Pada 2014, Teh Melisa menjalani rumah tangga bersama suami pertamanya dan dua anak yang masih kecil. Sang suami bekerja sebagai kuli bangunan sehingga penghasilannya tidak menentu, sedangkan satu anak mereka masih duduk di TK dan seorang lagi masih bayi. Ketika suaminya lama menganggur, kebutuhan susu, makan, dan uang sekolah membuat Melisa mulai memikirkan cara untuk ikut mencari penghasilan.
Suaminya kemudian mendapat pekerjaan di luar kota, tepatnya di Madura. Melisa mengizinkannya berangkat dengan harapan keadaan ekonomi keluarga membaik. Namun setelah keberangkatan tersebut, ia mengaku tidak mendapat uang tinggalan dan kiriman dari suami juga tak kunjung datang. Terdesak kebutuhan sehari-hari, Melisa mulai mengambil pinjaman dari berbagai pihak hingga utangnya menumpuk sekitar jutaan rupiah dan harus dicicil hampir setiap hari.
Kesempatan bekerja muncul melalui seorang teman yang ibunya menjadi supervisor di sebuah perusahaan perkreditan. Melisa awalnya ditempatkan sebagai pramuniaga karena belum mempunyai kemampuan menawarkan produk. Namun gaji yang diterimanya terasa terlalu kecil karena sebagian harus digunakan membayar pengasuh kedua anaknya. Ia kemudian mempertimbangkan pindah menjadi sales dengan harapan mendapatkan penghasilan yang lebih besar.
Saat mulai membagikan brosur dan menawarkan produk, salah satu calon konsumen mengirim pesan yang dianggap tidak sopan. Kebetulan suaminya pulang tanpa memberi tahu dan membaca percakapan tersebut. Pertengkaran besar pun terjadi hingga ibu mertuanya ikut campur dan suaminya mengucapkan talak. Melisa kemudian membawa anak-anaknya, mencari pengasuh, serta mulai memikirkan biaya untuk mengurus perceraian secara resmi.
Masalah rumah tangga, utang, kebutuhan anak, dan tekanan pekerjaan membuat Melisa merasa berada di jalan buntu. Ia kemudian tinggal sementara di rumah seorang teman yang disamarkan dengan nama Mbak Lestari. Temannya menyarankan agar Melisa benar-benar menjadi sales, tetapi mengatakan bahwa untuk bertahan dalam pekerjaan tersebut dirinya perlu mempunyai “pegangan”. Melisa semula mengira yang dimaksud adalah modal uang, tetapi ternyata Mbak Lestari berniat mengenalkannya kepada seseorang yang dipercaya mempunyai kemampuan spiritual.
Melisa kemudian dibawa menemui seseorang yang dipanggil Ki Buyut. Pada kunjungan pertama ia merasa takut dan memilih pulang karena belum siap. Namun setelah kembali dihadapkan pada tagihan, kebutuhan susu anak, biaya pengasuh, dan rencana perceraian, ia akhirnya menghubungi Mbak Lestari lagi. Melisa memutuskan kembali pada malam Jumat Kliwon dengan membawa rokok, bunga kantil, jajanan pasar, kopi, dan sejumlah perlengkapan lain sesuai arahan.
Menurut kesaksiannya, tahap pertama disebut sebagai pemasangan “qodam tiga” dengan mahar sekitar Rp300 ribu. Melisa diminta memakan tiga bunga kantil, menjalani mandi menggunakan bunga, lalu hanya mengenakan kain atau selendang sebelum dibawa menuju sebuah makam yang berada tidak jauh dari rumah Ki Buyut. Ia mengatakan ritual tersebut dijalani karena satu tujuan utama: mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan anak, membayar utang, serta menyelesaikan persoalan rumah tangganya.
Ketika duduk seorang diri di makam, Melisa mengaku melihat sosok tinggi besar, berambut panjang, bertubuh gemuk, dan bermata merah berdiri menatapnya. Ia ingin meninggalkan tempat tersebut, tetapi tubuhnya terasa sangat berat. Setelah ritual berakhir, Ki Buyut mengatakan sosok itu merupakan salah satu “ingon-ingon” atau makhluk peliharaannya. Melisa kemudian mengaku dipasangi benda kecil menyerupai potongan jarum di bagian dahi yang disebut sebagai media qodam tiga.
Perubahan menurut Melisa terasa tidak lama kemudian. Ia menjadi jauh lebih percaya diri ketika menawarkan produk dan konsumen yang sebelumnya selalu menolak tiba-tiba lebih mudah menerima tawarannya. Jumlah pesanan meningkat berkali-kali lipat, target penjualan tercapai, dan penghasilannya ikut melonjak. Uang tersebut kemudian digunakan untuk membantu menyelesaikan proses perceraian hingga akhirnya ia resmi berpisah dari suami pertama dan pengasuhan kedua anak mereka dibagi.
Setelah berstatus janda, Melisa berkenalan dengan seorang pria yang disamarkan sebagai Pak Andri melalui lingkungan pekerjaannya. Pria tersebut memberikan berbagai bantuan kepadanya, termasuk membantu persoalan kendaraan hingga proses mendapatkan rumah. Melisa mengaku saat itu mulai merasakan betapa mudahnya memperoleh materi dari pria-pria yang tertarik kepadanya dan mengaitkan daya tarik tersebut dengan susuk atau qodam yang telah dipasang sebelumnya.
Setelah mempunyai rumah, sekitar 2015 Melisa mulai mengalami gangguan yang menurutnya semakin nyata. Ia pernah merasa sebuah kamar dipenuhi tikus yang tidak dilihat oleh anggota keluarganya serta mengalami berbagai teror lain. Karena merasa tubuh dan kehidupannya kembali tidak nyaman, Melisa mendatangi Ki Buyut seorang diri. Alih-alih melepaskan pegangan sebelumnya, ia justru ditawari menaikkan tingkatannya menjadi “qodam lima” dengan mahar sekitar Rp500 ribu.
Ritual kembali dilakukan menggunakan bunga kantil, jajanan pasar, kopi, kemenyan, dupa, serta kembang tujuh rupa. Melisa juga diminta membawa foto orang yang ingin dijadikan target dari amalan yang diberikan kepadanya. Di makam yang sama ia menyebutkan keinginannya untuk mempunyai lebih banyak uang, kendaraan, serta dapat merasakan bangku kuliah. Namun kali ini pengalaman yang diklaimnya jauh lebih menyeramkan karena berbagai sosok ghaib disebut datang mengelilinginya.
Melisa mengaku melihat kuntilanak yang mendekat hingga rambutnya bergesekan di depan wajah, sosok menyerupai tuyul, pocong, makhluk tanpa pakaian, hingga kepala buntung dengan wajah rusak yang pernah dilihatnya dalam pengalaman lain. Meski ketakutan, ia bertahan sampai ritual selesai. Setelah kembali ke rumah Ki Buyut, benda menyerupai ujung pulpen kembali dipasang di bagian wajahnya. Menurut Melisa, pemasangan tersebut dipercaya dapat memperkuat aura dan membuat orang tertarik kepadanya bahkan hanya melalui foto.
Setelah itu, Melisa mengaku semakin mudah mendapatkan uang dan pemberian dari pria-pria yang dikenalnya. Salah satunya seorang kepala sekolah yang disamarkan sebagai Pak Ibnu. Menurut pengakuannya, pria tersebut sangat tertarik kepadanya hingga membelikan beberapa sepeda motor dan membiayai kuliahnya. Pak Ibnu disebut berharap dapat menikah dengan Melisa, tetapi keinginan tersebut tidak diterima. Melisa sendiri mengakui pada masa itu dirinya kerap memanfaatkan ketertarikan orang untuk meminta berbagai kebutuhan materi.
Perjalanan tersebut sempat berhenti ketika Melisa bertemu dan menikah dengan suami keduanya. Namun baru sehari menikah, menurut penuturannya, sifat sang suami mulai terlihat berbeda. Ia mengaku mengalami kekerasan, makian, serta mengetahui suaminya mempunyai kebiasaan berjudi. Melisa ingin segera berpisah, tetapi prosesnya berlangsung cukup lama hingga akhirnya pernikahan keduanya benar-benar berakhir.
Memasuki sekitar 2017, Melisa kembali merasa tubuhnya tidak nyaman dan mendatangi Ki Buyut. Kali ini ia mengaku membayar sekitar Rp900 ribu untuk menaikkan pegangan menjadi “qodam sembilan”. Ritual kembali dilakukan di makam dengan sembilan bunga kantil dan berbagai sesajen. Pada malam tersebut, Melisa mengaku tubuhnya tiba-tiba terlentang sendiri, kaki dan badannya seperti dipegang sesuatu, selendangnya terlepas, hingga ia merasa ada sosok yang menindih serta menyentuh tubuhnya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Pagi harinya Ki Buyut mengatakan ada makhluk ghaib yang menyukai Melisa. Sebuah media lain kemudian disebut dipasang di bagian bibirnya sebagai qodam sembilan. Setelah ritual tersebut, Melisa kembali merasa keberuntungan materi datang sangat deras. Tawaran menemani tamu bernyanyi semakin banyak dan ia mengaku beberapa kali membawa pulang uang dalam jumlah besar. Pada masa itu pula ia tinggal di rumah sendiri dan kemudian berkenalan melalui Facebook dengan pria yang kelak menjadi suami ketiganya.
Setelah menikah dengan suami ketiga, gangguan menurut Melisa justru semakin terasa. Pada suatu malam Jumat Kliwon ketika ditinggal sebentar oleh suaminya, ia mengaku melihat sosok dari lokasi ritual Ki Buyut muncul di rumah. Wajah makhluk tersebut berganti antara tampan dan rusak, sementara Melisa merasa mulutnya terkunci dan tidak dapat berbicara. Tak lama kemudian neneknya meninggal. Dalam proses mengurus jenazah, Melisa tidak sengaja menyentuh tubuh sang nenek, padahal menurutnya terdapat pantangan tertentu selama masih menggunakan susuk tersebut. Setelah kejadian itu, ia mengaku sejumlah giginya rontok dan tubuhnya sering sakit.
Sekitar dua bulan kemudian, kakeknya juga meninggal dunia. Melisa tidak dapat memastikan kematian kedua orang terdekatnya berhubungan dengan praktik yang pernah dijalaninya, tetapi kejadian beruntun tersebut membuatnya semakin takut dan mulai mempertanyakan jalan hidupnya. Ia akhirnya menceritakan seluruh rahasia pemasangan susuk kepada suaminya. Melisa kemudian meminta dibawa kepada seorang ustaz untuk menjalani rukiah dan berusaha melepaskan semua pegangan yang selama bertahun-tahun diyakininya memberikan kekayaan.
Proses pelepasan menurut Melisa tidak mudah. Ia mengaku mengalami reaksi keras saat dirukiah dan ustaz yang membantunya menyebut ikatan tersebut sulit dilepaskan. Melisa memilih memperbanyak salat, tahajud, salat hajat, dan bertobat. Media-media yang menurut pengakuannya pernah dipasang di dahi, pipi, dan bibir dengan tingkatan tiga, lima, hingga sembilan akhirnya berusaha dilepaskan dan dikuburkan. Ia juga memohon agar berbagai harta yang diperoleh pada masa lalu menjadi pelajaran atas kesalahannya dan tidak lagi menyeretnya kembali ke praktik serupa.
Kini Melisa mengaku kehidupannya tidak lagi semudah ketika mengejar materi melalui jalan tersebut, tetapi justru merasa jauh lebih tenang. Dari lima sepeda motor yang pernah dimilikinya, sebagian telah dijual dan rumah yang diperolehnya masih dijaga, sementara kuliahnya tidak diteruskan karena memilih menikah. Baginya, kehilangan kesempatan mendapatkan uang secara instan tidak sebanding dengan ketenangan setelah meninggalkan praktik tersebut. Melisa berpesan agar siapa pun tidak mudah tergoda memasang susuk atau menjalani ritual dengan pantangan yang konsekuensinya tidak benar-benar dipahami. Ia kini memilih mencari penghasilan melalui pekerjaan dan memohon rezeki kepada Tuhan, karena menurut pengalamannya setiap jalan instan selalu datang bersama harga yang harus dibayar.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
