Jauh sebelum dikenal sebagai Bopak Castello, perjalanan hidupnya dipenuhi masa-masa sulit. Ia mengaku pernah hidup berpindah-pindah, menumpang di rumah teman, bekerja apa saja, dan tetap berusaha bersekolah meskipun kondisi ekonomi sangat terbatas. Setelah ayahnya meninggal di Kalimantan, Bopak ikut keluarga dari pihak ibu ke Jakarta. Pada masa remaja ia bahkan sempat meninggalkan rumah kerabat dan berusaha bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri.
Nama Bopak sendiri muncul ketika ia masih kecil dan tinggal di Depok. Nama aslinya, Indrayana, perlahan tergantikan setelah seorang pelatih sepak bola memanggilnya Bopak. Belakangan ia menambahkan nama Castello setelah terinspirasi dari film komedi Abbott and Costello. Nama tersebut terus digunakannya hingga akhirnya jauh lebih dikenal masyarakat dibandingkan nama aslinya.
Perjalanan ke dunia komedi mulai terbuka ketika Bopak bergaul dengan komunitas mahasiswa di Depok dan kemudian bertemu Ginanjar sekitar 1991. Awalnya ia lebih banyak membantu kebutuhan Ginanjar, tetapi dari lingkungan tersebut Bopak mengenal banyak komedian senior dan mempelajari cara membangun karakter di atas panggung. Gaya sok kaya, playboy, latah, dan ketakutannya yang kemudian dikenal penonton perlahan terbentuk dari proses panjang tersebut hingga akhirnya menjadi ciri khas kariernya.
Di tengah perjalanan itulah Bopak mengalami pengalaman mistis yang menurutnya mengubah kehidupannya. Sekitar 1993, ia ikut ayah dan ibu angkatnya melakukan perjalanan ke kawasan Parangtritis, Yogyakarta. Saat itu Bopak masih memandang pantai tersebut seperti tempat wisata biasa. Ketika ingin buang air kecil, ia melakukannya sembarangan di sekitar kawasan pantai dan langsung ditegur karena dianggap tidak menghormati tempat yang oleh masyarakat setempat dipercaya mempunyai nilai spiritual.
Bopak mengaku tidak terlalu memikirkan teguran itu. Malam harinya kawasan Parangtritis sedang sangat ramai karena bertepatan dengan kegiatan yang berkaitan dengan tradisi Sekaten dan Maulid. Berbagai ritual budaya berlangsung di sekitar pantai. Saat sedang melihat keramaian, Bopak tiba-tiba mendengar suara perempuan memanggil nama aslinya dengan suara lembut. Ia merasa suara tersebut mengarahkannya berjalan menuju suatu tempat di sekitar kawasan pantai.
Bopak kemudian berjalan mendekati area gua dan melihat cahaya kehijauan dari kejauhan. Awalnya ia mengira sedang bermimpi sehingga beberapa kali menampar wajahnya sendiri. Namun rasa sakit yang dirasakan membuatnya semakin yakin bahwa dirinya masih sadar. Di lokasi itu ia mengaku melihat seorang perempuan sangat cantik, tinggi, berkulit putih, anggun, dan mempunyai bagian tubuh yang menurut penglihatannya tampak seperti bersisik.
Menurut kesaksian Bopak, perempuan tersebut kemudian mengajaknya masuk hingga ia merasa berada di sebuah istana megah yang dipenuhi prajurit perempuan. Di tempat itu ia melihat banyak orang berkumpul dan sebagian seperti dijadikan jalan atau jembatan. Bopak bahkan mengaku sempat mempertanyakan mengapa orang-orang tersebut diperlakukan seperti itu. Sosok perempuan tadi kemudian memberikan gambaran bahwa mereka adalah orang-orang yang pernah meminta sesuatu kepadanya tetapi tidak memenuhi kembali kesepakatan mereka.
Dalam pengalaman tersebut, Bopak juga mengaku sempat ditawari sebuah tongkat tetapi menolaknya. Tidak lama kemudian ia mendengar suara ayah angkatnya memanggil dan menyuruhnya beristigfar. Setelah membuka mata, Bopak baru mengetahui dari orang-orang di sekitarnya bahwa dirinya sudah berada dalam keadaan tidak bergerak selama sekitar tiga hari dan terus didoakan. Bopak sendiri mengatakan tidak merasa tiga hari telah berlalu karena baginya perjalanan yang dialami terasa sangat singkat.
Sejak kejadian Parangtritis tersebut, Bopak merasa kepekaan terhadap hal-hal yang tidak terlihat semakin kuat. Ia memang sudah memiliki kemampuan melukis sejak sebelumnya, tetapi setelah kejadian itu gambar-gambarnya terasa berbeda. Dalam beberapa kesempatan ia mengaku dapat menggambarkan sosok yang menurut penglihatannya berada di suatu tempat, mengenali karakter benda pusaka, hingga secara spontan memperingatkan teman tentang keris tertentu meskipun tidak mengetahui sejarah benda tersebut sebelumnya.
Meski memiliki pengalaman semacam itu, Bopak mengatakan dirinya tidak ingin terlalu dikuasai oleh dunia tersebut. Ia pernah merasa keberadaan yang mengikutinya mulai meminta berbagai macam hal, dari bunga hingga benda tertentu. Bopak kemudian memilih bersikap tegas dan memperlakukan pengalaman tersebut sebatas sebagai sesuatu yang hadir di sekitarnya, bukan sesuatu yang harus selalu dituruti. Baginya, pengalaman metafisika bersifat sangat pribadi dan tidak semuanya harus diumbar kepada orang lain.
Salah satu pengalaman yang paling menarik terjadi ketika Bopak tampil di Kotabaru, Kalimantan Selatan, sekitar 2022. Kawasan tersebut kerap dikaitkan dalam cerita masyarakat dengan Saranjana, sebuah kota atau kerajaan ghaib. Ketika naik ke atas panggung, Bopak mengaku melihat penonton sudah memenuhi area acara. Mereka tampak seperti manusia biasa, tetapi menurut penglihatannya mempunyai karakter yang berbeda, terlihat tinggi, menarik, dan berdiri dengan ekspresi cenderung kaku.
Hal yang membuat Bopak semakin heran adalah ketika acara mulai berjalan, penonton yang sejak awal dilihatnya perlahan seperti menghilang dan masyarakat yang menurutnya merupakan penonton “asli” baru mulai berdatangan. Ia pun menghubungkan pengalaman tersebut dengan cerita mengenai Saranjana yang sudah lama dikenalnya sejak tumbuh di Kalimantan. Namun pengalaman itu tetap merupakan apa yang Bopak rasakan dan lihat secara pribadi, bukan bukti objektif mengenai keberadaan sebuah kota ghaib.
Ketika hadir di studio Malam Mencekam, Bopak bahkan mengaku masih dapat merasakan keberadaan sosok perempuan di sekitar lokasi. Menurut penglihatannya, sosok itu mengenakan sesuatu menyerupai hijab dan bergerak seperti melayang. Bopak kemudian mencoba menggambarkan wajah yang dilihatnya menggunakan pensil. Ia menilai sosok tersebut tidak memberikan kesan jahat dan mengatakan kehadirannya tidak perlu ditakuti.
Bopak juga mengaku pernah mendatangi petilasan dan berbagai tempat yang dianggap memiliki nilai spiritual. Namun ia menegaskan tujuannya bukan meminta kekayaan atau sesuatu yang bersifat materi. Ia lebih memilih datang untuk mendoakan, menghormati tokoh yang telah meninggal, dan mengambil nilai positif dari perjalanan tersebut. Ketertarikannya pada tradisi juga membawanya mempelajari filosofi Sunda Wiwitan yang menurutnya banyak mengajarkan penghormatan terhadap alam, orang lain, serta tata krama dalam kehidupan.
Pengalaman mistis berbeda terjadi dalam rumah tangganya sekitar 2017. Bopak mengaku saat itu hidupnya seperti berubah drastis meskipun pekerjaan masih ada. Secara ekonomi ia merasa sangat terpuruk, sementara hubungannya dengan istri berubah menjadi penuh kebencian dari pihaknya sendiri. Ia menjadi mudah marah, kasar, kehilangan ketertarikan kepada istrinya, dan merasa seluruh jalan kehidupannya seperti buntu. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sederhana anaknya, ia pernah merasa tidak mempunyai uang.
Istrinya memilih tetap bertahan. Menurut Bopak, sang istri tidak membalas kemarahannya dan justru rutin melakukan salat malam serta memberinya air untuk diminum. Setelah kondisi Bopak perlahan membaik, keluarga mulai meyakini bahwa gangguan yang mereka alami bukan persoalan biasa. Ketika sebuah rumah di Bogor diperiksa dan sebagian tanah digali, Bopak mengatakan ditemukan benda-benda termasuk kain menyerupai kafan dan berbagai isi lain yang kemudian mereka kaitkan dengan dugaan santet.
Bopak tidak menyebut secara terbuka siapa pihak yang dicurigainya. Ia mengatakan hanya menyimpan dugaan tersebut dalam hati. Dalam proses yang disebut sebagai pembersihan, Bopak dibantu seorang teman yang dianggap memahami persoalan spiritual. Ia mengaku pernah menemukan benda seperti ulat di tempat tidurnya, merasakan kemunculan benda menyerupai kaca atau beling dari tubuh, mendengar suara ledakan tanpa sumber yang jelas, hingga mengalami gangguan fisik seperti sesak dan tubuh tidak mampu bergerak pada waktu tertentu.
Istrinya juga menjalani rukiah dan menurut cerita Bopak sempat mengalami kondisi yang dikaitkan dengan sosok menyerupai ratu ular. Seluruh rangkaian tersebut dipahami Bopak dan orang-orang di sekitarnya sebagai bagian dari serangan santet, tetapi tidak terdapat bukti yang dapat memastikan secara objektif bahwa berbagai gejala, benda, maupun persoalan rumah tangga tersebut benar-benar disebabkan praktik ilmu hitam. Bopak memilih melihatnya sebagai pengalaman pribadi yang sangat berat dalam perjalanan keluarganya.
Setelah kondisi berangsur pulih, Bopak menyerahkan pengelolaan pekerjaan dan keuangan sepenuhnya kepada istrinya. Ia bahkan mengaku tidak lagi memegang ATM maupun terlalu ingin mengetahui nominal pendapatannya. Perlahan kendaraan, rumah, dan aset keluarga dapat kembali ditata meskipun masih ada harta yang menurutnya sudah terlanjur hilang. Hubungan rumah tangganya juga kembali membaik dan ia merasa justru semakin menyadari besarnya kesabaran sang istri selama menghadapi masa terburuk tersebut.
Bopak memilih tidak membalas pihak yang diyakininya pernah menyakiti dirinya. Ia mengatakan sudah mengetahui dalam hati siapa orang yang dicurigainya, tetapi orang tersebut kini telah meninggal. Bopak memilih memaafkan dan tetap mengingat bahwa orang itu juga pernah mempunyai jasa dalam perjalanan kariernya. Dari pengalaman Parangtritis, kepekaan terhadap dunia ghaib, penonton misterius di kawasan Saranjana, hingga dugaan santet yang mengguncang rumah tangganya, Bopak merasa perjalanan hidup tersebut justru membuatnya lebih menghargai keluarga, bersyukur atas kehidupan yang dimiliki, dan tidak mudah tergoda untuk membalas keburukan dengan keburukan.
Kini Bopak masih mengaku dapat merasakan hal-hal tertentu pada orang lain, termasuk sesuatu yang menurut keyakinannya berkaitan dengan susuk atau energi tertentu. Namun ia memilih tidak menyebut nama siapa pun dan mengingatkan bahwa pengalaman spiritual seharusnya tidak membuat seseorang merasa paling hebat. Baginya, seberapa jauh pun manusia bersentuhan dengan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara logika, pegangan terakhir tetap keyakinan kepada Tuhan. Bopak merangkum perjalanan hidupnya dengan satu prinsip: manusia harus menjadi nakhoda bagi kehidupannya sendiri agar tahu ke mana arah yang ingin dituju.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
