Nunung tumbuh sebagai anak dari keluarga sederhana dengan tujuh bersaudara. Sejak kecil, ia sudah mempunyai cita-cita besar untuk menjadi penyanyi, artis, dan orang sukses. Di depan cermin, Nunung kecil kerap berpura-pura menerima piala sambil membayangkan dirinya berdiri di hadapan banyak orang. Impian itu kemudian benar-benar terwujud ketika namanya dikenal luas sebagai komedian dan memperoleh berbagai penghargaan sepanjang perjalanan kariernya.
Kehidupan keluarga Nunung juga cukup dekat dengan tradisi Kejawen. Menurut ceritanya, sang eyang merupakan penganut Kejawen, sementara ibunya masih mengenal sebagian tradisi tersebut meskipun anak-anak lebih diarahkan kepada pendidikan agama. Di rumah keluarga besarnya dahulu juga tersimpan sejumlah benda pusaka. Nunung bahkan mengingat pernah mendengar suara aneh dari tempat penyimpanan pusaka ketika benda tersebut terlambat dirawat.
Kedekatannya dengan hal-hal berbau mistis sudah terjadi sejak kecil karena rumah keluarganya berdekatan dengan area pemakaman besar. Sejak usia sekitar sembilan tahun, sepulang sekolah Nunung membawa sapu dan alat kebersihan menuju makam untuk mencari uang dengan membersihkan area makam orang yang hendak berziarah. Penghasilan sederhana tersebut digunakan untuk membantu orang tuanya membeli beras dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena terbiasa berada di pemakaman, Nunung kecil hampir tidak mengenal rasa takut terhadap kuburan. Ketika bermain petak umpet pada malam hari, ia justru sering memilih bersembunyi di antara makam hingga ketiduran. Ia juga pernah berjalan menuju makam eyangnya pada malam hari dan tidur di sana sampai pagi karena merasa rindu. Menjelang matahari terbit, Nunung mengaku pernah dibangunkan seorang nenek tua bertongkat yang kemudian menghilang ke arah rumpun bambu.
Perjuangan Nunung mencari uang tidak berhenti di pemakaman. Sejak usia sekitar sembilan tahun, ia sudah mulai bernyanyi bersama kelompok orkes gambus di Solo. Ketika beranjak remaja, ia semakin dekat dengan dunia Srimulat dan mulai memperoleh penghasilan dari panggung. Keinginannya membantu keluarga begitu besar hingga pendidikan formalnya tidak dilanjutkan karena Nunung memilih bekerja agar saudara-saudaranya tetap dapat sekolah.
Sekitar usia 16 tahun, Nunung mulai diarahkan menjadi pemain komedi di Srimulat. Awalnya ia menolak karena merasa tidak mampu melucu dan melihat para komedian senior di sekelilingnya sebagai orang-orang yang sangat hebat. Namun ketakutan kehilangan pekerjaan membuatnya menerima tantangan tersebut. Dari sinilah perjalanan panjang Nunung sebagai komedian perlahan dimulai hingga namanya kelak dikenal masyarakat Indonesia.
Pada masa mudanya di lingkungan Srimulat, Nunung mengaku pernah memasang susuk. Ia mengatakan saat itu tidak benar-benar memahami tujuan maupun konsekuensi pemasangan benda tersebut. Ketika sedang berkumpul bersama beberapa orang yang menjalani pemasangan susuk, seorang tua menawarkan hal yang sama kepadanya. Karena melihat orang lain melakukannya dan mempunyai uang untuk membayar, Nunung akhirnya ikut mencoba.
Nunung mengingat proses tersebut hanya menimbulkan sensasi seperti jarum sangat kecil yang ditempelkan di bagian wajah dan terasa dingin sebelum menghilang. Ia kemudian mendengar terdapat berbagai pantangan seperti tidak memakan kolang-kaling, pisang emas, dan daun kelor. Namun karena tidak pernah diberi tahu sejak awal, Nunung justru sering mengonsumsi makanan-makanan tersebut dan tidak mengetahui apakah susuk itu masih bertahan atau sudah terlepas.
Menariknya, Nunung merasa tidak pernah mengalami perubahan berarti setelah memasang susuk. Penghasilan maupun popularitasnya saat itu tetap berjalan seperti biasa. Beberapa tahun kemudian, ketika menghadiri sebuah kegiatan keagamaan, seorang ustaz disebut mengetahui bahwa dirinya pernah memasang sesuatu. Nunung kemudian mengakuinya dan bersedia menjalani proses pelepasan dengan berwudu, salat, dan didoakan.
Setelah susuk tersebut dinyatakan sudah tidak ada, Nunung justru merasa kariernya semakin berkembang seiring munculnya televisi dan kesempatan kerja yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa keberhasilannya bukan karena susuk, melainkan karena pekerjaan, kemampuan, pengalaman, serta kesempatan yang diperolehnya. Bahkan menurut Nunung, ketika masih muda tanpa susuk pun sudah banyak pria yang tertarik kepadanya sehingga ia sendiri tidak memahami manfaat benda tersebut.
Di balik perjalanan kariernya, Nunung mengaku mempunyai kepekaan terhadap suasana tertentu. Saat bekerja di luar kota dan menginap di hotel, ia terkadang langsung merasa tidak nyaman begitu memasuki sebuah kamar. Jika perasaan itu muncul, Nunung biasanya meminta pindah. Dalam salah satu pengalamannya di luar Pulau Jawa, ia bersama adiknya mengaku melihat sosok perempuan berpakaian putih dengan rambut panjang berdiri di balik tirai kamar hotel.
Pengalaman lain terjadi di sebuah hotel di Jawa Tengah. Ketika baru berbaring dan belum benar-benar tertidur, Nunung mengaku melihat sosok anak kecil mengenakan seragam sekolah merah putih duduk di sudut tempat tidur sambil terdengar seperti menangis. Ia langsung meminta pindah kamar, tetapi kembali merasa mengalami gangguan serupa. Pada akhirnya Nunung memilih berwudu, salat, dan mendoakan sosok yang menurut penglihatannya muncul tersebut.
Salah satu pengalaman yang paling membuatnya ketakutan terjadi ketika kariernya sedang jatuh dan dirinya sempat keluar dari Srimulat. Saat itu Nunung sedang tidak mempunyai banyak pekerjaan tetapi tetap harus menanggung kebutuhan keluarga. Dalam kondisi putus asa di rumah, ia mengaku melihat sosok laki-laki sangat tinggi di dekat jendela dan berulang kali mendengar suara seperti mengatakan “tali ban”. Ketakutan membuatnya meninggalkan rumah dan bahkan tidur di tenda bersama adik-adiknya di depan rumah sang ibu.
Ibunya kemudian membawa Nunung menemui seorang ustaz. Dari pertemuan tersebut, ia mendapat nasihat agar kembali memperbaiki salat dan tidak menghadapi masalah hidup dengan keputusasaan. Nunung mulai menjalankan salat dengan lebih tekun, termasuk bangun malam untuk tahajud. Perlahan gangguan yang dirasakannya menghilang dan ia kembali membangun kehidupannya. Sejak saat itu, ketika mengalami masalah, Nunung mengatakan dirinya lebih memilih mendekat kepada Tuhan.
Peranan sang ibu sangat besar dalam kehidupan Nunung. Selama bertahun-tahun, ibunya menjadi tempat pertama yang dituju ketika ia mempunyai masalah. Karena itu, kehilangan sang ibu membuat Nunung merasa seperti kehilangan separuh hidupnya. Sekitar 40 hari setelah ibunya meninggal, Nunung membawa keluarga berlibur agar kesedihan sedikit berkurang. Di tempat tersebut, ia mengaku mengalami pengalaman antara tidur dan terjaga dengan melihat ibunya berdiri di dekat kamar bersama sosok lain hingga membuatnya meminta pulang malam itu juga.
Perjalanan hidup Nunung kemudian membawanya ke puncak kesuksesan. Ia menggambarkan suatu masa ketika pekerjaan datang begitu deras hingga membeli kendaraan terasa sangat mudah. Namun Nunung juga secara terbuka mengakui pernah melakukan kesalahan ketika hidup berada di atas. Setelah menghadapi persoalan hukum dan menjalani rehabilitasi, ia kemudian melewati pandemi COVID-19 tanpa banyak pekerjaan, disusul kanker dan operasi mata. Aset yang dahulu dimilikinya pun banyak yang hilang hingga ia merasa kembali berada di titik nol.
Dalam masa sulit tersebut, Nunung mengaku pernah mendapatkan tawaran dari orang-orang untuk mencari kekayaan melalui jalan pesugihan. Ada yang menyebut lokasi tertentu seperti gua maupun kawasan pantai selatan. Namun semua tawaran itu ditolaknya. Nunung mengatakan dirinya takut karena meyakini jalan mendapatkan kekayaan secara instan akan membawa konsekuensi dan ia tidak bersedia mengorbankan siapa pun, terlebih anggota keluarganya sendiri.
Untuk kembali bangkit, Nunung memilih bekerja dan merintis usaha. Sekitar 2025, ia membuka usaha kuliner di Solo dengan melibatkan anggota keluarganya yang mempunyai kemampuan memasak. Pada awal pembukaan, rumah makan tersebut sangat ramai dan viral. Menurut Nunung, penghasilannya bahkan sempat mencapai puluhan juta rupiah dalam sehari dan modal usaha dapat kembali dalam waktu relatif singkat.
Namun setelah sekitar lima sampai enam bulan, jumlah pelanggan tiba-tiba turun drastis. Beberapa orang bahkan mengatakan mengira restoran tersebut tutup meskipun setiap hari tetap beroperasi. Anggota keluarga kemudian menemukan benda berupa kain putih, tanah, dan sesuatu yang bentuknya dianggap menyerupai pocong di beberapa titik. Keluarganya sempat meminta pendapat orang yang dianggap memahami persoalan spiritual, tetapi Nunung memilih tidak mencari siapa yang mungkin melakukannya. Ia meminta benda-benda tersebut dibuang dan dibakar, kemudian memilih pindah lokasi setelah masa kontrak berakhir. Di tempat baru, usaha tersebut menurutnya kembali berjalan lebih lancar.
Belum lama sebelum wawancara, Nunung kembali mengalami kejadian yang menurutnya sangat nyata. Saat sedang tidak sehat di Solo, ia merasa seperti berada di tepi laut dan didatangi tiga laki-laki yang kemudian membawanya melihat sebuah rumah putih besar. Dari rumah tersebut muncul sejumlah sahabat Srimulat yang telah meninggal, termasuk beberapa nama yang sangat dikenalnya, mengenakan pakaian putih dan terlihat bergembira. Nunung merasa ketakutan, menangis, dan terus meminta dikembalikan. Dalam kondisi nyata, keluarganya mendapati Nunung tidak sadarkan diri dan membawanya ke rumah sakit hingga beberapa jam kemudian ia kembali sadar.
Nunung juga mengenang pengalaman ketika menjalankan umrah. Saat berusaha mendekati Hajar Aswad, ia melihat seorang nenek tua yang menurut penglihatannya membutuhkan pertolongan sebelum sosok tersebut tiba-tiba menghilang. Di Masjid Nabawi, Nunung juga pernah memperhatikan kondisi kaki seseorang ketika sedang salat, lalu keesokan harinya dirinya mengalami masalah pada kaki hingga kesulitan berjalan. Setelah berdoa dan memohon ampun, kondisinya berangsur membaik. Dari berbagai pengalaman hidup, susuk, pertemuan dengan hal-hal yang dianggap ghaib, jatuhnya karier, hilangnya kekayaan, hingga tawaran pesugihan, Nunung memilih satu kesimpulan: keberhasilan sebaiknya diperjuangkan melalui kerja dan proses. Baginya, hidup memang memiliki masa jatuh dan bangun, tetapi jalan instan bukanlah pilihan ketika harga yang harus dibayar dapat jauh lebih besar daripada kekayaan yang diperoleh.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
