Pada 1997, ketika usianya masih sekitar 10 tahun, Mbak Susan mulai mendengar berbagai cerita masa lalu langsung dari ayahnya. Sang ayah disebut pernah menjadi tentara aktif dan veteran yang mengalami masa penuh konflik pada dekade 1960-an. Kepada Susan, ayahnya menceritakan pengalaman yang ia kaitkan dengan peristiwa sekitar 30 September 1965, termasuk kekerasan yang menurut pengakuannya pernah ia saksikan secara langsung.
Menurut cerita yang diterima Susan, ayahnya bersama sejumlah rekan tentara pernah berpindah-pindah tempat untuk menghindari serangan hingga akhirnya bersembunyi di kawasan hutan. Ia mengaku pernah melihat korban kekerasan dan membantu menguburkan seorang perempuan yang ditemukan meninggal. Sang ayah juga bercerita mengenai penculikan para jenderal serta situasi keamanan yang menurut ingatannya sangat kacau. Seluruh rincian tersebut diterima Susan sebagai cerita pribadi ayahnya bertahun-tahun setelah kejadian.
Kehidupan di persembunyian disebut sangat berat. Persediaan makanan terbatas sehingga ayah Susan dan rekan-rekannya memakan apa pun yang tersedia di hutan, mulai dari burung hingga hewan lain yang dapat ditangkap. Jumlah rekan yang bertahan juga disebut semakin sedikit, sementara senjata serta perlengkapan perang mereka semakin terbatas. Dalam kondisi itulah seorang rekan bernama samaran Nanang menyarankan agar ayah Susan menemui seorang guru spiritual di seberang hutan.
Sang guru yang dipanggil Abah disebut menawarkan ilmu kebal. Sebagai syarat, ayah Susan diminta menyediakan dua kepala kerbau, dua kepala kambing, dan kembang tujuh rupa. Meski sempat kebingungan mencari seluruh perlengkapan di tengah hutan, ia akhirnya menyanggupi. Setelah syarat tersedia, ia diminta menjalani tirakat selama tiga hari dengan pola puasa yang sangat ketat dan menurut ceritanya hanya berbuka menggunakan air putih karena tidak mempunyai makanan lain.
Setelah tiga hari, ritual dilanjutkan dengan mandi menggunakan kembang tujuh rupa. Kepala kerbau dan kambing disebut dibakar di hadapannya, sementara Abah membaca mantra dan menguji tubuh ayah Susan menggunakan golok. Pada akhir ritual, ia diberikan sebuah ikat pinggang yang dipercaya sebagai jimat. Pesannya tegas: benda tersebut tidak boleh dilepas, termasuk ketika berada dalam pertempuran.
Ayah Susan kemudian kembali kepada rekan-rekannya. Dalam cerita yang disampaikan kepada putrinya, ia mengaku menjadi semakin percaya terhadap ilmu tersebut setelah merasa peluru yang diarahkan kepadanya tidak melukai tubuhnya. Keyakinan terhadap kekebalan itu membuat kepercayaan dirinya meningkat. Namun setelah situasi konflik berlalu, keluarga justru mulai merasakan perubahan besar dalam perilaku sang ayah.
Ibu Susan pernah mendapatkan ancaman dari sekelompok orang yang, menurut cerita keluarga, dikaitkan sang ayah dengan pihak yang sedang berkonflik dengannya. Karena mengkhawatirkan keselamatan sembilan anak mereka, sang ibu meminta keluarga meninggalkan Jakarta. Mereka kemudian pindah ke Cirebon dan tinggal di sebuah rumah tua yang oleh keluarga kemudian dikenal sebagai “rumah pusaka” karena usia bangunan dan berbagai benda milik sang ayah yang disimpan di dalamnya.
Setelah tinggal di Cirebon, aturan keluarga menjadi sangat keras. Susan mengaku ayahnya melarang anak-anak salat dan mengaji meskipun kedua orang tuanya beragama Islam. Sang ibu juga diminta menyediakan sesajen setiap malam Jumat di beberapa ruangan rumah. Isinya antara lain kembang tujuh rupa, ketan hitam dan putih, kopi, serta rokok. Karena sifat ayahnya sangat keras, anggota keluarga memilih mengikuti aturan tersebut daripada memicu kemarahannya.
Saat masih kecil, Susan pernah penasaran dengan kopi hitam yang terdapat dalam sesajen dan diam-diam meminumnya. Keesokan harinya ia mengalami demam tinggi dan menggigil hingga tidak masuk sekolah. Ketika mengetahui apa yang dilakukan putrinya, sang ibu langsung memperingatkan Susan agar tidak pernah lagi menyentuh makanan maupun minuman yang telah disiapkan sebagai sesajen.
Hal yang lebih membuat Susan bingung adalah perlakuan ayahnya terhadap ibadah. Ia pernah melihat ibunya ditendang ketika sedang salat. Karena merasa ada sesuatu yang tidak benar, Susan diam-diam pergi ke musala untuk salat Magrib dan Isya ketika ayahnya tidak berada di rumah. Saat kembali, sang ayah sudah menunggu. Susan mengaku ditampar dan dipukul menggunakan ikat pinggang karena dianggap melanggar larangan untuk beribadah.
Pada hari berikutnya, ayah Susan bahkan disebut marah ketika mendengar azan Asar dari musala dan melempari bangunan tersebut dengan batu. Keributan membuat warga berdatangan dan sang ibu meminta maaf atas perilaku suaminya. Malam harinya Susan tanpa sengaja mendengar ibunya memohon agar setidaknya dua anak terakhir dalam keluarga diizinkan beribadah sebagai bekal keluarga ketika sudah tua. Ayahnya tidak memberikan jawaban.
Sekitar setahun kemudian kesehatan sang ayah mulai menurun. Sebelumnya Susan beberapa kali melihat ayahnya merawat keris, samurai, dan benda-benda pusaka dengan air bunga tujuh rupa. Tidak lama setelah itu ayahnya jatuh di kamar mandi dan menurut cerita keluarga didiagnosis mengalami stroke yang memengaruhi fungsi sarafnya. Sejak kondisi tersebut muncul, suasana rumah justru dirasakan semakin menakutkan oleh Susan dan saudara-saudaranya.
Berbagai kejadian aneh mulai mereka alami. Susan mengaku pernah melihat sepasang ular kobra hitam berada di jendela kamar ayahnya. Kakaknya juga melihat perempuan berpakaian putih berdiri di dekat pohon mangga setiap Magrib, sementara Susan sendiri pernah melihat sosok lelaki sangat tinggi melintas di belakang rumah pada malam hari. Pada kesempatan lain, setelah seekor ular dibunuh, keluarga mengaku melihat jumlah ular lain terus bertambah hingga mereka memilih hanya mengusirnya menggunakan garam.
Ketika ayahnya semakin sakit dan tidak lagi mampu mengawasi seluruh aktivitas keluarga, Susan meminta izin kepada ibunya untuk mulai salat lagi. Sang ibu mengizinkan. Namun setelah Susan selesai salat Magrib pada suatu hari, area depan kamar mandi tiba-tiba dipenuhi benda yang terlihat seperti belatung dan disertai aroma amis. Susan membersihkannya sambil semakin merasa bahwa berbagai kejadian di rumah mungkin berkaitan dengan benda maupun praktik yang pernah dijalani sang ayah.
Puncak teror keluarga terjadi ketika kakaknya yang bernama Yanti ditemukan pingsan di sebuah jembatan. Setelah dibawa pulang dan sadar, Yanti justru tertawa selama beberapa waktu, kemudian menangis, melompat-lompat, dan berteriak. Warga yang datang membaca Surah Yasin semakin terkejut ketika Yanti, yang menurut Susan tidak dikenal pandai mengaji, justru dapat mengikuti bacaan tersebut dengan lancar. Kondisi itu ditafsirkan keluarga sebagai kesurupan.
Beberapa orang yang mencoba membantu akhirnya mengaku tidak sanggup menanganinya. Seorang ustaz dari Ciputat kemudian datang dan menurut kesaksian Susan mengatakan Yanti sedang diikuti atau dirasuki “55 jin” serta hendak dibawa oleh sosok yang disebut Raja Jin. Susan yang saat itu masih kecil diminta menghafalkan doa Nurbuat dalam waktu sekitar tiga jam karena dianggap sebagai anggota keluarga yang masih berada dalam keadaan suci dan dapat membantu kakaknya.
Susan kemudian duduk bersila sambil membaca doa tersebut dengan mata terpejam. Dalam pengalaman spiritual yang ia ceritakan, dirinya merasa masuk ke suatu tempat lain dan melihat Yanti duduk seperti seorang pengantin dengan rambut serta pakaian dihiasi bunga melati. Susan mencoba menarik kakaknya pulang, tetapi mereka kemudian dikejar sosok sangat tinggi. Setelah berlari, Susan tiba-tiba merasa kembali berada di kamar tempat proses doa dilakukan.
Ketika membuka mata, Susan melihat sang ustaz melakukan ritual yang menurut kesaksiannya seperti memindahkan sesuatu dari tubuh Yanti ke dalam lima botol. Botol-botol tersebut kemudian ditutup menggunakan kertas bertulisan Arab. Menurut Susan, meskipun secara kasatmata terlihat kosong, botol tersebut terasa sangat berat dan bentuknya seperti melengkung ketika dibawa. Kelimanya kemudian dikuburkan sekitar satu meter di dekat pohon mangga dan ditutup menggunakan semen. Setelah itu kondisi Yanti berangsur kembali normal.
Sekitar tiga bulan setelah kejadian Yanti, ibu Susan meninggal secara mendadak. Susan mengaku sang ibu sebelumnya tidak mengalami penyakit berat dan bahkan masih sempat mengantarnya sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah meminum teh hangat. Saat jenazah istrinya berada di rumah, ayah Susan yang sedang mengalami stroke tiba-tiba dapat berjalan dan kembali mengenali sang istri. Setelah pemakaman, ia terus memanggil nama istrinya hampir setiap malam.
Sekitar seratus hari setelah kematian sang ibu, kondisi ayah Susan semakin memburuk dan beberapa kali terlihat seperti berada dalam proses sakaratul maut, tetapi keesokan harinya kembali sadar dan mampu berjalan. Seorang kerabat kemudian mengingat bahwa sang ayah pernah memiliki ilmu kebal dan menyarankan tubuhnya dibasuh menggunakan air serta daun kelor. Setelah proses tersebut dilakukan, ayah Susan akhirnya meninggal dunia. Saat pemakaman, keluarga mengaku melihat darah keluar dari bagian kepala jenazah dan beberapa ular kobra berada di dalam liang sebelum kemudian menghilang setelah dibacakan doa.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, anak-anak memutuskan menjual rumah pusaka beserta sebagian besar barang yang tersisa. Susan mengaku berbagai pengalaman itu masih menjadi misteri bagi keluarganya dan ia tidak dapat membuktikan bahwa kematian orang tuanya maupun gangguan yang mereka rasakan benar-benar disebabkan oleh ilmu kebal atau makhluk ghaib. Kini ia memilih melihat kisah tersebut sebagai pelajaran tentang keputusan sang ayah yang awalnya menurut cerita bertujuan melindungi diri dalam masa konflik, tetapi kemudian memengaruhi kehidupan keluarga selama bertahun-tahun. Susan mengingat ayahnya sebagai sosok keras dan disiplin, namun berharap pengalaman keluarganya dapat menjadi peringatan agar orang tidak sembarangan mengejar ilmu kekebalan atau praktik spiritual yang konsekuensinya tidak benar-benar dipahami.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
