Pada 2015, setelah meninggalkan Jawa Timur dan merantau ke Jakarta, Mas Tio mendapatkan pekerjaan sebagai sopir di sebuah perusahaan. Tugasnya mengantar dan menjemput karyawan sehingga waktu kerjanya lebih banyak pada pagi dan sore hari. Karena tinggal di mess perusahaan dan belum berkeluarga, ia memiliki cukup banyak waktu luang. Sekitar satu bulan bekerja, Tio iseng mengunjungi salah satu tempat hiburan di kawasan Mangga Besar, Jakarta.
Di tempat itulah Tio berkenalan dengan seorang perempuan yang kemudian disamarkan dengan nama Dita. Perempuan berambut kemerahan itu menghampirinya ketika sedang duduk sendiri dan meminta izin untuk bergabung. Keduanya mengobrol cukup lama hingga akhirnya bertukar PIN BlackBerry. Dua hari kemudian, Dita kembali menghubungi Tio dan mengajaknya bertemu di sebuah kedai kopi karena ingin menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.
Dita mengatakan dirinya meneruskan usaha katering milik kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Ia juga mengaku pernah menjalani tiga kali pernikahan siri, tetapi merasa para lelaki yang bersamanya hanya tertarik kepada harta. Akibat berbagai persoalan tersebut, kondisi keuangannya semakin buruk dan usaha katering yang diwarisinya berada di ambang kehancuran. Bahkan untuk membayar karyawan dan mendapatkan pesanan baru saja mulai terasa sulit.
Awalnya Dita hanya mengatakan ingin mencari tempat untuk menenangkan pikiran. Melalui seorang temannya, ia mendapatkan informasi mengenai seseorang di wilayah Pemalang, Jawa Tengah. Sekitar satu setengah bulan setelah percakapan pertama mereka, Dita meminta Tio mengantarkannya ke tempat tersebut. Karena perjalanan dari Jakarta masih membutuhkan waktu panjang, mereka berangkat menggunakan mobil milik Dita dan menempuh perjalanan sekitar enam hingga tujuh jam.
Sepanjang perjalanan, Tio mulai curiga bahwa tujuan Dita bukan sekadar mencari ketenangan. Setelah terus ditanya, Dita mengakui ingin melakukan sesuatu agar usaha kateringnya kembali lancar. Mereka akhirnya tiba sekitar dini hari di sebuah daerah pegunungan yang cukup terpencil. Di sana terdapat bangunan setengah jadi, petilasan, serta sebuah sumur tua. Tio juga melihat beberapa orang lain yang tampaknya sedang menjalani ritual di lokasi yang sama.
Dita kemudian bertemu seorang juru kunci yang dipanggil Abah dan menceritakan seluruh persoalan hidupnya. Menurut kesaksian Tio, Abah memberikan serangkaian syarat berupa puasa mutih selama tiga hari, kembang tujuh rupa, kemenyan merah dan putih, berbagai sesajen, serta sebuah kelapa muda yang buahnya menghadap ke barat dan harus dipetik tanpa menyentuh tanah. Selain itu terdapat benda menyerupai paku kecil berwarna keemasan yang disebut akan dipasang ke tubuh Dita pada tahap akhir ritual. Biaya yang dikeluarkan Dita saat itu disebut sekitar Rp18 juta untuk mahar dan berbagai perlengkapan.
Ritual hari pertama dimulai dengan mandi menggunakan air dari sumur tua dan campuran bunga. Menurut Tio, Dita menjalani proses tersebut tanpa mengenakan pakaian dan dimandikan langsung oleh sang juru kunci. Hal yang membuatnya heran adalah aroma air yang menurutnya sangat amis dan menyerupai bau lendir. Seorang pembantu juru kunci sebelumnya juga bercerita bahwa tempat tersebut dipercaya dihuni sosok perempuan dengan tubuh menyerupai ular, bermahkota, dan berwarna kehijauan.
Setelah ritual selesai, Dita mengatakan kepada Tio bahwa selama prosesi dirinya merasa seperti dililit seekor ular perempuan dengan sangat kuat. Ia juga merasa tubuhnya dipenuhi sesuatu yang menyerupai lendir. Ketika Tio menanyakan kejadian tersebut kepada Abah, sang juru kunci justru menyebutnya sebagai pertanda bahwa Dita “diterima” oleh penghuni tempat tersebut. Menurut kepercayaan yang dijelaskan kepada mereka, tidak semua orang akan mengalami reaksi yang sama.
Karena masih harus bekerja, Tio sempat kembali ke Jakarta sementara Dita melanjutkan puasa dan ritual hari kedua. Setelah menyelesaikan pekerjaan, ia kembali lagi ke Pemalang dan mendapati Dita sudah selesai menjalani tahap berikutnya. Dita kemudian menceritakan pengalaman yang lebih aneh. Selain kembali merasa dililit sosok ular, ia mengaku didatangi sosok laki-laki bertubuh kehijauan dan mengalami pengalaman yang menurutnya menyerupai hubungan intim dengan makhluk tersebut.
Hari ketiga menjadi tahap penyempurnaan. Setelah kembali menjalani mandi ritual, Dita dibawa ke sebuah ruangan khusus. Di depan mata Tio, benda-benda kecil berwarna keemasan yang disebut sebagai susuk ditanamkan pada beberapa bagian tubuh Dita, termasuk di sekitar alis, bagian bawah mulut, serta bagian tubuh lainnya termasuk area intim. Setelah itu kelapa muda yang sebelumnya dipersiapkan dibelah. Karena air di dalamnya terlihat jernih, Abah mengatakan ritual Dita dinyatakan berhasil.
Sebelum pulang, Dita mendapat sejumlah pantangan. Menurut Tio, ia dilarang mengonsumsi jeroan hewan dan tidak boleh menggigit sate langsung dari tusukannya. Dita mengaku memahami segala risiko dan menegaskan bahwa seluruh keputusan tersebut adalah pilihannya sendiri. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, Tio bahkan mengingatkan agar dirinya tidak dilibatkan apabila suatu hari muncul masalah akibat ritual tersebut. Sesampainya di rumah, Dita memberikan sekitar Rp3 juta kepada Tio sebagai tanda terima kasih karena telah mengantarnya.
Sekitar satu minggu kemudian, Dita mengundang Tio kembali ke kedai kopi. Kali ini ia datang bersama seorang laki-laki dari Singapura yang disamarkan sebagai Koh Aseng. Tio mengaku melihat perubahan pada penampilan Dita setelah menjalani ritual; wajah dan pesonanya terasa berbeda dari ketika pertama kali bertemu. Koh Aseng kemudian mengatakan dirinya serius terhadap Dita dan bahkan mentransfer sekitar Rp200 juta di hadapan Tio untuk membantu modal usaha kateringnya.
Hubungan keduanya berkembang cepat. Menurut cerita Tio, Koh Aseng kemudian memeluk Islam sebelum menikahi Dita secara agama. Karena tetap mempunyai urusan di Singapura, Aseng hanya datang ke Jakarta setiap beberapa bulan. Namun bantuan modal tersebut memberi perubahan besar bagi kehidupan Dita. Dalam waktu sekitar tiga bulan, katering yang sebelumnya hampir bangkrut kembali mendapatkan banyak pesanan, jumlah karyawan bertambah, rumah direnovasi, dan Dita bahkan membeli kendaraan lagi.
Di balik perkembangan usaha tersebut, hubungan Dita dan Aseng mulai bermasalah. Tio mengaku beberapa kali menasihati Dita karena mengetahui perempuan itu berhubungan dengan laki-laki lain. Pada akhirnya Koh Aseng mengetahui perselingkuhan tersebut dan datang ke Jakarta dalam keadaan marah. Pertemuan mereka berakhir dengan keputusan untuk berpisah. Kepada Tio, Aseng juga pernah menceritakan adanya kondisi fisik yang menurutnya tidak biasa ketika berhubungan dengan Dita, tetapi Tio saat itu memilih tidak mengungkapkan bahwa Dita pernah menjalani ritual di Pemalang.
Tidak lama setelah berpisah dari Aseng, Dita memperkenalkan laki-laki lain yang disamarkan dengan nama Teddy. Pria tersebut disebut bekerja sebagai kontraktor dan mempunyai hubungan dengan perusahaan batu bara di Kalimantan. Hubungan mereka kemudian berlanjut ke pernikahan. Teddy banyak memenuhi kebutuhan Dita, mulai dari kendaraan hingga perhiasan, sementara bisnis kateringnya juga terus berkembang dan kembali menambah karyawan.
Namun menurut kesaksian Tio, perilaku Dita terhadap laki-laki semakin sulit dikendalikan. Ia mengaku mengetahui Dita sering berganti pasangan meskipun sudah bersama Teddy. Suatu ketika Dita jatuh sakit dan dibawa Teddy ke rumah sakit. Dari pemeriksaan medis itulah, menurut cerita Tio, Dita kemudian diketahui hidup dengan HIV. Teddy terkejut dengan hasil tersebut dan hubungan mereka akhirnya juga berakhir dengan perceraian.
Setelah kondisinya semakin memburuk, Dita menghubungi Tio dan meminta pertolongan. Kepada Tio, ia mengaku merasa perubahan dorongan seksualnya menjadi semakin kuat setelah menjalani ritual dan pemasangan susuk. Ia juga merasa setiap kali berhasil menarik perhatian laki-laki, keuntungan materi ikut bertambah. Dita kemudian meminta Tio mencarikan ustaz atau kiai yang dapat membantu melepaskan susuk-susuk yang masih diyakininya berada di tubuhnya.
Tio akhirnya membawa seorang ustaz untuk membantu Dita melalui proses rukiah. Menurut penuturan Tio, ustaz tersebut mengatakan benda-benda yang dipasang dahulu sebaiknya dilepaskan oleh orang yang memasangnya. Karena itu Tio kembali menuju tempat ritual di Pemalang untuk mencari Abah. Namun ketika sampai, juru kunci tersebut sudah tidak berada di sana dan warga mengatakan ia telah pindah. Tio pun pulang ke Jakarta tanpa berhasil menemukan orang yang dahulu memasang susuk kepada Dita.
Kondisi kesehatan Dita terus menurun sementara hartanya perlahan habis untuk biaya hidup dan pengobatan. Mobil serta berbagai aset dijual, usaha katering akhirnya ikut merosot, dan rumah menjadi salah satu harta terakhir yang tersisa. Tio kemudian menghubungi Teddy agar membantu mantan istrinya. Menurut ceritanya, Teddy masih bersedia membantu proses pengobatan yang berlangsung cukup lama, sekitar dua tahun, meskipun hubungan pernikahan mereka telah berakhir.
Sekitar satu minggu sebelum meninggal, Dita kembali meminta Tio datang. Dalam kondisi tubuh yang sangat lemah, ia menangis dan mengatakan dokter telah menyampaikan bahwa kondisi kesehatannya sudah berada pada tahap yang sangat berat. Seminggu kemudian Tio menerima kabar bahwa Dita meninggal dunia. Pada proses pemakaman, Tio dan Teddy mengaku menyaksikan beberapa keadaan tubuh yang mereka anggap tidak biasa, sementara Teddy juga bercerita melihat sejumlah ular kecil berwarna hijau muncul di sekitar makam. Semua kejadian tersebut merupakan kesaksian mereka dan tidak dapat dipastikan berkaitan dengan ritual yang pernah dijalani Dita.
Setelah kematian Dita, rumah yang pernah ditempatinya juga disebut masih menyisakan aroma anyir di kamar tertentu menurut orang yang kemudian membelinya. Bagi Tio, perjalanan Dita menjadi pelajaran tentang bahaya mengejar kekayaan melalui jalan yang tidak dipahami konsekuensinya. Namun penting dibedakan bahwa diagnosis HIV yang diceritakan dalam kisah ini merupakan kondisi medis akibat infeksi virus dan transisinya tidak dapat dibuktikan berasal dari susuk, pesugihan, atau ritual ghaib. Hubungan antara ritual, perilaku Dita, kemunduran usahanya, hingga kematiannya adalah penafsiran para narasumber berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Pesan yang ingin disampaikan Tio adalah agar kesulitan ekonomi tidak membuat seseorang memilih jalan pintas yang akhirnya justru menambah persoalan dalam hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
