Pada 2009, Mas Jaja telah bekerja sebagai pedagang bakso keliling di Jakarta dengan sistem ikut kepada orang lain. Dua tahun kemudian, ia membawa istri dan anaknya tinggal bersama di Jakarta agar keluarga tidak lagi terpisah. Mereka menyewa kontrakan sederhana sekitar Rp500 ribu per bulan dan berusaha bertahan dari penghasilan jualan sehari-hari.
Keadaan ekonomi keluarga semakin berat karena anak Mas Jaja sering sakit dan harus menjalani pengobatan rutin. Menurut penuturannya, sang anak mengalami flek sehingga tidak boleh terlambat mendapat perawatan. Di saat yang sama, Mas Jaja juga mempunyai utang berbunga yang terus membengkak karena ia mulai kesulitan membayar cicilan.
Suatu hari, Mas Jaja berbincang dengan seorang pedagang ketoprak yang telah mempunyai usaha sendiri. Temannya mengatakan hasil berdagang akan lebih besar apabila mempunyai gerobak dan modal sendiri daripada terus bekerja kepada orang lain. Nasihat itu membuat Mas Jaja mulai berkeinginan membuka usaha sendiri sekaligus melunasi utangnya.
Mas Jaja mencoba meminta bantuan kepada abang kandungnya yang tinggal di Depok. Ia berharap bisa meminjam uang untuk membayar sebagian utang, mengobati anak, dan membeli gerobak. Namun pertemuan tersebut justru menyisakan sakit hati karena sang abang menolak dan menyinggung berbagai kegagalan hidup Mas Jaja.
Penolakan tersebut membuat Mas Jaja merasa sangat terhina. Ia pulang dalam keadaan kalut hingga sempat salah arah menuju terminal. Kepada istrinya, ia mengatakan masih mempunyai seorang teman lama di kampung yang mungkin dapat membantu, sehingga pada hari itu juga ia memutuskan pergi menemuinya.
Teman tersebut disamarkan dengan nama Pak Yadi. Berbeda dengan pengalaman bersama abangnya, Mas Jaja diterima dengan baik, diberi makan, tempat beristirahat, bahkan dibantu mencari sepeda motor untuk mengojek. Selama beberapa waktu, Mas Jaja ikut mencari penghasilan bersama Pak Yadi dan mengirim sebagian uangnya kepada istri di Jakarta.
Pak Yadi kemudian memperkenalkan Mas Jaja kepada tiga orang yang disebut Pak Mul, Pak Adit, dan Pak Joko. Setelah mengetahui persoalan utangnya yang menurut cerita telah membengkak hingga sekitar Rp80 juta, mereka menawarkan sebuah jalan untuk memperoleh uang melalui ritual pesugihan yang dipimpin seorang kuncen.
Saat bertemu kuncen, Mas Jaja mengaku sudah sangat putus asa dan dipenuhi dendam. Sang kuncen memperlihatkan beberapa pilihan perjanjian yang masing-masing dikaitkan dengan tumbal berbeda, mulai dari anak, istri, orang lain, musuh, hingga pengurangan umur sendiri. Mas Jaja memilih pilihan terakhir karena merasa lebih baik mempertaruhkan dirinya daripada keluarganya.
Kesepakatan tersebut kemudian ditandai menggunakan darah dari jempol Mas Jaja pada sebuah surat perjanjian. Menurut kesaksiannya, ia benar-benar memahami bahwa ritual tersebut mempunyai risiko besar, tetapi tekanan utang dan keinginan membalas penghinaan membuatnya tidak berpikir panjang.
Malam pertama, Mas Jaja dibawa menuju kompleks makam yang disebut memiliki tempat berbeda sesuai jenis pesugihan. Ia ditinggalkan sendirian untuk menjalani ritual hingga menjelang pagi. Dalam pengakuannya, ia melihat perempuan yang sebagian wajahnya cantik dan sebagian lainnya rusak, kemudian disusul sosok nenek-nenek yang membuatnya ketakutan.
Malam kedua memberikan pengalaman yang lebih mencekam. Mas Jaja mengaku melihat sosok anak kecil menyerupai pocong berada sangat dekat dengannya. Tidak lama kemudian, seekor ular besar sepanjang kurang lebih tiga meter dan berukuran hampir sebesar paha manusia datang mengelilingi tempatnya duduk.
Ritual ketiga disebut sebagai ujian terakhir. Angin kencang muncul disertai suasana seperti gempa, lalu Mas Jaja merasa tubuhnya ditekan oleh sosok hitam berukuran besar. Ia menggambarkan makhluk tersebut memiliki mata merah dan lidah menjulur. Setelah itu, kertas yang semula kosong dikatakan memunculkan tulisan berupa angka yang ia pahami sebagai janji uang dalam jumlah sangat besar.
Selain angka tersebut, muncul permintaan menyediakan 15 batang benda yang disebut “cerut jangkrik”. Setelah mencarinya, Mas Jaja mengetahui harga satu batang sekitar Rp800 ribu sehingga dibutuhkan biaya jutaan rupiah. Karena ia tidak memiliki modal, pembelian tersebut diharapkan dibiayai oleh Pak Mul dan teman-teman yang sejak awal menjanjikan dukungan.
Masalah muncul ketika orang-orang tersebut tidak kunjung menyediakan uang hingga malam yang telah dijanjikan terlewati. Kuncen kemudian mengatakan masih ada batas waktu hingga 41 hari untuk memenuhi persyaratan. Apabila terlewat, menurut peringatan yang diterima Mas Jaja, perjanjian tersebut dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.
Hari demi hari berlalu tanpa kepastian dari Pak Mul dan kawan-kawannya. Tepat setelah batas 41 hari terlewati, Mas Jaja menerima telepon dari istrinya bahwa anak mereka masuk rumah sakit. Ia segera kembali ke Jakarta dan menemukan anaknya dalam kondisi lemah hingga akhirnya meninggal dunia. Mas Jaja merasa sangat terpukul dan mulai menghubungkan kejadian itu dengan ritual yang pernah dijalaninya.
Setelah kehilangan anak, Mas Jaja mencoba kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Namun beberapa bulan kemudian, ia kembali menerima kabar buruk bahwa istrinya jatuh di kamar mandi dan dibawa ke rumah sakit. Sang istri akhirnya meninggal dunia. Ketika mengurus jenazah, Mas Jaja melihat bagian punggung istrinya membiru dan mulai semakin yakin bahwa ada konsekuensi dari perjanjian yang pernah ia buat, meskipun keyakinan tersebut merupakan kesimpulan pribadinya.
Kehilangan anak dan istri membuat hidup Mas Jaja semakin tidak tenang. Ia mengaku hampir setiap malam mendengar bisikan yang menagih benda yang sebelumnya diminta dalam ritual. Sosok hitam besar yang pernah dilihatnya di makam juga disebut terus muncul sehingga ia merasa seperti selalu dikejar dan tidak dapat tidur dengan tenang.
Mas Jaja akhirnya kembali menemui kuncen dan meminta seluruh hubungan dengan ritual tersebut dihentikan. Ia menjalani prosesi yang disebut sebagai pemutusan “benang merah”, kemudian mencari pertolongan seorang kiai dan menjalani rukiah. Setelah itu, ia mengaku bertobat dan berusaha meninggalkan seluruh praktik pesugihan. Beberapa waktu kemudian, ia juga mendengar kabar bahwa Pak Mul, Pak Adit, dan Pak Joko meninggal secara bergantian.
Semua kejadian tersebut meninggalkan penyesalan yang terus dibawa Mas Jaja hingga sekarang. Ia masih sering bermimpi bertemu anak dan istri pertamanya serta rutin mendoakan keduanya. Utang yang dahulu disebut mencapai sekitar Rp80 juta juga tidak hilang secara ajaib; ia tetap harus mencicilnya sedikit demi sedikit hingga menurut pengakuannya tersisa sekitar Rp17 juta.
Kini Mas Jaja kembali menjalani hidup dengan bekerja secara sederhana, termasuk berjualan siomay dan batagor keliling. Ia telah membangun kehidupan keluarga kembali, tetapi mengaku tidak pernah mampu menghapus ingatan tentang anak dan istrinya. Dari pengalamannya, Mas Jaja berpesan agar orang yang sedang tertekan oleh utang, hinaan, maupun persoalan ekonomi tidak memilih pesugihan sebagai jalan keluar. Baginya, mencari rezeki secara perlahan melalui kerja yang halal jauh lebih berharga daripada mengejar kekayaan instan yang justru meninggalkan kehilangan dan penyesalan seumur hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
