Bang Mongol mengaku pernah menghabiskan sekitar sembilan tahun berada di lingkungan organisasi satanik, mulai dari masa sebagai simpatisan hingga akhirnya menjalani pentahbisan. Menurut penuturannya, sekitar tujuh tahun dari periode tersebut dijalani setelah ia resmi masuk dalam struktur organisasi. Ia bahkan menyebut pernah berada dalam jajaran leadership committee untuk kawasan Asia dan menjadi orang kedua dalam struktur yang pada saat itu terdiri dari tujuh pemimpin.
Mongol menegaskan bahwa dirinya tidak bergabung karena persoalan kemiskinan. Menurut ceritanya, keluarganya justru memiliki latar belakang yang cukup berada. Ia menduga jalan hidup tersebut mungkin berkaitan dengan masa kecilnya karena sang ibu disebut pernah mengikuti sebuah sekte. Mongol kehilangan ibunya ketika masih kecil dan mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah pernah ada janji tertentu mengenai dirinya. Namun ketika kemudian bertemu dua orang asing yang mengajaknya masuk ke lingkungan baru, ia merasa diterima dan menemukan rasa nyaman yang selama itu dicarinya.
Menurut Mongol, faktor kenyamanan menjadi salah satu pintu yang membuat anak muda mudah bertahan dalam kelompok seperti itu. Ia mengatakan organisasi yang diikutinya memang banyak menyasar kalangan muda dengan menawarkan pertemanan, penerimaan, gaya hidup, dan lingkungan sosial yang terlihat menarik. Berbeda dengan kelompok lain yang menurut keterangannya menyasar orang yang sudah lebih dewasa dan berkeluarga, organisasi tempatnya bergabung disebut mempunyai perhatian besar pada anak-anak muda yang masih mempunyai rasa penasaran tinggi.
Setelah masuk lebih jauh, Mongol mengatakan dirinya tidak sekadar mengikuti pertemuan, tetapi juga menjalani semacam pendidikan internal. Dari situlah ia mempelajari struktur organisasi, simbol, pembagian tugas, serta berbagai keyakinan dan praktik yang digunakan kelompok tersebut. Menurut pengakuannya, kemampuan yang kemudian membuatnya masuk ke jajaran kepemimpinan bukan diperoleh melalui tirakat di tempat keramat, melainkan melalui proses belajar dan latihan dalam organisasi.
Mongol mengaku akhirnya keluar sekitar 1997. Namun meninggalkan organisasi tersebut menurutnya bukan berarti seluruh dampaknya langsung selesai. Ia menyebut sempat menjalani proses panjang yang dalam istilah keagamaan dipahami sebagai pembersihan atau pelepasan dari masa lalunya. Bertahun-tahun kemudian ia merasa kehidupannya mulai jauh lebih tenang. Ia juga mengatakan perjumpaannya dengan seorang pendeta pada masa transisi tersebut ikut membawanya mendalami agama Kristen, meskipun sampai sekarang ia tetap mempelajari berbagai literatur agama lain.
Pembicaraan kemudian menyinggung karnaval di Pekalongan yang sempat viral karena menampilkan peti mati, pentagram, simbol-simbol tertentu, dan pertunjukan teatrikal bernuansa gelap. Mongol berulang kali menekankan bahwa panitia telah memberikan klarifikasi bahwa seluruh rangkaian tersebut hanyalah pertunjukan seni. Karena itu, meskipun sebagai mantan anggota satanik ia mempunyai penafsiran pribadi yang berbeda, ia mengatakan tetap memilih menghormati penjelasan resmi pihak penyelenggara.
Secara pribadi Mongol mengaku heran karena beberapa elemen dalam pertunjukan terlihat sangat presisi dengan simbol yang dikenalnya dari masa lalu. Hal itulah yang sempat membuatnya mencurigai kemungkinan ada orang yang memahami simbol satanik terlibat dalam konsep tersebut. Namun ia tidak mempunyai bukti mengenai siapa orangnya ataupun apakah benar terdapat agenda lain. Pada akhirnya ia tetap menempatkan kecurigaan tersebut sebagai pendapat pribadi dan bukan kesimpulan faktual mengenai acara di Pekalongan.
Menurut pengalaman Mongol ketika masih berada di organisasi, ritual tertentu dipercaya berkaitan dengan upaya menandai atau menguasai sebuah wilayah secara spiritual. Ia menyebutnya sebagai kegiatan “mematok” wilayah. Dalam kepercayaan internal kelompok tersebut, sebuah daerah diyakini mempunyai atmosfer atau teritori tertentu yang dapat dipengaruhi melalui ritual. Namun berbagai klaim mengenai dampak spiritual terhadap sebuah kota atau wilayah tersebut merupakan bagian dari keyakinan yang Mongol pelajari di masa lalu dan tidak dapat dibuktikan secara objektif.
Mongol juga mengingatkan anak muda agar tidak mencoba ritual hanya karena penasaran. Menurutnya, rasa ingin tahu justru menjadi salah satu alasan terbesar seseorang terjebak. Pertemuan pertama mungkin terlihat sekadar sebagai pengalaman baru, tetapi kemudian orang dapat terus datang karena merasa mempunyai teman, mendapatkan perhatian, atau menerima berbagai keuntungan. Ia menilai perkembangan teknologi seharusnya membuat anak muda lebih mudah mencari informasi mengenai risiko sebuah kelompok sebelum memutuskan untuk masuk.
Salah satu praktik yang diceritakan Mongol adalah ritual persaudaraan yang melibatkan darah para peserta baru. Ia menggambarkan praktik tersebut sebagai simbol ikatan kelompok yang disebut brotherhood atau covenant. Setelah seseorang menjalani proses tersebut, menurut keyakinan organisasi saat itu ia dianggap sudah mempunyai hubungan dengan kelompok dan akan lebih sulit melepaskan diri. Mongol kini justru menjadikan pengalaman tersebut sebagai peringatan agar orang tidak mudah mengikuti ritual atau perjanjian yang tidak benar-benar mereka pahami.
Selain rasa kebersamaan, Mongol mengatakan uang menjadi daya tarik yang sangat kuat. Menurut pengalamannya, anggota dapat memperoleh uang dengan mengajak orang lain datang ke kegiatan tertentu. Sistem tersebut ia gambarkan hampir menyerupai pola perekrutan berjenjang karena semakin banyak orang yang dibawa, semakin besar keuntungan yang diperoleh. Karena itulah seseorang yang masih muda dan membutuhkan uang dapat merasa kehidupan di dalam kelompok tersebut jauh lebih menjanjikan daripada pekerjaan biasa.
Dalam penuturan Mongol, satanik juga mempunyai konsep mengenai sosok-sosok yang dipercaya berkaitan dengan kebutuhan tertentu. Untuk urusan kekayaan, ia menyebut nama Baal yang dalam lingkungan tempatnya dahulu belajar dianggap sebagai “Lord of Wealth”. Simbol atau sigil tertentu juga digunakan dalam ritual yang ia kenal. Namun Mongol tidak lagi menganjurkan siapa pun mempelajari atau mencoba praktik tersebut dan justru berulang kali mengatakan bahwa mencari uang melalui pekerjaan biasa jauh lebih baik daripada mengejar kekayaan melalui ritual.
Selama berada di lingkungan tersebut, Mongol mengaku terbiasa melihat sosok-sosok yang ia yakini sebagai entitas ghaib. Menurut penglihatannya, sebagian tidak selalu tampil dalam bentuk menyeramkan. Ada sosok yang awalnya terlihat sangat menarik dan rupawan, tetapi dalam waktu sangat singkat dapat berubah menjadi wujud yang jauh lebih menakutkan. Bagi Mongol, pengalaman itu justru memperkuat keyakinannya sekarang bahwa sesuatu yang terlihat menarik belum tentu membawa kebaikan.
Ketika masih aktif, Mongol mengatakan dirinya lebih banyak bekerja di lapangan dan pernah memimpin puluhan anggota yang tersebar di berbagai daerah. Tugas mereka menurut ceritanya berkaitan dengan pemetaan wilayah, pengamatan, serta kegiatan ritual tertentu. Organisasi juga disebut mempunyai struktur dan hierarki yang rumit dengan berbagai kelompok atau ordo. Namun setelah keluar, Mongol memilih tidak lagi menggunakan pengetahuan tersebut meskipun mengaku masih mengingat sebagian besar materi yang pernah dipelajari.
Dalam wawancara itu Mongol juga mengatakan kelompok tersebut mempunyai praktik yang dalam istilah masyarakat Indonesia dapat disamakan dengan santet, pemantauan ghaib, atau serangan terhadap orang tertentu. Ia bahkan menyebut praktik semacam santet sebagai sesuatu yang dianggap berada pada tingkat dasar dalam sistem yang dahulu dipelajarinya. Meski demikian, ia menolak ketika diminta kembali mempraktikkan atau mendemonstrasikan berbagai metode tersebut karena baginya membangkitkan kembali masa lalu merupakan sesuatu yang tidak ingin dilakukan.
Soal kekayaan, Mongol mengaku kehidupan ketika masih berada di lingkungan tersebut memang membuatnya mempunyai banyak uang dan fasilitas. Namun setelah keluar, pandangannya berubah. Ia menilai harta yang berasal dari jalan yang tidak baik pada akhirnya juga tidak memberikan ketenangan. Karena itu ia lebih memilih memperoleh penghasilan dari pekerjaannya sebagai komika, aktor, maupun pembicara daripada kembali menggunakan pengetahuan lama untuk mengejar kekayaan.
Mongol juga menyampaikan bahwa selama berada di lingkungan tersebut ia pernah melihat atau mengetahui orang-orang dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan yang mempunyai posisi sosial tinggi maupun dikenal publik. Namun ia tidak menyebut nama dan tidak memberikan bukti yang memungkinkan klaim tersebut diverifikasi. Karena itu, pernyataan mengenai keterlibatan pejabat, artis, atau tokoh tertentu tetap merupakan kesaksian pribadi Mongol dan tidak dapat digunakan untuk menuduh individu tertentu sebagai anggota organisasi satanik.
Ketika pembicaraan beralih kepada Illuminati, Freemason, dan istilah “elite global”, Mongol justru membedakannya dari organisasi satanik. Menurut pandangannya, tidak semua kelompok yang sering dikaitkan masyarakat mempunyai struktur atau tujuan yang sama. Ia sendiri mengingatkan agar orang tidak terlalu terobsesi dengan teori tentang elite global sampai melupakan persoalan kehidupan sehari-hari. Baginya, bekerja, menjaga keluarga, membayar kebutuhan, dan menjalankan tanggung jawab jauh lebih penting daripada terus-menerus memikirkan konspirasi yang tidak dapat dipastikan.
Pengalaman panjang di masa lalu membuat Mongol kini lebih banyak berbicara mengenai iman dan pilihan hidup. Ia mengatakan pekerjaan sederhana seperti menjadi sopir, petugas keamanan, atau office boy tetap jauh lebih baik apabila dijalankan secara benar daripada mendapatkan uang besar dengan bergabung ke kelompok yang merusak kehidupan. Setelah mempunyai anak perempuan, Mongol juga merasa mempunyai tanggung jawab lebih besar untuk menjadi contoh dan menunjukkan bahwa seseorang tidak harus terus hidup dalam kesalahan masa lalunya.
Bagi Mongol, cerita mengenai satanik bukan dimaksudkan untuk membuat kelompok tersebut terlihat keren atau membuat anak muda semakin penasaran. Justru dari pengalamannya menjadi anggota hingga pernah berada di tingkat kepemimpinan, ia ingin menunjukkan bahwa kebebasan, uang, pergaulan, maupun kekuasaan yang ditawarkan mempunyai konsekuensi yang tidak sederhana. Ia memilih meninggalkan kehidupan tersebut dan percaya bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan seseorang. Pesannya sederhana: jangan mengejar kekayaan atau rasa penasaran melalui jalan yang dapat merusak iman, keluarga, dan diri sendiri, karena kesempatan untuk memperbaiki hidup selalu ada selama seseorang berani memilih jalan yang berbeda.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
