Pada 2018, Teh Mona menghadapi kesulitan ekonomi yang berat. Ia telah menikah hampir 20 tahun, mempunyai empat orang anak, dan hanya mengandalkan penghasilan suaminya yang bekerja sebagai sopir. Gaji yang pas-pasan membuat kebutuhan listrik, air, sekolah, dan kehidupan sehari-hari sulit dipenuhi.
Untuk menutup kekurangan, Teh Mona menerima pinjaman harian dan mingguan. Pada awalnya pembayaran masih berjalan lancar, tetapi jumlah utang terus bertambah karena ia menggunakan pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama. Tanpa disadari, kebiasaan gali lubang tutup lubang membuat hidupnya semakin tertekan.
Teh Mona menyembunyikan masalah tersebut dari suaminya. Setiap hari penagih mendatangi rumah, sementara ia sering bersembunyi atau meminta anak-anak mengatakan bahwa dirinya sedang tidak ada. Kegelisahannya akhirnya diketahui suami setelah salah seorang anak menceritakan bahwa ibunya mempunyai banyak utang.
Masalah lain datang ketika anak sulung Teh Mona menjalin hubungan yang tidak disetujui keluarga. Pertengkaran besar terjadi hingga anak tersebut mengemasi pakaian dan meninggalkan rumah. Tekanan utang serta konflik dengan anak membuat Teh Mona merasa harus segera bekerja agar kehidupan keluarganya tidak semakin hancur.
Setelah mendapat izin dari suaminya, Teh Mona menghubungi seorang teman lama bernama samaran Jo. Ia kemudian direkomendasikan menjadi SPG kosmetik dengan sistem kerja berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya. Setiap hari, Teh Mona harus mencapai target penjualan sekitar Rp500 ribu agar memperoleh gaji dan bonus yang layak.
Hari-hari pertama bekerja tidak memberikan hasil yang diharapkan. Dari pagi sampai sore, penjualannya hanya mencapai sekitar Rp250 ribu, bahkan pernah tidak ada satu pun produk yang terjual. Selama hampir tiga bulan, targetnya terus gagal dan gaji yang diterima justru minus karena performanya dianggap buruk.
Teh Mona mulai mempertanyakan mengapa teman-temannya selalu mencapai target, sedangkan dirinya terus tertinggal. Jo kemudian memperkenalkannya kepada seorang perempuan bernama samaran Yasmin di sebuah tempat hiburan malam. Yasmin mengatakan ada cara yang dapat membuat jualan Teh Mona selalu laris.
Pada malam yang telah ditentukan, Yasmin membawa Teh Mona menuju daerah Kuningan. Mereka melewati jalan gelap, kawasan hutan, dan akhirnya tiba di sebuah gubuk terpencil. Di sana, Teh Mona bertemu seseorang yang dipanggil Mbah dan ditawari jalan cepat untuk mendapatkan uang serta kesuksesan.
Mbah meminta mahar sebesar Rp500 ribu yang akhirnya dipinjamkan oleh Yasmin. Teh Mona kemudian diminta melepaskan pakaian dalam yang sedang dipakainya. Pakaian tersebut dibungkus kain putih, lalu dimasukkan ke dalam sebuah gentong berisi air dan berbagai jenis bunga sebagai bagian dari ritual.
Menjelang pukul tiga pagi, Teh Mona dibangunkan dan dibawa ke ruangan lain. Dalam kesaksiannya, ia melihat sosok nenek berambut panjang serta makhluk besar menyerupai genderuwo. Tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakkan, sedangkan makhluk tersebut terus mendekat hingga membuatnya merasa sangat ketakutan.
Setelah menjalani pemandian ritual, Teh Mona didudukkan di hadapan Mbah. Ia kemudian dipasangi dua susuk emas, masing-masing di bagian dagu dan telapak tangan kanan. Susuk di dagu disebut berfungsi sebagai pemanis wajah, sedangkan susuk di tangan dipercaya memudahkannya menarik konsumen.
Teh Mona juga diwajibkan kembali setiap Kamis Legi dengan membawa pakaian dalam yang telah dipakai sesuai warna yang diminta. Ia harus menyediakan sepasang bunga kantil, sedangkan pakaian tersebut dipersembahkan kepada sosok yang disebut sebagai pendampingnya. Genderuwo yang dilihatnya kemudian terus mengikuti dan terasa membebani pundaknya.
Perubahan mulai terasa sehari setelah pemasangan susuk. Penjualannya langsung mencapai target, kemudian meningkat menjadi Rp650 ribu dan terus bertambah pada hari-hari berikutnya. Ia memperoleh bonus, mampu melunasi utang harian dalam satu bulan, lalu menyelesaikan pinjaman mingguan pada bulan berikutnya.
Meskipun penjualan semakin sukses, gangguan ghaib tidak pernah berhenti. Sosok genderuwo sering muncul di dekatnya, sementara bayangan nenek berambut panjang terlihat sekilas ketika ia bercermin. Teh Mona tetap bertahan karena menganggap kedua sosok tersebut merupakan penjaga yang membantu melancarkan pekerjaannya.
Banyak laki-laki mulai tertarik mendekati Teh Mona sekaligus membeli produk yang ditawarkannya. Salah satunya adalah seorang pelanggan bernama samaran Om Ben. Setelah sering mendengar keluh kesah Teh Mona, lelaki tersebut mulai memberikan berbagai fasilitas, termasuk kendaraan dan bantuan untuk keluarganya.
Om Ben juga membelikan kios agar ibu Teh Mona tidak lagi berjualan di pinggir jalan. Ketika melihat rumah kontrakan ibu Teh Mona sering bocor, ia kembali menawarkan bantuan untuk membeli rumah. Kehidupan Teh Mona berubah drastis, tetapi seluruh sumber fasilitas tersebut dirahasiakan dari suaminya.
Hubungan Teh Mona dan Om Ben akhirnya berlanjut menjadi pernikahan siri. Setiap Om Ben datang dari luar kota, Teh Mona berpamitan kepada suaminya dengan alasan menghadiri acara pekerjaan. Selama hampir dua tahun, ia menikmati kehidupan berkecukupan sambil tetap menjalani ritual bulanan bersama Mbah.
Setelah semua utang lunas dan kebutuhan keluarganya terpenuhi, Teh Mona mulai lalai datang ke tempat ritual. Pada bulan pertama ia melewatkan kewajiban, genderuwo muncul di kamar dan menggoyangkan tubuhnya ketika sedang tidur bersama suami. Bayangan nenek juga kembali terlihat di cermin, sedangkan bisikan agar menemui Mbah terus terdengar.
Teh Mona tetap tidak datang selama beberapa bulan berikutnya. Wajahnya perlahan terlihat kusam dan jauh lebih tua, hingga teman-temannya bertanya apakah ia sedang sakit. Hubungannya dengan Om Ben juga mendadak renggang dan berakhir tanpa kabar, sementara sosok genderuwo semakin sering muncul di sisi kanan maupun kirinya.
Pada suatu hari, Teh Mona sedang makan sate ketika susuk dari dagunya tiba-tiba terlepas, jatuh, dan dikatakan mengeluarkan asap. Ia langsung pingsan dan dibawa ke rumah sakit, tetapi pemeriksaan medis tidak menemukan penyakit tertentu. Setelah pulang, gangguan terus terjadi hingga ia merasa hidupnya berada dalam bahaya.
Kesempatan berubah muncul ketika Teh Mona mengantar anaknya mengaji dan bertemu seorang ustazah. Setelah beberapa kali berbincang, ia akhirnya mengakui seluruh ritual, pemasangan susuk, persembahan pakaian dalam, dan gangguan yang dialaminya. Sang ustazah membantu melakukan rukiah hingga susuk di telapak tangan kanannya keluar dengan rasa sakit yang luar biasa.
Setelah kedua susuk terlepas, Teh Mona memilih meninggalkan seluruh ritual dan menjalani hidup secara sederhana. Suaminya akhirnya mengetahui masa lalunya, termasuk pernikahan siri dengan Om Ben, tetapi bersedia menerima karena Teh Mona telah bertobat dan kembali kepada keluarga. Dari pengalamannya, ia berpesan agar siapa pun tidak mencari kekayaan melalui susuk atau ritual ghaib, sebab keberhasilan yang terlihat indah pada awalnya dapat berubah menjadi ketakutan, kebohongan, dan penyesalan panjang.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
