Pada 3 September 2026, Bang Egi bersama 11 orang dari komunitas pemancing berangkat menuju Selat Sunda untuk menjalani perjalanan memancing yang sudah direncanakan sejak sekitar satu tahun sebelumnya. Bagi Bang Egi, perjalanan tersebut terasa semakin spesial karena menjadi pengalaman pertamanya memancing langsung di laut. Tidak ada satu pun dari mereka yang membayangkan bahwa perjalanan yang awalnya dibuat untuk bersenang-senang itu justru akan membawa mereka begitu dekat dengan sebuah peristiwa alam yang mencekam.
Bang Egi lebih dulu berangkat bersama seorang rekannya yang disamarkan dengan nama Bang Dimas, pemancing yang menurutnya jauh lebih berpengalaman di laut. Mereka menuju Dermaga Probo agar bisa mempersiapkan berbagai perlengkapan sebelum anggota rombongan lainnya tiba. Sepanjang perjalanan, Egi mengaku sama sekali tidak mempunyai firasat buruk. Pikiran mereka saat itu hanya tertuju pada joran, tackle, umpan, logistik, dan target ikan yang ingin didapatkan.
Sesampainya di dermaga sekitar pukul 21.30, rombongan sempat menanyakan kondisi Anak Gunung Krakatau kepada kapten kapal. Mereka sebelumnya sudah mendengar informasi bahwa gunung tersebut sedang menunjukkan aktivitas erupsi. Namun menurut kesaksian Egi, kapten mengatakan perjalanan masih aman dengan mempertimbangkan kondisi angin dan ombak. Mendengar penjelasan tersebut, rombongan memutuskan tetap melanjutkan perjalanan.
Seluruh logistik kemudian dinaikkan ke kapal sambil menunggu anggota komunitas lainnya tiba dari Jakarta. Rencana awal mereka adalah berada di laut hingga malam berikutnya. Perjalanan menuju spot pertama membutuhkan waktu sekitar empat sampai lima jam sehingga sebagian anggota rombongan memilih beristirahat selama perjalanan. Ketika Egi terbangun sekitar pukul 06.30, pemandangan Anak Gunung Krakatau sudah terlihat cukup dekat dari lokasi kapal mereka.
Spot pertama sebenarnya disebut ABK sebagai salah satu titik yang memiliki banyak ikan besar. Namun sejak mulai memancing, rombongan merasa ada sesuatu yang berbeda. Berkali-kali umpan diturunkan di kedalaman lebih dari seratus meter, tetapi ikan yang diharapkan tidak kunjung menyambar. Ombak di lokasi tersebut juga cukup besar hingga Egi dan beberapa temannya mengalami mabuk laut.
Karena kondisi laut kurang nyaman dan ikan tidak kunjung didapat, mereka berpindah ke spot kedua sekitar pukul sembilan pagi. Ombaknya jauh lebih tenang sehingga rombongan bisa beristirahat, sarapan, dan menyesuaikan tubuh. Mereka kemudian kembali memancing selama berjam-jam. Namun hasilnya tetap tidak sesuai harapan karena hanya beberapa ikan kecil, termasuk kerapu berukuran kecil, yang berhasil didapatkan.
Rombongan kembali berpindah ke titik lain dengan harapan mendapatkan ikan yang lebih besar. Teknik popping hingga jigging dicoba, tetapi hasilnya tetap minim. Bang Egi mengaku semakin heran karena lokasi-lokasi tersebut menurut kapten dan ABK dikenal sebagai spot bagus. Pada akhirnya mereka kembali ke area sebelumnya dengan asumsi ikan mungkin mulai aktif menjelang sore dan malam.
Saat kembali ke kawasan tersebut, Bang Egi mulai mengabadikan pemandangan sekitar. Di satu sisi terlihat tebing besar, sedangkan Anak Gunung Krakatau terlihat di sisi lainnya. Pada saat itulah mereka mulai melihat gumpalan menyerupai awan atau asap yang semakin tebal di sekitar gunung. Bang Dimas kembali menanyakan kondisi kepada kapten, tetapi menurut cerita Egi mereka masih mendapat jawaban bahwa situasinya aman dan apa yang terlihat dianggap seperti mendung.
Memasuki sore hingga malam, kejadian kecil mulai bermunculan. Reel pancing milik Egi mendadak rusak ketika benangnya kusut dan bagian porosnya patah. Egi sempat merasa aneh, tetapi tidak menganggapnya sebagai pertanda apa pun. Seorang temannya yang disamarkan dengan nama Bang Rian kemudian meminjamkan joran agar Egi tetap dapat melanjutkan memancing.
Semakin malam, ikan tetap sulit didapat. Pada sekitar pukul sembilan hingga setengah sepuluh malam, Egi dan teman-temannya juga melihat sejumlah ular laut melintas di bawah kapal. Jumlahnya lebih dari satu atau dua ekor, bahkan salah seorang temannya sempat mencoba menyentuhnya. Egi memperingatkan agar mereka berhati-hati karena tidak mengetahui apakah ular-ular tersebut berbahaya atau berbisa.
Sekitar pukul sepuluh malam, aktivitas Anak Gunung Krakatau mulai semakin terlihat. Egi menyebut muncul dentuman yang kemudian mereka tanyakan lagi kepada kapten. Rombongan masih mendapat penjelasan bahwa keadaan dianggap aman sehingga aktivitas memancing dilanjutkan. Sekitar pukul 23.15, dentuman lain kembali terdengar dan Egi bahkan sempat bercanda dengan mengatakan gunung tersebut sedang “batuk”.
Tidak lama kemudian, salah seorang teman melihat sesuatu yang dari kejauhan menyerupai gerombolan ikan tongkol di depan kapal. Bang Dimas mencoba melempar umpan tepat ke arah gerombolan tersebut, tetapi tidak mendapatkan respons sama sekali. Lemparan kedua juga memberikan hasil yang sama. Mereka akhirnya tidak mengetahui apakah yang terlihat dari kejauhan itu benar-benar ikan atau hanya sesuatu yang tampak seperti gerombolan ikan dalam kondisi laut yang gelap.
Pada saat berada sendirian di bagian depan kapal, Bang Egi kemudian melihat sesuatu yang sampai sekarang masih ia ingat. Menurut kesaksiannya, sebuah bayangan putih bergerak sangat cepat dari bagian belakang kapal menuju depan. Tidak lama kemudian bayangan tersebut kembali bergerak dari arah depan menuju belakang. Egi tidak dapat melihat bentuknya secara jelas dan tidak berani memastikan apakah itu sosok manusia, pantulan, atau fenomena lainnya.
Sesaat setelah bayangan putih tersebut bergerak untuk kedua kalinya, Egi mengaku mendengar sekitar tiga dentuman yang lebih kuat pada sekitar pukul 23.30. Aktivitas erupsi terlihat semakin tinggi dan sejumlah orang di kapal mulai merekam menggunakan telepon genggam. Bang Dimas kemudian mulai mendesak agar kapal segera bergerak menjauh karena khawatir arah angin berubah dan membawa material dari gunung menuju mereka.
Dalam keadaan tersebut, Bang Egi memutuskan melakukan siaran langsung di TikTok agar teman-temannya di darat mengetahui kondisi mereka. Awalnya jumlah penonton hanya beberapa ribu, lalu terus bertambah hingga menurut ingatannya sempat menembus sekitar 30 ribu orang. Ada penonton yang memperingatkan mereka untuk segera pulang, ada yang menganggap videonya palsu, hingga ada pula yang memberikan hadiah melalui fitur siaran langsung. Egi sendiri mengatakan saat itu dirinya sama sekali tidak memikirkan soal viral karena fokus utamanya adalah keselamatan.
Kondisi laut semakin berat ketika angin datang dari salah satu sisi sementara ombak besar menghantam dari sisi lainnya. Menurut informasi yang diterima Egi saat itu, kecepatan angin disebut mencapai sekitar 28 knot. Kapal sulit bergerak lurus dan seperti terdorong ke samping. Ombak yang dalam keadaan normal jauh lebih rendah menurut Egi terlihat meninggi beberapa meter, membuat seluruh orang di kapal mulai menyadari bahwa kondisi tersebut bukan lagi perjalanan memancing biasa.
Dalam siaran langsungnya, Egi sempat mengatakan mereka sedang berusaha menjauh, tetapi justru merasa posisi kapal seperti semakin mendekati gunung. Rute untuk keluar juga tidak mudah karena salah satu arah menghadapkan mereka pada ombak yang lebih besar. Setelah baterai telepon genggamnya melemah, Egi menghentikan siaran dan mengenakan jaket pelampung. Dalam kondisi tersebut, ia mengaku hanya bisa berdoa agar seluruh orang di kapal diberi keselamatan sampai kembali ke daratan.
Selama sekitar tiga hingga empat jam berikutnya, kapal masih terombang-ambing di tengah laut. Menjelang Subuh, Egi mulai melihat banyak cahaya dari kejauhan yang ia yakini berasal dari daratan. Angin dan ombak perlahan mulai lebih tenang. Setelah Subuh, mereka akhirnya mendekati dermaga, meskipun kapal belum langsung dapat masuk karena kondisi air. Bang Egi merasa sangat lega karena seluruh 12 orang dalam rombongannya berhasil kembali dengan selamat tanpa kehilangan barang maupun mengalami luka.
Setelah sampai di darat, Egi kembali melakukan siaran langsung untuk memberi tahu para penonton yang sejak malam menunggu kabarnya. Ia juga mendapat informasi dari warga bahwa sebagian masyarakat sekitar telah mengungsi karena kekhawatiran terhadap potensi tsunami. Egi kemudian mendatangi sebuah rumah kosong di sekitar dermaga dan merekam kaca-kacanya yang masih bergetar. Ia menegaskan kepada penonton bahwa apa yang dilihatnya saat itu menurutnya merupakan dampak fenomena alam, bukan kejadian mistis.
Bang Egi mengaku tidak mempunyai firasat khusus sebelum keberangkatan, meskipun sang ibu ternyata sejak awal merasa kurang tenang ketika mengetahui anaknya akan memancing di laut. Setelah Egi pulang dengan selamat, ibunya mengungkapkan bahwa dirinya memang setengah hati memberikan restu karena merasa khawatir. Perjalanan yang seharusnya berlangsung hingga malam berikutnya pun akhirnya harus dihentikan jauh lebih cepat. Hasil tangkapan mereka hanya sedikit dan sebagian besar berukuran kecil, tetapi bagi Egi keselamatan seluruh anggota rombongan jauh lebih penting daripada ikan apa pun yang bisa mereka bawa pulang.
Pengalaman itu membuat Egi kembali memikirkan berbagai hal yang sebelumnya ia lihat di laut: ikan yang mendadak sulit ditemukan, kemunculan banyak ular laut, dentuman berulang, hingga bayangan putih yang bergerak bolak-balik sesaat sebelum erupsi membesar. Ia tidak berani memastikan bahwa semua hal tersebut merupakan pertanda ghaib dan mengakui bisa saja ada penjelasan lain yang tidak diketahuinya. Namun baginya, perjalanan pertama memancing di laut tersebut menjadi pengalaman paling ekstrem dalam hidupnya. Di tengah laut manusia tidak mempunyai banyak tempat untuk melarikan diri, sehingga ketika alam berubah dalam hitungan menit, yang bisa dilakukan hanyalah berusaha menyelamatkan diri, tetap tenang, dan menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
