Pada 2007, Mas Igo memiliki seorang kenalan dekat yang namanya disamarkan menjadi Bapak Mul. Keduanya tinggal tidak terlalu jauh dan sering bertemu untuk berbincang. Karena itu, Mas Igo merasa heran ketika Bapak Mul tidak terlihat selama hampir dua minggu dan tidak memberikan kabar kepada siapa pun.
Ketika ditanyakan kepada istrinya, Bapak Mul disebut sedang pergi mencari ketenangan pikiran. Beberapa hari kemudian, lelaki itu akhirnya datang ke rumah Mas Igo dengan berjalan kaki. Pertemuan mereka tidak berlangsung lama karena seorang keponakan datang membawa pesan bahwa ada dua orang tamu yang sedang menunggu di rumah Bapak Mul.
Mas Igo mengantar Bapak Mul pulang dan bertemu dengan dua orang tersebut. Mereka mengaku berasal dari desa tetangga dan meminta bantuan untuk seorang perempuan bernama samaran Ibu Tami. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu sudah empat hari terbaring tanpa mampu bergerak, tetapi masih bernapas dan belum dinyatakan meninggal.
Bapak Mul bersedia datang dengan ditemani Mas Igo. Namun ketika keduanya berjalan menuju rumah Ibu Tami, beberapa warga mencoba menghentikan mereka. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan meminta mereka pulang karena seluruh lingkungan sudah kesal terhadap Ibu Tami serta suaminya, Bapak Kadek.
Kemarahan warga terlihat semakin jelas ketika Mas Igo mendekati rumah tujuan. Orang-orang berbisik, mencibir, dan menyebut kedatangan mereka sebagai kedatangan dukun atau orang pintar. Rumah Ibu Tami terlihat besar, memiliki pagar besi serta garasi luas, sedangkan banyak warga memenuhi halaman dan bagian dalam bangunan.
Di dalam rumah, Ibu Tami terbaring di atas ranjang kayu. Bapak Kadek menyambut dengan nada kasar dan langsung meminta mereka memeriksa istrinya. Ketika Bapak Mul mendekati ranjang, ia tiba-tiba mundur dua langkah karena melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang-orang biasa.
Bapak Mul mengatakan tubuh Ibu Tami terlihat menjadi dua. Setelah wajah Mas Igo diusap, ia juga mengaku menyaksikan dua sosok perempuan yang bentuknya sama sedang bertumpuk di atas ranjang. Sosok yang berada di bawah merintih kesakitan, sedangkan yang berada di atas tertawa dan terus menggerakkan tangannya.
Penjelasan tersebut membuat Bapak Kadek marah. Ia menuduh Bapak Mul dan Mas Igo sebagai penipu karena istrinya jelas hanya satu. Atas permintaannya sendiri, penglihatannya kemudian dibuka sehingga ia juga melihat dua sosok di atas ranjang. Meski terkejut, Bapak Kadek tetap menuduh mereka menggunakan sihir dan mengusir keduanya.
Dalam perjalanan pulang, Mas Igo melihat sosok menyerupai Ibu Tami muncul berkali-kali di depan sepeda motornya. Sosok yang terlihat bukan perempuan yang merintih, melainkan sosok yang tertawa dengan wajah menyeramkan. Gangguan tersebut hampir membuat Mas Igo kehilangan kendali dan terperosok ke sawah.
Bapak Mul akhirnya meminta makhluk itu pergi ketika mereka tiba di rumahnya. Setelah mendapat penanganan sederhana dari Bapak Mul, Mas Igo kembali merasa tenang. Namun dua hari kemudian, keluarga Ibu Tami kembali datang dan meminta mereka melakukan pemeriksaan untuk kedua kalinya.
Ketika Mas Igo dan Bapak Mul kembali ke desa tersebut, para warga kembali berkumpul. Bapak Kadek mengaku ingin meminta maaf, tetapi cara bicaranya masih keras. Ia kembali menuntut bukti bahwa ada makhluk lain yang menempati tubuh istrinya dan berjanji akan bersujud apabila penjelasan Bapak Mul terbukti benar.
Ucapan tersebut hampir memicu perkelahian antara Bapak Kadek dan keluarga Ibu Tami. Mereka mengingatkan bahwa Bapak Mul datang untuk menolong, bukan untuk dihina. Karena terus didesak, Bapak Mul akhirnya bersedia menunjukkan keberadaan sosok yang selama ini bersembunyi di dalam tubuh Ibu Tami.
Bapak Mul meminta setengah gelas air mentah yang diambil langsung dari sumur. Setelah air diperoleh, ia memercikkannya sebanyak tiga kali ke tubuh Ibu Tami. Perempuan yang selama empat hari tidak bisa bergerak itu mendadak bangkit, berdiri, dan tertawa keras hingga orang-orang yang memenuhi ruangan berlarian keluar.
Penampilan Ibu Tami berubah menjadi sangat menakutkan. Rambutnya berantakan, matanya membesar, giginya terlihat runcing, dan gerakannya menyerupai sosok kuntilanak. Ia terus tertawa sambil memandang warga yang mengintip dari pintu serta jendela, membuat suasana satu lingkungan menjadi gaduh.
Bapak Kadek kemudian bertanya siapa sosok yang sedang berbicara melalui tubuh istrinya. Makhluk tersebut mengatakan bahwa dirinya bukan Ibu Tami dan tidak mempunyai suami. Ia mengaku hanya bekerja di tempat itu karena dipanggil dan diperintah langsung oleh Ibu Tami.
Ketika ditanya mengenai tugasnya, sosok itu mengaku diperintahkan mengambil kekayaan milik rumah yang berada di depan rumah Ibu Tami. Menurut pengakuannya dalam cerita, Ibu Tami iri karena tetangganya lebih kaya dan ingin merebut sumber hartanya. Tetangga tersebut juga disebut memiliki hubungan dengan praktik pesugihan yang berbeda.
Pengakuan itu membuat warga memahami bahwa gangguan yang terjadi bukan sekadar penyakit biasa, melainkan bentrokan antara dua pihak yang sama-sama dipercaya menggunakan bantuan makhluk ghaib. Ibu Tami disebut memelihara pesugihan kuntilanak, sedangkan kekayaan tetangganya yang berusaha direbut berasal dari jenis perjanjian lain.
Bapak Kadek ternyata tidak mengetahui rahasia istrinya. Ibu Tami telah menjalani pesugihan sejak masih bersama suami pertamanya yang kemudian meninggal. Setelah menjadi janda, ia menikah dengan Bapak Kadek, yang sebelumnya menceraikan istrinya karena tertarik melihat kekayaan dan usaha kapal ikan milik Ibu Tami.
Setelah menyadari kenyataan tersebut, Bapak Kadek tidak lagi bersikap keras. Ia bersujud meminta maaf dan memohon agar istrinya dikembalikan ke kondisi normal. Bapak Mul kemudian meminta dua ekor anak ayam sebagai media untuk memisahkan tubuh Ibu Tami dari makhluk yang menguasainya.
Satu anak ayam disebut menjadi tempat pemindahan makhluk pesugihan, sedangkan anak ayam lainnya dikaitkan dengan nyawa Ibu Tami. Bapak Mul meminta sedikitnya empat orang menjaga keduanya, lalu memilih pulang sebelum sesuatu terjadi. Tidak lama kemudian, salah satu anak ayam mengamuk dan menghilang dari kandang, sedangkan anak ayam lainnya terkulai. Pada saat yang sama, Ibu Tami meninggal dunia.
Setelah kematian Ibu Tami, kapal dan perahunya dikabarkan dijual, sedangkan Bapak Kadek kembali ke keluarganya karena mereka tidak mempunyai anak. Kisah ini menjadi peringatan bahwa iri hati dan keinginan memperoleh kekayaan melalui pesugihan hanya menciptakan permusuhan, ketakutan, serta kehancuran. Harta yang dikejar dengan bantuan makhluk ghaib tidak membawa ketenangan, bahkan dapat menyeret pasangan, keluarga, dan seluruh lingkungan ke dalam penderitaan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
