Sungai Cipager telah mengalir melewati kawasan Wanantara, Cirebon, jauh sebelum permukiman berkembang seperti sekarang. Di beberapa bagian, permukaan air terlihat tenang dan dangkal sehingga tidak langsung menunjukkan bahaya yang ada di bawahnya. Namun pada suatu Rabu pagi, sekitar pukul sembilan, seorang remaja berusia 16 tahun masuk ke salah satu kedung bersama temannya. Ia tidak pernah kembali naik ke permukaan dan kejadian itu kemudian membuka kembali berbagai cerita lama yang selama puluhan tahun hidup di tengah masyarakat sekitar.
Remaja tersebut bukan warga setempat. Pagi itu ia dan seorang temannya diketahui tidak masuk sekolah dan memilih datang ke kawasan sungai untuk bermain serta mandi. Menurut warga, Sungai Cipager memang mempunyai beberapa titik yang relatif aman untuk berenang, tetapi terdapat pula kedung yang dasar airnya turun sangat dalam secara tiba-tiba. Saat kejadian belum ada papan peringatan yang memberi tahu pendatang mengenai batas antara bagian dangkal dan titik yang kedalamannya disebut dapat mencapai sekitar empat hingga tujuh meter.
Ibu Rena, warga yang tinggal di rumah dinas tidak jauh dari sungai, sempat melihat korban dan temannya sebelum kejadian. Ia bahkan mengingatkan mereka mengenai banyaknya monyet di sekitar lokasi karena keduanya membawa makanan. Korban bersama temannya juga sempat melakukan video call dengan seseorang sambil bercanda mengenai monyet-monyet tersebut. Menurut Rena, korban terlihat lebih banyak diam, sedangkan temannya yang lebih aktif berbicara dan menentukan tempat mereka akan nongkrong.
Bagi keluarganya, korban dikenal sebagai anak bungsu sekaligus satu-satunya anak laki-laki. Sang ibu menggambarkannya sebagai anak yang tidak banyak melawan, peduli kepada teman, dan menjadi salah satu harapan keluarga setelah menyelesaikan sekolah. Karena pergaulannya cukup luas, banyak temannya datang melayat dari berbagai daerah setelah kabar kematiannya tersebar. Sang ibu juga mengatakan anaknya sebenarnya bisa berenang, setidaknya cukup untuk menyelamatkan diri dalam kondisi air normal.
Beberapa hari sebelum kejadian, keluarga baru mengingat sejumlah ucapan dan perilaku yang terasa berbeda setelah semuanya terlambat. Kepada temannya, korban pernah mengatakan bahwa malam Minggu sebelumnya mungkin menjadi “malam Minggu terakhirnya”. Sehari sebelum tenggelam, ia juga sempat membolos dan pergi ke kawasan laut. Ketika pulang, ibunya melihat wajahnya tampak lebih gelap dan ekspresinya seperti kosong. Malam itu ia sempat menggendong keponakan-keponakannya, pergi ke acara Maulid di Gunung Jati, lalu pulang setelah ibunya menelepon karena hari sudah malam.
Pada Rabu pagi, korban tetap bersiap seolah hendak berangkat sekolah. Ia meminta uang transportasi sekitar Rp40 ribu dan kemudian bertemu temannya. Informasi yang diterima keluarga menyebut keduanya sebenarnya sudah mempunyai rencana untuk membolos. Korban terakhir kali melakukan video call sekitar pukul 08.38. Ketika kakaknya menghubungi wali kelas sekitar pukul 09.22, barulah diketahui bahwa ia tidak berada di sekolah. Tidak lama setelah itu, keluarga menerima kabar bahwa ia tenggelam di Sungai Cipager.
Teman korban berlari mencari pertolongan dan menemukan beberapa pemancing yang berada cukup jauh dari titik kejadian. Salah satunya, Mas Topan, langsung melempar alat pancingnya dan berlari ke lokasi setelah diberi tahu bahwa seorang anak baru saja tenggelam. Tanpa banyak berpikir ia masuk ke air untuk mencoba mencari korban. Sementara itu Ibu Rena berlari menuju rumah ketua RT untuk melaporkan kejadian tersebut, dan warga lain mulai berdatangan membantu pencarian.
Pak RT kemudian menghubungi pemerintah desa dan meminta bantuan diteruskan kepada tim SAR, kecamatan, kepolisian, Koramil, serta instansi lainnya. Warga yang pandai berenang turun secara sukarela tanpa menunggu perintah. Mereka menggunakan bambu panjang serta tali tambang sebagai alat bantu pencarian. Saat bambu dimasukkan ke titik terdalam, ujungnya bahkan sulit menyentuh dasar. Kondisi air yang keruh membuat proses pencarian dengan mata hampir mustahil dilakukan.
Salah seorang warga akhirnya menggunakan bambu untuk meraba dasar sungai. Setelah beberapa kali mencoba, bambu mengenai sesuatu yang terasa berbeda dari batu. Titik tersebut kemudian menjadi petunjuk bagi penyelam untuk turun kembali. Setelah hampir dua jam sejak korban pertama kali tenggelam, tubuhnya akhirnya berhasil ditemukan sekitar menjelang pukul sebelas. Korban dievakuasi melalui sisi sungai yang memungkinkan untuk mengangkat tubuhnya ke daratan.
Keluarga kemudian membawa korban pulang dan menunggu beberapa kerabat yang datang dari luar kota, termasuk dari Indramayu. Pada sore hari yang sama, korban dimakamkan. Dari sisi kondisi lapangan, sebenarnya terdapat sejumlah faktor yang cukup untuk menjelaskan tragedi tersebut: kedalaman yang tidak terlihat dari permukaan, dasar sungai yang turun mendadak, air keruh, dugaan kram, kemungkinan pijakan yang licin atau berlumpur, kepanikan, serta jarak pertolongan yang tidak dekat. Semua itu membuat musibah dapat terjadi tanpa harus melibatkan penjelasan di luar faktor fisik.
Meski demikian, beberapa warga mengingat pengalaman yang mereka alami menjelang kejadian. Pada malam sebelumnya, Mas Topan mengaku sedang memancing bersama teman-temannya ketika mendengar suara monyet seperti sedang berkelahi disertai suara tertawa. Ibu Rena juga mendengar suara pintu rumah seperti dibuka meskipun seluruh pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada siapa pun di luar. Warga lain mengaku mencium aroma bunga yang sangat wangi selama dua hari sebelum kejadian. Mereka tidak menyebut pengalaman tersebut sebagai bukti penyebab kematian, tetapi mengingatnya kembali setelah tragedi terjadi.
Cerita mengenai Sungai Cipager sendiri sudah diwariskan sejak jauh sebelum kejadian tersebut. Menurut salah seorang sesepuh, aliran sungai mempunyai enam kedung dengan nama berbeda, mulai dari Kedung Jaran, Kedung Keracak, Kedung Pecut, Kedung Ember, Kedung Gelaga, hingga Kedung Pesarean. Nama-nama itu dikaitkan dengan cerita lama mengenai kuda dan perlengkapannya. Kedung Pecut, lokasi yang menjadi bagian penting dalam cerita warga, dipercaya mempunyai sosok penjaga yang dikenal dengan nama Nyimas Kurincing.
Sesepuh juga menceritakan beberapa kecelakaan air yang pernah terjadi sebelumnya. Di Kedung Gelaga, sekelompok siswa pernah berenang dan salah seorang mengalami kesulitan. Teman yang mencoba menolong justru disebut meninggal, sementara orang yang pertama kali tenggelam berhasil diselamatkan. Hal yang dianggap aneh oleh warga adalah korban sempat dicari di bagian dalam tetapi justru ditemukan di area yang relatif dangkal dan sebelumnya sudah dilewati berkali-kali.
Sekitar delapan atau sembilan tahun sebelumnya, seorang pemancing juga pernah ditemukan meninggal setelah tidak pulang semalaman. Alat pancing, sandal, serta umpannya masih berada di lokasi. Warga melakukan pencarian selama berjam-jam tetapi tidak menemukan tubuhnya meskipun area tersebut sudah diraba menggunakan bambu. Setelah air yang telah didoakan oleh seorang tokoh setempat dituangkan ke lokasi, korban disebut ditemukan tidak jauh dari tempat pancingnya. Keluarga korban saat itu menyampaikan bahwa lelaki tersebut memiliki riwayat penyakit jantung.
Cerita lain menyebut tiga anak sekolah pernah terseret banjir sekitar 2013. Satu berhasil selamat, satu ditemukan di sekitar kawasan sungai, sementara seorang lainnya menurut warga tidak pernah ditemukan. Ada pula seorang perempuan lanjut usia yang biasa mandi dan mencuci di sungai kemudian hanyut hingga ditemukan di bagian hilir. Warga lama mengenal istilah “emprit jala” untuk menggambarkan keyakinan mengenai sesuatu yang secara ghaib menarik seseorang ke air, meski sesepuh menegaskan bahwa kematian tetap diyakini berada dalam ketetapan Tuhan.
Nyimas Kurincing sendiri dalam cerita turun-temurun digambarkan sebagai sosok perempuan berkebaya hijau yang pernah terlihat berjalan di atas air ketika sungai sedang banjir. Tidak semua warga mengaku pernah melihatnya. Mas Topan misalnya hanya menceritakan pengalaman memancing malam ketika suara sungai tiba-tiba terdengar seperti laut berombak, sementara temannya mendengar suara kerincing dan derap menyerupai kuda. Mereka menafsirkan suasana tersebut sebagai sesuatu yang sedang “lewat” melalui jalur sungai.
Ada pula cerita mengenai seorang pengendara yang pernah dimintai tolong oleh perempuan muda untuk mengantarkannya menuju Kubang. Namun perempuan tersebut meminta kendaraan berbelok ke kawasan yang berbeda dan berhenti dekat pepohonan. Sang perempuan mengatakan hendak mengambil uang tetapi tidak pernah kembali. Ketika pengendara itu datang lagi keesokan harinya, suasana tempat tersebut disebut sama sekali berbeda dari apa yang dilihatnya pada malam sebelumnya. Di kawasan itu pula terdapat cerita mengenai tujuh pohon beringin, suara gamelan tanpa sumber, pasar yang muncul secara ghaib, hingga penampakan pocong yang dikisahkan generasi terdahulu.
Sejarah Wanantara menurut cerita sesepuh juga berkaitan dengan tokoh bernama Mbah Musa yang disebut membuka kawasan tersebut ketika masih berupa hutan. Dari cerita turun-temurun keluarga, terdapat keyakinan bahwa makhluk ghaib di sekitar sungai kadang mengadakan hajatan. Konon suara tak terlihat pernah meminta meminjam dandang, ketel, atau panci kepada para sesepuh. Peralatan tersebut kemudian terdengar seperti dibawa pergi meskipun tidak terlihat siapa yang mengambilnya, lalu dikembalikan lagi sebelum Subuh dengan suara benda-benda yang diletakkan kembali.
Tradisi lisan itulah yang melahirkan istilah semacam “pesta ghaib” di kawasan sungai. Tidak ada warga yang dapat menjelaskan apa sebenarnya pesta tersebut atau kapan tepatnya berlangsung. Sebagian keluarga lama juga mempunyai kebiasaan memberikan sedekah makanan ketika menggelar hajatan dan pada waktu tertentu seperti Jumat Kliwon. Bagi mereka, hal tersebut merupakan bagian dari adat serta cara menghormati lingkungan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, bukan bukti ilmiah mengenai keberadaan pesta bangsa jin.
Tiga malam setelah pemakaman, keluarga korban masih sulit tidur. Beberapa anggota keluarga mengaku bermimpi melihat korban duduk sendirian dan terlihat kebingungan seperti tidak mengetahui jalan pulang. Seorang kerabat yang dipercaya mempunyai kemampuan spiritual berniat melakukan proses yang mereka sebut membawa pulang keberadaan batin korban. Namun pada malam Jumat Kliwon di bulan Maulid, ia memilih mundur karena mengaku melihat kawasan tersebut sangat ramai seperti sedang berlangsung hajatan yang dihadiri berbagai sosok.
Pada malam berikutnya, kerabat tersebut kembali melakukan proses spiritual dari rumah. Dalam pengalaman batinnya, ia mengaku memasuki sebuah gerbang, berhadapan dengan sosok ular besar bermahkota beserta para pengawalnya, lalu menemukan korban duduk mengenakan pakaian yang sama seperti ketika tenggelam. Ia kemudian mengajak korban pulang sambil mengatakan bahwa keluarga sudah ikhlas dan menunggunya. Setelah proses itu selesai, ibu dan kakak korban mengaku untuk pertama kalinya sejak kematian tersebut dapat tidur dengan lebih tenang. Pengalaman ini tidak dapat diperiksa secara objektif dan lebih tepat dipahami sebagai pengalaman spiritual keluarga sekaligus bagian dari proses mereka menghadapi duka.
Bagi warga Wanantara, cerita ghaib dan kondisi nyata Sungai Cipager tidak harus saling meniadakan. Mereka tetap memegang cerita para leluhur, tetapi bahaya yang dapat diukur juga sangat jelas: air dapat mencapai kedalaman beberapa meter, dasar sungai turun secara tiba-tiba, jarak pandang di dalam air sangat terbatas, dan pada saat tragedi belum ada tanda peringatan memadai. Pesan yang kini paling ditekankan kepada pendatang sederhana: menjaga ucapan serta adab ketika memasuki tempat yang asing, dan yang paling penting jangan berenang di titik yang tidak diketahui kedalamannya. Sungai itu masih tetap mengalir seperti sebelumnya, tetapi setelah satu nyawa kembali hilang, masyarakat kini jauh lebih memahami bagian mana yang tidak boleh diremehkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
