Pada 2008, Mas Andre masih berusia sekitar 15 tahun dan baru berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya. Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, ia merasa harus ikut membantu orang tua dengan menerima berbagai pekerjaan serabutan. Namun penghasilan yang diperolehnya di Indramayu tidak cukup untuk memperbaiki keadaan, sehingga keinginan merantau mulai tumbuh dalam pikirannya.
Kesempatan datang ketika seorang teman lama mengabarkan adanya pekerjaan di Kalimantan dengan upah lebih dari Rp1 juta. Pekerjaannya memang berat dan kotor karena berkaitan dengan pengemasan sampah, tetapi Mas Andre tetap tertarik. Ia meminjam uang dari teman serta saudara, lalu berhasil mengumpulkan sekitar Rp650 ribu untuk biaya perjalanan.
Mas Andre diminta menemui temannya di sebuah pelabuhan di Riau. Namun setelah tiba di sana, nomor telepon orang tersebut tidak dapat dihubungi selama lebih dari satu minggu. Ia terlantar tanpa tujuan, kehabisan bekal, dan mulai menangis karena teringat kepada keluarga yang menunggu kabar di rumah.
Di tengah kebingungan, Mas Andre merasa seperti mendapat dorongan untuk tetap menyeberang menuju Kalimantan. Karena uangnya tidak cukup membeli tiket, ia nekat menyelinap ke dalam truk pengangkut semen yang masuk ke kapal. Tubuhnya disembunyikan di antara muatan, membuat kulitnya terasa panas, gatal, dan mengalami luka seperti terbakar.
Setelah tertidur cukup lama, Mas Andre terbangun ketika truk berjalan pelan melewati jalan menanjak. Tanpa mengetahui lokasi maupun tujuan kendaraan tersebut, ia melompat turun ketika truk mulai melewati kawasan pegunungan. Setelah kendaraan itu pergi, barulah ia menyadari bahwa dirinya berada seorang diri di jalan yang dikelilingi hutan lebat.
Menjelang malam, Mas Andre berlari masuk ke dalam hutan karena takut ditemukan atau diserang binatang. Ia memanjat pohon besar dan berniat bermalam di atasnya. Namun baru beberapa saat memejamkan mata, kakinya tiba-tiba ditarik hingga tubuhnya jatuh, kemudian tangan dan kakinya diikat sebelum dibawa menggunakan batang bambu.
Mas Andre mengaku dibawa menuju kelompok masyarakat pedalaman yang bahasanya tidak ia pahami. Ketika melihat api unggun dibesarkan, ia sempat mengira dirinya akan dibunuh. Beruntung, seorang lelaki yang dipanggil Pak De datang, meminta orang-orang tersebut melepaskannya, lalu menjelaskan bahwa wilayah itu jarang dimasuki orang luar.
Pak De menawarkan untuk membawa Mas Andre keluar dan mencarikan pekerjaan. Namun Mas Andre meminta izin tinggal selama beberapa hari karena belum tahu harus pergi ke mana. Selama berada di sana, ia diberi makanan berupa buah, daun, dan hasil alam seadanya, sementara komunikasi dilakukan melalui gerakan tubuh.
Suatu hari, Mas Andre melihat anak-anak kecil bermain menggunakan parang mandau yang tampak sangat tajam. Meskipun senjata itu mengenai tubuh mereka, tidak ada seorang pun yang terluka. Anehnya, salah satu anak justru menangis dan mengalami luka ketika tersandung batu, membuat Mas Andre menduga mereka mempunyai kekebalan terhadap senjata tajam.
Pemandangan tersebut mengubah tujuan Mas Andre. Niat awal mencari pekerjaan perlahan berganti menjadi keinginan memperoleh kekuatan yang sama. Ia menolak ajakan Pak De untuk pergi dan meminta diperkenalkan kepada pemimpin kelompok agar diizinkan mempelajari ilmu yang mereka miliki.
Setelah tinggal dan beradaptasi selama beberapa minggu, Mas Andre dibawa menemui pemimpin kelompok. Permintaannya belum bisa langsung diterima karena keputusan terakhir berada di tangan seorang sesepuh yang hanya muncul pada waktu tertentu. Ketika sang sesepuh akhirnya datang, Mas Andre ditanya apakah ia sanggup menjalani seluruh syarat yang diberikan.
Dalam kesaksiannya, Mas Andre kemudian menjalani rangkaian ujian di tiga tempat berlumpur dengan warna putih, cokelat, dan hitam. Ujian pertama mempertemukannya dengan seekor buaya besar yang dipercaya sebagai peliharaan sesepuh. Ujian berikutnya membuatnya berada di tengah pusaran angin, sedangkan tahap terakhir berkaitan dengan penguatan dirinya terhadap senjata tajam.
Setelah dinyatakan lulus, Mas Andre menerima sebuah botol kecil berisi minyak dan kapas. Benda itu kemudian dikenal sebagai minyak gondok mayit. Ia diminta memakai minyak tersebut melalui media rokok, tetapi tidak diberi penjelasan lengkap mengenai kekuatan maupun konsekuensi yang akan muncul.
Lebih dari satu bulan berlalu tanpa perubahan yang dirasakan. Mas Andre kemudian meminta Pak De membuktikan khasiat minyak tersebut. Dengan mata ditutup, ia dibawa menuju sebuah permukiman dekat tempat kapal-kapal nelayan bersandar, lalu dititipkan di sebuah tempat hiburan yang sering didatangi para pelaut dan awak kapal.
Saat terjadi keributan di tempat sebelah, Mas Andre mendadak dipenuhi amarah yang tidak dapat dikendalikan. Tanpa mengetahui penyebab pertengkaran, ia menerjang dan memukuli orang-orang yang tubuhnya jauh lebih besar. Menurut pengakuannya, sedikitnya lima orang berhasil dijatuhkan dalam waktu singkat tanpa membuat dirinya terluka.
Pak De kemudian muncul, menenangkan Mas Andre, dan mengatakan bahwa kejadian tersebut merupakan bukti kekuatan minyak yang digunakannya. Setelah itu, Mas Andre kembali tinggal bersama kelompok pedalaman hingga hampir tujuh bulan. Ketika akhirnya ingin pulang, ia diberi dua benda tambahan berupa rantai yang disebut rantai babi dan sebuah batu yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu.
Perjalanan pulang tidak berjalan mulus. Setibanya di sekitar Bandara Soekarno-Hatta, Mas Andre mengaku dirampok oleh sekelompok orang dan kehilangan sebagian besar barang bawaannya. Minyak tersebut masih berada bersamanya, tetapi ia kehilangan kontak dengan Pak De sehingga tidak lagi mempunyai orang yang dapat menjelaskan cara mengendalikan benda itu.
Kepulangannya membuat keluarga dan tetangga menangis karena selama berbulan-bulan mereka mengira Mas Andre telah meninggal. Pada 2009, ayah angkatnya membawa Mas Andre ke sebuah pertemuan spiritual. Seorang praktisi di sana menyadari adanya kekuatan dalam tubuh Mas Andre, lalu mengenali minyak tersebut sebagai benda yang dianggap berbahaya bagi orang yang tidak mampu menguasainya.
Praktisi itu meminjam minyak tanpa penjelasan yang jelas dan baru mengembalikannya beberapa minggu kemudian. Ia mengaku telah menggunakan minyak tersebut untuk membantu sejumlah orang, kemudian menambahkan kekuatan lain yang disebut kodam. Bukannya terbebas, Mas Andre justru semakin dalam mempelajari ilmu tersebut selama kurang lebih empat tahun.
Kekuatan itu membuat Mas Andre merasa tidak takut kepada siapa pun. Ia menjadi mudah marah, arogan, gemar berkelahi, dan memandang orang lain lebih rendah. Keluarga sering menjadi sasaran emosinya, sedangkan teman-teman mulai menjauh. Pada saat yang sama, tubuhnya sering sakit, dadanya sesak, punggungnya terasa remuk, dan kepalanya terus pusing meskipun pemeriksaan medis tidak menemukan penyakit tertentu.
Mas Andre akhirnya meminta pertolongan karena tidak sanggup lagi menanggung dampaknya. Sejumlah praktisi berkumpul untuk membantunya melepaskan ikatan tersebut. Dalam proses pembersihan, ia mengaku memuntahkan benda kecil berekor yang bentuknya menyerupai bayi tikus. Minyak itu kemudian berpindah kepada orang lain yang bersedia menerimanya, tetapi orang tersebut juga berubah menjadi temperamental. Setelah seluruh ikatan dilepaskan, Mas Andre merasa tubuh dan pikirannya kembali ringan. Dari pengalaman itu, ia berpesan agar ambisi tetap ditempuh melalui jalan yang benar, karena kekuatan yang terlihat hebat dapat merusak emosi, keluarga, kesehatan, dan seluruh kehidupan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
