Kisah Mas Tito bermula pada 2015 ketika dirinya masih menjalankan usaha bengkel motor. Suatu hari saat bengkel sedang sepi, Tito memilih menutupnya lebih awal dan pergi memancing. Di sekitar lokasi tersebut, ia melihat seorang lelaki yang bekerja sebagai pemulung sedang mengumpulkan botol bekas, paku, dan barang rongsokan. Merasa kasihan, Tito memanggil lelaki yang kemudian disamarkan dengan nama Budi itu dan mengajaknya makan bersama.
Sejak pertemuan tersebut, Budi cukup sering mampir ke rumah atau bengkel Tito ketika sedang mencari rongsokan. Tito yang saat itu masih bujangan tidak keberatan berbagi makanan, meskipun terkadang hanya mempunyai mi instan dan telur. Hubungan keduanya perlahan menjadi cukup dekat. Namun kesibukan Tito mengerjakan motor di luar kota, pernikahan, serta perubahan pekerjaan membuat mereka akhirnya kehilangan kontak selama beberapa tahun.
Pada 2021, Tito tanpa sengaja kembali melihat seseorang yang wajahnya terasa familiar ketika sedang dalam perjalanan pulang dari rumah konsumen. Setelah diperhatikan, ternyata lelaki tersebut adalah Budi. Tito hampir tidak percaya karena penampilan sahabat lamanya sudah berubah total. Budi yang dahulu berpakaian sederhana sambil membawa karung rongsokan kini tampil mewah dengan jam mahal dan tinggal di sebuah rumah besar.
Kejutan Tito semakin besar ketika melihat usaha yang berada di rumah Budi. Di sana terdapat showroom yang dipenuhi kendaraan kelas atas. Menurut kesaksiannya, mobil-mobil yang terlihat bukan kendaraan murah, melainkan jenis seperti Fortuner, Pajero, bahkan Lexus. Bagian dalam rumahnya pun dipenuhi berbagai barang mewah. Melihat perubahan drastis tersebut, Tito spontan bertanya bagaimana seorang mantan pemulung dapat memiliki kekayaan sebesar itu.
Budi kemudian mengatakan bahwa awal kesuksesannya bukan berasal dari showroom mobil, melainkan dari “jualan garam”. Tito awalnya mengira Budi benar-benar berdagang garam dapur di pasar dan merasa tidak masuk akal jika usaha tersebut mampu menghasilkan kekayaan begitu besar. Namun Budi mengatakan garam yang dimaksud bukan sembarang garam. Ketika Tito mengaku ingin mengetahui caranya agar dapat sukses seperti dirinya, Budi menawarkan untuk mempertemukannya dengan sang guru.
Sekitar tiga hari kemudian, Budi datang ke rumah Tito pada malam hari dan meminta dirinya membawa beberapa pakaian karena perjalanan tersebut membutuhkan waktu beberapa hari. Kepada istrinya, Tito hanya mengatakan bahwa dirinya diminta menjadi sopir Budi. Ia kemudian mengendarai mobil mewah milik temannya itu selama kurang lebih dua setengah jam hingga memasuki daerah sepi dengan persawahan dan jarak antarpermukiman yang cukup jauh.
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah tua yang dihuni seorang lelaki lanjut usia yang dipanggil Mbah bersama istrinya. Setelah diperkenalkan, sang Mbah langsung bertanya apakah Tito ingin menjadi seperti Budi. Tito mengiyakan. Namun setelah memperhatikannya, sang Mbah justru mengatakan bahwa Tito tidak bisa menjalani jalan yang sama karena kondisi tubuh atau bawaan lahirnya dianggap tidak cocok. Meski demikian, karena sudah berada di lokasi, Tito diminta ikut menyaksikan ritual Budi dengan satu syarat: semua yang dilihatnya harus dirahasiakan.
Budi lalu mengeluarkan sebuah kardus bekas televisi tabung dan kantong plastik besar berisi perlengkapan ritual. Tito mengaku melihat kain kafan, tali yang menyerupai tali pocong, kapas, kemenyan, bunga tujuh rupa, berbagai wewangian, serta beberapa wadah lama. Istri sang Mbah kemudian datang membawa segelas cairan kental yang disebut Tito menyerupai darah. Atas perintah sang guru, Budi meminum cairan tersebut hingga habis sebelum seluruh perlengkapan dibawa pergi.
Menjelang tengah malam, Tito kembali diminta mengemudikan mobil menuju sebuah kompleks pemakaman tua yang sudah terbengkalai. Area tersebut gelap, dipenuhi pohon besar, dan hampir tidak memiliki penerangan. Sesampainya di sana, Budi menggelar kain kafan di dekat sebuah pohon, menyiapkan sesajen serta garam krosok, sementara Tito diperintahkan menjauh sekitar seratus meter agar hanya menyaksikan dari kejauhan.
Menurut kesaksian Tito, Budi kemudian melepaskan pakaian luarnya hingga hanya mengenakan pakaian dalam. Dengan sebuah wadah berisi garam di satu tangan dan kardus televisi di tangan lainnya, Budi berjalan berkeliling kompleks makam sambil berulang kali menawarkan, “Garam, garam, garam.” Ritual itu dilakukan dalam suasana malam yang sunyi sementara Tito terus memperhatikannya dari kejauhan.
Saat menyaksikan ritual, Tito mengaku didatangi sosok menyerupai anak kecil dengan wajah tidak normal, telinga yang bentuknya berbeda, pakaian sangat kotor, serta aroma amis. Sosok tersebut justru menyuruh Tito tetap diam dan hanya melihat tanpa ikut campur. Tidak lama kemudian, Tito mengaku melihat sosok lain berjalan mendekati Budi dalam keadaan tanpa kepala, sementara kepalanya sendiri berada dalam genggaman.
Budi disebut sempat berhadapan dengan sosok tersebut seperti sedang melakukan interaksi sebelum makhluk itu pergi. Setelah itu ia kembali berjalan mengelilingi makam sambil menawarkan garam. Beberapa waktu kemudian muncul sosok perempuan yang menurut Tito menyerupai kuntilanak dengan pakaian kotor dan penampilan yang tidak seperti manusia biasa. Sosok itu juga sempat berada di hadapan Budi sebelum akhirnya menghilang.
Ritual malam pertama berlangsung berjam-jam hingga menjelang dini hari. Setelah selesai, Budi kembali ke pohon tempat kain kafan digelar dan membereskan seluruh perlengkapan. Ketika mereka kembali ke rumah sang Mbah, Tito terkejut saat kain yang menutupi kardus televisi dibuka. Menurut penglihatannya, di dalam kardus tersebut terdapat uang pecahan Rp100 ribu dalam jumlah banyak. Budi kemudian memasukkan uang itu ke dalam tas.
Malam berikutnya ritual kembali dilakukan di kompleks pemakaman yang berbeda. Sebelum berangkat, Budi kembali meminum cairan yang disebut Tito sebagai darah dan membawa sesajen, garam, serta kardus televisi. Tito sekali lagi hanya menjadi sopir dan pengamat. Anehnya, sosok anak kecil yang dilihatnya pada malam pertama kembali muncul meskipun lokasi makam sudah berbeda.
Pada malam kedua, Budi menjalankan pola yang sama dengan berkeliling menawarkan garam. Namun menurut Tito, tidak banyak sosok yang muncul. Ia hanya mengaku melihat sosok menyerupai pocong dengan kain berwarna merah dan kotor mendekati Budi. Setelah pertemuan singkat tersebut, tidak ada lagi sosok yang datang hingga ritual dihentikan menjelang dini hari.
Malam ketiga bertepatan dengan malam Jumat Kliwon dan ritual kembali dilakukan di lokasi pemakaman lainnya. Kali ini Budi disebut harus meminum dua gelas cairan sebelum berangkat. Setelah berjam-jam berkeliling menawarkan garam tanpa mendapatkan “pembeli”, Tito mengaku melihat sosok tinggi besar berbulu dengan bentuk seperti perpaduan manusia dan hewan, bermata merah, bertaring, serta lidah menjulur mendatangi Budi.
Setelah sosok terakhir tersebut menghilang, ritual dinyatakan selesai. Ketika kembali ke rumah sang Mbah, kardus televisi dibuka dan menurut kesaksian Tito kali ini isinya penuh dengan uang. Sang Mbah mengatakan Budi telah berhasil melewati malam terakhir dan ritualnya dinyatakan berhasil. Tito yang sejak awal ingin mengetahui rahasia kekayaan temannya semakin penasaran bagaimana sebenarnya sistem “jualan garam” tersebut bekerja.
Dalam perjalanan pulang, Tito akhirnya bertanya apakah memperoleh uang sebanyak itu hanya membutuhkan ritual menjual garam di makam. Budi kemudian membuka rahasia yang selama ini tidak diketahui Tito. Menurut pengakuan Budi, setiap kali istrinya hamil dan usia kandungannya melewati sekitar tujuh bulan, kehamilan tersebut selalu berakhir dengan keguguran. Budi menyebut keadaan itu sebagai syarat utama dari praktik yang dijalaninya. Tito langsung teringat ucapan sang Mbah bahwa dirinya tidak cocok mengikuti ritual tersebut dan merasa bersyukur tidak sampai melanjutkannya.
Sebelum berpisah, Budi memberikan uang Rp1 juta kepada Tito sebagai bayaran karena telah menjadi sopir selama tiga hari. Tito sempat takut menerima uang tersebut, tetapi Budi meyakinkan bahwa itu hanya upah untuknya. Sesampainya di rumah, Tito menceritakan semuanya kepada sang istri. Istrinya marah besar dan meminta agar uang itu tidak digunakan untuk kebutuhan keluarga. Mereka kemudian berkeliling mendatangi lima masjid dan memasukkan masing-masing sekitar Rp200 ribu ke kotak amal hingga uang tersebut habis.
Istri Tito kemudian memblokir nomor Budi dan meminta suaminya memutus hubungan dengannya. Tito menuruti permintaan itu dan memilih kembali menjalani pekerjaannya secara normal. Pada 2023, ketika sedang mengerjakan proyek di luar kota, istrinya mengabarkan bahwa ada orang yang datang ke rumah membawa kabar Budi meninggal dunia akibat kecelakaan sepeda motor. Tito sempat bertanya-tanya apakah kematian tersebut berkaitan dengan praktik yang pernah disaksikannya, tetapi ia tidak memiliki bukti untuk menyimpulkan hubungan keduanya. Dari pengalaman itu, Tito memilih hidup dari hasil pekerjaannya membuat plafon dan kitchen set serta berpesan agar orang tidak tergoda kekayaan instan. Baginya, penghasilan yang sedikit tetapi halal jauh lebih berharga daripada kemewahan yang harus dibayar dengan konsekuensi yang tidak diketahui.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
