Perjalanan Jajang Nurjaman di dunia sepak bola Indonesia telah berlangsung selama puluhan tahun, mulai dari menjadi pemain, asisten pelatih, pelatih kepala, hingga direktur teknik. Sosok yang akrab disapa Kang Janur itu dikenal melalui prestasi dan kedekatannya dengan Persib Bandung. Namun, di balik pertandingan, latihan, dan perburuan gelar, ia juga menyimpan sejumlah pengalaman mengenai hal-hal ganjil yang dipercaya pernah hadir di lingkungan sepak bola.
Kecintaan Kang Janur terhadap sepak bola tumbuh sejak masih duduk di sekolah dasar pada dekade 1960-an. Ia berasal dari Malausma, kawasan Majalengka Selatan yang ketika itu jauh dari sekolah sepak bola. Tidak ada fasilitas latihan modern seperti sekarang. Ia hanya bermain di sekolah, di lapangan kampung, atau di lahan kosong bersama anak-anak lain setiap sore.
Bakatnya terus berkembang ketika memasuki masa SMP dan SMA. Setelah pindah ke Bandung saat SMA, Kang Janur mulai terjaring menjadi pemain Persib Junior. Kesempatan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Orang tuanya yang sebelumnya khawatir terhadap masa depan seorang pemain bola mulai memberikan dukungan karena melihat jalur yang lebih jelas di hadapan anak mereka.
Bersama para pemain berbakat seperti Adjat Sudradjat, Robby Darwis, Adeng Hudaya, Suharto, dan rekan-rekan lainnya, Kang Janur merasakan keberhasilan bersama Persib. Ia menjadi bagian dari tim yang menjuarai kompetisi Perserikatan pada 1986 dan 1990. Dua gelar tersebut menjadi kenangan besar dalam masa bermainnya sekaligus memperkuat namanya sebagai salah satu bagian penting dari sejarah klub.
Kang Janur sempat hijrah ke Medan dan bermain untuk Mercu Buana sebelum kembali ke Persib. Pada 1994, pelatih Indra Thohir mengajaknya beralih peran menjadi asisten pelatih. Persib kemudian menjuarai Perserikatan terakhir pada 1994 dan kembali menjadi juara pada musim pertama Liga Indonesia 1995. Bagi Kang Janur, masa tersebut menjadi jembatan dari karier pemain menuju dunia kepelatihan.
Perjalanannya sebagai pelatih terus berkembang melalui pembinaan kelompok umur dan sejumlah klub. Ia pernah menangani Pelita Jaya U-21 dan meraih gelar, lalu kembali dipercaya memimpin Persib. Setelah memperbaiki posisi tim pada musim pertamanya, ia membawa sejumlah pemain baru dan mengantarkan Persib menjadi juara pada 2014. Ia juga pernah mengikuti pembelajaran taktik di Italia bersama Inter Milan dan kemudian menjalankan tugas sebagai direktur teknik Persib.
Sepak bola pada masa mudanya belum memberikan pendapatan seperti era profesional sekarang. Pemain hanya menerima uang transportasi latihan dan bayaran pertandingan, bukan gaji serta uang muka kontrak dalam jumlah besar. Karena itu, banyak pemain Persib juga bekerja di perusahaan atau lembaga tertentu. Kang Janur sendiri menjadi pegawai PLN sampai akhirnya mengambil pensiun dini ketika melanjutkan karier kepelatihan di luar klub.
Ketika membicarakan unsur mistis dalam sepak bola, Kang Janur lebih melihatnya sebagai persoalan psikologis. Tim yang menghadapi lawan seimbang terkadang membutuhkan sesuatu untuk menambah rasa percaya diri. Namun, sebagai seorang muslim, ia memilih memperbanyak doa dan memohon pertolongan Tuhan. Ia tidak menyatakan bahwa kekuatan mistis dapat memastikan kemenangan, meskipun berbagai cerita seperti itu memang sering terdengar di lingkungan sepak bola.
Salah satu kejadian yang diingatnya berlangsung pada kompetisi Liga Indonesia 1995. Persib mampu mengurung pertahanan lawan dan menciptakan banyak peluang, tetapi tidak kunjung mencetak gol. Pemain serta ofisial di pinggir lapangan kemudian melihat benda mencurigakan di dalam gawang lawan. Setelah diperiksa lebih dekat, benda tersebut disebut menyerupai telur bebek atau telur berukuran cukup besar.
Para pemain cadangan berteriak meminta pemain di lapangan menyingkirkan telur itu. Sutiono kemudian membuangnya dari area gawang. Tidak lama setelah benda tersebut disingkirkan, Persib berhasil mencetak gol melalui Keke Zakaria. Kang Janur tidak dapat memastikan apakah kejadian itu benar-benar berkaitan dengan hal mistis, tetapi perubahan setelah telur dibuang membuat para pemain merasa lebih percaya diri.
Pengalaman serupa terjadi saat Kang Janur menjadi pelatih Persib pada 2014. Dalam sebuah pertandingan di Stadion Si Jalak Harupat, timnya terus menyerang dan mendapatkan banyak peluang, tetapi bola selalu gagal masuk. Mereka lalu mencurigai sebuah handuk yang diletakkan penjaga gawang lawan di sekitar gawang. Handuk tersebut dianggap mungkin menjadi bagian dari kebiasaan atau ritual tertentu.
Ferdinand Sinaga berusaha mengambil dan membuang handuk itu hingga sempat terjadi perebutan dengan penjaga gawang pemiliknya. Setelah beberapa kali handuk dipindahkan, Persib akhirnya mampu mencetak gol dan memenangkan pertandingan. Sekali lagi, Kang Janur tidak menyebut handuk tersebut sebagai penyebab pasti. Menurutnya, keyakinan bahwa penghalang telah dibuang bisa saja mengubah kondisi psikologis pemain.
Selain benda di sekitar gawang, Kang Janur pernah mendengar cerita pemain yang menggunakan jimat atau susuk. Pada masa lalu, ada pemain yang disebut jarang cedera dan memiliki kaki sangat kuat karena memakai benda tertentu. Namun, semua itu hanya berupa cerita yang beredar dari mulut ke mulut. Ia tidak pernah memiliki bukti langsung yang dapat memastikan kebenarannya.
Dalam perbincangan tersebut juga dibahas berbagai kabar dari sepak bola internasional. Ada tim yang melakukan doa bersama, membasuh wajah dengan air, atau menjalankan kebiasaan tertentu sebelum dan selama pertandingan. Cerita mengenai seorang dukun Ghana yang mengaku ingin membuat Harry Kane tidak tajam turut disinggung. Kang Janur menegaskan bahwa ia hanya mengetahui informasi itu dari media sosial dan tidak dapat memastikan kebenarannya.
Pengalaman menyeramkan Kang Janur tidak hanya berkaitan dengan pertandingan. Ketika melatih di berbagai kota dan menjalani pemusatan latihan, ia pernah membawa tim menginap di sebuah hotel yang dianggap angker. Bangunan itu dipenuhi banyak patung sehingga suasananya terasa tidak nyaman. Sejumlah pemain dan ofisial mengaku sering melihat bayangan atau sosok yang membuat mereka takut berada sendirian.
Gangguan di hotel tersebut mencapai titik yang membuat Kang Janur memutuskan memindahkan tim. Dalam satu kamar, seorang pemain terbangun pada malam hari dan melihat teman sekamarnya duduk sambil tertawa kepadanya. Keesokan paginya, teman itu mengaku tidak pernah bangun dan tidak menyadari kejadian tersebut. Karena cerita semacam itu terus muncul, Kang Janur menilai kenyamanan serta istirahat pemain telah terganggu.
Di hotel lain yang memiliki beberapa lantai, Kang Janur menempati kamar besar di lantai paling atas seorang diri. Petugas perlengkapan selalu datang berdua ketika mengantar air atau memenuhi kebutuhannya karena tidak berani naik sendirian. Setelah didesak, mereka mengaku kerap melihat sesuatu di lantai tersebut. Pihak hotel juga pernah mengatakan bahwa kamera menangkap sosok besar seperti penjaga di sekitar kamar Kang Janur.
Kang Janur juga mendengar cerita dari para pemain yang tinggal di sebuah mes besar bertingkat tiga. Karena banyak kamar kosong dan hanya sedikit pemain yang menginap, suasananya sering terasa sunyi. Para penghuni mengaku melihat penampakan dan mengalami gangguan saat tidur. Akibatnya, pemain yang semula tidur sendiri memilih berkumpul dalam satu kamar agar merasa lebih aman.
Cerita mistis dianggap lebih terbuka dalam pertandingan antarkampung atau tarkam. Ketika sebuah tim kesulitan mencetak gol, pemain maupun penonton terkadang melakukan tindakan aneh di sekitar gawang. Ada penonton yang nekat mengencingi bagian tertentu karena percaya cara itu dapat menghilangkan pengaruh lawan. Menurut Kang Janur, tindakan seperti itu sulit terjadi dalam pertandingan profesional karena pengamanan dan peraturannya jauh lebih ketat.
Pada akhirnya, Kang Janur menegaskan bahwa kemenangan ditentukan oleh kualitas tim, latihan, taktik, kerja keras, dan doa, bukan oleh pesugihan. Ia sendiri berasal dari keluarga menengah ke bawah dan pernah mengalami masa sulit sebelum kehidupannya membaik. Keberhasilannya dirintis melalui perjuangan panjang sejak menjadi pemain hingga pelatih. Karena itu, ia mengingatkan agar orang tidak mencari jalan instan, tidak menjadikan sepak bola sebagai perjudian, dan tetap menikmati pertandingan secara sehat.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
