Pada awal 2017, Mbak Fatimah baru saja lulus SMP dan sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke salah satu SMA favorit bersama teman-temannya. Namun sang ibu, yang dipanggil Umi, mempunyai rencana lain. Demi pendidikan agama dan kedisiplinan, Fatimah diminta melanjutkan sekolah sambil mondok di sebuah pesantren yang direkomendasikan oleh pamannya di salah satu daerah Jawa Barat.
Pesantren tersebut berada cukup jauh dari permukiman dan dikelilingi kawasan pegunungan serta pepohonan. Dari luar, bangunannya justru lebih menyerupai vila besar bertingkat daripada pondok pesantren. Biayanya tergolong murah dan fasilitasnya terlihat bagus meskipun tempat tersebut masih relatif baru. Karena lokasinya terpencil dan santri dilarang membawa telepon genggam, komunikasi dengan dunia luar juga sangat terbatas.
Keanehan pertama dirasakan Fatimah bahkan sebelum resmi ditinggal keluarganya. Ia melihat santriwati bersalaman dengan sang kiai menggunakan kontak fisik yang menurut pemahamannya tidak sesuai dengan ajaran yang selama ini ia ketahui. Meski merasa janggal, Fatimah memilih diam karena masih menjadi santri baru. Ia kemudian ditempatkan di sebuah kamar yang dihuni sekitar 13 orang dan mulai berteman dengan kakak kelas bernama samaran Mbak Dea.
Tidak lama setelah kedatangannya, seluruh santri dikumpulkan dalam sebuah acara semacam selamatan. Dua ekor ayam hidup dibawa ke depan dan disembelih di hadapan para santri. Menurut kesaksian Fatimah, penyembelihan dilakukan tanpa bacaan yang biasa ia dengar, lalu bagian tubuh ayam dibelah. Hal yang membuatnya terkejut, dari dalam ayam tersebut disebut keluar sejumlah batu kecil berwarna-warni sebesar batu cincin.
Batu-batu itu kemudian dikumpulkan dan dibagikan kepada sebagian santri. Fatimah termasuk salah satu orang yang mendapatkan sebuah batu berwarna putih. Kejadian aneh tidak berhenti di sana. Pengurus selanjutnya membawa wadah berisi pecahan kaca yang kemudian diedarkan kepada para santri untuk dimakan. Fatimah sempat menolak karena takut terluka, tetapi melihat santri lain melakukannya tanpa mengalami masalah, ia akhirnya ikut menggigit dan menelan pecahan tersebut.
Selepas acara, Fatimah kembali menemukan sesuatu yang menurutnya tidak sesuai. Saat salat berjamaah, gerakannya terlihat seperti salat pada umumnya, tetapi terdapat tambahan bacaan yang tidak ia kenali dan terdengar seperti mantra. Karena merasa khawatir ibadahnya tidak benar, Fatimah diam-diam kembali ke kamar setelah salat berjamaah dan mengulang salat seorang diri. Kebiasaan itu terus dilakukan karena ia semakin tidak nyaman dengan praktik yang berlangsung di pesantren.
Sekitar satu bulan kemudian, gangguan mulai dialami para santri. Seorang santriwati di kamar sebelah tiba-tiba berteriak dan mengalami kondisi yang dianggap sebagai kesurupan. Pengurus kemudian membawanya ke ruangan sang kiai. Fatimah tidak mengetahui secara pasti apa yang dilakukan di dalam, karena para santri dilarang mengikuti proses tersebut. Kejadian serupa kemudian terus muncul dan membuat suasana pondok semakin mencekam.
Saat acara haul pesantren sekitar tiga bulan setelah Fatimah mondok, sebuah turnamen sepak bola digelar antarsantri. Salah satu tim yang bertanding adalah tim anak sang kiai. Ketika tim tersebut kalah, sempat terjadi cekcok di lapangan. Santri yang mencetak gol kemenangan kemudian tiba-tiba mengalami kejang setelah meninggalkan lapangan. Ia dibawa ke klinik pondok dan menurut cerita yang didengar Fatimah, tidak ditemukan penyakit tertentu yang dianggap menjelaskan kondisinya.
Pada acara yang sama, Fatimah bersama Mbak Dea dan Ayu mendapat tugas membantu di dapur. Ketika mencuci piring di area belakang, mereka menemukan benda yang dianggap sebagai sesajen berisi kopi hitam, dupa, dan ayam di dekat sebuah pohon. Mereka kemudian menemukan susunan serupa di bawah panggung dan bagian belakang tempat duduk penonton. Keberadaan beberapa sesajen di lingkungan pesantren membuat kecurigaan Fatimah semakin besar.
Beberapa hari kemudian, Mbak Dea dipanggil menghadap sang kiai. Ketika kembali, Dea terlihat senang karena mengaku mendapatkan uang jajan serta makanan. Fatimah tidak terlalu memikirkan pemberian tersebut sampai keesokan harinya Dea mengalami kejadian aneh saat tidur. Ia menangis dan berteriak tanpa sadar sambil mengatakan melihat mata sangat besar di dinding. Pada malam berikutnya, Dea kembali menjerit seperti sedang dicekik sesuatu.
Dea kemudian dibawa ke ruangan sang kiai dan kembali sekitar satu hingga dua jam kemudian dalam keadaan berbeda. Menurut Fatimah, temannya menjadi diam, pucat, dan hampir tidak dapat diajak berkomunikasi. Pemeriksaan di klinik disebut tidak menemukan penyakit yang jelas. Setelah sekitar tiga hari dalam kondisi tersebut, orang tua Dea datang dan membawanya pulang untuk berobat.
Sekitar satu minggu kemudian, orang tua Dea kembali ke pesantren tanpa membawa putrinya. Sang ibu terlihat menangis dan ayah Dea hanya mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal dunia. Mereka tidak menjelaskan secara rinci penyebab kematian tersebut. Kabar itu membuat Fatimah dan teman-teman satu kamar terpukul, tetapi saat itu mereka belum mengetahui apakah kematian Dea mempunyai hubungan dengan kejadian yang dialaminya di pesantren.
Sekitar satu bulan kemudian, seorang santriwati lain kembali mengalami kondisi serupa. Ia disebut kesurupan, dibawa ke ruangan sang kiai, kemudian tidak masuk sekolah dan akhirnya dibawa pulang oleh keluarganya. Beberapa hari kemudian beredar kabar bahwa santri tersebut juga meninggal dunia. Rangkaian kematian yang waktunya berdekatan mulai membuat para penghuni pondok merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Kecurigaan Fatimah semakin kuat setelah mendengar isi beberapa ceramah sang kiai. Menurut kesaksiannya, kiai tersebut pernah menyampaikan bahwa zina dapat diperbolehkan tergantung tujuannya dan pesugihan dapat dilakukan apabila diniatkan untuk mencari nafkah. Dalam kesempatan lain, ia juga disebut mengatakan bahwa apabila dirinya menghendaki sesuatu terjadi, bahkan bencana sekalipun dapat terjadi. Fatimah menilai ucapan tersebut bertentangan dengan pemahaman agama yang selama ini ia pelajari.
Teman sekamar Fatimah lainnya, yang disamarkan dengan nama Nur, kemudian menceritakan pernah melihat sosok perempuan berambut putih panjang, bertubuh sangat pucat, kurus, dan mempunyai tangan serta jari-jari yang menjuntai hingga mendekati tanah. Pada awalnya Fatimah tidak dapat melihat sosok tersebut. Namun tidak lama kemudian Nur dipanggil ke ruangan sang kiai dan pulang membawa uang jajan, mirip seperti pengalaman yang sebelumnya dialami Dea.
Tiga hari setelah menerima pemberian tersebut, Nur mengalami kesurupan dan dibawa ke ruangan kiai. Setelah kembali, kondisinya menjadi diam dan sulit berkomunikasi. Keesokan harinya ia mengalami kejang hebat hingga dibawa ke klinik. Orang tuanya kemudian menjemput Nur untuk menjalani pengobatan, tetapi sekitar tujuh hari setelahnya sang ibu datang ke pesantren dalam keadaan marah dan mengatakan bahwa putrinya telah meninggal dunia meskipun sebelumnya tidak mempunyai riwayat penyakit berat.
Kematian Nur membuat banyak santri mulai meminta pulang. Kamar Fatimah yang awalnya dihuni sekitar 13 orang perlahan semakin kosong. Teman dekatnya yang tersisa, Ayu, kemudian juga dipanggil sang kiai dan diberi uang sekitar Rp200 ribu. Fatimah sudah memperingatkannya agar uang tersebut tidak digunakan karena melihat pola yang terjadi pada teman-teman sebelumnya, tetapi Ayu menganggap pemberian itu sebagai rezeki dan tetap memakainya.
Malam berikutnya, Ayu mengalami kondisi hampir sama dengan Dea dan Nur. Ia berteriak dalam tidur seperti sedang berusaha melepaskan sesuatu yang mencekiknya, lalu dibawa ke ruangan sang kiai. Setelah kembali, Ayu tidak lagi dapat diajak berkomunikasi secara normal. Dua hari kemudian keluarganya menjemputnya, dan sekitar tujuh hari setelah itu orang tuanya datang membawa kabar bahwa Ayu telah meninggal dunia. Fatimah semakin yakin dirinya harus segera meninggalkan tempat tersebut.
Tak lama kemudian giliran Fatimah dipanggil ke ruangan sang kiai. Ia melihat ruangan dalam keadaan remang-remang dengan sesuatu yang dianggap sebagai sesajen, termasuk hewan berwarna hitam yang menurut penglihatannya menyerupai burung gagak. Sang kiai memberinya makanan, minuman, serta uang, tetapi Fatimah memilih tidak mengonsumsi makanan itu dan tidak menggunakan uangnya. Menurut kesaksiannya, sang kiai juga sempat berjalan mengelilinginya sambil membaca sesuatu. Malam harinya Fatimah mulai mengalami gangguan dan bermimpi didatangi perempuan pucat berjari panjang yang sebelumnya diceritakan Nur.
Keesokan harinya Fatimah mengaku melihat sendiri sosok perempuan tersebut berjalan mengikuti sang kiai dari belakang. Gangguan kemudian berlangsung selama beberapa malam hingga ia memaksa meminta pulang. Setelah meninggalkan pesantren, sosok tersebut menurut kesaksiannya masih muncul di rumah. Fatimah akhirnya menjalani rukiah. Seorang ustaz yang menanganinya kemudian menanyakan benda yang dibawanya dari pesantren dan Fatimah teringat batu putih hasil ritual ayam yang masih disimpannya. Menurut penafsiran ustaz tersebut, batu itu merupakan semacam tanda dan Fatimah diduga akan dijadikan tumbal. Ustaz itu juga mengaitkan kematian teman-temannya dengan uang dan makanan pemberian kiai, tetapi tuduhan tersebut merupakan kesimpulan spiritual berdasarkan pengalaman mereka dan tidak dibuktikan melalui penyelidikan resmi.
Setelah proses tersebut, gangguan yang dirasakan Fatimah perlahan berhenti. Bertahun-tahun kemudian ia mendapat kabar dari pamannya bahwa pesantren itu sudah tidak beroperasi karena para santrinya telah pergi, sementara sang kiai dikabarkan sakit dan mengalami kelumpuhan. Fatimah sendiri tidak dapat memastikan apakah tuduhan pesugihan, kematian para santri, dan kondisi sang kiai benar-benar mempunyai hubungan sebab-akibat. Dari pengalaman tersebut, ia berpesan kepada para orang tua agar tidak hanya melihat fasilitas murah atau penampilan religius ketika memilih lembaga pendidikan. Menurutnya, pesantren atau sekolah perlu disurvei lebih mendalam, mulai dari ajaran, praktik ibadah, pengurus, hingga kondisi para santrinya, agar anak tidak terjebak di lingkungan yang justru membahayakan keselamatan dan keyakinannya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
