Kisah ini disampaikan oleh Mbak Vivi dan bermula pada tahun 2020, ketika ia masih bekerja sebagai tenaga pemasaran lepas di bidang perbankan. Saat mengunjungi seorang calon debitur di Jawa Barat, ia tanpa sengaja bertemu kembali dengan Fajar, teman lama yang telah dikenalnya sejak sekitar tahun 1997. Penampilan Fajar saat itu sangat berbeda dibandingkan masa mudanya. Ia terlihat rapi, mengenakan pakaian bermerek, dan mengaku telah menjadi pengusaha kontraktor dengan perusahaan sendiri.
Dalam pertemuan tersebut, Fajar menceritakan bahwa ia telah menikah tiga kali dan kini tinggal bersama istri ketiganya serta dua orang anak. Ia juga mengaku mempunyai kantor, badan usaha, kendaraan operasional, dan berbagai proyek. Beberapa minggu setelah pertemuan itu, Fajar menghubungi Vivi karena membutuhkan tambahan modal untuk mengerjakan proyek besar. Ia berencana mengajukan pinjaman sekitar Rp1,5 miliar, bahkan berharap dapat memperoleh hingga Rp2 miliar dengan jaminan sebuah rumah.
Vivi kemudian datang ke rumah yang akan dijadikan jaminan. Fajar ternyata memiliki dua rumah yang berdampingan, satu ditempati keluarganya dan satu lagi dibiarkan kosong. Rumah kosong tersebut terasa pengap, berbau apek, dan memiliki bagian tengah yang gelap. Ketika sedang memeriksa kondisi bangunan, Vivi yang mengaku peka terhadap keberadaan makhluk ghaib mulai merasakan suasana tidak nyaman.
Di salah satu kamar, Vivi melihat sosok nenek berambut putih duduk di kursi roda. Dari kamar lainnya muncul sosok perempuan mengerikan dengan rambut panjang menjuntai, kuku hitam, mata merah, dan lidah terjulur. Makhluk itu bergerak mendekati Fajar, lalu menyentuh pundak serta kepalanya seperti menunjukkan kedekatan. Vivi juga melihat bayangan hitam bertubuh sangat besar berdiri di bagian dalam rumah.
Karena tidak mampu melanjutkan pembicaraan di dalam, Vivi meminta Fajar berpindah ke balai-balai di depan rumah. Setelah istri Fajar masuk, Vivi menyampaikan semua yang dilihatnya dan bertanya secara langsung tentang kegiatan yang sedang dijalankan sahabat lamanya. Fajar sempat terdiam dan terkejut, tetapi akhirnya mengakui bahwa dirinya telah menjalani ritual yang ia sebut sebagai pesugihan Leak.
Fajar menjelaskan bahwa masa mudanya dipenuhi kemiskinan dan penghinaan. Keluarga besarnya kerap meremehkan orang tuanya, sedangkan lingkungan sekitar tidak menganggapnya karena ia tidak mempunyai harta. Rasa sakit hati itu berubah menjadi dendam dan keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya juga dapat menjadi orang kaya. Ia tidak ingin menunggu proses panjang dan sengaja mencari jalan yang menurutnya dapat memberikan hasil secara instan.
Jalan tersebut dikenalkan oleh seorang teman yang lebih dahulu menjalani ritual serupa dan dianggap telah berhasil. Fajar kemudian dibawa menemui seorang kuncen di Jawa Tengah. Kepada kuncen itu, ia menyatakan ingin memperoleh kekayaan tanpa menyerahkan nyawa anggota keluarganya. Setelah membayar mahar dan menyediakan berbagai perlengkapan, Fajar diminta menjalani ritual selama tujuh hari di sebuah kawasan hutan.
Perlengkapan ritual terdiri atas bunga tujuh rupa, kantil kuning, kemenyan, serta ayam kampung jantan yang telah diolah sebagai persembahan. Selama enam hari pertama, Fajar tidak melihat hasil apa pun. Pada hari ketujuh, muncul sosok perempuan menyeramkan yang kemudian menanyakan tujuan kedatangannya. Fajar menjawab bahwa ia ingin menjadi kaya dan bersedia menjadi pengikut makhluk tersebut selama keluarganya tidak dijadikan tumbal.
Menurut pengakuan Fajar, makhluk itu menerima permintaannya dengan sejumlah syarat. Ia harus menyediakan kamar khusus yang gelap dan tidak boleh dimasuki siapa pun. Di dalamnya harus selalu tersedia bunga kantil kuning serta kemenyan yang dibakar setiap bulan purnama. Fajar juga diwajibkan menemui makhluk tersebut secara rutin dan menyerahkan darah dari perempuan yang masih perawan sebagai bagian dari perjanjian.
Sepulang dari Jawa Tengah, Fajar menjadikan kamar belakang rumahnya sebagai ruang ritual. Kepada istri dan anak-anaknya, ia mengatakan bahwa kamar itu merupakan ruang kerja yang tidak boleh diganggu agar dirinya dapat berkonsentrasi. Setiap bulan purnama, ia masuk ke sana dalam keadaan lampu redup untuk memanggil sosok ghaib tersebut. Tidak seorang pun di keluarganya mengetahui kegiatan yang sebenarnya berlangsung di dalam kamar.
Untuk memenuhi persyaratan, Fajar mendekati perempuan-perempuan muda, terutama mahasiswi. Ia mengaku diberi kemampuan hipnotis agar para korban dapat dibuat lupa setelah dimanfaatkan dalam ritual. Perempuan-perempuan itu tidak dinikahi, melainkan didekati dan dipacari untuk sementara waktu. Setelah tujuan ritual tercapai, hubungan diputus dan korban disebut tidak lagi mengenali Fajar ketika bertemu dengannya.
Perubahan ekonomi mulai terlihat setelah Fajar memperoleh sebelas korban. Ia mampu membelikan rumah untuk orang tuanya dan mulai mendapatkan pekerjaan dari sejumlah kontraktor serta vendor. Setelah jumlahnya mencapai sekitar dua puluh lima, ia dapat membeli mobil, rumah tambahan, dan tanah. Kekayaannya terus meningkat hingga korban ke-77 sampai ke-99, membuatnya dikenal sebagai kontraktor sukses dengan banyak aset.
Dalam waktu sekitar delapan tahun lebih, Fajar memiliki lima truk pengangkut, kantor perusahaan, tanah, kendaraan pribadi, serta sepeda motor operasional bagi para pekerjanya. Kebutuhan istri, anak-anak, dan orang tuanya dapat dipenuhi dengan mudah. Orang yang dahulu meremehkannya mulai menghormati dan mengenalnya sebagai pengusaha kaya. Namun, menurut Vivi, seluruh keberhasilan tersebut berdiri di atas perjanjian yang sangat gelap.
Selain 99 perempuan yang disebut menjadi bagian ritual, terdapat korban lain di rumah Fajar. Seorang nenek dari pihak istrinya yang telah pikun tanpa sengaja masuk ke kamar ritual karena pintunya lupa dikunci. Fajar mengaku makhluk yang dipeliharanya marah karena ruang tersebut dimasuki orang lain. Sang nenek didorong hingga kepalanya membentur tembok, kemudian dirawat di rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Sosok nenek itulah yang menurut Vivi terlihat duduk di kursi roda ketika ia memeriksa rumah. Dalam penglihatannya, nenek tersebut meminta pertolongan karena merasa meninggal secara tidak wajar. Setelah mendengar penjelasan Fajar, Vivi memahami alasan arwah itu berada di sekitar kamar. Meskipun Fajar menyebut kejadian tersebut sebagai kecelakaan, ia tetap mengakui bahwa kematian itu berkaitan dengan kelalaiannya menjaga ruang ritual.
Ketika Vivi menemuinya pada 2020, Fajar telah memperoleh 99 korban dan sedang mencari perempuan ke-100. Target terakhirnya adalah seorang mahasiswi di Jawa Tengah. Ia mengaku harus mencari korban di luar Jawa Barat dan berharap keberhasilan ritual terakhir akan membantunya mendapatkan proyek besar. Karena belum mempunyai dana untuk bekerja sama dengan vendor, ia bermaksud menggunakan pinjaman bank sebagai dana talangan.
Usaha mendekati perempuan terakhir ternyata tidak berjalan seperti sebelumnya. Lingkungan tempat tinggal mahasiswi itu dinilai lebih ketat dan warga sering menegur Fajar karena datang hingga malam. Ia sempat menginap di sekitar tempat kos perempuan tersebut, tetapi tetap gagal memenuhi target. Setelah ritual bulan purnama terakhir tidak menghasilkan korban ke-100, Fajar pulang ke Jawa Barat dalam keadaan bingung dan kehilangan semangat.
Kegagalan itu segera diikuti rangkaian masalah. Anak dan istrinya bergantian sakit serta berulang kali dirawat di rumah sakit. Proyek-proyek perusahaan mengalami kerugian, termasuk kerja sama besar yang menelan dana sekitar Rp1,5 miliar. Lima truk, kendaraan, rumah orang tua, dan aset lainnya satu per satu dijual untuk menutup kerugian serta biaya pengobatan keluarga.
Kondisi mental Fajar kemudian memburuk. Ia sering melamun, berbicara sendiri, dan seolah sedang mengadakan rapat dengan rekan bisnis yang tidak terlihat. Seorang paman yang dikenal sebagai ustaz akhirnya memeriksa rumah dan menemukan kamar belakang penuh dupa, bunga, serta perlengkapan ritual. Kamar itu dibersihkan, seluruh sesajen dibuang, dan keluarga mengadakan pembacaan Yasin selama 40 hari sambil menyiapkan air untuk diminumkan kepada Fajar.
Upaya tersebut tidak segera memulihkan keadaannya. Fajar semakin agresif, merusak barang, dan dianggap membahayakan istri serta anak-anaknya, sehingga keluarga membawanya ke rumah sakit jiwa. Menurut cerita yang diterima Vivi, ia telah menjalani perawatan selama hampir sembilan atau sepuluh tahun, sementara istrinya terbaring akibat diabetes dan seluruh kekayaan mereka habis. Kisah itu menjadi pengingat bahwa harta yang diperoleh melalui eksploitasi dan jalan menyimpang tidak membawa kehormatan, melainkan kehancuran bagi pelaku, keluarga, dan para korbannya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
