Pada 2007, Mas Herman menerima tawaran kerja dari seorang kerabat untuk merantau ke Malaysia bersama enam orang sekampung. Mereka berangkat menggunakan paspor pelancong tanpa visa kerja karena dijanjikan penghasilan yang cukup besar. Setibanya di Kuching, Sarawak, mereka ditempatkan di sebuah pabrik kayu lapis.
Harapan memperoleh gaji tinggi segera pupus karena upah yang diterima jauh di bawah perjanjian awal. Satu per satu temannya memilih kabur dan pulang, sedangkan Mas Herman bertahan sekitar satu tahun karena mempunyai seorang kekasih di sana. Setelah terlibat perkelahian di tempat kerja, ia dipecat dan meninggalkan perusahaan tersebut.
Mas Herman kemudian berpindah ke Kalimantan dan bekerja mengangkut papan hasil penebangan dari dalam hutan. Beberapa bulan kemudian ia kembali ke Malaysia untuk bekerja di bengkel mobil dan proyek bangunan. Selama bertahun-tahun, ia terus berpindah pekerjaan serta daerah demi mengumpulkan uang.
Pada 2012, Mas Herman pulang ke Jawa dengan tabungan yang tidak terlalu banyak. Ia melihat teman-temannya berjualan boneka kecil berbentuk gantungan kunci, lalu tertarik membeli barang serupa dari Subang. Boneka itu kemudian dibawa ke Kalimantan Barat dan ternyata dapat dijual dengan keuntungan beberapa kali lipat.
Usahanya perlahan berkembang. Mas Herman mulai menambahkan pakaian, celana, serta berbagai barang lain ke dalam dagangannya. Ia pun sering bolak-balik antara Jawa dan Kalimantan. Dalam salah satu perjalanan dengan kapal, ia berkenalan dengan seorang pria asal Surabaya yang disamarkan dengan nama Mas Dodo.
Hubungan keduanya semakin akrab hingga Mas Dodo mengaku pernah menjalani ritual di sebuah gunung, tetapi gagal memperoleh hasil. Pada 2016, Mas Herman teringat informasi dari keluarganya mengenai penarikan uang ghaib tanpa tumbal. Menurut orang yang menyampaikan tawaran tersebut, peserta hanya perlu membeli minyak dan perlengkapan seharga Rp15 juta.
Mas Herman awalnya meragukan cerita itu. Namun setelah membicarakannya dengan Mas Dodo, rasa penasaran mereka semakin besar. Ia lalu menghubungi Kang Didin, kerabat yang menjadi perantara, dan diberi jaminan bahwa ritual tersebut aman, tidak meminta korban, serta telah berhasil dilakukan oleh banyak orang.
Kang Didin menjelaskan bahwa uang yang keluar harus dihabiskan dalam waktu tiga hari. Apabila masih tersisa, pecahan uang tersebut akan berubah menjadi nominal yang lebih kecil. Demi membiayai ritual, Mas Herman menjual sepeda motornya dan bersedia menanggung seluruh modal karena Mas Dodo tidak mempunyai uang.
Mas Herman dan Mas Dodo berangkat dari Kalimantan menuju Jawa secara diam-diam. Keluarga Mas Herman bahkan tidak mengetahui kepulangannya. Mereka kemudian bertemu dengan seorang laki-laki yang dipanggil Mbah, menyerahkan uang Rp15 juta, dan menunggu hingga malam Jumat Kliwon untuk memulai prosesi.
Sebelum ritual penarikan dilakukan, Mbah mengatakan tubuh Mas Dodo sedang mendapat serangan santet. Ia menghentakkan kaki ke tanah sebanyak tiga kali dalam gerakan yang disebut gejob bumi. Tidak lama kemudian, sebuah buntelan berlapis kain putih jatuh dari plafon rumah yang tertutup rapat.
Ketika dibuka, buntelan tersebut berisi silet, paku, pecahan kaca, rambut, serta tulisan yang sudah kusam dan berkarat. Mbah menyebut benda itu sebagai kiriman yang gagal menembus tubuh Mas Dodo. Setelah benda tersebut dibungkus kembali, mereka diminta masuk ke kamar untuk melanjutkan ritual penarikan uang.
Di dalam kamar telah tersedia minyak, dupa, mangkuk kecil, dan berbagai persembahan. Mas Dodo duduk di depan bersama Mbah, sedangkan Mas Herman berada di belakang sebagai pendamping. Setelah hampir dua jam menunggu, Mas Herman melihat sosok perempuan cantik mengenakan gaun hijau dan selendang kuning.
Perempuan itu hanya berdiri sambil menatap tajam. Mas Herman merasa sangat takut, tetapi menahan diri karena malu meninggalkan temannya. Mbah kemudian berdiri dan kembali menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali. Dari atas plafon, lembaran uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu mendadak berjatuhan memenuhi kamar.
Uang itu tidak tersusun dalam gepokan, melainkan berserakan seperti hujan. Mas Herman segera mengumpulkannya ke dalam kantong plastik. Namun setelah ritual selesai, Mbah justru mengatakan uang tersebut tidak boleh digunakan sebelum tiga hari, bertentangan dengan keterangan awal bahwa uang harus segera dihabiskan dalam batas waktu yang sama.
Mbah juga mendesak mereka segera pulang ke Kalimantan karena takut terkena serangan dari pihak yang mengirim santet kepada Mas Dodo. Dalam perjalanan menuju terminal, mobil Mbah tiba-tiba mogok di tengah jalan tol. Buntelan santet yang masih dibawa Mas Herman disuruh dibuang, dan mobil itu dikatakan dapat kembali menyala setelah benda tersebut dilempar.
Mas Herman dan Mas Dodo pulang membawa kantong uang lalu menunggu sampai hari ketiga. Saat kantong dibuka, seluruh pecahan telah berubah. Uang Rp100 ribu menjadi Rp2 ribu, sedangkan pecahan Rp50 ribu berubah menjadi Rp1.000. Baunya pun terasa aneh dan tidak menyerupai aroma uang pada umumnya.
Merasa tertipu, Mas Herman menuntut Kang Didin dan Mbah mengembalikan modalnya. Mereka menawarkan ritual ulang dengan Mas Herman sebagai pelaku utama. Satu bulan kemudian, ritual kedua dilaksanakan dengan cara serupa, tetapi uang yang jatuh jauh lebih sedikit dan hanya berjumlah sekitar Rp2,5 juta.
Sebelum ritual kedua, seorang teman menyarankan Mas Herman menyemprotkan minyak wangi tanpa alkohol ke seluruh uang dan membiarkannya terbuka di atas kasur. Setelah tiga hari, uang tersebut tidak berubah dan dapat digunakan. Meski demikian, jumlah itu tetap tidak mampu menutup modal, ongkos perjalanan, dan seluruh kerugian yang telah dikeluarkannya.
Mas Herman akhirnya membatalkan rencana ritual ketiga dan memutus hubungan dengan Kang Didin. Sekitar sebulan kemudian, Mas Dodo mengalami kecelakaan kendaraan yang menewaskan pengemudinya, sedangkan dirinya tidak terluka. Mas Herman sendiri pindah ke sebuah kontrakan terpencil di Sambas yang dikelilingi kebun karet.
Pada malam hari, Mas Herman sering mendengar suara seperti orang menyapu mengelilingi rumah hingga naik ke atap seng. Puncaknya terjadi pada malam Jumat Kliwon ketika ia melihat perempuan bergaun dan berselendang seperti sosok dalam ritual. Wajah yang dahulu terlihat cantik berubah menyeramkan, dengan rambut berantakan, mulut terbalik, dan gigi panjang.
Seorang teman yang memahami masalah spiritual mengatakan tubuh Mas Herman masih membawa pengaruh ritual dan digambarkan seperti dililit ular. Ia kemudian menjalani pembersihan menggunakan air kelapa hijau, jeruk nipis, dan bunga tujuh rupa. Setelah proses tersebut, gangguan berhenti. Dari modal dan ongkos sekitar Rp17,5 juta, hanya sebagian kecil yang kembali. Mas Herman menyimpulkan bahwa penggandaan maupun penarikan uang ghaib lebih sering menjadi tipu daya, sedangkan rezeki yang aman hanya dapat diperoleh melalui kerja nyata dan usaha yang jujur.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
