Pada awal 2020, ketika pandemi COVID-19 membuat aktivitas masyarakat sangat terbatas, Kang Ari mempunyai lebih banyak waktu untuk kembali menjalani perjalanan spiritual yang pernah ia lakukan sejak masa muda. Sebelumnya, kegiatan tersebut sempat berhenti sejak sekitar 1997 karena kesibukan sehari-hari. Dalam masa pembatasan sosial, ia mulai rutin beriktikaf, berzikir, dan berwirid di beberapa masjid di wilayah Cirebon.
Di salah satu masjid bersejarah, Kang Ari berkenalan dengan tiga orang yang kemudian disamarkan dengan nama Adik, Dedy, dan Doni. Mereka sama-sama sering datang untuk beriktikaf sehingga hubungan keempatnya semakin dekat. Dari sekadar berbincang mengenai pengalaman spiritual, obrolan mereka perlahan berkembang menjadi cerita mengenai persoalan hidup dan tekanan ekonomi yang sedang dihadapi masing-masing.
Doni mengaku usaha dagangnya sedang lesu sementara modal yang digunakan berasal dari pinjaman. Dedy yang biasa berjualan perabotan di pasar malam juga mengalami kesulitan karena berbagai kegiatan dibatasi selama pandemi. Adik pun menghadapi masalah serupa dalam pekerjaannya. Kondisi tersebut membuat ketiganya berharap menemukan ketenangan sekaligus jalan keluar dari persoalan ekonomi.
Adik kemudian mengusulkan agar mereka melakukan tirakat di Bukit Plangon, Cirebon. Ia merasa lokasi tersebut lebih tenang dibandingkan masjid karena jauh dari keramaian. Kang Ari setuju karena sudah mengenal kuncen di lokasi tersebut sejak beberapa tahun sebelumnya. Setelah menunda keberangkatan sekitar satu bulan, mereka akhirnya berangkat berempat menggunakan sepeda motor dengan rencana menjalani tirakat selama tiga hari tiga malam.
Sesampainya di Plangon, mereka meminta izin kepada kuncen sebelum naik menuju area petilasan. Perjalanan ke atas harus melewati ratusan anak tangga yang dikelilingi hutan dan banyak kera. Menjelang Magrib, mereka tiba di area makam, beristirahat, kemudian menjalankan salat berjamaah, tawasul, serta wirid yang dipimpin oleh kuncen.
Pada malam pertama, kuncen memberikan sebuah peringatan penting. Mereka dilarang naik lebih jauh dari area makam dan terutama tidak boleh melakukan doa atau ritual di bawah sebuah pohon besar. Menurut cerita kuncen, beberapa orang sebelumnya pernah melanggar larangan tersebut hingga mengalami kejadian yang tidak terkendali. Kang Ari mengingat peringatan itu dan berjanji tidak akan mendekati lokasi terlarang.
Setelah kuncen turun meninggalkan mereka sementara waktu, Kang Ari bersama ketiga temannya melanjutkan wirid di dalam area makam. Karena kelelahan, Kang Ari sempat tertidur. Ketika terbangun sekitar tengah malam, suasana di dalam terasa terlalu sunyi. Setelah menyalakan lampu dari telepon genggam, ia terkejut karena Adik, Dedy, dan Doni sudah tidak berada di tempat.
Kang Ari langsung teringat larangan kuncen dan mencoba mencari mereka menuju arah pohon besar. Menurut kesaksiannya, ia menemukan ketiga temannya sedang duduk bersama seorang laki-laki yang tidak dikenalnya mengelilingi pohon sambil membawa perlengkapan ritual. Di dekat mereka, Kang Ari mengaku melihat sosok hitam sangat tinggi, berbulu lebat, dengan mata merah yang menatap langsung ke arahnya. Ketakutan membuatnya segera kembali ke area makam.
Tidak lama setelah kuncen datang kembali, terdengar Adik berteriak meminta pertolongan. Menurut ceritanya, Dedy mengalami kondisi seperti kerasukan dan berteriak tidak terkendali di dekat pohon tersebut. Kuncen sempat marah karena larangan yang diberikan telah dilanggar, tetapi setelah diminta Kang Ari akhirnya bersedia membantu. Dedy ditemukan terkapar dan kemudian dibawa turun untuk didoakan hingga perlahan sadar.
Saat keadaan mulai tenang, mereka baru menyadari Doni telah menghilang. Keesokan paginya, kuncen mengaku sempat melihat seseorang menyerupai Doni berada di dekat sungai tanpa mengenakan pakaian. Kang Ari bersama Adik dan kuncen kemudian mencarinya, tetapi tidak menemukan Doni. Mereka hanya menemukan satu set pakaian yang diyakini sebagai pakaian Doni tergeletak di semak-semak sekitar sepuluh meter dari lokasi pencarian.
Meskipun satu temannya belum ditemukan, tirakat masih berlanjut. Pada malam kedua, kuncen kembali memperingatkan Adik dan Dedy agar tidak naik ke pohon terlarang. Namun setelah Kang Ari kembali tertidur sebentar, keduanya sekali lagi menghilang dari area makam. Saat dicari, menurut kesaksian Kang Ari, mereka kembali berada di bawah pohon bersama seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Pengalaman malam kedua dianggap jauh lebih menyeramkan. Selain sosok besar berbulu yang kembali terlihat, Kang Ari mengaku melihat ratusan sosok menyerupai kera mengelilingi Adik, Dedy, dan pohon tersebut. Ia tidak berani mendekat dan memilih kembali ke makam. Tak lama kemudian Adik kembali berteriak meminta bantuan karena Dedy mengalami kondisi lebih parah, berteriak seperti kehilangan kesadaran dan hampir melepas pakaiannya.
Dedy kembali dibawa turun dan kondisinya perlahan pulih setelah didoakan. Pada pagi berikutnya, Kang Ari mengaku bermimpi didatangi seorang lelaki tua berpakaian putih yang menyuruhnya pulang dan mengatakan bahwa hidupnya kelak akan mengalami peningkatan. Adik dan Dedy kemudian memutuskan meninggalkan Plangon lebih dahulu karena kondisi Dedy masih lemah, sementara Kang Ari menyelesaikan sisa tirakat sebelum akhirnya ikut pulang.
Sekitar dua bulan kemudian, Kang Ari bertemu kembali dengan Dedy di sebuah masjid. Kondisi Dedy terlihat berbeda dan ia mengaku terus mengalami gangguan, terutama menjelang malam Jumat. Menurut ceritanya, sosok tinggi besar bermata merah yang terlihat di Plangon kerap muncul di dalam kamar dan seperti hendak mencekiknya. Bahkan ketika hendak berwudu menjelang Subuh, Dedy mengaku beberapa kali melihat sosok tersebut berada di sekitar kamar mandi.
Berbeda dengan Dedy, keadaan ekonomi Adik justru berubah sangat cepat. Ketika Kang Ari bertemu dengannya, Adik yang sebelumnya datang menggunakan sepeda motor kini sudah membawa mobil dan berpenampilan jauh lebih mapan. Adik mengatakan pekerjaan yang dijalaninya mendadak memberikan banyak keuntungan, mulai dari mengelola sawah hingga menjadi perantara jual beli tanah. Dalam waktu sekitar satu bulan, menurut Kang Ari, Adik bahkan mampu membeli mobil, memperbesar rumah, dan membantu menyediakan rumah bagi anak-anaknya.
Kang Ari kemudian diajak mengunjungi rumah Adik di Majalengka. Di halaman belakang rumah tersebut terdapat sebuah kandang yang awalnya dikira kandang ayam. Namun di dalamnya justru terdapat seekor kera berwarna kelabu kehitaman. Kang Ari mengaku merasa tidak nyaman karena mata hewan itu beberapa kali terlihat berubah kemerahan ketika diperhatikannya.
Setelah memastikan istrinya tidak berada di sekitar mereka, Adik mengaku bahwa kera tersebut dibawa dari Plangon. Menurut cerita Adik, seorang lelaki tua yang ditemuinya ketika melakukan ritual mengatakan bahwa apabila ingin memperoleh keberhasilan, ia harus membawa salah satu binatang dari tempat tersebut untuk dipelihara. Adik juga mengaku mempunyai kewajiban kembali ke Plangon setiap malam Jumat Kliwon dengan membawa kembang tujuh rupa, dupa, dan ayam sebagai persembahan.
Kang Ari memperingatkan Adik agar tidak melanggar kesepakatan yang telah dibuatnya. Mereka kemudian mendatangi Dedy dan mencoba membawanya kepada seseorang yang dianggap memahami persoalan spiritual. Namun menurut kesaksian Kang Ari, orang tersebut mengatakan tidak sanggup memutus gangguan karena ritual yang dilakukan Dedy dianggap sudah terlalu berbahaya dan memiliki ikatan yang sulit dilepaskan.
Beberapa bulan kemudian, Adik menghubungi Kang Ari dan mengaku pernah melewatkan satu malam Jumat Kliwon tanpa menjalankan kewajibannya. Setelah pelanggaran kedua, keadaan Adik berubah drastis. Tubuhnya mulai sakit, gangguan semakin sering terjadi, mobilnya dijual, dan kondisi ekonominya perlahan merosot. Pada Februari 2021, Kang Ari menerima kabar dari nomor Adik bahwa sahabatnya tersebut telah meninggal dunia.
Kang Ari kemudian mendatangi Dedy yang saat itu sudah terbaring lemah dan kesadarannya mulai menurun. Setelah itu ia mencari Doni ke rumah keluarganya. Istri Doni mengatakan suaminya pergi untuk beriktikaf sejak sekitar Juli 2020 dan tidak pernah kembali hingga saat itu. Beberapa bulan kemudian, pada Juni 2021, Kang Ari kembali menerima kabar duka bahwa Dedy juga meninggal dunia. Doni sendiri menurut cerita tersebut tetap tidak diketahui keberadaannya.
Pada September 2021, Kang Ari mengaku memperoleh kenaikan jabatan di tempat kerjanya. Ketika kembali berziarah ke Plangon dalam sebuah kegiatan pada Februari 2022, ia teringat mimpi yang dialaminya setelah tirakat dahulu. Kang Ari meyakini perbedaan nasib antara dirinya dan ketiga sahabatnya berkaitan dengan perbedaan niat ketika berada di tempat tersebut: ia mengaku hanya ingin mencari ketenangan dan berdoa kepada Allah, sementara dirinya tidak mengetahui secara pasti apa yang diminta ketiga temannya dalam ritual di bawah pohon. Dari pengalaman itu, Kang Ari berpesan agar perjalanan spiritual tidak diarahkan kepada pencarian kekayaan melalui jalan yang dianggap menyimpang. Menurutnya, seseorang yang sedang tertekan masalah ekonomi sebaiknya tidak mudah tergoda cerita mengenai kekayaan instan karena hasil yang terlihat cepat belum tentu berakhir dengan keselamatan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
