Kisah Mbak Dian bermula pada 2021 ketika ia masih tinggal bersama ibunya di salah satu daerah di Jawa Barat. Tidak jauh dari rumah mereka tinggal seorang kerabat bernama samaran Pak Ruslan bersama istrinya, Bu Sari, dan seorang anak yang baru memasuki bangku kuliah. Di kampung tersebut Pak Ruslan dikenal sebagai salah satu orang paling kaya karena mempunyai usaha peternakan dan pemotongan ayam. Suami Dian sendiri bekerja kepadanya sebagai sopir pengangkut ayam.
Suatu hari Pak Ruslan meminta suami Dian mencarikan asisten rumah tangga dengan gaji sekitar Rp800 ribu per bulan ditambah makan. Ketika pembicaraan itu disampaikan di rumah, ibu Dian yang dipanggil Mimi justru menawarkan diri karena Pak Ruslan masih mempunyai hubungan keluarga. Dian sebenarnya melarang karena usia ibunya sudah tidak muda, tetapi sang ibu bersikeras ingin bekerja dan mengatakan uang gajinya nanti bisa diberikan kepada cucu-cucunya.
Pada minggu pertama semuanya berjalan normal. Namun memasuki minggu kedua, ibu Dian mulai bercerita mengenai sejumlah hal yang menurutnya janggal. Ada sebuah kamar di rumah Pak Ruslan yang selalu dikunci dan secara khusus dilarang untuk dibersihkan. Ketika sedang mencuci piring, ia juga beberapa kali mendengar suara mendesis menyerupai ular dari sekitar kamar mandi, tetapi setelah dicari tidak pernah ditemukan hewan apa pun.
Gangguan berikutnya menurut sang ibu berupa suara seperti monyet dari plafon dan bayangan-bayangan yang terlihat seolah banyak orang berada di kamar mandi, padahal ketika pintu dibuka ruangan tersebut kosong. Pada kesempatan lain Bu Sari meminta tubuhnya dikerok karena sedang merasa tidak enak badan. Saat itulah ibu Dian mengaku melihat kaki berbulu bergerak di balik tirai kamar. Ia mengetahui Pak Ruslan sedang pergi mengontrol tempat pemotongan ayam sehingga memilih diam dan kembali menceritakan pengalaman tersebut kepada Dian setelah pulang.
Sebenarnya Dian sudah beberapa kali mendengar cerita warga bahwa Pak Ruslan diduga mempunyai praktik spiritual tertentu. Namun ia selalu menolak mempercayainya karena laki-laki tersebut masih kerabatnya sendiri. Menurut Dian, kehidupan Pak Ruslan memang berubah sangat jauh dibandingkan masa lalu. Ia pernah berada dalam kondisi ekonomi sederhana, tetapi kemudian menjadi salah satu orang paling berada di kampung dengan rumah besar, usaha ayam yang maju, serta banyak karyawan.
Menjelang satu bulan ibunya bekerja, tepat pada Kamis malam Jumat Kliwon, Bu Sari meminta sang ibu tidak langsung pulang dan ikut makan bersama keluarga. Meja dipenuhi berbagai makanan seperti sate, ayam bakar, ikan bakar, dan hidangan lainnya. Ibu Dian diminta makan sebanyak-banyaknya dan baru pulang setelah membantu membereskan piring. Dian tidak mencurigai apa pun karena selama bekerja ibunya memang biasa mendapatkan makanan dari keluarga tersebut.
Malam itu semuanya berubah. Ibu Dian tiba-tiba menjerit dari dalam kamar dan berlari dalam keadaan sangat ketakutan. Menurut ceritanya, pintu kamar yang sudah dikunci seperti didobrak sebelum muncul sosok tinggi besar yang bentuknya ia gambarkan menyerupai monyet atau King Kong. Sosok tersebut seperti mengejarnya sebelum akhirnya menghilang. Dian berusaha menenangkan sang ibu dan menganggap mungkin kondisi tubuhnya sedang terlalu lelah.
Selepas Subuh keesokan harinya, ibunya kembali berteriak dari kamar mandi. Setelah pintu berhasil dibuka, Dian mengaku melihat darah di kamar mandi. Sang ibu kemudian berulang kali mengeluarkan darah ketika buang air kecil sehingga keluarga membawanya ke rumah sakit. Menurut kesaksian Dian, ibunya sempat dirawat sekitar tiga hari, tetapi keluarga diberi tahu tidak ditemukan penyakit serius selain tekanan darah yang sedikit meningkat. Kondisinya kembali memburuk setelah pulang hingga akhirnya sang ibu meninggal dunia. Dian tidak dapat memastikan penyebab medis kematian tersebut.
Kematian itu membuat Dian trauma dan meminta suaminya berhenti bekerja dari usaha Pak Ruslan. Ketika suaminya mengundurkan diri, Pak Ruslan disebut sangat marah dan melontarkan kata-kata kasar melalui pesan, tetapi sang suami memilih tidak membalas. Hal lain yang membuat Dian sakit hati adalah keluarga Pak Ruslan tidak datang melayat. Bu Sari hanya mengirimkan ucapan belasungkawa melalui pesan singkat.
Sekitar setahun kemudian, pada 2022, Dian bertemu Bu Sari ketika sedang duduk bersama dua temannya. Bu Sari memberikan masing-masing Rp50 ribu kepada kedua teman tersebut, tetapi memberi Dian Rp500 ribu dan mengatakan uang itu dianggap sebagai uang melayat yang sebelumnya belum sempat diberikan. Karena saat itu membutuhkan biaya sekolah anak, Dian menggunakan uang tersebut untuk membeli sepatu dan seragam. Malam setelah menerima uang itu, ia mulai mendengar ketukan tiga kali pada tembok kamar sebelum mengalami demam tinggi yang sulit reda.
Gangguan kemudian menurut Dian semakin sering terjadi. Ia beberapa kali mengalami kondisi seperti kesurupan, berdiri di atas ranjang sambil menari dan memukul-mukul tembok. Setelah dirinya sadar, anaknya justru mengalami kondisi serupa dan bergerak seperti ular. Dalam kejadian tersebut keluarga mengaku mendengar sosok yang berbicara melalui sang anak menyebut dirinya dikirim seseorang dengan bayaran Rp5 juta. Dian tidak dapat membuktikan siapa yang dimaksud atau apakah ucapan dalam kondisi tersebut mempunyai dasar faktual.
Pada malam lain kamar Dian terasa sangat panas dan berbau tidak sedap sehingga ia memilih tidur di ruang tengah. Dari posisi tersebut, ia mengaku melihat sosok putih berdiri di depan pintu kamarnya dengan bentuk jelas menyerupai pocong, lengkap dengan ikatan pada bagian tubuhnya. Suaminya mencoba menenangkan dengan mengatakan mungkin hanya plastik, tetapi Dian bersikeras apa yang dilihatnya berbentuk manusia berkafan. Setelah kejadian tersebut ia kembali mengalami kesurupan dan beberapa kali merasa ibunya yang telah meninggal datang mengajaknya pergi.
Memasuki 2023, kondisi Dian semakin berat. Pada suatu malam Jumat ia tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di bagian perut seperti ditusuk-tusuk, sementara dada terasa ditekan dari depan dan belakang. Perutnya menurut keluarga membesar dan keras hingga ia berguling-guling menahan sakit. Dalam keadaan sadar, Dian mengaku melihat almarhum kakek, nenek, dan ibunya. Sang kakek yang semasa hidup disebut memahami pengobatan tradisional mendekat dan seperti memegang perut serta dadanya. Dian merasa sentuhan itu sangat dingin dan setelahnya rasa sakit mendadak menghilang.
Keluarga sudah membawa Dian mencari pertolongan ke berbagai tempat hingga menurut pengakuannya sebuah sepeda motor terpaksa dijual untuk membiayai pengobatan. Pada awal 2024, sebuah kejadian kembali membuatnya terpukul. Ketika bertemu Bu Sari di depan rumah, perempuan itu menurut Dian tiba-tiba berkata, “Yan, kamu enggak mati-mati sih?” Dian hanya menatap dan menjawab bahwa jika dirinya dizalimi, ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ucapan tersebut semakin memperkuat kecurigaan keluarga meskipun tetap tidak menjadi bukti bahwa Bu Sari atau Pak Ruslan berada di balik penyakitnya.
Kakak ipar Dian kemudian menghubungi seorang kenalan dari Indramayu yang disamarkan dengan nama Saleh untuk membantu mencari tahu penyebab gangguan tersebut. Anehnya, ketika datang ke kampung Dian, Saleh justru lebih dulu masuk ke rumah Pak Ruslan dan berada cukup lama di sana sebelum pulang tanpa sempat menangani Dian. Keesokan harinya ketika keluarga mencoba menghubunginya, mertua Saleh mengabarkan bahwa ia meninggal secara mendadak setelah pulang. Keluarga terkejut, tetapi tidak mengetahui penyebab kematiannya dan tidak mempunyai bukti bahwa kejadian itu berkaitan dengan kunjungannya ke rumah Pak Ruslan.
Keluarga selanjutnya meminta bantuan seseorang yang disamarkan sebagai Mbah Surip. Ia meminta foto Dian, Pak Ruslan, dan Bu Sari, lalu melakukan proses spiritual menggunakan keris. Menurut cerita kakak Dian, Mbah Surip menyimpulkan keluarga mereka sedang menjadi sasaran dan Dian diduga hendak dijadikan tumbal setelah ibunya lebih dahulu meninggal. Dian kemudian diminta datang pada malam Jumat Kliwon membawa ayam cemani, garam kasar, bunga tujuh rupa, serta sejumlah minyak untuk menjalani proses mandi ritual.
Sehari kemudian Mbah Surip datang langsung ke rumah Dian dan masuk menuju kamarnya. Setelah menaburkan garam dan melakukan ritual, ia mengaku mengambil sebuah buntelan dari ruangan tersebut. Ketika dibuka di dapur, Dian melihat benda menyerupai tanah kuburan, tali yang disebut sebagai tali pocong, gabah ketan hitam, kemenyan, serta secarik tulisan Arab. Benda-benda itu kemudian dibakar, sementara beberapa benda lain dipasang di bagian atas pintu sebagai perlindungan.
Namun penanganan tersebut justru menimbulkan persoalan baru menurut keluarga. Keesokan harinya Dian kembali mengalami kesurupan dengan gerakan menyerupai buaya. Sosok yang berbicara melalui dirinya disebut mengaku berasal dari Mbah Surip. Suaminya marah dan mencabut seluruh benda yang sebelumnya dipasang di rumah. Kondisi Dian tetap naik turun hingga ia mengaku sampai sekitar 13 kali keluar-masuk rumah sakit, sementara menurut kesaksiannya pemeriksaan medis berulang kali tidak menemukan penyakit yang dianggap dapat menjelaskan seluruh keluhan tersebut.
Pertolongan berikutnya datang dari guru mengaji suaminya asal Banten. Ketika hendak memasuki rumah, sang ustaz disebut beberapa kali mundur dan mengatakan suasana di dalam terasa sangat panas. Ia kemudian masuk ke kamar Dian dan mengatakan masih ada sosok menyerupai pocong di bawah tempat tidur. Ustaz tersebut lalu meminta suami Dian menceritakan seluruh persoalan keluarga. Dari pembicaraan itu terungkap pula konflik lama mengenai pembagian tanah antara orang tua Pak Ruslan dan keluarga ayah Dian yang menurut cerita keluarga pernah menimbulkan pertengkaran sejak Dian masih kecil.
Berdasarkan cerita tersebut, sang ustaz menafsirkan bahwa dendam lama mungkin berkaitan dengan rangkaian gangguan yang dialami keluarga dan menyebut Dian serta anaknya sedang menjadi sasaran tumbal. Suami Dian kemudian diberi wirid dan diminta menjalani puasa selama satu minggu. Dalam masa itu Dian kembali mengalami perut membesar dan keras seperti batu, tetapi menurut keluarga perlahan mengempis setelah dibacakan doa dan diberi air yang sudah didoakan. Dian juga mendengar seorang tetangga bernama Pak Edi meninggal setelah mengalami perut membesar dan ditemukan benda menyerupai paku, tetapi informasi tersebut hanya ia peroleh dari cerita warga.
Tidak lama setelah suami Dian menyelesaikan puasa dan wirid, Pak Ruslan dikabarkan jatuh sakit selama beberapa minggu dan meninggal pada 2025. Dian tidak menyimpulkan kematian tersebut sebagai akibat ritual atau doa keluarganya. Ia hanya mengetahui dari cerita orang-orang bahwa selama sakit terdapat sejumlah kejadian yang dianggap aneh. Setelah Pak Ruslan meninggal, usaha peternakan dan pemotongan ayamnya disebut berhenti, sebagian aset dikabarkan diambil bank, Bu Sari mengalami stroke, dan anak mereka meninggalkan kuliah untuk bekerja serta merawat ibunya. Dian sendiri akhirnya menjual rumahnya dan pindah karena merasa trauma. Ia mengaku baru belakangan mempercayai cerita warga bahwa Pak Ruslan diduga menjalani dua jenis pesugihan yang dikaitkan dengan sosok ular dan monyet, tetapi tuduhan tersebut tetap merupakan kesaksian dan penafsiran spiritual, bukan fakta yang terbukti secara resmi. Dari seluruh kejadian itu, Dian memilih memperbanyak ibadah dan berpesan agar orang tidak mengejar kekayaan melalui jalan yang dapat merugikan atau mengorbankan orang lain.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
