Kisah Kang Deni bermula pada tahun 2011 ketika ia merawat ayahnya yang menderita penyakit aneh selama lebih dari dua tahun. Tangan dan kaki sang ayah membengkak, tetapi pemeriksaan medis tidak menemukan penyebab yang jelas. Keluarganya memang mengenal hal-hal spiritual, sedangkan Kang Deni saat itu belum terlalu mempercayainya. Keadaan tersebut berubah setelah ia menyaksikan sendiri berbagai kejadian ganjil menjelang kematian ayahnya.
Sehari sebelum meninggal, ayah Kang Deni mengaku didatangi sosok kakek-kakek yang menyuruhnya meminum air rebusan daun hanjuang. Menurut pesan sosok tersebut, air itu dapat membuatnya sembuh atau justru mengakhiri penderitaannya. Kang Deni sempat menolak, tetapi sang ayah terus memaksa karena sudah lelah menahan sakit. Setelah berdiskusi dengan keluarga, ia akhirnya mencari daun tersebut, merebusnya, lalu memberikannya kepada ayahnya.
Tidak lama setelah meminum air rebusan itu, kondisi ayah Kang Deni tampak membaik secara mengejutkan. Tubuh yang sebelumnya membengkak kembali mengecil, dan ia mulai mampu berdiri serta duduk. Sang ayah kemudian memberikan seutas tali putih yang disebut sebagai benda untuk menjaga diri dari orang yang berniat jahat. Ia juga meminta dua batang rokok dan mengajak Kang Deni merokok bersama, seolah sedang menyampaikan perpisahan terakhir.
Pada malam harinya, perilaku sang ayah mendadak berubah. Dalam keadaan seperti tidak sadar, ia mencekik Kang Deni sambil menuduhnya mengambil sebuah batu akik merah. Pria yang sebelumnya kesulitan bergerak itu tiba-tiba mampu berdiri, berlari, serta mengacak-acak kamar untuk mencari batu tersebut. Kang Deni akhirnya berhasil keluar dan meminta pertolongan keluarga. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul tiga dini hari, ia mendapat kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia.
Kematian itu membuat Kang Deni mencari penjelasan dari seorang sesepuh. Ia kemudian menjalani proses mendekatkan diri melalui salat, zikir, dan pengenalan terhadap ilmu yang disebutnya sebagai ilmu kebuyutan. Dari proses tersebut, ia mulai memahami bahwa benda-benda yang pernah dimiliki ayahnya kemungkinan berkaitan dengan kehidupan spiritual masa lalu sang ayah. Tali putih yang sempat diberikan kepadanya akhirnya dibakar oleh kakaknya agar tidak menimbulkan akibat serupa.
Pada tahun 2019, Kang Deni bersama empat temannya, yaitu Peri, Ridwan, Adi, dan Agus, tertarik mencoba siaran langsung penelusuran tempat angker. Mereka melihat bahwa konten eksplorasi sedang ramai dan berpeluang menghasilkan uang tambahan. Setelah membeli senter, tripod, baterai, serta perlengkapan lain, mereka membagi tugas. Kang Deni menjadi pembawa acara sekaligus satu-satunya orang yang masuk ke lokasi, sementara teman-temannya mengurus izin dan memantau siaran.
Penelusuran pertama dilakukan di sebuah pabrik kosong. Kang Deni masuk sendirian dan berusaha menarik perhatian penonton dengan menantang makhluk yang dipercaya menghuni tempat tersebut. Kamera menangkap benda menyerupai kain yang bergerak di bagian atas bangunan, lalu tampak seperti sosok yang sedang duduk dan mengayunkan kaki. Ia juga menemukan tali yang menurut penjaga berkaitan dengan sebuah peristiwa kematian di pabrik itu.
Selama siaran, pintu menutup sendiri dan beberapa bentuk menyerupai pocong serta makhluk seperti monyet putih tertangkap kamera. Tali yang disorot Kang Deni juga terlihat bergerak tanpa disentuh. Walaupun merasa takut, ia mempertahankan gaya pembawaan yang berani agar jumlah penonton terus bertambah. Siaran tersebut kemudian menarik perhatian seorang pengelola yang menawari timnya bergabung dengan manajemen konten siaran langsung.
Setelah menandatangani kontrak, tim Kang Deni mulai melakukan penelusuran dengan konsep yang lebih teratur. Tiga anggota bertugas mencari lokasi, sedangkan Kang Deni tetap menjadi pembawa acara utama. Suatu malam, mereka mendapat informasi mengenai bekas rumah makan di kawasan Lembang yang telah lama ditutup. Tempat tersebut pernah sangat ramai, tetapi sudah kosong sekitar empat tahun sejak berhenti beroperasi pada 2015.
Penjaga lokasi memperingatkan bahwa bangunan itu dipercaya pernah digunakan untuk ritual pesugihan. Ia juga mengatakan bahwa tim penelusur lain pernah mengalami gangguan kejiwaan setelah datang ke sana. Kang Deni diminta menjaga ucapan dan tidak bertindak sembarangan. Meskipun mulai merasa takut, ia tetap turun ke bagian bawah bangunan karena mengandalkan pengalaman spiritual yang pernah dipelajarinya.
Pada awal siaran, Kang Deni mengadakan sesi uji nyali selama tiga puluh menit. Ia meletakkan kamera, melempar piring dan kayu, berteriak, serta menantang berbagai sosok agar menunjukkan wujud. Suara tangisan perempuan, langkah kaki, dan auman aneh mulai terdengar. Beberapa penonton mengaku melihat kuntilanak atau pocong di dekatnya, tetapi Kang Deni tidak melihat penampakan tersebut secara langsung.
Ketika melanjutkan eksplorasi, ia melihat sebuah kursi kayu tua di dekat bekas ruang makan. Setelah kamera digeser dan kembali diarahkan ke tempat semula, kursi itu tiba-tiba menghilang. Batu-batu kecil juga dilemparkan dari arah bekas dapur, disusul suara tangisan yang semakin jelas. Alih-alih berhenti, Kang Deni justru semakin berani karena jumlah penontonnya naik hingga ratusan orang.
Di lantai atas, Kang Deni menemukan sebuah nampan yang berisi kendi, pisang, rokok, serta bunga tujuh rupa. Ia menduga benda-benda itu merupakan perlengkapan ritual. Demi menghibur penonton, ia mengambil dan menyalakan salah satu rokok dari nampan tersebut. Tindakan itu menjadi titik ketika suasana penelusuran berubah semakin berat dan ancaman mulai terasa lebih nyata.
Di sudut ruangan, Kang Deni melihat sosok kakek-kakek mengenakan pakaian pangsi dan ikat kepala. Sosok berkumis putih panjang itu membawa senjata menyerupai cerurit, tetapi para penonton tidak dapat melihat maupun mendengar suaranya. Makhluk tersebut menuduh Kang Deni telah mengganggu tempatnya dan berkali-kali menyuruhnya pulang. Ancaman itu kemudian berubah menjadi peringatan bahwa Kang Deni akan mati jika tidak segera meninggalkan bangunan.
Tidak lama kemudian, sebuah lampu neon jatuh dan di sekitarnya terlihat hewan menyerupai kalajengking serta kelabang. Kang Deni akhirnya menutup siaran dengan alasan merasa tidak enak badan. Ia mengira gangguan selesai setelah pulang, tetapi sosok kakek tersebut kembali muncul di rumah dan mengulang ancaman yang sama. Pada malam itu, Kang Deni bermimpi berada di tengah ritual yang dipenuhi banyak orang.
Dalam mimpi tersebut, ia melihat nampan berisi kelabang, kalajengking, ular, serta kepala kambing hitam yang masih berlumuran darah. Sosok kakek itu mengatakan bahwa karena Kang Deni telah datang ke tempatnya, ia harus ikut bersamanya. Kang Deni kemudian dipaksa meminum darah sebelum terbangun. Sejak saat itu, ia merasa kehidupan dan kondisi tubuhnya mulai berubah.
Saat sedang bekerja, kedua kaki Kang Deni tiba-tiba tidak dapat digerakkan. Di kaki kirinya muncul benjolan seperti mata ikan yang membesar dengan cepat. Ia menjalani pemeriksaan di rumah sakit sebanyak beberapa kali, tetapi pengobatan medis tidak memberikan hasil. Selama sekitar tiga bulan, ia tidak mampu berjalan dan penyakit tersebut justru terasa semakin parah.
Seorang teman akhirnya menyarankan Kang Deni menemui orang pintar di Bandung. Orang tersebut mengatakan bahwa Kang Deni datang tidak sendirian karena ada sosok kakek yang mengikutinya. Setelah diberi air minum dan serbuk untuk ditempelkan pada luka, kondisinya berangsur pulih. Namun, ia diwajibkan kembali ke bekas rumah makan untuk meminta maaf kepada penghuni tempat tersebut.
Kang Deni mendatangi lokasi itu seorang diri, mengucapkan salam, dan meminta maaf atas tindakan kasarnya selama siaran. Di sana ia menemukan simbol-simbol yang dianggap berkaitan dengan ritual serta sebuah cincin bergambar segitiga dan mata satu. Cincin tersebut kemudian dikaitkannya dengan simbol Freemason atau Illuminati, meskipun cerita ini tidak memberikan bukti mengenai hubungan resmi benda itu dengan organisasi tertentu. Kang Deni membawa cincin tersebut dan mengaku merasakan keberanian serta hawa panas ketika memakainya.
Dari seorang sesepuh setempat, Kang Deni memperoleh cerita bahwa rumah makan itu dahulu ramai bukan semata-mata karena kualitas usahanya. Tempat tersebut disebut menjalankan ritual setiap malam Jumat dan menjadikan karyawan sebagai tumbal. Pemiliknya kemudian menghilang, para pekerja terlantar, dan rumah makan akhirnya tutup. Walaupun telah sembuh, sosok kakek-kakek itu menurut Kang Deni masih sesekali mengikutinya hingga sekarang, sehingga ia berpesan agar siapa pun yang melakukan eksplorasi tempat angker tetap menjaga izin, ucapan, dan adab.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
