Sejak sekitar tahun 2000, Bang Adul mengaku hidup dalam kondisi ekonomi keluarga yang sangat sederhana. Dengan kondisi fisiknya, ia sering memikirkan masa depan dan bertanya-tanya apakah dirinya mampu membanggakan orang tua. Karena rumahnya dekat masjid, Adul kerap menghabiskan malam dengan duduk atau berbaring di sekitar gerbang masjid sambil memikirkan pekerjaan dan jalan hidup yang harus ditempuh.
Jauh sebelum dikenal sebagai pelawak, Adul juga mempunyai pengalaman masa kecil yang menurut cerita keluarganya hampir merenggut nyawa. Ia pernah ditemukan tenggelam di sebuah rawa ketika masih kecil hingga hanya bagian kepala dan rambutnya yang terlihat di permukaan air. Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membuatnya semakin bertekad mencari pekerjaan dan mengubah keadaan keluarganya.
Dengan membawa uang seadanya, Adul pernah mengayuh sepeda menuju tempat kakaknya tinggal. Di sana ia mengetahui terdapat kantor kelompok lawak Bagito di dekat tempat kerja kakak iparnya. Karena sangat ingin masuk dunia hiburan, Adul memberanikan diri datang dan mengatakan secara langsung bahwa dirinya ingin ikut melawak. Kesempatan ternyata datang dengan cepat karena tidak lama kemudian ia diajak menjadi figuran dalam sebuah produksi televisi.
Dari lingkungan Bagito pula nama Abdul Latif kemudian dipersingkat menjadi Adul agar lebih mudah diingat. Kesempatan tampil semakin sering datang dan ia mulai belajar melawak dari para senior. Namun sebelum kariernya berkembang, Adul mengaku pernah menjalani laku spiritual secara mandiri berupa puasa pada hari Senin dan Kamis dalam beberapa pekan, disertai salat malam dan wirid yang ia sendiri kini tidak lagi mengingat secara lengkap.
Selama menjalani puasa tersebut, Adul mengaku mengalami berbagai kejadian yang membuatnya ketakutan. Ia pernah melihat sosok menyeramkan ketika sedang menjalankan ibadah malam hingga memilih tidur di kolong karena takut. Pada kesempatan lain, ia melihat sosok yang menyerupai kakaknya berjalan menuju dapur, padahal sang kakak disebut sudah berangkat bekerja dan pintu rumah telah dikunci dari luar.
Adul menuturkan bahwa setelah menjalani rangkaian puasa dan wirid itu, dirinya merasa semakin sensitif terhadap hal-hal yang dianggap ghaib. Ketika tinggal di wilayah Sawangan, ia pernah melihat sosok menyerupai pocong di dekat pohon jambu dan bahkan melemparinya karena merasa kesal. Keesokan harinya, ayahnya meninggal dunia. Adul sempat menghubungkan dua kejadian tersebut dalam pikirannya, meskipun ia sendiri tidak mengetahui apakah keduanya benar-benar berkaitan.
Karier Adul kemudian perlahan meningkat. Dari Bagito ia berpindah ke berbagai program televisi dan akhirnya bertemu Komeng, yang kemudian menjadi salah satu rekan panggung terdekatnya. Adul menggambarkan hubungan mereka seperti adik dan kakak karena sering bekerja dan bepergian bersama. Di tengah aktivitas sebagai artis, sekitar 2010 ia mulai serius menekuni hobi memancing.
Awalnya kegiatan memancing hanya dilakukan seminggu sekali bersama teman. Setelah tinggal di kawasan yang memiliki banyak kolam pemancingan, Adul mulai belajar meracik umpan sendiri hingga berkali-kali gagal. Semakin lama ia semakin mengenal lingkungan pemancingan kompetitif dan menyadari bahwa di balik perlombaan dengan hadiah besar terdapat berbagai kepercayaan mengenai ritual, benda bertuah, hingga praktik spiritual yang diyakini sebagian pemancing dapat membantu memperoleh ikan.
Adul kemudian dekat dengan seorang pemancing yang namanya disamarkan sebagai Cuplis. Menurut Adul, pria tersebut hampir selalu mendapatkan juara dalam berbagai perlombaan. Karena penasaran, Adul beberapa kali ikut mendatangi guru spiritual Cuplis sebelum perlombaan. Di tempat itu ia melihat ritual yang menggunakan rokok, menyan, serta bacaan tertentu sebelum sepasang joran digunakan untuk memancing.
Joran tersebut dipercaya mempunyai “isian” dan menurut pengalaman Adul memang sering membantunya mendapatkan hasil bagus dalam perlombaan. Namun suatu kali keadaan justru berbalik. Setelah menggunakan joran tersebut, Adul mengaku mengalami kondisi seperti kesambet dan tidak mampu bangun selama sekitar tiga hari meskipun masih merasa sadar. Keluarganya akhirnya memanggil seorang ustaz yang kemudian memberikan air serta menasihatinya agar meninggalkan praktik yang dianggap bertentangan dengan keyakinannya.
Setelah berhenti memberikan ritual yang biasa dilakukan pada joran, Adul mengaku benda tersebut justru bergerak sendiri pada malam hari dan seperti menuntut kembali diberi persembahan. Istri serta anggota keluarganya disebut turut menyaksikan kejadian tersebut. Karena takut dampaknya mengenai keluarga, Adul akhirnya menjual joran itu dengan harga murah dan mulai menjauh dari kebiasaan mengisi perlengkapan memancing dengan sesuatu yang dikaitkan dengan makhluk ghaib.
Meski demikian, rasa penasaran Adul terhadap dunia mistis pemancingan sempat membuatnya mempelajari berbagai benda yang dipercaya memiliki kekuatan, seperti batu tertentu, getah katilayu, kembang sereh, hingga mustika lainnya. Ia bahkan pernah mengambil bagian dari pohon katilayu untuk ditempatkan pada joran. Menurut ceritanya, joran tersebut malah patah sehingga pengalaman itu justru semakin membuatnya mempertanyakan manfaat benda-benda tersebut.
Adul juga pernah mengikuti perlombaan besar dengan tiket bernilai puluhan juta rupiah dan hadiah yang disebut mencapai sekitar Rp1 miliar. Sebelum pertandingan, ia diminta menjalani puasa sejak Magrib hingga perlombaan berlangsung dan tidak diperbolehkan makan atau minum sampai mendapatkan ikan induk. Namun hadiah besar tersebut tidak berhasil dibawanya pulang. Ia bahkan mengaku pernah merasakan tarikan ikan yang sangat berat, tetapi ketika mendekati permukaan, ikan yang didapat ternyata jauh lebih kecil dari perkiraannya.
Menurut Adul, kejadian-kejadian aneh semakin terasa ketika mengikuti perlombaan dengan hadiah besar. Dalam salah satu event di Bandung dengan total hadiah mencapai sekitar Rp100 juta, ia mengaku tiba-tiba merasa seperti terkena hantaman pada tubuh menjelang waktu Asar. Badannya mendadak dingin, napas terasa berat, lalu ia muntah dan terkapar. Setelah kembali ke rumah, kondisi tersebut berlangsung beberapa hari hingga keluarga kembali meminta bantuan orang yang mereka percaya memahami persoalan spiritual.
Pengalaman lain yang cukup panjang terjadi di sebuah pemancingan dekat rumahnya pada sekitar 2011. Adul mengaku melihat sosok perempuan merah yang dikaitkannya dengan pohon beringin di sekitar kolam. Karena berkali-kali kalah memancing, ia secara spontan berbicara dalam hati kepada sosok tersebut dan meminta bantuan agar dapat menang. Sebagai gantinya, menurut kesaksiannya, ia sesekali memberikan kopi atau rokok di sekitar pohon tersebut.
Sejak saat itu, Adul mengaku sering memenangkan perlombaan di beberapa empang sekitar rumah selama kurang lebih dua tahun. Bahkan menurut ceritanya, beberapa pengelola akhirnya tidak mengizinkannya ikut memancing karena terlalu sering mendapatkan juara. Hubungan yang ia yakini terjalin dengan sosok tersebut baru benar-benar berhenti setelah lokasi pemancingan beralih fungsi dan pohon beringin yang menjadi tempat kemunculannya ikut ditebang.
Adul juga pernah menerima sebuah batu berbentuk seperti telur yang diyakini mempunyai unsur ghaib. Ia mencoba membawa benda itu ketika pergi memancing ke tempat yang cukup jauh. Dalam perjalanan, motornya mengalami kerusakan berat hingga harus diangkut menggunakan kendaraan lain. Adul kemudian mengembalikan batu tersebut karena merasa tidak cocok dan semakin yakin bahwa benda-benda semacam itu sebaiknya tidak disimpan apabila tidak memahami risikonya.
Setelah melewati berbagai pengalaman tersebut, Adul mengatakan dirinya memilih meninggalkan joran berisi “isian”, mustika, dan praktik serupa. Kini ia lebih memilih memancing dengan mengandalkan umpan, kemampuan membaca kondisi kolam, ketekunan, serta doa kepada Allah. Menurutnya, seseorang masih dapat memenangkan perlombaan tanpa ritual ghaib karena hasil akhirnya tetap bergantung pada banyak faktor dan tidak dapat dipastikan hanya dengan benda tertentu.
Kepekaan yang dirasakan Adul juga pernah muncul ketika memancing di kawasan Situ Gintung. Ia mengaku pernah melihat sesuatu menyerupai ikan sangat besar di dalam air dan seperti mendapatkan peringatan untuk pergi. Tidak lama setelah kunjungannya, terjadi peristiwa jebolnya Situ Gintung. Adul tidak menyatakan bahwa penglihatannya merupakan penyebab atau ramalan kejadian tersebut, tetapi pengalaman itu tetap membekas karena menurutnya terasa sangat nyata ketika dialami.
Dalam dunia pemancingan, Adul juga mendengar berbagai kepercayaan mengenai ikan berwarna tertentu yang dianggap tidak boleh dibawa pulang, benda-benda yang dipercaya dapat menarik ikan, hingga persaingan antarpemancing yang menggunakan cara-cara spiritual. Namun ia menegaskan bahwa semua itu kembali pada keyakinan masing-masing dan merupakan pengalaman maupun cerita yang berkembang di lingkungan pemancingan, bukan sesuatu yang dapat dibuktikannya secara pasti.
Dari seluruh pengalamannya, Adul akhirnya memilih memandang memancing sebagai hiburan dan keterampilan, bukan jalan mencari kekayaan melalui praktik pesugihan atau bantuan makhluk ghaib. Ia berpesan agar para pemancing mengambil sisi baik dari ceritanya tetapi tidak meniru bagian ekstrem yang pernah dijalaninya. Menurut Adul, memancing tetap menyenangkan ketika dilakukan secara wajar tanpa menghabiskan uang berlebihan dan tanpa mengejar kemenangan melalui jalan yang justru berpotensi membawa ketakutan serta masalah bagi diri sendiri dan keluarga.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
