Pada 2008, Mbak Novi sedang menjalani kuliah di wilayah Jawa Tengah dan sudah memasuki tahap penyusunan skripsi. Saat itu kondisi ekonomi keluarganya menurun karena sang ayah menderita diabetes dan harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit. Demi membantu biaya kuliah sekaligus mengurangi beban keluarga, Novi memutuskan mencari pekerjaan apa pun yang bisa dijalankannya sambil tetap menyelesaikan pendidikan.
Kesempatan datang melalui tetangganya yang disamarkan dengan nama Bude Sri. Ia memberi tahu bahwa sebuah keluarga kaya di dekat rumah sedang mencari pengasuh bayi. Pemilik rumah tersebut adalah pasangan yang disamarkan sebagai Ibu Rita dan Pak Wira. Meski tidak mempunyai pengalaman profesional sebagai babysitter, Novi memberanikan diri datang karena sangat membutuhkan penghasilan.
Begitu memasuki rumah Ibu Rita, Novi mengaku terkejut melihat kemewahan keluarga tersebut. Rumahnya sangat besar dan dipenuhi perabot mewah, sementara di halaman terdapat mobil seperti Fortuner dan Innova serta beberapa sepeda motor besar. Novi kemudian diterima untuk menjaga bayi bernama samaran Anggi. Ia bekerja pada siang hari dan diperbolehkan pulang sore sehingga masih bisa mengurus kebutuhan kuliahnya.
Selain Anggi, pasangan tersebut mempunyai anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang disamarkan dengan nama Willy. Di rumah juga tinggal seorang perempuan tua yang dipanggil Mbah dan bertugas membantu mengawasi Willy. Sejak hari pertama, Ibu Rita memberikan satu larangan khusus kepada Novi: ada sebuah ruangan kecil di dalam rumah yang tidak boleh dimasuki siapa pun, termasuk dirinya maupun anak-anak.
Awalnya Novi mengira ruangan tersebut hanyalah gudang penyimpanan barang. Namun beberapa hari setelah bekerja, Willy mulai menunjukkan perilaku yang menurutnya tidak biasa. Setiap pulang sekolah, anak itu sering marah dan memaksa agar pintu menuju ruangan terlarang dibuka. Novi berusaha menenangkannya karena takut tangis dan teriakannya membangunkan Anggi, tetapi Willy terus meminta masuk ke tempat tersebut.
Suatu hari pintu menuju bagian dalam rumah ternyata tidak tertutup dengan sempurna. Saat Novi sedang membuat susu, Willy lebih dahulu masuk dan hampir membuka pintu ruangan terlarang. Novi panik dan berusaha menariknya keluar, sedangkan si Mbah datang membantu membawa Willy pergi. Karena pintunya sudah sedikit terbuka, Novi tanpa sengaja dapat melihat sebagian isi ruangan yang selama ini dirahasiakan.
Menurut kesaksiannya, di dalam terdapat sesajen berupa jajanan pasar, menyan, serta sebuah patung monyet berukuran cukup besar yang diletakkan di atas meja. Patung itu digambarkan mempunyai mata melotot dan gigi atau taring yang terlihat jelas, sementara bagian bawahnya dililit kain hitam. Ruangan tersebut juga mengeluarkan bau yang menurut Novi campuran antara amis, pesing, dan aroma binatang hingga membuatnya hampir muntah.
Ketika Ibu Rita pulang, Novi hanya mengatakan Willy sempat masuk karena pintunya tidak terkunci. Ia sengaja menyembunyikan fakta bahwa dirinya telah melihat isi ruangan karena takut kehilangan pekerjaan. Reaksi Ibu Rita justru membuat Novi semakin penasaran. Sang majikan terlihat sangat panik dan berkali-kali menanyakan apakah Novi sempat melihat sesuatu di dalam. Novi tetap menjawab bahwa dirinya tidak melihat apa pun.
Setelah kejadian tersebut, amukan Willy semakin parah. Anak itu berteriak, berguling-guling, bahkan mencoba menggedor pintu yang kemudian digembok oleh ibunya. Setiap kali Willy mengamuk, si Mbah menyanyikan tembang Jawa “Tak Lelo-Lelo Ledung”. Novi merasa aneh karena begitu lagu tersebut dinyanyikan, Willy yang sebelumnya sangat sulit dikendalikan tiba-tiba menjadi diam dengan pandangan kosong lalu mengikuti si Mbah menuju kamar.
Kejadian lain mulai muncul di rumah. Selama beberapa hari berturut-turut Novi mendengar suara keras seperti orang berkelahi atau benda berjatuhan dari lantai atas pada waktu yang hampir sama. Setelah suara itu berhenti, ia mulai melihat bayangan besar melalui pantulan kaca lemari. Sosok tersebut mempunyai tangan besar dengan cakar melengkung. Pada kesempatan berikutnya Novi mengaku melihatnya lebih jelas sebagai sosok bertubuh sangat besar dan mengenakan sesuatu menyerupai jubah.
Gangguan tersebut semakin dekat hingga pada suatu hari Novi merasa seperti tertarik ketika melewati area dekat ruangan terlarang. Sosok besar itu menurutnya muncul tepat di depan wajahnya dan membuat tubuhnya gemetar ketika masih memegang botol susu Anggi. Novi hanya mampu beristigfar hingga penampakan tersebut menghilang. Meski ketakutan, ia masih mencoba menganggap semua itu mungkin terjadi karena dirinya kelelahan dan terlalu banyak pikiran.
Suatu hari Novi diminta mengantarkan rokok yang tertinggal ke toko grosir milik Ibu Rita di pasar. Di sanalah ia melihat betapa besar usaha sang majikan. Toko tersebut dipenuhi berbagai kebutuhan sembako dan terlihat sangat lengkap, tetapi Novi merasakan suasananya justru sepi dan terasa berbeda dibandingkan toko-toko lain di sekitarnya. Di sana ia bertemu dua pekerja yang disamarkan dengan nama Lek Tono dan Lek Joko.
Lek Joko kemudian menceritakan bahwa Lek Tono sedang sakit. Menurut cerita yang diterima Novi, Tono telah diperiksa ke rumah sakit dan sejumlah dokter tetapi keluarga belum mendapatkan penjelasan yang dianggap dapat menerangkan seluruh kondisinya. Di rumah, Tono sering menjerit, menangis, melompat-lompat, serta buang air kecil tanpa sadar. Sekitar satu minggu kemudian, Novi mendapat kabar bahwa Lek Tono meninggal dunia.
Novi datang melayat bersama Ibu Rita, Pak Wira, dan si Mbah. Ia mengaku terkejut melihat kondisi jenazah Tono karena mata serta mulutnya sulit tertutup sempurna. Lek Joko bahkan tidak sanggup masuk melihat rekannya. Namun kejadian belum berhenti. Tidak lama setelah kematian Tono, Lek Joko mengalami sakit dengan gejala yang menurut cerita Novi sangat mirip: berteriak, menangis, melompat-lompat, dan kehilangan kontrol terhadap tubuhnya.
Sekitar satu minggu setelah mulai sakit, Lek Joko juga meninggal dunia. Novi kembali menghadiri pemakaman dan mulai merasa rangkaian tersebut terlalu mirip untuk diabaikan. Namun ia masih mencoba berpikir positif dan menganggap kematian keduanya sebagai takdir. Hal yang membuatnya heran, setelah kedua pekerja tersebut meninggal, ia mendapat kabar Ibu Rita dan Pak Wira justru kembali mengembangkan usaha dengan membuka toko grosir lain.
Kecurigaan Novi semakin besar setelah berbicara dengan seorang tetangga yang disamarkan sebagai Bude Jul. Menurut cerita Bude Jul, Ibu Rita dan Pak Wira dulunya hidup biasa dan hanya mempunyai warung kecil. Pasangan tersebut kemudian pergi ke daerah asal keluarga di Jepara sekitar satu bulan. Ketika pulang, kondisi ekonomi mereka disebut berubah drastis: mempunyai rumah besar, toko grosir, kendaraan, dan berbagai barang mewah. Meski mendengar cerita itu, Novi saat itu masih memilih menganggap kekayaan tersebut sebagai hasil kerja keras.
Pada suatu malam setelah pulang bekerja, Novi mengaku terbangun dan melihat sosok perempuan menyerupai kuntilanak berada di atas tubuhnya sambil mencekik leher. Sosok tersebut bermata melotot dan membuat Novi hampir tidak dapat berbicara. Dalam keadaan panik ia membaca Ayat Kursi hingga sosok itu menghilang. Pengalaman tersebut membuat Novi mulai takut dirinya akan mengalami nasib seperti Lek Tono dan Lek Joko.
Kakak Novi kemudian membawanya menemui seorang ustaz yang disamarkan dengan nama Mas Wi. Setelah mendengar cerita tentang ruangan sesajen, patung monyet, kematian pekerja, dan gangguan yang dialami Novi, Mas Wi menafsirkan bahwa keluarga majikannya menjalankan praktik pesugihan dan Novi sedang “diikuti”. Menurut penafsiran spiritual Mas Wi, dirinya berisiko menjadi korban berikutnya. Kesimpulan tersebut merupakan keyakinan berdasarkan pengalaman mereka dan tidak pernah dibuktikan melalui penyelidikan resmi.
Mas Wi memberikan air yang telah didoakan untuk diminum, dibasuhkan ke wajah, dan digunakan Novi untuk mandi. Ia juga menyarankan Novi segera berhenti bekerja di rumah tersebut. Ketika Novi kembali keesokan harinya dengan niat mengundurkan diri, ia justru menemukan si Mbah sedang mengalami kondisi yang sangat mirip dengan Lek Tono dan Lek Joko. Si Mbah berteriak, melompat-lompat, berguling, serta kehilangan kontrol terhadap tubuhnya. Seseorang kemudian datang untuk menangani sang Mbah, tetapi sekitar tiga hari setelah mulai sakit, Novi mendapat kabar bahwa perempuan tua tersebut meninggal dunia.
Novi akhirnya memberanikan diri mengundurkan diri. Ibu Rita sempat memintanya bertahan dan menyuguhkan jajanan pasar yang bentuknya mengingatkan Novi pada sesajen di ruangan terlarang. Ketika Novi hampir mengambil makanan tersebut, Willy tiba-tiba berlari dan menyenggol piring hingga seluruh makanan jatuh. Novi menggunakan kesempatan itu untuk segera pergi. Sekitar satu minggu setelah dirinya berhenti, ia menerima kabar mengejutkan bahwa Willy juga meninggal dunia. Tidak lama kemudian usaha keluarga tersebut disebut mengalami kebangkrutan, toko tutup, rumah dan sejumlah aset hilang, sedangkan Pak Wira dikabarkan mengalami gangguan kejiwaan dan keluarga kembali ke Jepara.
Kini Novi bekerja sebagai guru dan memilih menjadikan pengalaman 2008 tersebut sebagai pelajaran untuk dirinya serta orang lain. Ia mengaitkan seluruh kejadian itu dengan dugaan “pesugihan monyet” karena patung yang pernah dilihatnya di ruangan rahasia dan penjelasan spiritual yang diterimanya, tetapi hubungan antara praktik tersebut, kematian para pekerja, Willy, maupun kebangkrutan keluarga tidak dapat dipastikan sebagai fakta. Dari semua yang dialaminya, Novi berpesan agar orang tidak tergoda mencari kekayaan melalui jalan pintas yang dapat merugikan orang lain. Ia juga mengingatkan para pekerja, khususnya mereka yang tinggal atau bekerja di rumah orang yang belum dikenal, untuk tetap berhati-hati, menjaga diri, dan tidak mengabaikan tanda-tanda ketika suatu lingkungan mulai terasa tidak aman.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
