Pada 2016, kisah Mbak Indah bermula dari pekerjaan ayahnya yang ia panggil Abah di sebuah showroom mobil milik pengusaha bernama samaran Ko Ahong. Abah menjadi salah satu orang kepercayaan pemilik showroom dan kerap diajak melakukan berbagai urusan, mulai dari survei hingga mengambil kendaraan. Pada awalnya bisnis tersebut berkembang pesat, tetapi perlahan mengalami penurunan.
Satu per satu showroom milik Ko Ahong akhirnya tutup hingga hanya tersisa satu tempat usaha. Tekanan utang membuat bisnis tersebut tidak mampu bertahan dan Abah pun dirumahkan. Ko Ahong kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia. Tidak lama setelah itu, putranya yang disamarkan dengan nama Edi datang menemui Abah karena ingin memulai usaha baru.
Edi mempunyai modal dan berniat membuka usaha ayam potong serta minyak curah. Ia kemudian mengajak Indah membantu sebagai admin karena usaha tersebut benar-benar dimulai dari nol. Dalam waktu sekitar tiga bulan, bisnis itu berkembang sangat cepat. Menurut kesaksian Indah, keuntungan bersihnya bahkan pernah mencapai sekitar Rp50 juta per bulan.
Masalah muncul setelah Edi terlalu mempercayai seorang pegawai lapangan bernama samaran Ipul. Pegawai tersebut mendadak meminta libur selama sekitar satu minggu, lalu sejumlah pelanggan mulai mengeluhkan barang yang tidak pernah sampai atau hanya dikirim sebagian. Setelah Indah memeriksa langsung ke lapangan, diketahui uang pembayaran dari beberapa toko tidak disetorkan. Kerugiannya disebut mencapai sekitar Rp100 juta.
Edi kemudian mengaku kepada Indah bahwa modal usahanya berasal dari sertifikat rumah yang digadaikan. Setelah kerugian tersebut, pesanan mulai berkurang, pemasukan menurun, sementara kewajiban kepada bank tetap berjalan. Dalam keadaan tertekan, Edi bercerita mengenai seorang kenalan yang dianggap sukses setelah menjalani ritual pesugihan di Gunung Kawi.
Indah sejak awal meminta Edi mengurungkan niat tersebut. Namun Edi merasa tidak mempunyai jalan lain untuk menyelamatkan usaha, membayar utang, dan mempertahankan pekerjaan para karyawannya. Ia kemudian memohon kepada Indah agar bersedia mengantarkannya ke Gunung Kawi. Edi memilih tidak membawa istrinya karena ingin perjalanan tersebut tetap menjadi rahasia.
Dengan rasa kasihan bercampur terpaksa, Indah akhirnya ikut. Mereka berangkat berdua menggunakan mobil pada malam hari menuju kawasan Gunung Kawi. Sesampainya di sana, Indah melihat gapura, beberapa patung, dupa, bunga, serta sebuah tempat ibadah. Edi kemudian melakukan semacam pengundian menggunakan batang-batang bertulisan sebelum berbicara dengan seorang kuncen.
Perjalanan berlanjut menuju sebuah pohon besar yang menurut kuncen disebut pohon Dewandaru. Setelah itu mereka naik menuju tempat yang disebut sanggar. Indah mengaku melihat banyak orang berada di sana untuk berdoa atau menjalankan keperluan masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan ia kenali sebagai figur publik, pengusaha, dan orang yang dianggap memiliki kedudukan penting, meskipun Indah tidak mengetahui tujuan mereka datang.
Di dalam sanggar, Edi diminta menuliskan nama, alamat, serta jenis usahanya pada buku tamu dan meletakkan sebuah foto. Terdapat pula dupa, air putih, kopi, dan bunga tiga rupa. Setelah tahap tertentu, Indah tidak diperbolehkan masuk lebih jauh sehingga ia hanya menunggu di luar sementara Edi melanjutkan proses bersama kuncen.
Edi kemudian meminta Indah mencari penginapan karena dirinya akan tinggal untuk menjalani ritual selama tiga hari. Indah hanya datang pada pagi hari untuk mengantarkan makanan. Setelah seluruh proses selesai, keduanya kembali menuju Cirebon. Dalam perjalanan pulang, Indah meminta Edi menceritakan secara lengkap apa yang sebenarnya dilakukan selama dirinya tidak diperbolehkan mendampingi.
Menurut cerita Edi kepada Indah, ia menjalani ritual di makam Eyang Jugo dan kemudian di sekitar pohon Dewandaru. Persembahannya berupa dupa serta darah ayam cemani. Pada hari ketiga, ritual disebut berbeda karena darah ayam tersebut diganti menggunakan darah Edi sendiri yang diambil dari tangannya. Indah bahkan melihat tangan kirinya diperban setelah mereka pulang.
Edi juga mengaku memberikan mahar sejumlah jutaan rupiah kepada kuncen. Dari Gunung Kawi ia membawa beberapa benda, antara lain bunga padi, dua cermin kecil, serta benda lain yang dibungkus kain kuning. Cermin dan bunga padi tersebut kemudian dipasang di pintu masuk rumah serta kantor sesuai petunjuk yang diterimanya.
Sekitar tiga hari setelah kembali dari Gunung Kawi, perubahan besar mulai terlihat. Toko-toko yang sebelumnya berhenti memesan kembali menghubungi mereka, sementara omzet terus meningkat. Dalam beberapa tahun berikutnya Edi mampu melunasi sertifikat rumah, membeli tanah, menambah rumah, serta membeli kendaraan seperti Honda Brio dan Mitsubishi Pajero.
Namun bersamaan dengan meningkatnya kekayaan, muncul sebuah kamar di rumah Edi yang tidak boleh dibuka oleh siapa pun. Kuncinya selalu dibawa sendiri oleh Edi dan keberadaan ruangan tersebut hanya diketahui secara terbatas oleh dirinya serta Indah. Ketika sang istri mulai mempertanyakannya, Indah terpaksa menutupi rahasia tersebut dengan mengatakan bahwa perjalanan mereka dahulu hanya untuk mencari investor.
Setelah lebih dari satu tahun, Indah mulai mengaku mengalami kejadian di luar nalar. Ia melihat sosok sangat tinggi dan besar, berbulu, berwarna kehijauan, serta bermata merah berada di sekitar tempat usaha. Beberapa karyawan kemudian mengaku mendengar suara geraman dan melihat sosok dengan ciri serupa. Istri Edi juga mulai mendengar suara aneh dari kamar rahasia yang berada di lantai atas.
Ketika bisnis telah berjalan sekitar dua tahun sejak ritual, Edi akhirnya mengaku kepada Indah bahwa sosok tersebut menurut keyakinannya berkaitan dengan pesugihan yang dijalaninya. Memasuki tahun ketiga, perubahan sikap Edi semakin terasa. Ia menjadi lebih mudah marah, semakin jauh dari anak dan istrinya, serta terlihat tidak lagi mempunyai kedekatan seperti sebelumnya dengan keluarga.
Salah satu kejadian yang paling membuat Indah dan istri Edi ketakutan terjadi ketika mereka melihat Edi memakan daging mentah di ruang makan. Indah mencoba menyadarkannya, tetapi setelah selesai makan Edi justru merasa dirinya hanya duduk biasa dan tidak melakukan apa-apa. Tidak lama setelah itu, Edi mengatakan kepada Indah bahwa perjanjiannya di Gunung Kawi menggunakan dirinya sendiri, bukan anak, istri, ataupun orang lain sebagai korban.
Kondisi kesehatan Edi kemudian menurun. Ia semakin sering sakit hingga akhirnya hanya mampu terbaring di tempat tidur. Menurut cerita Indah, pemeriksaan medis saat itu tidak menemukan penyakit yang dianggap menjelaskan kondisinya. Ketika Edi tidak lagi mampu menjalankan ritual, keluarga juga mulai mengalami berbagai gangguan, sementara biaya pengobatan terus menguras harta hingga rumah-rumah yang dimiliki mulai dijual satu per satu.
Pada suatu malam, istri Edi menelepon Indah karena suaminya terbaring dengan mata terbuka lebar dan kemudian menjerit. Ketika Indah tiba, Edi sudah tidak berada di tempat tidur. Setelah mencari ke berbagai sudut rumah, Indah mempunyai firasat untuk membuka kamar rahasia yang selama ini dilarang dimasuki. Karena pintunya terkunci, mereka akhirnya mendobraknya bersama seorang karyawan laki-laki.
Ketika pintu terbuka, Indah mencium aroma amis bercampur dupa dari ruangan yang gelap dan hampir kosong tersebut. Dengan bantuan lampu telepon genggam, mereka menemukan Edi sudah meninggal dalam kondisi yang menurut kesaksian Indah sangat tidak biasa: matanya masih terbuka dan tubuhnya berada dekat perlengkapan ritual sambil memegang benda menyerupai dupa. Tidak ada seorang pun yang berani langsung menyentuhnya hingga akhirnya mereka meminta bantuan orang lain untuk mengurus jenazah.
Keluarga awalnya berusaha memakamkan Edi menggunakan peti, tetapi menurut kesaksian Indah proses tersebut mengalami kendala karena peti terus dianggap tidak muat di liang lahat meskipun tanah telah digali kembali. Aroma amis juga disebut masih tercium kuat sehingga keluarga akhirnya memilih kremasi. Setelah semuanya selesai, Indah baru menceritakan kepada istri Edi mengenai perjalanan ke Gunung Kawi dan ritual yang pernah dilakukan suaminya. Kekayaan yang sempat terkumpul selama sekitar empat tahun pun perlahan habis, termasuk rumah terakhir yang dijual untuk membiayai pengobatan anak. Indah sendiri mengaku tidak mengalami teror setelah kematian Edi karena sejak awal hanya bersedia mengantar dan menolak terlibat dalam perjanjian tersebut. Ia juga menegaskan bahwa tidak semua orang yang datang ke Gunung Kawi bertujuan melakukan pesugihan; menurut keterangan yang ia dengar di sana, tujuan setiap pengunjung bergantung pada niat masing-masing. Dari pengalaman tersebut, Indah berpesan bahwa kekayaan masih dapat dicari kembali, sedangkan umur dan keselamatan tidak dapat dibeli ketika seseorang telah mengambil jalan yang salah.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
