Pada 2012, Mas Kalis bekerja sebagai sopir di salah satu kantor satuan lalu lintas di Pemalang. Saat itu ia kembali bertemu dengan sepupunya yang disamarkan dengan nama Mas Galang, seorang petani nanas madu yang menyewa lahan di daerah cukup jauh dari pusat kota. Dari pertemuan itulah Mas Kalis perlahan masuk ke sebuah rangkaian kejadian yang menurut pengakuannya mempertemukan penyakit misterius, dugaan santet, hingga ritual yang disebut “jual musuh”.
Mas Galang suatu malam mengajak Kalis melihat kebun nanasnya. Sebelum sampai ke lokasi, mereka mampir ke rumah seorang lelaki tua bernama samaran Mbah Darto yang tinggal di kawasan pedesaan dekat hutan jati. Rumahnya masih bergaya lama, dengan halaman luas dan sebuah dipan kayu di ruang tamu. Di sanalah Kalis mengetahui bahwa Mbah Darto dikenal Mas Galang sebagai orang yang menangani berbagai urusan spiritual.
Menurut cerita Mas Galang, dirinya kerap membantu menyiapkan kebutuhan ritual Mbah Darto, mulai dari bunga, kemenyan, hingga benda-benda tertentu yang sulit dicari. Kalis yang saat itu mengaku belum memahami dunia seperti itu hanya ikut mendengar. Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, Mas Galang kembali menghubunginya karena seorang teman bernama samaran Mas Roni sedang membutuhkan bantuan untuk kakak perempuannya.
Kakak Mas Roni, yang disamarkan dengan nama Mbak Ratna, disebut sudah sakit sekitar enam bulan. Berbagai pengobatan medis telah dicoba, tetapi menurut keluarga kondisinya tidak kunjung membaik. Saat Kalis pertama kali melihatnya, tubuh Ratna tampak sangat kurus sementara bagian perutnya membesar. Ia begitu lemah hingga hampir tidak mampu berbicara dan sebagian besar aktivitasnya dibantu keluarga.
Suami Ratna yang disamarkan dengan nama Mas Arif diketahui bekerja di proyek dan jarang pulang. Menurut penuturan keluarga, Arif masih mengirim uang untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi sudah berbulan-bulan tidak kembali menemui istri dan anak-anaknya. Karena kondisi Ratna semakin mengkhawatirkan, Mas Galang akhirnya menyarankan agar ia dibawa menemui Mbah Darto.
Ratna kemudian dibawa ke rumah Mbah Darto dengan bantuan Mas Roni, istrinya, Mas Galang, dan Kalis. Setelah melihat kondisinya, Mbah Darto masuk ke sebuah kamar yang menurut Kalis dipenuhi aroma kemenyan. Ia kemudian keluar membawa air dalam sebuah wadah dan meminta tubuh Ratna diusap menggunakan air tersebut. Pada pertemuan pertama itu, Mbah Darto hanya mengatakan bahwa gangguan yang dialami Ratna berasal dari orang yang sangat dekat dengannya.
Mbah Darto meminta mereka kembali satu minggu kemudian dengan sejumlah perlengkapan. Menurut kesaksian Kalis, syarat yang diminta antara lain ayam putih, kembang tujuh rupa, candu atau mad, kemenyan, serta kelapa koplak yang dagingnya sudah terlepas dari tempurung dan tidak boleh jatuh menyentuh tanah ketika dipetik. Uang sekitar Rp25 juta disiapkan untuk berbagai kebutuhan ritual tersebut.
Mencari kelapa koplak menjadi bagian tersulit. Mas Galang meminta bantuan Kalis hingga akhirnya mereka menemukan sebuah kebun kelapa melalui kenalan di daerah lain. Beberapa pohon diperiksa sebelum mereka menemukan satu kelapa berwarna kekuningan yang ketika digoyangkan mengeluarkan suara dari dalam. Kelapa tersebut diturunkan menggunakan sarung agar tidak menyentuh tanah, lalu langsung diantar ke rumah Mbah Darto.
Pada malam Jumat yang telah ditentukan, Ratna kembali dibawa ke rumah Mbah Darto. Kondisinya menurut Kalis sudah sedikit berubah: ia masih kurus tetapi sudah mampu duduk dan berbicara pelan. Mbah Darto kembali masuk ke kamar ritual, lalu keluar membawa minyak hangat dalam wadah kecil. Ratna diminta berbaring sementara minyak tersebut diusapkan ke tubuhnya.
Di sinilah Kalis mengaku menyaksikan kejadian yang tidak pernah ia lupakan. Ketika perut dan tubuh Ratna diusap, muncul benda-benda yang menurut penglihatannya menyerupai kawat panjang, paku berkarat, dan potongan logam lain. Mas Roni bahkan sempat diminta ikut mengusap tubuh kakaknya agar melihat sendiri proses tersebut. Semua benda itu kemudian dikumpulkan ke dalam sebuah wadah kecil.
Setelah ritual selesai, kondisi Ratna disebut berangsur membaik. Satu minggu kemudian, Kalis kembali melihatnya dan terkejut karena tubuhnya tampak lebih berisi, wajahnya lebih segar, dan ia sudah mampu kembali bermain serta mengantar anaknya. Ratna kemudian meminta diantar ke rumah Mbah Darto untuk mengucapkan terima kasih sekaligus menanyakan siapa yang menurut sang praktisi telah mengirim gangguan kepadanya.
Awalnya Mbah Darto enggan menjawab, tetapi setelah terus didesak ia menyebut suami Ratna sendiri sebagai orang yang diduga berada di balik gangguan tersebut. Penjelasan itu mengejutkan Ratna. Mas Roni kemudian menceritakan bahwa ia sebelumnya telah mendengar kabar Arif memiliki perempuan lain dan beberapa kali berpindah tempat kos. Menurut penafsiran Mbah Darto, tindakan itu diduga berkaitan dengan keinginan menguasai harta Ratna apabila istrinya meninggal, namun tuduhan tersebut tidak pernah dibuktikan secara resmi.
Ratna menjadi takut karena khawatir gangguan serupa akan kembali terjadi. Di tengah pembicaraan, Mas Galang menyebut jalan yang disebut “jual musuh”, yakni ritual yang menurut mereka dipercaya dapat menyerahkan seseorang kepada makhluk ghaib dengan imbalan uang. Mbah Darto awalnya tidak menyarankan hal tersebut karena Arif masih suami Ratna dan mereka memiliki dua anak, tetapi Ratna mulai mempertimbangkannya karena merasa keselamatannya sendiri terancam.
Beberapa hari kemudian Ratna menghubungi Mas Galang dan mengatakan dirinya sudah mengambil keputusan. Ia bersedia menjalani ritual tersebut dan menyerahkan foto Arif sebagai media. Menurut penjelasan yang ia terima, syarat terberat justru bukan pada saat ritual, melainkan setelahnya: selama tiga bulan Ratna tidak boleh menangis, merasa iba, atau menyesali keputusan apabila sosok suaminya hadir dalam mimpi maupun penampakan.
Ritual pertama dilakukan di ruangan khusus Mbah Darto. Ratna duduk berhadapan dengan sang praktisi sementara foto Arif diletakkan di dekat ritual pembakaran kemenyan. Menurut cerita Ratna kepada Kalis, ia kemudian melihat sosok tinggi besar bermata merah yang mengambil atau memegang foto tersebut sebelum mengangguk. Mbah Darto mengatakan foto itu telah “ditawarkan” dan mereka harus menunggu apakah ada pihak dari alam ghaib yang menerimanya.
Sekitar satu bulan kemudian, Mbah Darto mengabarkan melalui anaknya bahwa “penawaran” tersebut disebut telah diterima. Nilai yang kemudian disebut dalam kesaksian mencapai sekitar Rp1,3 miliar. Ratna kembali diminta datang pada malam Jumat Kliwon untuk menyelesaikan proses. Ia memilih melakukan akad secara langsung tanpa menggunakan media pakaian karena khawatir terjadi kesalahan komunikasi.
Pada malam itu Ratna sempat pingsan ketika proses baru dimulai. Setelah sadar, ia meminta ditemani. Kalis, Mas Roni, dan Mas Galang kemudian berada di dalam ruangan bersama Mbah Darto. Kalis mengaku melihat tiga sosok dengan bentuk tidak biasa: satu sosok besar berornamen seperti kerajaan dan dua pengawal membawa tombak, dengan bagian bawah tubuh menyerupai ular. Ia mengaitkan sosok utama tersebut dengan figur yang oleh mereka disebut Nyi Blorong, tetapi itu tetap merupakan pengalaman dan keyakinan spiritual dari para saksi.
Setelah proses yang disebut akad selesai, Mbah Darto meminta mereka mengambil sebuah karung di samping rumah. Ketika dibuka, menurut Kalis karung itu berisi uang pecahan besar dalam jumlah sangat banyak. Ia ikut membantu menghitung dan menyebut totalnya sekitar Rp1,3 miliar. Mbah Darto dikatakan tidak mengambil bagian dari uang tersebut dan hanya kembali mengingatkan Ratna mengenai pantangan selama tiga bulan.
Sekitar satu minggu setelah ritual, Ratna mendapat kabar bahwa Arif ditemukan meninggal di kamar kos setelah sekitar dua hari tidak terlihat keluar. Jenazah kemudian dibawa dan dimakamkan. Kalis menegaskan bahwa ia tidak dapat membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara kematian tersebut dengan ritual yang disaksikannya. Namun Ratna sendiri mengaitkan kejadian itu dengan perjanjian yang baru dijalani dan memilih belum menggunakan uang tersebut sebelum melewati masa tiga bulan.
Selama masa itu, Ratna mengaku berkali-kali bermimpi dan merasa didatangi sosok suaminya yang mengatakan dirinya tega. Ratna bertahan dengan keyakinan bahwa ia tidak boleh menunjukkan rasa iba hingga akhirnya tiga bulan berlalu tanpa gangguan lanjutan. Setelah itu ia mulai menggunakan uang yang diperolehnya, sementara Kalis memilih memutus kontak karena takut kembali terlibat dalam urusan serupa. Hingga kini ia tidak mengetahui kondisi Ratna maupun penggunaan uang tersebut. Dari pengalaman itu, Kalis berpesan agar siapa pun tidak bermain dengan praktik tumbal atau perjanjian ghaib, karena menurutnya keuntungan sebesar apa pun tidak sebanding dengan risiko kehilangan nyawa, keluarga, dan ketenangan hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
