiap kali seorang pekerja menjadi korban, pendapatan Dodi dikatakan kembali melonjak dan asetnya semakin bertambah.
Pola tersebut berlangsung selama kurang lebih enam hingga tujuh tahun tanpa menimbulkan kecurigaan besar. Namun, ketika merasa telah memiliki banyak uang, Dodi mulai mengabaikan larangan dalam perjanjiannya. Ia tidak lagi rutin bersemedi setiap malam Jumat dan mulai sering bepergian bersama perempuan lain. Pertengkaran dengan istrinya semakin parah hingga sang istri pulang ke rumah orang tuanya sambil membawa harta yang telah diberikan Dodi kepadanya.
Pada masa itu, ayah Ibu Vera memintanya segera pulang. Sang ayah mengaku didatangi leluhur melalui mimpi dan mendapat peringatan bahwa salah seorang anaknya berada dalam bahaya. Setelah Vera menceritakan pesugihan Dodi serta kematian para pekerja, ayahnya memintanya berhenti bekerja sebelum ia ikut menjadi korban. Vera akhirnya mengajukan pengunduran diri dan menyerahkan urusan administrasi kepada Arman, sambil memperingatkannya agar tidak memakan makanan yang disediakan di rumah Dodi.
Setelah meninggalkan tempat kerja, Vera menjalani proses pembersihan bersama seorang guru spiritual selama berbulan-bulan. Sementara itu, Arman terus mengabarkan kejadian di gudang. Seorang karyawan kembali meninggal secara mendadak, lalu kerabat korban yang memahami hal spiritual datang dan menilai usaha tersebut menyimpan sesuatu yang mengerikan. Warga bahkan mengaku melihat sosok kuntilanak seperti berada dalam kerangkeng, sementara dari kamar ritual terdengar suara gemuruh dan benturan keras.
Tidak lama kemudian, Dodi ditemukan sakit parah di tempat seorang perempuan yang hidup bersamanya. Ia dijemput para pekerja dan dibawa ke rumah ibunya, tetapi pemeriksaan rumah sakit tidak menemukan penyakit yang dapat menjelaskan kondisinya. Seorang praktisi spiritual kemudian mengungkapkan kepada keluarga bahwa Dodi telah menjalankan pesugihan dan melanggar perjanjiannya. Setelah lama tidak mampu beraktivitas, Dodi akhirnya meninggal, sedangkan proses pemakamannya disebut mengalami berbagai kesulitan karena ukuran liang kubur berkali-kali terasa tidak sesuai.
Seusai kematian Dodi, ibunya mengalami stroke dan kemudian meninggal. Usaha salak yang pernah berjaya runtuh, aset-aset terjual, dan administrasi perusahaan justru memperlihatkan banyak utang yang ditinggalkan. Ketika Ibu Vera kembali melihat lokasi itu pada tahun 2023, bisnis Dodi sudah tidak ada dan hanya rumah orang tuanya yang masih ditempati sang adik. Dari pengalaman tersebut, Vera berpesan agar manusia mensyukuri hasil pekerjaan yang halal dan tidak memilih jalan kekayaan instan yang akhirnya merugikan diri sendiri, keluarga, serta orang-orang yang tidak bersalah.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
