Pada 2013, Mas Tio mendapat penugasan kerja dari Jakarta menuju sebuah kota di Jawa Barat. Setelah tinggal selama beberapa bulan, ia merasa biaya hidup di kota tersebut lebih terjangkau dan lingkungannya nyaman untuk keluarga. Mas Tio kemudian mengajak istri serta dua anaknya pindah, lalu menggunakan sebagian tabungan untuk membeli rumah yang lokasinya tidak jauh dari tempat kerja.
Sekitar enam bulan setelah menetap, Mas Tio mulai akrab dengan para tetangga yang sering berkumpul di pos ronda. Salah satunya adalah seorang pria yang namanya disamarkan menjadi Bang Udin. Dalam berbagai perbincangan, Bang Udin menceritakan pengalamannya merintis usaha jual beli daging milik orang lain, tetapi akhirnya tidak memperoleh hasil yang sebanding dengan perjuangannya.
Cerita tersebut terus memenuhi pikiran Mas Tio. Ia merasa bisnis daging dapat menjadi jalan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan. Meskipun istrinya sempat meminta agar ia tidak mencoba hal yang macam-macam, Mas Tio terus meyakinkannya sampai sang istri akhirnya bersedia mendukung rencana tersebut.
Mas Tio kemudian menemui Bang Udin dan menawarkan kerja sama dengan modal dari tabungannya. Bang Udin mengajarkan cara mencari pemasok, mengatur pengiriman, serta menjual daging kepada sejumlah outlet. Pada awalnya hanya ada tiga outlet, tetapi usaha tersebut berkembang cepat hingga Mas Tio harus menambah modal, merekrut pegawai, membeli kendaraan operasional, dan mengajukan pinjaman ke bank.
Selama sekitar satu tahun, bisnis itu terlihat sangat menjanjikan. Menjelang Idulfitri, jumlah pesanan bahkan meningkat hingga beberapa kali lipat. Namun kebahagiaan tersebut berubah menjadi kegelisahan ketika seorang pemasok menghubungi Mas Tio dan menagih pembelian barang senilai Rp76 juta yang dilakukan Bang Udin tanpa sepengetahuannya.
Pemasok tersebut baru menerima uang muka Rp15 juta, sedangkan sisanya belum dibayar. Mas Tio kemudian mendatangi beberapa outlet untuk menagih pembayaran. Ia terkejut karena para pemilik outlet mengaku telah melunasi seluruh kewajiban kepada Bang Udin dan timnya, tetapi uang tersebut tidak pernah diserahkan kepadanya.
Mas Tio merasa tubuhnya lemas hingga tidak sanggup mengendarai sepeda motor untuk pulang. Bang Udin bersama timnya telah mengambil alih outlet, membawa uang pembayaran, dan menghilang. Mas Tio harus menanggung utang kepada pemasok, bank, serta anggota keluarga yang sebelumnya memberikan tambahan modal, sementara kendaraan usahanya juga mulai ditarik.
Dalam keadaan tertekan, Mas Tio diperkenalkan kepada seseorang bernama samaran Mas Hendrik. Ia sempat menjalani ritual mandi menggunakan air dari tujuh sumur sebagai cara untuk membuang kesialan. Pakaian yang digunakan ketika mandi kemudian diminta dibuang di sebuah jembatan sebelum Mas Tio kembali ke rumah.
Namun ritual tersebut tidak menyelesaikan masalah keuangannya. Kepada Mas Hendrik, Mas Tio mengaku hanya memikirkan cara memperoleh uang dalam jumlah besar secepat mungkin. Dalam keputusasaan, ia bahkan mengatakan siap kehilangan nyawa asalkan istri serta anak-anaknya dapat makan enak dan menjalani kehidupan yang berkecukupan.
Mas Hendrik kemudian membawanya menemui seorang lelaki tua yang dipanggil Abah Is di sebuah kawasan terpencil. Perjalanan menuju tempat itu memakan waktu sekitar dua jam melewati jalan rusak, perkebunan, dan hutan yang jauh dari permukiman. Ketika Mas Tio tiba, Abah Is sempat menyuruhnya pulang karena menilai dirinya belum siap menghadapi risiko ritual.
Mas Tio tetap bersikeras hingga akhirnya diminta kembali pada malam yang telah ditentukan dengan membawa mahar. Setelah dimandikan dan menghafalkan sebuah rapalan, ia dibawa menuju gubuk kecil di tengah hutan dengan hanya mengenakan celana pendek. Mas Tio duduk sendirian, menyalakan hio, meletakkan persembahan, lalu membaca bacaan yang telah diberikan.
Dalam kesaksiannya, angin kencang tiba-tiba datang dan suara monyet terdengar dari segala arah. Ketika membuka mata, Mas Tio mengaku melihat ratusan anak monyet mengelilinginya serta bergelantungan di sekitar tempat ritual. Tidak lama kemudian muncul sosok putih berukuran sangat besar, bertaring panjang, dan berkuku tajam yang dianggapnya sebagai raja dari kelompok tersebut.
Ketakutannya semakin besar setelah sosok itu mengambil serta memakan salah satu anak monyet. Mas Tio tidak mampu mempertahankan ketenangan dan langsung berlari meninggalkan tempat ritual. Ia tersesat karena tidak mengetahui arah pulang hingga akhirnya ditemukan Mas Hendrik dan dibawa kembali kepada Abah Is, yang kemudian memarahinya serta melarangnya datang lagi.
Dua hari kemudian, tekanan dari bank, keluarga, dan para penagih kembali membuat pikirannya kacau. Mas Tio memohon kepada Mas Hendrik agar diberi kesempatan lain. Kali ini ia ditawari ritual yang berbeda, yaitu menikah dengan jin perempuan yang dipercaya akan memberikan uang setelah menjalani hubungan layaknya pasangan suami istri.
Mas Tio dibawa ke daerah perbatasan menuju Tegal dan diperkenalkan kepada seseorang bernama samaran Kang Manto. Ia diberi tahu bahwa calon jin yang datang dapat mempunyai rupa apa pun dan ritual harus dilaksanakan seperti pernikahan manusia dengan mahar serta mas kawin. Karena merasa tidak mempunyai pilihan, Mas Tio menerima seluruh persyaratan tanpa memberi tahu istri maupun keluarganya.
Setelah dimandikan, Mas Tio masuk ke ruangan tertutup yang panjang dan hanya berisi sebuah balai bambu. Ia duduk dengan tubuh bagian atas terbuka, kemudian membaca rapalan selama hampir satu jam. Di tengah ritual, ia mendengar hujan lebat serta suara kucing, ayam, itik, dan berbagai binatang saling bersahutan.
Suara-suara itu mendadak berhenti ketika sebuah kereta kuda datang. Dari kereta tersebut turun perempuan beraroma sangat harum, mengenakan kebaya serta kain berwarna keemasan. Dari kejauhan sosok itu terlihat cantik, tetapi ketika mendekat, Mas Tio melihat matanya berlubang serta bagian hidung dan bibirnya seperti menyatu. Perempuan tersebut hanya mengatakan bahwa ia akan datang menjemput Mas Tio di rumah.
Mas Tio pulang dan diminta menyiapkan kamar, tetapi pada malam kedatangan sosok tersebut ia sedang bekerja di luar. Perempuan yang terlihat cantik dan kaya itu akhirnya ditemui oleh istri Mas Tio. Anak perempuan mereka ikut keluar serta tersenyum kepada tamu tersebut, sedangkan setelah perempuan itu pergi, sang istri baru mendengar suara kereta kencana dan menyadari keanehan yang terjadi.
Keesokan harinya, anak perempuan Mas Tio mengalami demam. Setelah mengingat kembali ritualnya, Mas Tio panik dan mendatangi Mas Hendrik serta Kang Manto. Dalam proses pemanggilan, Kang Manto mengatakan bahwa jin perempuan tersebut tidak lagi hanya meminta Mas Tio, tetapi menginginkan anak perempuannya. Mas Tio memohon agar dirinya saja yang diambil karena ia tidak sanggup mengorbankan anaknya.
Kang Manto kemudian datang ke rumah dan meminta air dalam baskom, wewangian, dupa, serta satu set kebaya perempuan. Setelah melakukan ritual di kamar bersama anak Mas Tio, air dan kebaya tersebut dibawa untuk dibuang ke aliran sungai di daerah utara. Dalam kesaksian Mas Tio, demam anaknya perlahan mereda dan ikatan dengan sosok perempuan tersebut dinyatakan telah dihentikan.
Peristiwa itu menyadarkan Mas Tio bahwa selama ini dirinya telah melupakan Tuhan dan meninggalkan salat. Ia menjalankan salat Subuh, bersujud lama, serta memohon ampun atas seluruh perbuatannya. Bersama istrinya, ia memutuskan menjual rumah, sepeda motor, telepon genggam, dan aset yang tersisa untuk membayar utang, kemudian memulai kembali kehidupan dari rumah kontrakan.
Mas Tio perlahan membiasakan diri menjalankan salat lima waktu serta belajar salat malam. Dalam salah satu salatnya, ia mengaku melihat sosok tinggi bersorban putih yang hanya mengucapkan salam sebelum menghilang. Setelah melewati sekitar dua bulan yang sulit, beberapa klien lama kembali menghubunginya dan memberinya pekerjaan. Dari pengalaman tersebut, Mas Tio menyimpulkan bahwa kekayaan instan hanyalah godaan yang dapat mengancam iman serta keselamatan keluarga, sedangkan kesulitan sebaiknya dihadapi melalui tanggung jawab, usaha yang halal, dan kepasrahan kepada Tuhan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
