Pada 2013, Mbak Tini menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh tekanan ekonomi bersama suami dan dua anaknya yang masih kecil. Sejak menikah, sang suami belum mempunyai pekerjaan tetap sehingga Mbak Tini harus mengambil peran mencari penghasilan dengan berjualan makanan kecil seperti risol dan donat yang dititipkan ke warung-warung. Kondisi tersebut membuat keduanya sering bertengkar karena Mbak Tini merasa seluruh kebutuhan keluarga berada di pundaknya.
Mbak Tini berulang kali meminta suaminya mencari pekerjaan apa saja selama halal, tetapi sang suami mempunyai gengsi cukup tinggi karena merasa sebagai lulusan sarjana. Ia tidak tertarik bekerja sebagai buruh atau kuli karena tidak ingin terlalu banyak diperintah. Harapannya justru ingin berdagang sendiri, tetapi mereka tidak mempunyai modal untuk memulai usaha.
Kesempatan kemudian datang dari adik ipar Mbak Tini yang disamarkan dengan nama Fahmi. Ia menawarkan pekerjaan di sebuah warung kopi di wilayah Purworejo, Jawa Tengah, dan mengatakan pemiliknya sedang mencari dua karyawan baru. Menurut cerita Fahmi, salah satu pekerja sebelumnya meninggal setelah sakit, sedangkan pekerja lain memilih berhenti. Mbak Tini dan suaminya akhirnya menerima tawaran tersebut dan menitipkan kedua anak mereka kepada ibu Mbak Tini.
Sesampainya di Jawa Tengah, mereka diperkenalkan kepada pemilik warung yang disamarkan dengan nama Pak Tejo. Warung tersebut mempunyai dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk berjualan, sedangkan lantai atas mempunyai dua kamar. Salah satunya dapat digunakan karyawan untuk beristirahat, sementara kamar lainnya merupakan ruangan khusus milik Pak Tejo yang tidak boleh dimasuki siapa pun.
Mbak Tini mendapat giliran bekerja pada pagi hari bersama Fahmi, sedangkan suaminya yang disamarkan dengan nama Dani bekerja pada malam hari bersama seorang karyawan bernama Riko. Warung tersebut ternyata hampir tidak pernah sepi pembeli. Sejak sekitar pukul lima pagi, para pedagang pasar sudah berdatangan membeli nasi uduk, gorengan, mi, dan kopi hingga para pekerja kerap kewalahan melayani pelanggan.
Pak Tejo memberikan gaji sekitar Rp80 ribu per hari untuk pekerja baru dan menjanjikan kenaikan menjadi Rp100 ribu setelah satu bulan. Makanan juga boleh dikonsumsi tanpa dipotong dari gaji, bahkan karyawan yang lembur mendapatkan tambahan uang. Pak Tejo sendiri hanya rutin datang setiap Kamis malam atau malam Jumat untuk mengambil setoran sekaligus membawa persediaan barang untuk satu minggu.
Setiap datang pada malam Jumat, Pak Tejo selalu masuk ke kamar terlarang di lantai atas. Dari luar, Mbak Tini pernah melihat ruangan tersebut hanya berisi tumpukan kardus kopi dan mi instan sehingga awalnya tidak merasa curiga. Namun pada suatu malam, ketika tertidur sendirian di kamar karyawan, ia seperti mendengar seseorang membangunkannya dan menyuruhnya turun ke lantai bawah.
Dalam keadaan antara sadar dan mengantuk, Mbak Tini turun dan mengaku melihat sosok perempuan berdiri di kamar mandi. Ketika pintunya dibuka, tidak ada siapa pun di dalam. Ia kemudian kembali tidur dan menganggap kejadian tersebut mungkin hanya akibat kelelahan. Akan tetapi, beberapa hari kemudian suaminya mulai mendengar suara perempuan tertawa dan menangis dari kamar khusus milik Pak Tejo.
Rasa penasaran membuat Dani mendekati kamar tersebut setelah Pak Tejo meninggalkannya. Menurut pengakuannya kepada Mbak Tini, suara perempuan masih terdengar dari dalam meskipun Pak Tejo telah keluar. Tidak lama kemudian Dani juga mengaku melihat perempuan di kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat panas dan ia memilih keluar dari warung untuk menenangkan diri bersama para pengemudi ojek di sekitar lokasi.
Pada malam itulah Dani menemukan gulungan uang sekitar Rp200 ribu di bawah tangga warung. Sebagian uang tersebut kemudian digunakannya membeli rokok. Tidak lama setelah menemukan dan menggunakan uang itu, tubuhnya mendadak terasa panas-dingin, menggigil, dan sangat lemas. Mbak Tini yang belum mengetahui adanya kejanggalan hanya menganggap suaminya terkena masuk angin karena terlalu lama berada di luar malam-malam.
Kondisi Dani semakin memburuk. Ia mulai mengalami muntah, sakit perut hebat, serta kesulitan berjalan. Suatu malam Mbak Tini mengantarnya ke kamar mandi dan terkejut ketika menurut kesaksiannya, urine yang keluar bercampur darah. Dani kemudian mengigau sambil mengatakan ada seorang perempuan berwajah menyeramkan dan berlumuran darah yang datang menemuinya.
Dalam mimpi dan penglihatan yang diceritakan kepada istrinya, perempuan tersebut terus meminta Dani mengembalikan uang yang telah diambilnya. Mbak Tini belum menghubungkan perkataan itu dengan gulungan uang Rp200 ribu yang ditemukan di bawah tangga. Ia lebih fokus merawat suaminya sambil tetap menggantikan jadwal kerja Dani agar mereka tidak kehilangan penghasilan.
Ketika Pak Tejo datang, Mbak Tini menceritakan kondisi suaminya. Sang pemilik warung memberikan uang untuk berobat dan meminta Fahmi menemani Dani ke dokter. Hasil pemeriksaan saat itu disebut tidak menemukan penyakit serius dan Dani hanya diberi obat lambung serta obat demam. Kondisinya sempat sedikit membaik, tetapi tubuhnya tetap lemah dan akhirnya ia pingsan ketika memaksakan diri kembali bekerja.
Gangguan kembali memburuk pada malam Jumat berikutnya ketika Pak Tejo datang membawa sebuah bungkusan menuju kamar khusus. Dari ruangan tersebut kembali terdengar suara seperti benturan, tangisan, dan tawa perempuan. Pada malam yang sama Dani kembali mengalami sakit perut hebat. Mbak Tini mengaku melihat darah ketika suaminya buang air kecil dan buang air besar, bahkan terdapat sesuatu menyerupai gumpalan jaringan yang membuatnya panik.
Dani kemudian dibawa ke IGD menggunakan mobil Pak Tejo. Menurut cerita Mbak Tini, pemeriksaan darah dan hasil laboratorium kembali dinyatakan tidak menunjukkan masalah yang dianggap menjelaskan kondisi suaminya. Setelah pulang, muncul keanehan lain ketika Dani tiba-tiba mempunyai nafsu makan sangat besar. Ia menghabiskan beberapa bungkus mi dan nasi dalam jumlah banyak tetapi masih mengatakan dirinya lapar.
Merasa keadaan semakin tidak masuk akal, Dani meminta istrinya berhenti bekerja dan kembali ke kampung halaman. Pak Tejo akhirnya mengizinkan mereka pulang, membayar gaji secara penuh, bahkan memberikan uang tambahan sekitar Rp2 juta. Dalam perjalanan, sopir mobil memutar lantunan Al-Qur’an. Dani mendadak gelisah, memukul kaca, mengeluh kepanasan, dan meminta suara tersebut dihentikan. Ketika diganti dengan musik dangdut, menurut Mbak Tini, suaminya justru kembali tenang.
Setelah tiba di rumah, kondisi Dani bukannya membaik tetapi semakin parah. Tubuhnya menjadi sangat kurus, wajahnya pucat, pergelangan tangan dan kakinya membengkak, sementara cara berjalannya terlihat tidak normal. Dani juga terus mengatakan perempuan yang pernah dilihatnya masih mengikuti mereka. Sosok tersebut disebut menagih uang yang ditemukan di warung dan mengancam Dani akan menjadi pengikutnya apabila uang itu tidak dikembalikan.
Keluarga akhirnya memanggil seorang kiai yang dianggap memahami persoalan spiritual. Setelah mendengar seluruh cerita, menurut kesaksian Mbak Tini, kiai tersebut menduga Dani telah menjadi sasaran tumbal setelah mengambil uang yang ditemukan di tempat kerja. Penjelasan itu membuat keluarga mengaitkan sakit Dani dengan dugaan praktik pesugihan di warung Pak Tejo, meskipun kesimpulan tersebut berasal dari penafsiran spiritual dan bukan hasil pembuktian medis.
Hari-hari berikutnya menjadi masa paling berat bagi Mbak Tini. Ia mengaku darah mulai keluar dari mulut, hidung, dan telinga suaminya hampir setiap hari. Dani semakin kehilangan kesadaran terhadap tubuhnya, bahkan tidak lagi menyadari ketika buang air kecil. Dalam kondisi lemah ia sempat mengatakan kepada istrinya bahwa dirinya sudah tidak merasakan apa-apa dan hanya meminta Mbak Tini menjaga anak-anak mereka karena ia merasa terus dipanggil oleh perempuan tersebut.
Pada malam menjelang kematiannya, keluarga mengaku mendengar suara ledakan keras di atas rumah disusul suara yang mereka gambarkan seperti kereta kencana. Dani kemudian mengatakan bahwa seseorang telah datang menjemputnya. Tidak lama setelah itu ia menutup mata dan mengembuskan napas terakhir di hadapan istri, anak-anak, serta keluarganya. Setelah pemakaman, Fahmi disebut melihat sosok perempuan berdiri di sudut rumah saat acara doa berlangsung. Keluarga kembali meminta pendapat seorang kiai, yang menghubungkan kematian Dani dengan uang Rp200 ribu yang pernah ditemukannya. Fahmi kemudian mengetahui bahwa sebelum Dani, terdapat pekerja lain yang juga meninggal setelah mengalami sakit dan Dani disebut sebagai korban ketiga. Ia akhirnya berhenti bekerja setelah melihat warung justru semakin ramai dan Pak Tejo dikabarkan membeli kendaraan serta rumah baru. Mbak Tini sendiri pernah bermimpi bertemu suaminya yang mengaku bekerja untuk seorang perempuan dan mendapat perlakuan kasar apabila tidak menuruti perintah. Dari pengalaman tersebut, Mbak Tini berpesan agar siapa pun lebih berhati-hati ketika menemukan uang atau benda asing di tempat yang tidak diketahui asalnya. Baginya, sesuatu yang terlihat seperti rezeki belum tentu membawa kebaikan, dan perjuangan memperbaiki ekonomi seharusnya tetap ditempuh melalui jalan yang aman dan benar.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
