Pada 2010, Ibu Masito masih tinggal di Bandung bersama suami dan dua orang anaknya yang duduk di kelas lima dan enam sekolah dasar. Kehidupan rumah tangga mereka awalnya berjalan cukup nyaman karena sang suami bekerja di bidang pembiayaan dan mempunyai penghasilan yang mampu mencukupi kebutuhan keluarga.
Keadaan berubah ketika perusahaan tempat suaminya bekerja mulai mengalami kebangkrutan. Pemasukan keluarga semakin berkurang, sedangkan suaminya tetap pergi sejak pagi dan sering pulang tanpa membawa uang. Ibu Masito terpaksa berutang di warung demi menyediakan makanan serta uang saku untuk anak-anaknya.
Suami yang sebelumnya dikenal romantis dan suka membantu pekerjaan rumah perlahan berubah. Ia mulai sering pulang dalam keadaan mabuk, mudah marah, dan diduga mempunyai hubungan dengan perempuan lain. Kabar tersebut bahkan sampai kepada anak-anak sehingga mereka pulang sambil menangis karena malu mendengar pembicaraan para tetangga.
Ketika Ibu Masito meminta uang untuk kebutuhan rumah, pertengkaran besar terjadi. Suaminya menampar, memukul, menjambak, dan melemparkan barang ke arahnya. Kekerasan itu disaksikan kedua anak mereka yang keluar dari kamar, menangis, lalu memeluk ibunya yang sedang terluka.
Keesokan paginya, kekerasan kembali terjadi karena Ibu Masito tidak menyediakan kopi dan sarapan. Merasa tidak sanggup lagi mempertahankan rumah tangga tersebut, ia pergi ke rumah orang tuanya. Wajah yang lebam dan mata yang membengkak membuat ibunya segera menyadari bahwa putrinya sedang mengalami masalah serius.
Ibu Masito akhirnya menceritakan seluruh kekerasan yang dialaminya. Kedua orang tuanya marah dan mendukung keputusannya untuk berpisah. Karena harus menanggung kehidupan anak-anaknya, Ibu Masito kemudian meminta bantuan sang bapak untuk mencarikan pekerjaan.
Bapaknya bekerja di sebuah pabrik mi kuning milik seorang pengusaha yang disebut Pak Bos. Setelah mengetahui masalah rumah tangga Ibu Masito, pemilik pabrik bersedia menerimanya sebagai pegawai. Ia ditempatkan di bagian pencatatan barang masuk, barang keluar, serta setoran dari para pelanggan.
Ketika pertama datang, Ibu Masito melihat rumah serta pabrik berdiri berdampingan. Di halaman terdapat dua mobil dan beberapa sepeda motor yang menunjukkan bahwa pemiliknya cukup berada. Ia menerima gaji sekitar Rp1 juta serta makan siang selama bekerja.
Sebelum memulai pekerjaan, Pak Bos memberikan satu larangan khusus. Di dekat area produksi terdapat sebuah kamar yang selalu tertutup dan tidak boleh didekati. Ibu Masito diminta tidak mencari tahu isi ruangan tersebut, sekalipun mendengar suara atau melihat sesuatu yang aneh.
Hari-hari pertama bekerja berjalan lancar. Ibu Masito mulai memahami sistem pencatatan pabrik, sedangkan bapaknya bekerja di bagian perebusan mi yang sangat panas. Penghasilannya digunakan untuk membayar utang di warung, memenuhi kebutuhan sekolah, dan membuat anak-anaknya kembali mempunyai uang saku.
Kejadian aneh mulai dirasakan ketika Ibu Masito pergi ke toilet pada waktu istirahat hari Jumat. Untuk mencapai kamar mandi, ia harus melewati kamar terlarang tersebut. Dari balik pintu terdengar suara mengaum, sementara aroma kemenyan tercium kuat meskipun saat itu masih siang.
Pada hari Jumat berikutnya, suara yang muncul semakin beragam. Ibu Masito mendengar tawa berat seperti tokoh Rahwana, disusul suara cekikikan perempuan dan tangisan. Karena penasaran, ia sempat menempelkan telinga ke pintu sebelum bapaknya menariknya dan mengingatkan agar tidak mencampuri urusan pemilik pabrik.
Beberapa waktu kemudian, Ibu Masito melihat sosok mengerikan di dekat tempat perebusan. Dalam kesaksiannya, makhluk itu bertubuh sangat tinggi dan besar, berwarna hijau, dipenuhi bulu, mempunyai tanduk, taring, serta mata merah menyala. Tubuh Ibu Masito mendadak kaku hingga bapaknya harus menyeretnya menjauh.
Setelah pulang, sang bapak mengaku sudah mengetahui keberadaan makhluk tersebut. Ia juga beberapa kali melihat kejadian aneh selama bekerja, tetapi memilih diam karena takut putrinya tidak betah. Para pegawai dan warga sekitar disebut sama-sama mengetahui kejanggalan pabrik itu, tetapi tidak berani membicarakannya secara terbuka.
Masalah baru muncul ketika ibu Ibu Masito jatuh sakit. Karena tidak mempunyai biaya untuk memanggil mantri dan membeli makanan, ia meminjam uang Rp100 ribu kepada Pak Bos. Uang tersebut langsung diberikan tanpa banyak pertanyaan dan ibunya berhasil sembuh setelah mendapat pengobatan.
Dua atau tiga hari kemudian, bapaknya mendadak mengalami demam tinggi. Ibu Masito kembali mendatangi Pak Bos dan meminjam Rp300 ribu untuk biaya pemeriksaan serta kebutuhan sehari-hari. Pak Bos memberikannya dengan mudah, bahkan mengatakan bahwa uang tersebut tidak perlu dikembalikan.
Panas sang bapak tidak kunjung turun meskipun telah meminum obat. Pada malam hari ia mengigau, meronta, dan terus meminta agar tidak dibawa pergi karena masih mempunyai istri serta anak. Seorang mantri menilai penyakit tersebut tidak biasa dan menyarankan keluarga mencari pertolongan lain.
Melalui pamannya, Ibu Masito mendatangkan seorang Abah yang dikenal mampu menangani gangguan semacam itu. Setelah membacakan doa pada segelas air dan mengusapkannya ke seluruh tubuh, kesadaran sang bapak perlahan kembali. Ia mengaku hampir dibawa ke sebuah gua oleh makhluk tinggi, hijau, bertanduk, berbulu, dan bertaring.
Abah menyebut makhluk tersebut sebagai Buto Ijo dan menduga bapak Ibu Masito hendak dijadikan tumbal oleh pemilik pabrik. Menurut penuturannya, jalan masuk perjanjian itu berasal dari uang Rp400 ribu yang diberikan Pak Bos dan telah digunakan keluarga. Paman Ibu Masito lalu meminjamkan uang agar seluruh pemberian tersebut dapat segera dikembalikan.
Ibu Masito mendatangi pabrik, mengembalikan uang Rp400 ribu, serta menyampaikan pengunduran dirinya dan sang bapak. Pak Bos terlihat marah dan berulang kali menolak menerima uang tersebut, tetapi Ibu Masito tetap meninggalkannya. Keluarga kemudian pindah ke kampung, sementara kesehatan bapaknya berangsur pulih hingga mampu kembali bekerja di sawah.
Beberapa bulan kemudian, mereka mendapat kabar bahwa Pak Bos ditemukan meninggal dalam keadaan kaku di area perebusan mi. Pabrik yang sebelumnya sangat laris segera kehilangan pelanggan dan bangkrut karena tidak ada anaknya yang mampu melanjutkan usaha. Warga juga membicarakan kematian tiga anak laki-laki sang pemilik yang sebelumnya disebut berlangsung secara aneh. Dari pengalaman itu, Ibu Masito berpesan bahwa kesulitan ekonomi seharusnya dihadapi melalui usaha yang benar, bukan melalui pesugihan, karena kekayaan yang diperoleh dengan perjanjian ghaib dapat menghancurkan pekerja, keluarga, bahkan pemilik usaha itu sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
