Pada 2019, Kang Hendra merintis usaha sebagai agen grosir telur ayam. Usaha tersebut berkembang perlahan hingga mencapai masa terbaik sekitar 2021. Penjualan terus meningkat, ia mempunyai tiga kendaraan operasional, dan bisnis yang awalnya sederhana mulai menghasilkan perputaran barang dalam jumlah besar.
Memasuki 2022, keadaan berubah. Kang Hendra mengakui pengelolaan usahanya mulai bermasalah dan pada saat bersamaan rumah tangganya dengan istri pertama berakhir. Kendaraan usaha juga ikut dibawa sang istri sehingga kondisi bisnis semakin menurun. Di tengah situasi tersebut, seorang karyawan memperkenalkannya kepada seseorang yang disamarkan dengan nama April.
April disebut sebagai orang yang memahami dunia spiritual dan menawarkan cara untuk meningkatkan penjualan menggunakan benda yang disebut “apel jin”. Kang Hendra mengaku mengeluarkan sekitar Rp8 juta untuk mendapatkannya. Benda itu kemudian ditanam di depan toko, sementara setiap beberapa bulan ia kembali diminta menyediakan biaya untuk memperbarui media tersebut.
Menurut Kang Hendra, setelah mengikuti cara tersebut penjualan usahanya memang kembali meningkat. Dalam sehari ia dapat menjual sekitar lima ton telur dan bahkan memperoleh tender bantuan sosial yang sekali pengirimannya mencapai sekitar 20 hingga 25 ton. Ia juga mulai menjual minyak goreng dan membuka cabang baru di Banten yang dipercayakan kepada seorang teman.
Masalah besar kembali datang pada pertengahan 2024 ketika Kang Hendra mengalami kecelakaan mobil. Cedera di bagian kepala dan kaki membuatnya tidak mampu mengawasi usaha selama sekitar tiga bulan. Ketika kembali beraktivitas, ia menemukan banyak pelanggan berutang, seorang kepercayaannya membawa kabur sekitar Rp70 juta, dan salah satu kendaraan operasional mengalami kecelakaan bersama muatan sekitar satu ton telur.
Utang kepada pemasok akhirnya membengkak hingga disebut mencapai sekitar Rp400 juta. Pemasok yang sebelumnya mampu mengirim sekitar lima ton per hari mengurangi pasokan menjadi hanya satu ton. Pelanggan kecewa karena pengiriman terlambat, sedangkan biaya kontrak toko dan kebutuhan keluarga terus berjalan. Saat itu istri keduanya juga sedang hamil tua sehingga tekanan ekonomi semakin berat.
Dalam kondisi tersebut, April menyarankan Kang Hendra menjalani ritual nikah jin melalui seorang kuncen bernama samaran Mas Adi di kawasan Gunung Salak. Awalnya ia hanya diberi tahu harus menyediakan biaya sekitar Rp800 ribu dan sebuah ruangan khusus yang tidak boleh diketahui orang lain. Namun setelah sampai di lokasi, kuncen tersebut mengatakan ada syarat lain berupa anak sebagai semacam mas kawin apabila Kang Hendra tetap memaksakan ritual. Mendengar hal itu, Kang Hendra marah dan langsung membatalkannya.
Kang Hendra kemudian meminjam sertifikat keluarga untuk mendapatkan dana sekitar Rp200 juta dari perbankan. Uang tersebut sebenarnya akan digunakan membayar sebagian utang kepada pemasok. Namun karena sangat percaya kepada April, ia justru memasukkan dana tersebut ke sebuah bisnis yang dijanjikan menghasilkan keuntungan besar. Menurut pengakuannya, investasi itu tidak memberikan hasil dan uang tersebut akhirnya habis.
Keputusasaan membuat Kang Hendra kembali mencari jalan lain. Ia memperoleh informasi tentang sebuah tempat tirakat di Gunung Geulis, Sumedang, lalu berangkat bersama karyawannya yang disamarkan sebagai Anton. Di sana terdapat sebuah rumah kuncen di tengah hutan serta gua yang sering digunakan banyak orang untuk menjalani ritual dengan harapan keinginannya dapat terwujud.
Kang Hendra diminta menjalani wirid dalam jumlah besar serta puasa mutih selama sekitar satu minggu. Setelah pulang dan menyelesaikan bacaan yang diberikan, ia kembali ke Gunung Geulis bersama April karena merasa seluruh persyaratan telah dilaksanakan tetapi tidak memperoleh hasil. Ketika kembali diminta memberikan sesajen tambahan, emosinya mulai meledak karena merasa terus mengeluarkan uang tanpa kepastian.
Di dalam gua, Kang Hendra mengaku melontarkan perkataan kasar sambil menantang keberadaan makhluk ghaib yang selama ini disebut dapat mengabulkan permintaan. Tidak lama kemudian, ia melihat sosok perempuan berpakaian putih membawa tongkat dan duduk di kursi merah menyerupai singgasana. Sosok itu semakin mendekat lalu menurut penglihatannya berubah menjadi ular kobra, sementara suara pohon tumbang yang sangat keras terdengar tanpa ditemukan pohon yang benar-benar roboh.
Pada pagi setelah kejadian tersebut, istrinya yang sedang hamil menelepon dan menceritakan pengalaman menyeramkan pada malam sebelumnya. Sang istri merasa didatangi sosok perempuan yang meraba perutnya lalu seperti berusaha menarik paksa janin dari dalam kandungan. Dalam pengalaman itu muncul darah dan rasa sakit yang sangat nyata, meskipun setelah terbangun tidak ditemukan darah. Kang Hendra mulai takut kejadian tersebut berkaitan dengan tindakannya di dalam gua.
Di Gunung Geulis, Kang Hendra kemudian bertemu seorang pelaku ritual lain bernama samaran Mas Kubil serta seorang kepala desa. Kepala desa itu disebut mempunyai utang sekitar Rp3,2 miliar dan menawarkan kerja sama untuk membiayai perjalanan mencari pesugihan. Kang Hendra bersedia dengan satu syarat: apabila diminta korban, ia tidak mau menyerahkan anak, istri, ibu, ataupun ayahnya.
Mereka sempat mencoba lokasi lain di sebuah kampung dengan biaya sesajen yang mencapai jutaan rupiah. Kang Hendra dan Mas Kubil tinggal selama lima hari di sebuah bangunan sederhana di tengah hutan tanpa memperoleh hasil. Ketika bekal habis, mereka bahkan hanya memakan singkong yang diperoleh dari petani sekitar sebelum akhirnya memutuskan pergi karena merasa kuncen tersebut hanya terus memberikan alasan.
Dalam perjalanan pulang, Kang Hendra menemui kenalannya bernama samaran Mas Andre yang pernah bertemu dengannya di Gunung Geulis. Dari orang inilah ia mendapat informasi mengenai sebuah lokasi di Nusakambangan yang dianggap lebih meyakinkan. Kang Hendra bersama April akhirnya berangkat menuju Majingklak, menyewa perahu untuk menyeberang, lalu menemui seorang kuncen yang disamarkan dengan nama Pak Gede.
Kepada Pak Gede, Kang Hendra menyampaikan secara terang-terangan bahwa dirinya ingin mengambil “jalur jual musuh”. Pak Gede awalnya menolak dan menyarankan tirakat biasa, tetapi setelah Kang Hendra terus mendesak, ia diberi penjelasan mengenai beberapa gua yang digunakan untuk tujuan berbeda. Karena biaya dari kepala desa belum juga dikirim, Kang Hendra bahkan menggadaikan sepeda motornya sekitar Rp25 juta agar mempunyai uang untuk membeli persyaratan dan melanjutkan ritual.
Kang Hendra kemudian ditempatkan sendirian di sebuah gua setelah berjalan sekitar satu jam melewati kawasan berbukit. Pada malam kedua, seekor ayam dibawa masuk untuk ritual. Setelah ayam tersebut disembelih dan dibungkus kain putih, Kang Hendra mengaku melihat wujud ayam itu berubah menyerupai ayah tirinya dengan kondisi leher terluka. Ia mengatakan memang memilih ayah tirinya sebagai “musuh” karena menyimpan sakit hati akibat perlakuan yang dianggap tidak adil terhadap keluarganya.
Pengalaman berikutnya membuat Kang Hendra semakin ketakutan. Ia mengaku melihat sosok Nyi Blorong muncul dari dalam gua dengan tubuh bagian atas berupa perempuan cantik berhiaskan emas, sementara bagian bawahnya berbentuk ular panjang. Tubuh Kang Hendra terasa kaku hingga tidak mampu berbicara maupun bergerak. Setelah sosok tersebut menghilang, muncul pula buaya putih yang berhenti di dekat tempat persembahan sebelum kembali menghilang.
Kang Hendra tetap bertahan hingga malam ke-14 karena menunggu adanya perjanjian yang dianggap sebagai tanda keberhasilan. Malam itu seekor ular weling kecil melintas di dekat kakinya, kemudian susunan persembahan mendadak berantakan. Setelah itu gua yang biasanya dipenuhi suara hewan menjadi sangat sunyi. Pak Gede akhirnya mengatakan ritual tersebut ditolak karena Kang Hendra dianggap masih dilindungi oleh leluhurnya.
Kang Hendra pulang karena istrinya segera melahirkan dan bulan Ramadan semakin dekat. Sekitar sepuluh hari setelah anaknya lahir, terjadi pengalaman yang benar-benar membuatnya berhenti. Ketika menggendong bayi kandungnya, Kang Hendra mengaku tiba-tiba melihat anak tersebut seperti seekor ayam dan muncul dorongan kuat seolah ingin memakannya. Ia segera meletakkan sang bayi karena sangat takut terhadap perubahan pikiran dan penglihatannya sendiri.
Sejak kejadian itu, Kang Hendra memutuskan tidak kembali mencari pesugihan. Ia masih mengaku pernah mengalami keadaan seperti kerasukan buaya dan gerakan tubuh yang sulit dikendalikan, tetapi perlahan mencoba memperbaiki diri melalui ibadah dan bimbingan keluarga yang memahami persoalan spiritual. Utangnya memang belum seluruhnya terbayar, tetapi para penagih kini lebih tenang dan ia berencana kembali bekerja ke Jepang untuk mencicil kewajibannya. Dari seluruh pengalaman tersebut, Kang Hendra berpesan agar siapa pun tidak mencari kekayaan melalui jalan pintas dan praktik ghaib, karena menurutnya kegagalan saja telah memberikan dampak yang sangat menakutkan bagi dirinya dan keluarganya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
