Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu rapper legendaris Indonesia, Iwa K sudah tertarik pada musik rap sejak masih SMP pada awal 1980-an. Ketertarikannya bermula dari demam breakdance yang saat itu sedang populer di Jakarta. Dari sekadar menirukan lagu rap favorit, Iwa perlahan belajar menulis lirik sendiri, membentuk band saat SMA, menjadi pengisi berbagai acara, hingga akhirnya mulai masuk dunia rekaman sekitar 1990 dan membangun karier profesionalnya.
Aktivitas sebagai musisi membuat Iwa terbiasa menjalani kehidupan malam. Proses rekaman sering dimulai selepas Magrib dan baru selesai menjelang dini hari, bahkan tidak jarang ia tiba di rumah pada pagi hari. Suatu malam ketika pulang sekitar pukul dua pagi dan keluar dari tol Rawamangun, Iwa melihat sebuah mobil Mitsubishi putih yang tampak mogok. Di dekat mobil itu berdiri seorang perempuan muda yang menurutnya berparas cantik dan sedang menunggu kendaraan untuk pulang.
Iwa menghampiri perempuan tersebut dan menawarkan bantuan karena alamat rumah yang disebut ternyata tidak jauh dari rumah orang tuanya. Namun dalam perjalanan, Iwa justru mengajaknya mampir ke sebuah hotel dengan alasan ingin menggunakan toilet. Perempuan itu menerima ajakan tersebut. Di hotel, keduanya menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya berhubungan intim. Iwa mengingat perempuan tersebut sangat wangi, sopan, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda aneh yang membuatnya berpikir bahwa ia bukan manusia biasa.
Setelah azan Subuh terdengar, Iwa mengantar perempuan itu pulang. Ia masih mengingat jelas rumah tujuan tersebut: sebuah rumah dua lantai dengan pagar rendah, balkon panjang, dan lampu teras yang menyala terang. Setelah perempuan itu masuk, Iwa melanjutkan perjalanan. Namun belum sampai lima menit, ia baru sadar belum meminta nomor telepon perempuan tersebut sehingga memutuskan kembali ke lokasi.
Ketika kembali, rumah terang yang baru saja dilihatnya sudah tidak ada. Di tempat yang menurut ingatannya sama, hanya terdapat rumah tua terbengkalai dengan atap rusak, cat mengelupas, pagar berkarat, dan beberapa bagian bangunan yang sudah berlubang. Iwa berputar beberapa kali di jalan yang sama untuk mencari rumah tersebut, tetapi tidak pernah menemukannya. Keesokan harinya ia kembali bersama seorang teman pada sore hari dan mendapati kondisi yang sama: hanya rumah kosong terbengkalai yang berdiri di sana.
Temannya kemudian mengatakan bahwa perempuan yang ditemui Iwa mungkin bukan manusia. Iwa sendiri tidak berani memastikan kesimpulan tersebut karena selama bersama perempuan itu ia sama sekali tidak melihat sesuatu yang menyeramkan. Justru pengalaman malam tersebut terasa sangat normal baginya. Ia bahkan mengaku sebenarnya berharap dapat kembali bertemu karena merasa perempuan tersebut memiliki sifat yang menyenangkan dan bukan sekadar seseorang yang ingin ditemuinya untuk satu malam.
Beberapa hari kemudian, Iwa mengalami kejadian lain ketika sedang berada di antara kondisi tidur dan sadar. Ia merasa perempuan yang sama masuk ke kamarnya dan kembali berada bersamanya. Saat memperhatikan wajahnya, Iwa mengaku bentuk wajah perempuan tersebut perlahan berubah hingga muncul paruh besar menyerupai burung. Ia kemudian terbangun dalam keadaan tubuh yang sangat lemas. Meski demikian, Iwa tetap tidak berani menyimpulkan apakah pengalaman tersebut benar-benar berkaitan dengan makhluk ghaib, mimpi, halusinasi, atau kondisi bawah sadarnya sendiri.
Setelah peristiwa itu, beberapa teman Iwa justru mengaku pernah melihat dirinya berkendara bersama seorang perempuan cantik meskipun menurut Iwa saat itu ia sedang sendirian di mobil. Pengalaman tersebut terjadi beberapa kali ketika teman-temannya berpapasan dengannya di jalan. Iwa memilih tidak terlalu memikirkannya karena setelah mimpi tentang perempuan berparuh tersebut, ia tidak lagi mengalami teror langsung atau gangguan yang membuat dirinya merasa terancam.
Bertahun-tahun kemudian, sekitar awal 2000-an, pengalaman berbeda datang dari seorang teman perempuan yang disamarkan dengan nama NASA. Perempuan tersebut datang ke rumah Iwa dalam keadaan menangis karena bagian bawah dagunya terus terasa sangat sakit. Setelah didesak untuk bercerita, NASA mengaku pernah memasang susuk di lokasi yang sama. Menurut pengakuannya, rasa sakit itu sering datang pada malam hari dan dapat membuat tubuhnya terasa panas serta menggigil hingga dirinya sangat tersiksa.
Iwa awalnya menyarankan NASA kembali kepada orang yang memasang susuk tersebut. Namun beberapa hari kemudian NASA datang lagi dengan kondisi semakin tertekan dan mengatakan orang yang dahulu memasangnya sudah meninggal. Karena tidak mengetahui cara menangani hal tersebut secara spiritual, Iwa teringat seorang sahabat lamanya yang berprofesi sebagai dokter spesialis bedah. Ia kemudian menghubungi sang dokter dan meminta bantuan untuk mencoba mengeluarkan benda yang diyakini sebagai susuk itu melalui prosedur medis.
Malam hari mereka datang ke ruang bedah. NASA dibius, sedangkan Iwa tetap berada di dalam menemani sahabatnya melakukan tindakan. Anehnya, setiap kali benda kecil itu terasa berada di satu titik, setelah bagian tersebut dibuka benda itu seperti berpindah ke lokasi lain. Proses pencarian berlangsung berulang-ulang selama lebih dari tiga jam hingga dokter tersebut sempat frustrasi dan meminta berhenti karena khawatir hanya akan meninggalkan luka tanpa menemukan benda apa pun.
Setelah beristirahat sebentar, Iwa meyakinkan sahabatnya untuk kembali mencoba dengan niat membantu NASA yang sudah lama kesakitan. Pencarian dilanjutkan hingga akhirnya dokter tersebut berhasil menemukan sebuah benda kecil yang digambarkan Iwa menyerupai jarum berwarna emas. Benda itu kemudian dikeluarkan, luka dijahit kembali, dan susuk tersebut disimpan sementara di dalam wadah obat sebelum akhirnya dibuang Iwa ke aliran sungai.
Setelah proses itu, NASA menurut Iwa tidak lagi mengalami rasa sakit yang sebelumnya muncul hampir setiap malam. Iwa juga mengaku tidak mendapat gangguan setelah membantu mengeluarkan susuk tersebut. Kepada temannya, ia berpesan agar tidak lagi mengambil jalan pintas hanya untuk membuat orang tertarik atau merasa senang ketika bertemu dengannya. Menurut Iwa, rasa percaya diri dan kemampuan membuat orang nyaman sebaiknya dibangun melalui latihan serta sikap positif, bukan bergantung pada benda yang tidak dipahami konsekuensinya.
Pengalaman mistis lain dialami Iwa ketika menjalani tur ke Yogyakarta sekitar akhir 1990-an atau awal 2000-an. Ia dan rombongan menginap di sebuah hotel besar yang saat itu akan segera ditutup sementara untuk renovasi. Karena kelelahan setelah beberapa kota, Iwa menelepon bagian health center untuk meminta layanan pijat. Petugas mengatakan semua terapis masih melayani anggota rombongannya dan baru tersedia sekitar satu setengah hingga dua jam kemudian, sehingga Iwa memilih tidur terlebih dahulu.
Belum lama berbaring, pintu kamarnya berbunyi. Seorang perempuan berseragam terapis hotel berdiri di depan dan mengatakan akan memijatnya. Tanpa merasa curiga, Iwa mempersilahkannya masuk. Pijatannya menurut Iwa sangat nyaman hingga dirinya tertidur dan bermimpi terapis tersebut berubah menjadi perempuan muda cantik berkemben dengan rambut dicepol. Setelah selesai, perempuan itu kembali tampak seperti ibu-ibu berseragam biasa dan pergi setelah menerima tip.
Iwa kemudian menelepon health center untuk mengucapkan terima kasih karena merasa mereka berhasil mengirim terapis jauh lebih cepat dari perkiraan. Namun petugas justru bersikeras bahwa tidak ada seorang pun yang dikirim ke kamarnya. Pengalaman serupa juga dialami banyak anggota rombongan. Ada yang mendengar pintu toilet bergerak sendiri, melihat perempuan berambut panjang di kamar mandi, hingga merasa tersesat ketika berjalan di dalam hotel. Bagi Iwa, kejadian pijat tersebut menjadi salah satu pengalaman yang sulit dianggap sekadar halusinasi karena petugas hotel sendiri mengatakan tidak pernah mengirim terapis kepadanya.
Pengalaman yang jauh lebih mengganggu terjadi ketika Iwa beberapa hari merasa tubuhnya seperti demam ringan tetapi tanpa sakit yang jelas. Suatu pagi setelah bangun tidur, ia mengaku menemukan banyak benda menyerupai belatung putih bergerak di tubuh dan tempat tidurnya. Namun ketika dicoba dihancurkan, benda tersebut terasa sangat keras seperti kuku. Iwa kemudian meminta adik asuhnya mencampurkan garam dengan air dan menyiramkannya ke benda-benda tersebut.
Menurut kesaksiannya, setiap terkena air garam benda menyerupai belatung itu mengeluarkan suara kecil seperti popcorn yang meletup. Setelah semuanya dibersihkan, malam harinya Iwa bermimpi melihat sosok tinggi, sangat kurus, berkulit hitam seperti bekas terbakar, tidak berambut, dan hanya mengenakan celana pendek. Sosok tersebut memperkenalkan dirinya sebagai “jin api”. Ketika keduanya berjabat tangan, Iwa merasa seperti kalah dalam sebuah adu kekuatan dan terbangun dalam keadaan sangat lemas.
Mimpi tersebut berulang pada malam berikutnya dengan hasil yang sama. Pada malam ketiga, Iwa mengaku justru menunggu kemunculan sosok itu karena tidak ingin terus merasa kalah. Dalam pengalaman tidurnya, mereka kembali berhadapan hingga kali ini sosok tersebut yang akhirnya jatuh. Iwa menyuruhnya tidak kembali lagi. Setelah malam itu, demam ringan, kehilangan selera makan, serta gangguan yang sebelumnya dirasakan disebut langsung menghilang. Ia mendengar dari beberapa temannya bahwa sosok seperti itu sering dianggap sebagai “kiriman”, tetapi Iwa memilih tidak mencari tahu siapa yang mungkin berada di baliknya.
Bagi Iwa, rasa takut, marah, dan keinginan membalas justru hanya menghabiskan energi. Sikap tersebut juga ia bawa ketika mengalami titik rendah dalam hidup dan harus berurusan dengan hukum hingga menjalani rehabilitasi. Hal paling berat baginya bukan sekadar kehilangan kebebasan atau materi, melainkan merasa telah mengecewakan istri dan anak-anak serta harus terpisah dari keluarga. Ia mengaku pernah berada di titik hampir kehilangan seluruh harta, tetapi memilih menjadikan masa tersebut sebagai kesempatan untuk menulis, belajar, dan kembali membangun hidupnya.
Hingga kini Iwa mengatakan berbagai pengalaman mistis tersebut tidak membuat karier musiknya terganggu secara khusus. Pasang surut pekerjaan tetap ia anggap sebagai bagian alami dari perjalanan seorang musisi. Dari perempuan misterius yang ditemuinya di jalan, pengalaman membantu mencabut susuk, terapis hotel yang keberadaannya tidak diakui pihak hotel, hingga sosok yang ia sebut jin api, Iwa memilih memandang semuanya tanpa rasa benci berlebihan. Baginya, sesuatu yang tidak terlihat tidak selalu harus langsung dianggap sebagai musuh. Selama tidak mengganggu, ia memilih hidup berdampingan, tetapi ketika sesuatu mulai mengusik kesehatan, pikiran, atau keluarganya, ia percaya seseorang tetap harus menjaga batas dan mempertahankan dirinya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
