Pada 2005, Kang Roni masih tinggal di Kuningan, Jawa Barat, dan sedang tidak memiliki pekerjaan. Suatu malam ketika hendak nongkrong di pasar, ia bertemu seorang pengusaha yang disamarkan sebagai Pak Asep. Mengetahui Roni sedang menganggur, Pak Asep menawarkan pekerjaan menjaga kios spare part bekas miliknya di Jakarta dengan sistem bagi hasil. Roni menerima tawaran tersebut dan malam itu juga berangkat setelah diberi uang ongkos sekitar Rp200 ribu.
Kios Pak Asep ternyata berdampingan dengan usaha milik ayahnya, Pak Dadang, serta kakaknya yang disamarkan sebagai Pak Maman. Dibandingkan kios tempat Roni bekerja, usaha Pak Dadang jauh lebih besar dan barangnya lebih lengkap. Roni menggambarkan Pak Dadang sebagai orang berada yang mempunyai banyak aset, terutama tanah. Dari lingkungan kerja itulah Roni mulai mengetahui bahwa Pak Dadang memiliki istri muda yang disamarkan dengan nama Bu Maya dan tinggal terpisah.
Awalnya urusan rumah tangga Pak Dadang tidak banyak diketahui Roni. Namun karena dua karyawan lain dianggap tidak bisa dipercaya, Pak Dadang mulai meminta bantuan Roni mengirim uang kepada Bu Maya. Salah satu karyawan disebut pernah mengurangi uang titipan, sedangkan yang lain dianggap terlalu banyak menceritakan urusan pribadi Pak Dadang. Karena Roni dinilai jujur dan mampu menjaga rahasia, ia kemudian beberapa kali dipercaya menjadi perantara.
Suatu ketika Bu Maya meminta Pak Dadang datang karena ada undangan pernikahan keluarganya. Pak Dadang yang sudah berusia lanjut mengajak Roni menemaninya. Namun ketika tiba di rumah Bu Maya, menurut kesaksian Roni mereka justru memergoki perempuan tersebut berada di kamar bersama seorang laki-laki dalam situasi yang dianggap tidak pantas. Pak Dadang tidak langsung membuat keributan, tetapi memilih pergi dan sepanjang perjalanan pulang terus meluapkan kemarahannya.
Sejak kejadian tersebut, kondisi Pak Dadang berubah. Ia sering melamun, kehilangan selera makan, dan terlihat sangat sakit hati. Sekitar satu atau dua bulan kemudian, Pak Dadang memanggil Roni dan bertanya apakah dirinya mempunyai kenalan yang bisa melakukan guna-guna atau pelet. Roni sempat terkejut, tetapi kemudian menghubungi seorang teman yang mengenal praktisi spiritual. Mereka mencoba mendatangi orang tersebut di Kuningan, tetapi ternyata sedang berada di luar kota.
Pak Dadang kemudian mencari jalan lain melalui seorang kenalan bernama samaran Pak Didin. Dalam pertemuan tersebut, menurut Roni, Pak Dadang awalnya mengutarakan keinginan menyantet Bu Maya. Pak Didin justru menawarkan praktik yang disebut “jual musuh”. Dalam penjelasan yang diterima Roni, seseorang yang menjadi sasaran akan “dijual” kepada bangsa ghaib dan pihak yang melakukan ritual dipercaya bisa memperoleh uang. Pak Dadang tertarik dan diminta menyiapkan dana sekitar Rp10 juta untuk proses awal.
Pak Didin lalu membawa mereka menemui seorang juru kunci. Di sana muncul masalah baru karena ritual harus dijalani langsung oleh seseorang yang dianggap cocok. Pak Dadang mengaku takut, sering buang air kecil, dan merasa tidak sanggup ditinggalkan sendirian di gunung. Hari kelahirannya juga disebut tidak sesuai. Juru kunci kemudian memeriksa dua orang lain, termasuk Kang Roni, dengan meletakkan benda kecil di telapak tangan. Menurut Roni, benda di tangannya mendadak terasa sangat panas hingga meninggalkan bekas seperti luka bakar.
Dari kejadian itulah Roni dinyatakan sebagai orang yang dianggap cocok menjalankan ritual. Ia sempat menolak karena persoalan tersebut bukan urusannya, tetapi Pak Dadang membujuknya dengan alasan sakit hati kepada Bu Maya dan menjanjikan hasil uang akan dibagi dua. Roni juga mengaku ditakut-takuti bahwa namanya sudah “didaftarkan” sehingga tidak bisa mundur begitu saja. Dalam keadaan tertekan, ia akhirnya menerima dan diminta menjalani puasa mati geni selama 24 jam sesuai hari kelahirannya.
Setelah puasa selesai, Roni berangkat bersama Pak Dadang, Pak Asep, Pak Didin, juru kunci, serta beberapa orang lainnya menuju sebuah kawasan pegunungan. Perjalanan dilanjutkan melewati jembatan bambu, sungai, makam-makam yang dianggap keramat, hingga sebuah musala bambu yang sudah tidak terawat. Menurut penjelasan juru kunci, jalur itu berbahaya karena terdapat jurang dan kawasan yang disebut sebagai sarang ular berbisa. Mereka menunggu hingga malam karena ritual baru boleh dimulai setelah waktu tertentu.
Lokasi ritual berada di sekitar pohon besar yang tumbang dengan mata air tepat di depannya dan jurang di salah satu sisi. Sebelum memulai, Roni diminta mandi menggunakan air dari mata air tersebut dan kemudian meminumnya. Ia merasa air itu berbeda dari air biasa karena terasa hangat dan mempunyai rasa seperti air kelapa. Setelah seluruh perlengkapan berupa minyak, dupa, buhur, dan bahan ritual lainnya disiapkan, Roni ditinggalkan seorang diri.
Menurut kesaksiannya, gangguan pertama berupa hembusan angin sangat kencang yang hanya mengenai tubuhnya sementara rumput di sekitar tetap diam. Setelah itu terdengar suara perempuan yang ia gambarkan menyerupai kuntilanak bertanya apa yang sedang dilakukannya. Roni mengikuti pesan juru kunci dengan mengatakan bahwa dirinya penakut dan meminta agar tidak diganggu. Hujan kemudian seperti turun di sekitarnya, tetapi anehnya tubuh dan tempat pembakaran dupa disebut tidak menjadi basah.
Gangguan berikutnya jauh lebih mengerikan. Roni mengaku melihat sosok hitam setinggi sekitar lima meter dengan mata merah menyala berdiri di hadapannya. Ia nyaris melarikan diri, tetapi takut terjatuh ke jurang atau menabrak pohon besar karena suasana sangat gelap. Setelah sosok itu menghilang, muncul cahaya putih dari arah mata air dan seorang sosok berpakaian putih dengan mahkota serta rambut putih yang kemudian diperkenalkan sebagai “Pangeran Papak”.
Menurut Roni, sosok tersebut menanyakan tujuannya berada di sana. Karena sebenarnya tidak mempunyai dendam pribadi, Roni hanya mengatakan bahwa dirinya datang untuk “menjual” orang yang ada di dalam foto, yakni Bu Maya. Dalam transkrip, nilai uang yang ditawarkan disebut sebagai “2,4”, sementara pada bagian dialog berikutnya terdengar pula penyebutan “24 miliar”, sehingga nominalnya tidak sepenuhnya konsisten. Yang diingat Roni, uang tersebut kemudian terlihat menumpuk di hadapannya dengan volume kira-kira sebesar dua kardus mi instan.
Saat uang itu sudah berada di depan mata, Roni mengaku muncul sosok lain yang disebut sebagai leluhurnya. Sosok tersebut memarahinya dan mengatakan bahwa ritual itu bukan niat maupun hajat Roni. Ia diperintahkan meninggalkan uang tersebut dan pulang, bahkan dijanjikan akan mendapat rezeki lebih besar melalui jalan lain. Roni akhirnya memilih mengikuti peringatan tersebut. Seketika, menurut kesaksiannya, uang yang sebelumnya terlihat di hadapannya menghilang.
Ketika kembali menemui rombongan, Roni menceritakan semuanya kepada juru kunci dan Pak Dadang. Pak Dadang justru marah karena merasa uang sudah berada di depan mata tetapi tidak diambil. Setelah Pak Dadang dan Pak Asep pulang lebih dahulu, juru kunci meminta Roni tetap tinggal. Menurut penafsiran sang juru kunci, Roni beruntung karena leluhurnya datang menghentikan proses. Jika tidak segera diselamatkan, justru Roni sendiri yang berisiko menjadi tumbal karena dialah orang yang melakukan ritual dan berhadapan langsung dengan sosok yang menerima perjanjian.
Roni kemudian diberi batas waktu sekitar 40 hari untuk menjalani proses pemutusan. Keluarganya diminta menyiapkan sejumlah uang untuk membeli perlengkapan, terutama minyak khusus yang disebut cukup mahal. Sang ibu yang berdagang di pasar hanya mempunyai sebagian uang dan kekurangannya dibantu kakak Roni. Juru kunci kemudian datang ke rumah bersama dua orang lainnya untuk melakukan ritual penyelamatan, sementara seluruh anggota keluarga diminta menunggu di luar kamar.
Di dalam kamar yang gelap, Roni duduk menghadap perlengkapan ritual. Ia mengaku kembali merasakan kehadiran sosok yang dikaitkannya dengan leluhur dan mendapat teguran keras agar tidak lagi ikut campur dalam persoalan seperti itu serta menjauh dari orang-orang yang telah menyeretnya ke ritual. Setelah proses selesai, Roni keluar dan heran melihat ibu serta kakaknya menangis. Saat bercermin, menurut pengakuannya, wajah, tubuh, hingga pakaiannya dipenuhi darah dan mengeluarkan aroma amis, meskipun ia tidak menjelaskan adanya luka fisik yang menjadi sumber darah tersebut.
Gangguan belum langsung berhenti. Selama kurang lebih dua bulan, Roni masih mengaku mendengar suara-suara aneh dan mencium bau amis di kamar. Kemudian ia mendapat kabar dari ayahnya bahwa Pak Dadang meninggal secara mendadak ketika berada di sawah. Menurut cerita keluarganya, Pak Dadang ditemukan dalam posisi duduk dan tidak diketahui secara pasti penyebab kematiannya. Roni juga mendengar cerita mengenai aroma tidak biasa ketika proses pemakaman berlangsung, tetapi ia tidak dapat memastikan kaitannya dengan ritual yang sebelumnya direncanakan Pak Dadang.
Setelah menerima kabar kematian tersebut, Roni menghubungi juru kunci sebagaimana pesan sebelumnya. Sang juru kunci mengatakan Roni sudah berada dalam kondisi aman dan gangguan di rumah kemudian dinetralisasi. Belakangan Roni mendengar usaha serta kehidupan keluarga Pak Dadang mengalami kehancuran, sementara Pak Asep juga disebut kehilangan banyak kekayaannya. Seorang pekerja bernama Jaja dikabarkan meninggal akibat kecelakaan beberapa waktu setelahnya. Namun Roni tidak mempunyai bukti bahwa rangkaian kejadian tersebut merupakan akibat dari ritual jual musuh.
Roni kemudian kembali mendatangi juru kunci setelah diminta bertemu dengan sosok yang dipercaya sebagai leluhurnya. Pada malam hari ia ditempatkan seorang diri di sekitar makam keramat dan pohon besar. Ia mengaku sempat melihat sosok menyerupai pocong sebelum akhirnya seorang lelaki bertopi seperti petani menunjukkan jalan kepadanya. Juru kunci kemudian mengatakan lelaki bertopi itulah sosok leluhurnya, sedangkan sosok sebelumnya hanya mengganggunya. Dalam pengalaman tersebut Roni juga mendapat pesan agar mencari pekerjaan lain dan disebut mempunyai rezeki apabila bekerja di kapal.
Bu Maya sendiri, menurut kabar terakhir yang diterima Roni bertahun-tahun kemudian, tetap hidup dan kemudian menikah lagi. Artinya rencana Pak Dadang untuk “menjual” istri mudanya tidak pernah terwujud seperti yang diinginkan. Roni kini bekerja sebagai petugas keamanan dan memandang kejadian 2005 tersebut sebagai pengalaman ketika dirinya dijadikan joki ritual untuk kepentingan orang lain. Pesan yang paling ia tekankan adalah berhati-hati memilih teman dan orang yang dipercaya, karena menurut pengalamannya seseorang yang terlihat baik sekalipun dapat membawa kita masuk ke persoalan yang sama sekali bukan milik kita hingga keselamatan diri sendiri ikut menjadi taruhan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
