Tahun 2014, Mas Adi masih berusia sekitar 23 tahun dan dikenal sebagai petani kentang yang sukses di salah satu wilayah Jawa Barat. Usaha tersebut dirintisnya dari nol selama kurang lebih empat tahun hingga lahan pertaniannya berkembang luas. Penghasilan yang datang begitu besar membuatnya mudah membeli barang, membantu orang lain, dan menikmati kehidupan tanpa terlalu memikirkan uang.
Keberhasilan itu membuat Mas Adi berani membuka lahan baru di kawasan sebelah timur. Ia melakukan pendekatan kepada warga dan bekerja sama dengan para petani setempat. Panen pertama serta kedua berjalan lancar, hingga namanya mulai dikenal sebagai pendatang muda yang memiliki banyak lahan kentang.
Di daerah tersebut terdapat seorang petani besar yang disamarkan dengan nama Haji Kadir. Lelaki itu menguasai lahan sangat luas dan dikenal selalu ingin mengetahui siapa saja pesaing barunya. Setelah Haji Kadir datang menanyakan asal-usul serta lokasi lahan Mas Adi, salah seorang pekerja memperingatkan agar bosnya lebih berhati-hati.
Mas Adi tidak langsung percaya karena hubungannya dengan Haji Kadir terlihat baik. Mereka pernah minum kopi, merokok, bahkan berkendara bersama. Kecurigaan baru muncul ketika panen berikutnya tiba. Kentang milik Mas Adi mendadak berukuran kecil dan habis dipanen hanya dalam waktu satu setengah hari, padahal biasanya membutuhkan sekitar empat hari.
Keadaan di lahan Haji Kadir justru berbanding terbalik. Kentangnya berukuran besar dan seolah tidak pernah habis meskipun terus digali. Para pekerja Mas Adi kemudian menemukan banyak kentang tersangkut di pohon-pohon teh yang menjadi batas kedua lahan. Kejadian tersebut dianggap tidak masuk akal karena hasil tanaman seperti berpindah ke wilayah milik pesaingnya.
Seorang penasihat spiritual bernama Aki Ii kemudian dimintai bantuan. Setelah memeriksa kentang hasil panen, Aki Ii mengatakan bahwa usaha Mas Adi sedang diganggu. Ia memberi petunjuk untuk menggali bagian tertentu di tengah kebun. Di lokasi tersebut, Mas Adi menemukan kepala kambing berbau busuk yang dibungkus kain kafan bersama bunga dan perlengkapan ritual lain.
Mas Adi disarankan membalas serangan tersebut dengan jalur hitam, tetapi awalnya ia menolak. Namun kehancuran datang sangat cepat. Dalam waktu sekitar dua minggu, pertanian kentangnya runtuh, ternak puyuhnya ikut bermasalah, dan usaha ikan yang diharapkan menjadi penopang juga tidak mampu menutup kerugian. Utang menumpuk sementara seluruh modalnya habis.
Karena terdesak, Mas Adi mengikuti petunjuk menuju sebuah tempat ritual di kawasan pegunungan. Di sana ia bertemu kuncen yang disamarkan dengan nama Pak Didi. Ia ditawari dua pilihan: jalur putih yang membutuhkan waktu berbulan-bulan atau jalur hitam yang menjanjikan hasil cepat, tetapi meminta tumbal seorang anak.
Mas Adi belum menikah dan tidak mempunyai anak. Kuncen itu mengatakan bahwa tumbal bisa berasal dari orang lain yang diserahkan ketika perjanjian berlangsung. Dalam kondisi gelap mata karena utang, Mas Adi tetap mencoba menjalani proses awal. Namun pada malam kedua, muncul sosok seperti kesatria yang mengusirnya dan mengatakan bahwa Mas Adi tidak memiliki hak berada di tempat tersebut.
Pak Didi marah karena menganggap Mas Adi telah merusak ritual, lalu menyuruhnya pulang. Dalam perjalanan, orang yang mengantarnya menawarkan tempat lain yang disebut sering didatangi orang-orang sukses. Mas Adi kembali tergoda dan mendatangi lokasi tersebut. Ia terkejut karena halaman tempat itu dipenuhi kendaraan mewah dan para tamu dari kalangan berada.
Tempat itu menawarkan berbagai layanan gaib, mulai dari susuk, penglaris, hingga pesugihan. Mas Adi mendaftarkan diri sebagai calon pelaku pesugihan dan ditempatkan bersama dua orang lain. Salah satunya adalah perempuan yang namanya disamarkan menjadi Ibu Siska, seorang pemilik pabrik plastik yang bangkrut dan mempunyai utang puluhan miliar rupiah.
Peserta pertama dipanggil masuk, tetapi kemudian keluar sambil menunduk setelah bertengkar dengan dukun. Ia dianggap tidak percaya karena menolak mengeluarkan uang untuk membeli keperluan ritual. Setelah orang itu diusir, Ibu Siska dipanggil berikutnya, sedangkan Mas Adi diminta masuk sebagai saksi keberhasilan atau kegagalan ritual tersebut.
Ibu Siska menyerahkan mahar sekitar Rp7,5 juta. Sebagian uang disebut untuk membeli seekor ayam cemani, sedangkan sisanya digunakan sebagai biaya perlengkapan. Di belakang rumah terdapat kandang berisi ayam-ayam hitam. Ibu Siska diminta mengambil satu ayam tanpa memilih, lalu hewan itu dipersiapkan sebagai bagian dari perjanjian.
Di dalam ruangan, ayam tersebut diletakkan di hadapan Ibu Siska. Saat proses dimulai, Mas Adi mengaku mendengar suara anak perempuan kecil dari tubuh ayam. Suara itu memanggil “Mama”, mengatakan bahwa tempatnya gelap, dan memohon agar tidak disakiti. Semakin proses dilanjutkan, suara tangisan tersebut terdengar semakin keras di telinga Mas Adi.
Ibu Siska tetap melanjutkan meskipun Mas Adi sudah terlihat ketakutan. Suara anak itu terus memohon sambil bertanya kesalahan apa yang telah dilakukannya. Setelah ritual selesai, Ibu Siska justru tersenyum dan mengatakan bahwa mereka berhasil. Ia mengaku tidak mendengar tangisan apa pun dan menuduh Mas Adi hanya berhalusinasi.
Mas Adi kemudian memaksa Ibu Siska memeriksa telepon genggamnya. Terdapat belasan panggilan tidak terjawab, pesan, dan permintaan panggilan video dari pembantunya. Dalam panggilan itu, pembantu tersebut memberi kabar bahwa anak perempuan Ibu Siska meninggal dengan luka parah di bagian leher. Mas Adi juga mengaku melihat bayangan menyerupai Singo Barong berdiri di belakang tubuh anak itu.
Alih-alih berduka, Ibu Siska mengatakan kematian anaknya merupakan bentuk bakti kepada orang tua. Sesaat kemudian lampu ruangan padam dan bangunan terasa bergetar. Ketika kamar penyimpanan hasil ritual dibuka, sekitar seperempat ruangan telah dipenuhi lembaran uang pecahan Rp100 ribu yang jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
Uang tersebut harus dipindahkan pada malam yang sama. Saat proses pengangkutan berlangsung, dua anak buah Ibu Siska mengalami kejadian aneh. Salah satunya terluka pada bagian mulut, sedangkan yang lain mendadak tersedak dan tubuhnya membiru. Belakangan diketahui bahwa salah seorang dari mereka diam-diam mengambil uang ritual yang tidak boleh digunakan orang lain.
Melihat rangkaian kematian dan kecelakaan itu, Mas Adi memutuskan membatalkan niat melakukan pesugihan. Ia menolak tawaran Ibu Siska untuk bekerja bersamanya meskipun dijanjikan seluruh utangnya akan dilunasi. Setelah mengantar perempuan itu ke Ciamis, Mas Adi diberi sebuah mobil yang kemudian dijual. Namun sebagian hasil penjualannya justru kembali habis karena ia masih tergoda mendatangi tempat-tempat pesugihan lain.
Dua bulan kemudian, Ibu Siska kembali menghubunginya dan mengajak mengambil sisa uang. Kali ini ia mengaku siap menjadikan suaminya sebagai korban berikutnya. Mas Adi langsung menolak, memutus komunikasi, memblokir nomor Ibu Siska, dan mengganti nomor teleponnya. Meski demikian, ia merasa pengaruh dari pengalaman tersebut terus mengikutinya dan membuat dirinya berkali-kali tertarik kembali ke dunia pesugihan.
Mas Adi akhirnya menyadari bahwa pesugihan tidak hanya berbahaya ketika berhasil. Kegagalan pun dapat meninggalkan pengaruh buruk, rasa takut, obsesi, serta dorongan untuk terus mencari jalan instan. Utangnya bahkan belum sepenuhnya selesai, sementara ketenangan hidupnya sudah lama hilang. Dari pengalaman itu, ia berpesan agar manusia memilih kesabaran dan tawakal, karena harta tidak pernah pantas dibayar dengan nyawa keluarga ataupun penderitaan orang lain.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
