Kisah Mbak Rahayu bermula di Indramayu pada sekitar tahun 2003, ketika ia baru menamatkan pendidikan SMP. Ia sebenarnya ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, tetapi orang tuanya meminta ia pulang karena telah merencanakan sebuah perjodohan. Calon suaminya disebut dengan nama samaran Yanto, seorang pemuda yang pernah bekerja selama dua tahun pada usaha penampungan ikan milik keluarga Rahayu. Karena mengenal Yanto sebagai sosok pendiam dan rajin, Rahayu akhirnya menerima keputusan tersebut.
Pertemuan kedua keluarga segera dilakukan dan tiga bulan kemudian Rahayu menikah dengan Yanto. Saat itu usianya masih sangat muda dan ia belum banyak memahami kehidupan rumah tangga. Pada tahun 2005, pasangan tersebut telah dikaruniai seorang anak. Mereka sempat tinggal bersama keluarga Rahayu, tetapi ketenangan rumah tangga mulai terganggu setelah muncul perselisihan antara kedua keluarga mengenai hasil panen dari sawah pemberian orang tua Rahayu.
Sawah itu awalnya diberikan agar hasil penjualannya dapat ditabung untuk masa depan Rahayu. Namun, Yanto dan ayahnya menjual padi tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Ketika persoalan tersebut diketahui, orang tua Rahayu menegur Yanto dan keluarganya dengan kata-kata yang menyinggung perasaan. Ayah Yanto lalu meminta anaknya pulang, sedangkan Rahayu memilih mengikuti suaminya karena memikirkan anak mereka yang masih kecil.
Kehidupan di rumah mertua tidak membuat Rahayu merasa nyaman. Ia sering didiamkan dan disindir, sementara Yanto berhenti bekerja di tempat orang tua Rahayu. Tidak lama kemudian, Yanto memperoleh pekerjaan di sebuah pabrik rotan di wilayah Indramayu. Ia berangkat tanpa membicarakan rencananya dengan sang istri dan meninggalkan Rahayu bersama keluarga mertuanya selama berbulan-bulan.
Rahayu akhirnya kembali ke rumah orang tuanya dan membuka warung kecil di dekat jalur Pantura. Ia menjual mi, kopi, serta makanan untuk para sopir yang melintas. Yanto masih mengirimkan uang setiap bulan, tetapi Rahayu merasa hidup seperti seorang diri meskipun memiliki suami. Berkali-kali ia meminta izin untuk menyusul, tetapi Yanto selalu menolak dengan alasan tidak ada tempat tinggal yang layak di lokasi kerjanya.
Karena curiga, Rahayu nekat datang ke pabrik dengan membawa anak dan beberapa peralatan dapur. Di sebuah warung dekat lokasi, ia justru diberi tahu bahwa Yanto mengaku masih lajang. Malam itu Yanto meninggalkannya sendirian dengan alasan harus menemani istri temannya yang sedang hamil. Ketika berada di ruangan kecil dekat mesin pabrik, Rahayu melihat lampu berulang kali mati sendiri dan sosok menyerupai pocong bergoyang di dalam area mesin.
Kecurigaan Rahayu semakin kuat setelah seorang warga mengatakan bahwa Yanto telah memiliki perempuan lain. Ia kemudian mengamati tingkah suaminya dan akhirnya mengetahui adanya perselingkuhan. Dengan hati yang terluka, Rahayu membawa anaknya pulang dan meminta cerai. Orang tuanya menerima keputusan itu, lalu mempersilakannya menempati sebuah rumah kosong berukuran besar bersama ibu angkat yang telah merawatnya sejak kecil.
Ibu angkat Rahayu merasa tidak terima melihat anak asuhnya disakiti. Ia menawarkan cara untuk membalas sakit hati tersebut melalui sebuah ajian pengasihan yang disebut Jala Pancur. Dalam keadaan dikuasai dendam, Rahayu menerima tawaran itu. Pada malam Jumat sekitar pukul dua belas malam, ia dibangunkan dan diminta mengenakan kain sebelum menuju kamar mandi belakang untuk memulai ritual.
Di kamar mandi telah tersedia bak berisi air dan bunga tujuh rupa. Ibu angkatnya menyiramkan air bunga ke kepala Rahayu sebanyak tujuh kali menggunakan gayung dari tempurung kelapa. Setelah itu, Rahayu diminta membakar dupa dan mengusapkan asapnya ke wajah sebanyak tujuh kali. Ia diberi tahu bahwa ritual tersebut bertujuan membuka aura agar banyak makhluk menyukainya, bukan hanya manusia, tetapi juga jin dan berbagai makhluk ghaib.
Sejak ritual pertama selesai, anak Rahayu menunjukkan perubahan sikap. Anak yang biasanya dekat dengannya mendadak selalu menangis dan menolak ketika digendong, tetapi tenang saat bersama ibu angkatnya. Rahayu kemudian diminta menjalani puasa selama tujuh hari. Ia dilarang mengonsumsi makanan bernyawa, makanan asin, dan makanan berbumbu, sehingga hanya berbuka dengan nasi putih, tempe tanpa garam, serta air putih sebelum melanjutkan wirid pada malam hari.
Pada hari ketiga, tubuh Rahayu mulai melemah dan makanan terasa pahit hingga sulit ditelan. Ketika menjalankan wirid, ia mendengar suara perempuan menangis dengan sangat sedih, tetapi tidak menemukan siapa pun. Kursi di ruang tamu juga bergerak dan terseret sendiri hingga meninggalkan goresan pada lantai. Walaupun ketakutan, ia terus menjalankan ritual karena ibu angkatnya meminta ia bertahan sampai seluruh tahapan selesai.
Gangguan berikutnya muncul ketika Rahayu hendak mengambil air wudu pada malam keempat. Di dekat akses menuju loteng, ia melihat seorang perempuan berwajah merah dengan rambut acak-acakan. Sosok itu mengatakan bahwa loteng merupakan tempatnya dan berjanji tidak akan mengganggu selama Rahayu tidak mendekat. Anehnya, Rahayu tidak melarikan diri dan tetap melanjutkan wudu serta wirid seperti biasa.
Pada malam kelima, Rahayu mendengar langkah berat yang membuat lantai seolah bergetar. Suara itu disertai bunyi gelang kaki yang semakin mendekati kamar. Ketika pintu dibuka, ia melihat kaki sangat besar dengan gelang merah, lalu sosok raksasa berwajah merah, bermata bulat, dan berlidah panjang. Karena tubuhnya lemas akibat puasa, Rahayu hanya mampu merangkak dan bersembunyi di bawah tempat tidur sambil memanggil ibu angkatnya.
Malam terakhir menjadi puncak teror. Seusai wirid dan ketika hendak ke kamar mandi, Rahayu melihat sosok genderuwo bertubuh tinggi besar, berbulu, bermata merah, bertaring, dan memiliki satu tanduk. Makhluk itu bergerak sangat cepat hingga tiba-tiba berada tepat di hadapannya. Rahayu sempat tidak dapat bergerak, tetapi akhirnya berhasil sadar, menabrak pintu, dan berlari meninggalkan kamar mandi.
Sekitar beberapa hari setelah tirakat selesai, pengaruh ajian mulai terasa. Rahayu merasa semakin banyak orang yang menyukainya, bahkan Yanto datang dan memohon agar mereka rujuk. Yanto mengatakan bersedia meninggalkan istri barunya demi kembali bersama Rahayu dan anak mereka. Namun, rasa sakit hati membuat Rahayu menolak, meskipun mantan suaminya menangis dan tidak segera meninggalkan rumah.
Kemampuan Rahayu melihat kejadian ghaib juga semakin kuat. Ia kerap mencium aroma bunga beberapa hari sebelum terjadi musibah. Suatu malam, setelah menyaksikan kecelakaan yang menewaskan seorang pengendara, ia melihat arwah korban berdiri di dalam rumahnya. Rahayu merasa sosok itu mencari sesuatu yang tertinggal, dan warga kemudian menemukan bagian mata korban di lokasi kecelakaan lalu menguburkannya di sekitar tempat tersebut.
Teror genderuwo belum berakhir. Setiap malam Minggu, makhluk itu datang melalui mimpi dan mengajak Rahayu menikah. Pada kedatangan pertama, wujudnya menyerupai makhluk berkaki kuda, sedangkan pada kesempatan berikutnya ia tampil sebagai laki-laki berwajah tampan. Rahayu tetap menolak karena menyadari bahwa sosok tersebut bukan manusia, meskipun aroma pandan yang menyengat selalu menjadi tanda sebelum kemunculannya.
Pada kedatangan berikutnya, genderuwo menunjukkan wujud aslinya dan menawarkan uang serta emas tanpa meminta tumbal, asalkan Rahayu bersedia menjadi istrinya. Ketika tawaran itu kembali ditolak, makhluk tersebut marah, menahan kedua tangan Rahayu, dan menindih tubuhnya. Dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran, Rahayu memohon kesempatan untuk bertobat dan membaca dua kalimat syahadat sebanyak tiga kali. Genderuwo itu menjerit, tubuhnya seperti mengempis, lalu menghilang.
Sekitar empat tahun kemudian, Rahayu menikah dengan laki-laki lain. Namun, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi pertengkaran dan perubahan emosi yang sulit dikendalikan. Suaminya pernah melihat sosok menyerupai Rahayu sedang menatapnya dengan mata putih dan wajah menghitam, padahal Rahayu sedang tertidur. Pada kesempatan lain, Rahayu juga merasa ditemani suaminya ketika mencuci pada dini hari, tetapi pria itu ternyata masih tidur di kamar.
Rahayu akhirnya menceritakan seluruh riwayat ajian Jala Pancur kepada suaminya. Ia kemudian menjalani proses rukiah dan pembersihan setiap hari Jumat selama empat puluh kali. Dalam proses tersebut, tubuhnya sering memberontak, mengucapkan kata-kata kasar, merasa sangat panas, dan memuntahkan cairan hitam. Setelah rangkaian itu selesai, gangguan perlahan berhenti dan rumah tangganya menjadi lebih tenang. Kini Rahayu memilih memperdalam agama serta berpesan agar rasa sakit hati tidak dibalas melalui ritual berbahaya, karena setiap perbuatan pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
