Pada 2019, Mbak Siti sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak, sementara dirinya sedang mengandung anak kedua dengan usia kehamilan sekitar dua bulan. Suaminya yang disamarkan dengan nama Mas Yuda bekerja sebagai penjual siomay keliling, sedangkan seluruh proses produksinya dikerjakan Mbak Siti di rumah mertua. Karena dapur terasa sempit dan mereka ingin hidup lebih mandiri, pasangan tersebut memutuskan mencari kontrakan.
Tidak lama kemudian, Mas Yuda menemukan sebuah kontrakan dengan enam pintu yang salah satu unitnya sedang kosong. Setelah melihat kondisi tempat tersebut, Mbak Siti merasa lingkungan itu cukup nyaman untuk keluarga dan jauh dari jalan besar. Mereka menyewa kontrakan dengan biaya sekitar Rp350 ribu per bulan, lalu mulai berkenalan dengan para tetangga, termasuk seorang pemilik warung yang namanya disamarkan menjadi Bu Maryani.
Mbak Siti cukup sering berbelanja di warung Bu Maryani. Ketika bahan produksi seperti tepung, aci, atau minyak habis, ia terkadang mengambil barang terlebih dahulu dan membayarnya setiap minggu. Hubungan kedua keluarga awalnya berjalan baik hingga sekitar tiga bulan kemudian, suami Bu Maryani yang disamarkan sebagai Pak Budi mengajak Mas Yuda bekerja sama dalam bisnis jual beli sepeda motor bekas.
Dalam kerja sama tersebut, Pak Budi menyediakan seluruh modal sedangkan Mas Yuda bertugas mencari unit motor melalui marketplace. Keuntungan disepakati dibagi rata 50:50. Usaha itu berkembang cukup baik dan dalam sebulan mereka bisa menjual beberapa unit. Bersamaan dengan itu, usaha siomay keluarga Mbak Siti juga sedang meningkat hingga pendapatannya disebut dapat mencapai ratusan ribu rupiah per hari.
Perselisihan mulai muncul setelah Bu Maryani mengetahui Mas Yuda menerima bagian keuntungan sekitar Rp400 ribu dari salah satu transaksi motor. Menurut cerita yang kemudian diterima Mbak Siti, Bu Maryani merasa heran karena dirinya hanya menerima Rp100 ribu dari Pak Budi. Tidak lama kemudian, Bu Maryani mendadak menagih utang belanja Mbak Siti dan mengatakan jumlahnya mencapai Rp300 ribu, sedangkan catatan Mbak Siti hanya menunjukkan sekitar Rp150 ribu.
Perbedaan catatan tersebut memicu pertengkaran di depan para tetangga. Mas Yuda mencoba datang ke warung untuk menjelaskan persoalan, tetapi cekcok semakin besar hingga menurut kesaksian Mbak Siti, suaminya kemudian dikeroyok oleh beberapa anggota keluarga Bu Maryani. Untuk mengakhiri konflik, Mas Yuda meminta istrinya membayar Rp300 ribu tersebut meskipun mereka merasa jumlahnya tidak sesuai dengan catatan mereka.
Setelah uang dibayarkan, Mas Yuda meminta keluarganya tidak lagi berbelanja di warung Bu Maryani. Seorang tetangga kemudian menceritakan bahwa Bu Maryani sebelumnya mempertanyakan pembagian keuntungan bisnis motor antara Pak Budi dan Mas Yuda. Mbak Siti juga mendengar bahwa ketika usaha siomay mereka sedang ramai, Bu Maryani pernah mengatakan bahwa keberhasilan tersebut kemungkinan menggunakan “penglaris”, tuduhan yang dibantah keras oleh Mbak Siti.
Sekitar satu minggu setelah pertengkaran, suasana di sekitar kontrakan mulai terasa berbeda menurut Mbak Siti. Beberapa bagian lingkungan terlihat sangat gelap dan sunyi setelah Magrib meskipun masih terdapat penghuni di dalam rumah. Pada malam lain, ia mencium aroma seperti kentang goreng dari arah rumah Bu Maryani. Ketika mencari sumber bau, Mbak Siti mengaku melihat sosok hitam bertubuh sangat besar dan bermata merah berlari masuk menuju rumah tersebut.
Beberapa hari kemudian, rumah Mbak Siti dipenuhi aroma seperti kabel terbakar meskipun seluruh sakelar dan colokan telah diperiksa tanpa menemukan sumber masalah. Suhu di dalam kontrakan juga tiba-tiba terasa sangat panas sementara udara di luar justru sejuk. Kejadian semakin membuat keluarga khawatir ketika sebuah korek gas yang tergeletak di dekat jendela mendadak meledak dan mengeluarkan api meskipun menurut Mbak Siti tidak sedang digunakan.
Setelah anak keduanya lahir pada 2020, sang bayi mulai sering menangis dan terlihat takut ketika dibawa masuk ke dalam rumah. Suatu malam ketika Mbak Siti sedang membersihkan kamar, ia mengangkat topi anak yang tergeletak di dekat kasur dan menemukan seekor ular melingkar di bawahnya. Suami serta tetangga kemudian menangkap ular tersebut dan memutuskan membakarnya karena khawatir hewan itu berbahaya.
Tetangga meminta mereka menunggu sampai pembakaran benar-benar selesai untuk melihat sisa tulang atau sisiknya. Namun menurut kesaksian Mbak Siti, setelah api padam mereka hanya menemukan abu kertas tanpa sisa tubuh ular. Pada saat yang sama, Mbak Siti kembali mengaku melihat sosok hitam besar memasuki rumah Bu Maryani. Beberapa jam kemudian terdengar benturan keras dari atap, lalu Mas Yuda mengaku melihat sesuatu menyerupai bola api melompat dan terbang dari atas rumah.
Gangguan berikutnya berupa ketukan di pintu pada tengah malam yang disertai suara seperti seseorang menangis. Mas Yuda melarang istrinya membuka pintu karena tidak mendengar suara langkah kaki di luar. Tidak lama setelah rangkaian kejadian tersebut, anak kedua mereka mulai mengalami demam tinggi yang selalu meningkat sejak sore hingga malam hari.
Mbak Siti membawa anaknya ke dua puskesmas berbeda dan awalnya mendapatkan penjelasan bahwa kondisi tersebut hanya demam biasa. Namun panas tidak kunjung turun dan sang anak mulai terlihat lemas serta beberapa kali tidak memberikan respons ketika dipanggil. Ketika akhirnya diperiksa seorang bidan, Mbak Siti diberi tahu bahwa anaknya mengalami dehidrasi berat dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit, anak tersebut kemudian menjalani rawat inap dan menurut Mbak Siti juga sempat didiagnosis mengalami DBD dengan kondisi darah yang rendah.
Saat menjalani perawatan, anaknya tiba-tiba terus berkata bahwa dirinya takut sambil melihat ke arah atas. Pada hari yang sama, Mas Yuda yang datang ke rumah sakit ikut mengalami demam hingga dokter menyarankan rawat inap, meskipun ia memilih rawat jalan karena harus membantu menjaga keluarga. Mbak Siti akhirnya meminta bantuan kakak iparnya karena dalam waktu bersamaan ia harus menghadapi anak dan suaminya yang sama-sama sakit.
Kakak iparnya datang bersama seorang teman yang dianggap memahami persoalan spiritual. Menurut kesaksian Mbak Siti, pria tersebut memberikan air yang telah didoakan dan mengatakan bahwa “sukma” sang anak seperti dibawa oleh sesuatu yang dilihatnya. Ia juga mengatakan anak tersebut akan membaik keesokan harinya. Mbak Siti awalnya tidak percaya karena dokter sebelumnya mengatakan proses perawatan masih panjang, tetapi esok hari dokter justru mengizinkan anaknya pulang setelah kondisinya mengalami perbaikan.
Setibanya kembali di kontrakan, Mbak Siti meluapkan kemarahannya karena merasa berbagai kejadian yang menimpa keluarga sudah tidak wajar. Seorang tetangga yang disamarkan sebagai Mbak Tika kemudian menanyakan konflik mereka dengan Bu Maryani dan kembali menceritakan tuduhan mengenai penggunaan penglaris. Mbak Siti tetap menegaskan bahwa usaha siomainya dijalankan secara biasa tanpa praktik apa pun seperti yang dituduhkan.
Sekitar satu minggu setelah kondisi anak membaik, giliran Mbak Siti mengalami sakit perut sangat hebat hingga kesulitan beraktivitas. Teman kakak iparnya kembali datang dan ketika memegang tangannya, seorang anak kecil yang kebetulan berada di sekitar lokasi mengaku melihat bayangan hitam keluar dari tubuh Mbak Siti. Karena rasa sakit semakin berat, Mbak Siti akhirnya dibawa ke IGD. Dokter menduga terjadi peradangan pada bagian usus dan ia kemudian menjalani operasi serta dirawat selama beberapa hari.
Ketika pulang dari rumah sakit dalam keadaan masih harus dipapah, Mbak Siti mengaku melihat Bu Maryani dan Pak Budi tersenyum dari kejauhan. Seorang tetangga kemudian mengatakan bahwa Bu Maryani sempat melontarkan perkataan bernada puas melihat kondisinya, meskipun informasi tersebut diperoleh Mbak Siti dari cerita orang lain. Situasi itu semakin membuatnya bertanya-tanya apakah pertengkaran sebelumnya mempunyai hubungan dengan berbagai musibah yang dialami keluarganya.
Teman kakak ipar Mbak Siti kemudian kembali datang dan memeriksa area kontrakan. Setelah cukup lama berada di depan rumah dan berkeliling, ia mengatakan merasakan kejanggalan serta menunjukkan sebuah titik di dekat tempat ular sebelumnya ditemukan. Menurut penafsirannya terdapat sebuah “buhul” dan keluarga Mbak Siti sedang terkena sesuatu yang disebut “tenung gantung”, yang ia gambarkan sebagai kiriman untuk membuat seluruh anggota keluarga sakit sebelum akhirnya meninggal. Penjelasan tersebut merupakan kesimpulan spiritual dari orang tersebut dan tidak dapat dipastikan secara medis maupun faktual.
Sebagai bagian dari penanganan yang mereka yakini, Mas Yuda diminta membeli bunga tujuh rupa. Mbak Siti, suami, dan anak-anak kemudian menjalani pembersihan menggunakan air bunga selama beberapa hari serta proses rukiah. Dalam kesaksiannya, Mbak Siti merasa tubuhnya sangat panas, pusing, mual, dan kemudian muntah ketika proses berlangsung. Setelah itu, mereka disarankan meninggalkan kontrakan agar tidak terus mengalami gangguan.
Mbak Siti dan keluarganya akhirnya pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah mertua. Menurut cerita seorang tetangga, Bu Maryani sempat mengatakan dirinya merasa menang setelah keluarga Mbak Siti pergi. Namun sekitar satu bulan kemudian, Mbak Siti mendapat kabar bahwa Bu Maryani dan Pak Budi mulai sering sakit, usaha warung mereka merosot, stok barang semakin sedikit, dan beberapa aset disebut ikut dijual. Mbak Siti sendiri tidak mengetahui siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas berbagai kejadian yang dialaminya dan tidak mempunyai bukti bahwa keluarga Bu Maryani melakukan santet. Setelah pindah, kondisi keluarganya perlahan membaik dan usaha kembali berjalan. Dari pengalaman tersebut, ia berpesan agar persoalan bisnis dan pembagian keuntungan dibicarakan sejelas mungkin sejak awal serta tidak mudah mencampurkan hubungan tetangga dengan urusan uang karena gesekan kecil dapat berkembang menjadi konflik yang jauh lebih besar.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
