Tahun 2015 menjadi awal pengalaman kelam yang tidak pernah dilupakan Mas Kusnadi, seorang seniman asal Indramayu. Saat itu sahabat masa kecilnya, Iwan, datang setelah lama tidak bertemu. Iwan bekerja untuk seorang perempuan yang biasa dipanggil Bunda dan meminta Mas Kus datang ke rumah majikannya karena ada persoalan penting yang ingin dibicarakan.
Bunda dikenal pernah memiliki usaha wedding organizer yang cukup besar di Indramayu. Gudangnya dahulu dipenuhi tenda, dekorasi, pelaminan, dan berbagai perlengkapan acara. Namun ketika Mas Kus berkunjung, seluruh ruangan terlihat kosong. Usaha itu telah bangkrut, hartanya habis, utang menumpuk, dan rumahnya bahkan telah diberi tanda sebagai aset dalam pengawasan bank.
Dalam percakapan mereka, Bunda meminta bantuan untuk menemukan orang pintar yang mampu menyelesaikan masalah keuangannya. Ia rupanya sudah mencari berbagai informasi mengenai jalan memperoleh kekayaan secara instan. Bunda menyebut beberapa jenis pesugihan, mulai dari tuyul, babi ngepet, jual umur, hingga jual musuh.
Mas Kus berusaha menjelaskan bahwa semua jalan tersebut memiliki risiko besar. Dalam pesugihan jual musuh, korban pertama biasanya adalah orang yang dianggap telah menyakiti pelaku, sedangkan korban berikutnya dapat berasal dari orang terdekat. Anehnya, Bunda justru terlihat semakin tertarik karena merasa telah disakiti oleh seseorang yang sangat dekat dengannya.
Bunda kemudian menyebut sebuah gunung yang dipercaya memiliki lokasi ritual jual musuh. Mas Kus kembali mengingatkan bahwa tidak ada kekayaan gaib yang diberikan secara gratis. Namun Bunda terus memaksa, sementara Iwan ikut membujuk karena kehidupannya sangat bergantung pada usaha sang majikan. Dengan berat hati, Mas Kus akhirnya bersedia membantu mengantar mereka.
Perjalanan dilakukan dengan kondisi serba kekurangan. Bunda bahkan harus meminjam sepeda motor dan uang bensin untuk berangkat. Melalui kenalan Mas Kus di Sumedang, mereka dipertemukan dengan seorang praktisi yang disebut Abah. Anak Abah kemudian mengantar rombongan menaiki bukit hingga bertemu dengan seorang juru kunci.
Bunda berbicara secara tertutup dengan juru kunci selama sekitar setengah jam. Setelah keluar, ia mengatakan ritual harus dilaksanakan pada hari Sabtu berdasarkan perhitungan hari kelahirannya. Tidak ada mahar berbentuk uang yang disebutkan, tetapi seluruh perlengkapan ritual harus dibeli sendiri dan sudah tersedia sebelum mereka kembali ke gunung.
Demi membiayai perlengkapan tersebut, Iwan menjual sepeda motor yang menjadi satu-satunya harta berharganya. Ia menyerahkan sekitar Rp5 juta kepada Mas Kus untuk membeli berbagai kebutuhan, termasuk seekor ayam cemani. Menjelang malam Jumat Kliwon, ayam hitam itu sangat sulit ditemukan hingga Mas Kus harus mencarinya dari desa ke desa.
Ayam cemani baru ditemukan mendekati tengah malam di perbatasan Indramayu dan Cirebon dengan harga yang sangat mahal. Dalam perjalanan pulang, ayam tersebut terus berkokok setiap kali melewati tempat sepi dan pemakaman. Sepeda motor Mas Kus juga terasa sangat berat, sempat mogok meskipun bensinnya penuh, dan di ujung sebuah jembatan ia mengaku melihat sosok tinggi besar berbulu, bertanduk, serta bermata merah.
Pada hari ritual, mereka harus tiba di atas gunung sebelum magrib. Bunda, Mas Kus, juru kunci, dan anaknya membawa seluruh perlengkapan menuju sebuah gubuk kecil berukuran sekitar dua kali dua meter. Di dalam gubuk terdapat dua makam, sedangkan di depannya berdiri pohon beringin tua yang menambah suasana mencekam.
Ritual pertama dimulai setelah Isya dengan penerangan lilin. Ketika bahan ritual dibakar, angin besar tiba-tiba berembus di sekitar gubuk. Mas Kus melihat bayangan-bayangan dan sosok bertanduk yang sebelumnya muncul di jembatan. Makhluk itu terdengar tertawa terbahak-bahak, tetapi semua orang diminta tetap diam oleh juru kunci.
Sekitar tengah malam, ayam cemani diserahkan kepada Mas Kus untuk dipegang, sementara pisau diberikan kepada Bunda. Juru kunci sampai tiga kali memerintahkan Bunda melakukan penyembelihan sebelum akhirnya ia menurut sambil menangis. Darah ayam ditampung dalam sebuah mangkuk kecil sebagai bagian dari prosesi berikutnya.
Pada ritual kedua, suasana menjadi semakin kacau. Terdengar auman, tangisan, jeritan, dan suara tertawa dari sekitar gubuk. Mas Kus juga melihat sosok kecil berwajah tua serta berjenggot berdiri di hadapannya. Ketakutan membuatnya kehilangan kesadaran dan baru terbangun ketika juru kunci mengatakan seluruh proses telah selesai.
Sekitar satu bulan kemudian, Iwan kembali menemui Mas Kus dengan penampilan yang berubah drastis. Ia datang menggunakan mobil Honda Brio baru yang katanya diberikan Bunda sebagai inventaris. Usaha wedding organizer kembali berkembang, perlengkapannya semakin banyak, dan Bunda telah membangun rumah baru yang kemewahannya jauh melampaui rumah lama.
Dalam acara syukuran rumah baru, Mas Kus melihat Bunda telah berubah menjadi perempuan kaya dengan pakaian bagus, riasan, dan perhiasan mencolok. Bunda kemudian mengungkapkan bahwa ketika menyembelih ayam cemani di gunung, yang terlihat di matanya bukanlah seekor ayam, melainkan wajah suaminya sendiri.
Suami Bunda bekerja di Kalimantan dan selama bertahun-tahun selalu meminta kiriman uang dengan alasan proyeknya gagal. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Bunda menjual rumah, mobil, tanah, dan aset usaha. Belakangan ia mengetahui bahwa uang itu ternyata digunakan untuk membiayai perempuan lain yang telah dinikahi suaminya di Kalimantan. Rasa sakit dan dendam itulah yang membuatnya memilih suaminya sebagai sasaran pesugihan jual musuh.
Bunda juga mengungkapkan kewajiban yang harus dilakukan setelah ritual. Setiap bulan ia harus mengorbankan seekor kerbau bule. Darah, kepala, kaki, ekor, dan jeroannya disimpan di sebuah kamar khusus. Menurut perjanjian dalam cerita, semakin banyak darah yang terkumpul, semakin banyak pula uang yang akan diperoleh.
Mas Kus dipaksa melihat kamar tersebut. Di dalam kamar tidur Bunda terdapat ruangan tersembunyi yang dipenuhi bagian tubuh kerbau dan darah dari ritual sebelumnya. Semua benda itu baru dibuang ketika persembahan baru datang. Bau busuknya membuat Mas Kus hampir muntah, terlebih setelah mengetahui bahwa Bunda tidur sendirian di dekat kamar ritual tersebut setiap malam.
Sebagai ucapan terima kasih, Bunda menawarkan amplop berisi uang puluhan juta kepada Mas Kus. Ketika ditolak, ia memberikan kunci sepeda motor PCX lengkap dengan surat-suratnya. Mas Kus kembali menolak. Bunda kemudian menawarkan mobil Brio yang digunakan Iwan, tetapi pemberian itu juga tidak diterima karena Mas Kus khawatir semua harta tersebut berasal dari perjanjian gelap.
Mas Kus menyatakan tidak ingin lagi terlibat dan menghentikan komunikasi dengan Bunda serta Iwan. Namun pada tahun 2019, Iwan datang dalam keadaan panik dan meminta pertolongan. Bunda telah sakit selama sekitar satu tahun, usahanya kembali bangkrut, kendaraan-kendaraannya mengalami kecelakaan, dan para pekerja wedding organizer mengundurkan diri karena sering mengalami gangguan di rumah maupun tempat tinggal karyawan.
Kehancuran terus berlanjut. Salah satu anak Bunda meninggal akibat overdosis setelah kehilangan kendali karena kehidupan yang terlalu mewah. Bunda mengalami depresi berat, menghancurkan barang, membakar sepeda motor, merusak mobil, dan melukai dirinya sendiri hingga keluarga terpaksa memasungnya. Iwan mengaku semua bermula ketika ia lupa memberikan persembahan bulanan karena terlalu sibuk menerima banyak pekerjaan.
Sejak persembahan itu terlewat, Iwan juga terus dihantui sosok besar bertanduk dan makhluk kecil berjenggot. Kondisi kejiwaannya memburuk, seluruh rumah, mobil, dan sepeda motor pemberian Bunda habis untuk biaya pengobatan, hingga akhirnya ia juga harus dikurung agar tidak melukai diri sendiri. Suami Bunda dikabarkan meninggal setelah jatuh dari proyek di Kalimantan tanpa luka yang jelas, sedangkan masa kejayaan mereka hanya berlangsung sekitar lima tahun sebelum semuanya runtuh.
Mas Kus menyimpan rasa bersalah, terutama ketika melihat istri dan anak Iwan harus menanggung akibat dari keputusan tersebut. Rumah lama Bunda masih berdiri tetapi sulit dijual karena masyarakat telah mendengar kisah di baliknya. Pengalaman itu membuat Mas Kus kembali mengingatkan bahwa tidak ada harta yang kekal dan tidak ada perjanjian gaib tanpa konsekuensi. Kekayaan yang sempat menghasilkan rumah mewah, motor PCX, dan mobil Brio akhirnya hanya meninggalkan kematian, gangguan jiwa, keluarga yang hancur, serta penyesalan panjang.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
