Pada 2005, Mas Andi mulai merintis usaha sandal yang sebelumnya telah dijalankan secara turun-temurun oleh keluarganya. Setelah membantu usaha sepupunya di Jakarta, ia kembali ke daerah asalnya di Jawa Barat dan membuka usaha sendiri dengan modal sekitar Rp3 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli dua alat pres serta bahan baku yang diperlukan.
Usaha itu dijalankan dari rumah yang sekaligus dijadikan tempat produksi. Mas Andi membuat sendiri contoh sandal karakter, memotretnya, kemudian mendatangi sebuah pusat perbelanjaan besar untuk menawarkan produknya kepada para SPG. Dari upaya pertama tersebut, ia berhasil memperoleh pesanan lima pasang sandal seharga sekitar Rp10 ribu per pasang.
Pesanan terus meningkat setelah para pembeli melihat hasil produknya. Dalam satu hari, Mas Andi pernah menerima pesanan hingga 50 pasang sehingga tidak mungkin lagi mengerjakan semuanya seorang diri. Ia mulai merekrut lima karyawan, kemudian menambah jumlah pekerja seiring semakin banyaknya pesanan yang masuk melalui nomor telepon yang disebarkan kepada pelanggan.
Dalam waktu relatif singkat, usaha rumahan itu berkembang menjadi pabrik dengan sekitar 16 karyawan. Pesanan datang dari berbagai kota di Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, hingga calon pembeli yang ingin membawa produknya ke pasar ekspor. Omzetnya dikatakan pernah mencapai sekitar Rp200 juta per bulan, membuat Mas Andi mampu membeli tanah, sawah, kendaraan, dan memperluas gudang produksi.
Menjelang dua tahun perjalanan usahanya, seorang pengusaha sandal lain bernama samaran Eko datang ke rumah Mas Andi. Eko yang sebelumnya jarang berkunjung terlihat memperhatikan kondisi pabrik, jumlah karyawan, serta banyaknya pesanan. Mas Andi mulai merasa tidak nyaman karena tamunya terus menanyakan alasan usahanya dapat berkembang begitu pesat.
Tidak lama setelah kunjungan tersebut, istri Mas Andi mengalami kejadian aneh pada malam hari. Sekitar pukul 12 malam, tubuhnya seperti tercekik, kakinya terangkat, dan tangannya menunjuk ke suatu arah sambil mengatakan ada pocong di dalam kamar. Kejadian serupa berlangsung selama tiga malam berturut-turut dengan kondisi yang semakin menakutkan.
Pada malam ketiga, Mas Andi ikut mencium aroma menyengat seperti bangkai. Istrinya mengatakan ada sosok yang mendekat dan hendak mencekiknya, tetapi Mas Andi tidak dapat melihat apa pun. Ia membawa istrinya ke dokter, namun pemeriksaan medis tidak menemukan penyakit yang dianggap dapat menjelaskan kejadian tersebut.
Ketika sedang kebingungan, Mas Andi bertemu seorang kenalan bernama samaran Gajol di sebuah pom bensin. Setelah mendengar ceritanya, Gajol membawa Mas Andi menemui seseorang yang dipanggil Abah. Dari tempat tersebut, Mas Andi mendapatkan air dan bunga yang harus diminum, dimakan, serta digunakan istrinya untuk mandi.
Selama tiga malam setelah pengobatan itu, Mas Andi mengaku mendengar suara meminta ampun dan pertolongan dari dalam rumah. Ia juga melihat sesuatu menyerupai asap keluar, disertai aroma amis dan cahaya yang bergerak meninggalkan rumah. Setelah malam ketiga, kondisi istrinya berangsur normal dan tidak kembali mengalami gangguan yang sama.
Meskipun istrinya sembuh, usaha sandal Mas Andi telah terbengkalai hampir satu tahun. Karyawan berhenti bekerja, pesanan menghilang, sedangkan sebagian besar hartanya habis untuk membiayai pengobatan. Saat mencoba memulai kembali usaha, tren sandal karakter yang sebelumnya menguntungkan ternyata sudah menurun.
Mas Andi kemudian menjaminkan sertifikat rumah dan tempat usahanya kepada bank. Dari pinjaman tersebut, ia memperoleh modal sekitar Rp150 juta. Namun barang yang diproduksi tidak laku seperti sebelumnya, sementara cicilan terus berjalan dan utang semakin menekan kehidupan keluarganya.
Dalam keadaan putus asa, Mas Andi kembali bertemu Gajol. Ia kemudian dibawa menemui seorang kuncen di tempat lain. Di belakang rumah tersebut terdapat sebuah sumur serta ruangan yang mempunyai suasana sangat mencekam, dengan hawa dingin, angin kencang, aroma amis, dan sebilah keris yang dikatakan dapat berdiri sendiri.
Mas Andi mengaku melihat penampakan menyerupai pocong, makhluk berwajah menyeramkan, serta kepala besar berwarna merah yang muncul dari dalam sumur. Makhluk itu mempunyai tanduk dan telinga lebar, lalu memberikan isyarat tertentu. Sang kuncen menjelaskan bahwa permintaan uang tersebut hanya dapat dilanjutkan apabila Mas Andi bersedia memberikan tumbal.
Mas Andi langsung menolak karena tidak ingin menyelesaikan utangnya dengan mengorbankan nyawa. Ia pulang bersama Gajol, tetapi tekanan dari bank membuat pikirannya kembali kacau. Upayanya meminjam uang kepada saudara dan orang tua juga tidak cukup untuk menutup seluruh kewajiban yang harus segera dibayar.
Gajol kemudian menawarkan tempat lain yang disebut tidak mempunyai syarat seperti sebelumnya. Mas Andi dibawa ke sebuah rumah yang dipenuhi keris, tombak, benda pusaka, bunga, darah, minyak, dan berbagai persembahan. Ia diminta menyediakan biaya sekitar Rp2 juta untuk membeli perlengkapan ritual.
Pada pertemuan berikutnya, sang Abah membuka sebuah kotak kecil beraroma harum. Di dalamnya terdapat benda yang disebut jenglot. Mas Andi mengaku melihat mata benda tersebut menyorot ke arahnya. Sang Abah mengatakan bahwa sorotan itu merupakan tanda kecocokan dan jenglot tersebut dipercaya dapat mendatangkan uang.
Ritual kemudian dimulai di dalam ruangan tersebut. Angin bertiup kencang, rumah terasa bergetar, aroma amis menyebar, dan beberapa sosok kecil menyerupai anak-anak terlihat bergerak di sekitar tempat itu. Tidak lama kemudian, uang pecahan Rp100 ribu dikatakan berjatuhan dan berserakan hingga membentuk tumpukan yang cukup tinggi.
Mas Andi awalnya merasa permohonannya telah berhasil karena ia hanya membutuhkan Rp150 juta untuk melunasi utang. Namun sang Abah mengatakan jumlah uang yang datang jauh lebih besar daripada kebutuhannya. Kelebihan tersebut kembali disertai permintaan tumbal, sehingga Mas Andi memilih meninggalkan seluruh uang itu dan membatalkan ritual.
Keesokan harinya, pihak bank menghubungi Mas Andi dan memberitahukan bahwa rumahnya telah terjual melalui proses lelang senilai sekitar Rp200 juta. Utang Rp150 juta dapat dilunasi, sedangkan sisanya sekitar Rp50 juta dikembalikan kepadanya. Mas Andi kehilangan rumah dan kemudian tinggal sementara bersama keluarga mertuanya.
Uang yang tersisa sempat digunakan untuk mencoba usaha baru, tetapi tidak berkembang dan akhirnya habis untuk kebutuhan hidup selama sekitar enam bulan. Mas Andi kemudian bekerja di sebuah perusahaan rotan untuk menafkahi keluarganya. Setelah bekerja sekitar satu tahun, ia memberanikan diri mengambil alih rumah milik saudaranya dengan sistem cicilan dan perlahan kembali membangun kehidupan.
Mas Andi tetap mencurigai Eko sebagai orang yang berkaitan dengan gangguan istrinya, meskipun ia tidak mempunyai bukti langsung. Menurut cerita seorang tetangga, setelah istrinya sembuh, usaha Eko justru hancur, utangnya menumpuk, dan rumah tangganya berakhir. Dari seluruh pengalamannya, Mas Andi menyimpulkan bahwa pesugihan tidak menjamin kekayaan dan justru dapat mengancam nyawa. Ia berpesan agar kesulitan ekonomi dihadapi melalui kerja, kesabaran, dan tawakal kepada Tuhan, bukan dengan mencari uang instan melalui jalan ghaib.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
